
Flesia POV
" Sia..!? Sayang..!?"
Degg
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku sangat kenal dengan suara itu dan nada dari kata orang itu sangat menggema di sanubariku.
" Sayang!?"
" Kau, sedang apa disini? Bagai mana kau bisa tau aku ada disini?" Aku terkejut melihat Dirga ada di hadapanku saat ini. Sebenarnya hal seperti ini sudah ku duga cepat atau lambat akan terjadi. Dia pasti akan menemukanku di sini. Namun rasanya aku belum siap dengan hal ini.
" Sebulan sudah berlalu. Tapi kau masih menatapku dengan tatapan yang sama."
Dirga melangkah mendekati Sia, namun tanpa sadar tubuh Sia melangkah mundur tanpa ia sadari. Seakan tubuhnya masih mengingat ketakutan yang di akibatkan oleh Dirga sebelumnya.
💫💫💫💫
Author POV
Seminggu telah berlaru, Dirga terus saja mendapat penolakan dari Sia. Namun karena Kamila sangat bahagia dengan kehadiran Dirga akhirnya orang tua Sia mengijinkan Dirga tinggal, walau Sia sempat menolak tapi ia juga tidak tega melihat air mata Kamila yang berlinang ketika Dirga berkata akan pergi dari sana jika Sia tidak memberinya ijin untuk tetap tinggal.
Malam ini Sia merasa tidak nyaman dan sulit untuk tidur. Walau sudah seminggu ini ia memang sulit tidur karena kehadiran Dirga, namun kali ini kegelisahannya sangatlah berbeda. Ia merasa tidak tenang setelah mendengar pagi ini Dirga mengatakan ia akan kembali ke Jakarta untuk selamanya ia tidak akan pernah mengusik hidupnya lagi.
Karena susah berjam jam berusaha untuk tidur namun tidak bisa, Sia memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
__ADS_1
Deg..
Sia tidak menyangka kalau saat ini Dirga juga belum tidur dan sedang berada di teras rumah sambil mengangkat wajahnya menatap langir malam yang penuh dengan bintang bintang.
Saat Sia ingin kembali masuk Dirga menghentikannya.
" Tetaplah disini." Ucap Dirga, Sia berbalik karena terkejut. " Aku tau kau keluar karena ingin mencari angin. Jadi kau bisa tetap disini, dan aku yang akan pergi."
Sia tetap diam di tempat dan menatap punggung Dirga yang masih terus menatap langit.
" Kau tau Sia? Saat pertama kali aku datang kesini untuk melamarmu pada bunda dan ayah. Malam itu kita berada di sini menatap bintang bersama, terbesit dalam pikiranku. Saat aku tua nanti, akan ku serahkan seluruh hartaku pada anak anakku dan aku akan hidup bersama Sia di tempat ini hingga akhir hayat kita. Itulah impian sederhana yang ku rancang di malam itu. Namun siapa yang tau dengan apa yang di rancang oleh tuhan untuk kita. Impian yang kita punya bukanlah apa apa di bandingkan dengan apa yang sudah ia siapkan untuk masa depan kita."
Dirga tersenyum lalu ia berlalu pergi meninggalkan Sia yang masih berdiri membeku di depan pintu.
" Apa boleh, aku memeluk Kamila? Hanya selama kau ada di luar. Jika kau mengijinkan bolehkah aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah malam ini, aku tidak akan bisa melihatnya lagi." Ucap Dirga sebelum ia benar benar masuk ke dalam rumah. Sia hanya diam, entah mengapa hatinya begitu sakit saat mendengar kalimat terakhir yang Dirga ucapkan. Namun mulutnya seakan sudah terpasang lem sehingga sangat sulit baginya untuk bisa terbuka dan menjawab ucapan suaminya itu.
Cukup lama Sia berada di luar, hingga ia merasakan sejuk di sekujur tubuhnya karena terlalu lama di sana. Ia pun akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Saat ia masuk ke dalam kamar, ia melihat Dirga sedang tidur lelap di samping Kamila. Dan putri kecilnya itu memeluk Dirga dengan sangat erat sambil tersenyum.
" Dia terlihat sangat bahagia." Gumam Sia. " Setidaknya di mata putrimu, kau adalah ayah yang baik dan terhebat." Sia tidak berusaha membangunkan Dirga, ia malah memilih keluar dan mengambil air wudhu untuk sholat tahajut. Karena bundanya selalu berkta, apa pun kegundahanmu saat ini, cobalah mencari petunjuk darinya nak. Lalu Sia pun mengikuti saran bundanya dan mulai menyerahkan segalanya pada sang maha kuasa.
💫💫💫💫
Pagi harinya, Dirga dan ayah Sia baru kembali dari masjid. Sejak berada di sana Dirga mengikuti segala rutinitas ayah mertuanya itu. Bahkan ia juga setiap hari mengikuti ayah Sia ke sawah dan berkebun. Namun pagi ini akan menjadi pagi terakhir baginya melakukan semua itu bersama semuanya.
__ADS_1
Setelah sarapan, Dirga pamit pada ayah dan bunda Sia. Lalu saat ia pamit pada putri kecilnya, anak itu tak henti hentinya menangis dan memohon agar Dirga tidak pergi meninggalkannya dan membawanya ikut bersama denganya dan juga Sia. Namun Sia lebih memilih memalingkan wajahnya dari pada menatap ayah dan anak itu menangia tersedu sedu karena tidak ingin saling berpisah.
Dirga mendekati Sia, tanpa memohon atau aba aba Dirga mencium kening Sia sehingga ia sontak terkejut, namun tububnya tidak menolak apa yang sedang suaminya itu lakukan.
" Setidaknya, biarkan aku menyentuh anakku sekali saja." Dirga menyentuh perut Sia. Lalu mengusapnya dengan lembut, Dirga berjongkok dan mendekatkan wajahnya di perut Sia.
" Maaf, Sayang. Kau tidak perlu mengenal siapa papa. Karena papa mu bukanlah pria yang baik, papa bahkan pernah hampir membuatmu celaka, dan papa sangatlah buruk untuk mama. Jadi saat kau lahir dan tumbuh besar, kau harus menjaga mama dengan baik. Karena papa sudah tidak bisa melalukannya nya lagi walau pun papa ingin. Selamat tinggal Sayang." Bisik Dirga, namun setiap kata yang terucap terdengar jelas di telinga Sia. Air matanya mulai menetes, saat Dirga mendongak butiran butiran air bening itu mengenai wajahnya.
Ia bangkit, lalu di usapnya dengan lembut wajah Sia. Untuk menyeka air mata yang sudah sangat membasahi pipinya.
" Jangan menangis, mulai saat ini hiduplah bahagia. Dengan melupakan masa lalu kelam yang pernah kau jalani denganku. Lupakan kalau kau pernah hidup bersama pria bre^gsek seperti diriku."
Setelah mengatakan itu Dirga pun langsung beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Meningalkan sosok ter penting dalam hidupnya. Ia menagbaikan panggilan Kamila karena tidak ingin memberikan harapan palsu pada putri kecilnya itu.
.
.
.
.
.
Terimakasih bagi yang udah baca. Mohon dukungannya buat Author, agar lebih semangat lagi upnya. Dengan like, vote, dan juga isi kolom komennya ya kakak kakak semua.
__ADS_1