Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter52. Perhatian Roy.


__ADS_3

Roy mengejar Lisa lalu menarik lengan nya menuju parkiran. Walau Lisa berusaha melepaskan pegangan Roy namun tak membuahkan hasil, karena merasa sakit di pergelangan tangannya akibat ia meronta-ronta, ia akhirnya pasrah mengikutinya.


" Lepas..." Lisa menipis tangan Roy hingga terlepas. " lo mau apa sih dari gue....?" bendak Lisa.


" Gue mau lo. " jawab Roy tanpa sadar maksud ucapannya. Mata Lisa terbelalak, ia tak mengerti isi pikiran cowok yg ada di hadapannya saat ini.


" Lo udah gila. " pekik Lisa. Dengan nada tinggi.


" Hemm, jadi jangan buat gue semakin gila lagi, ikut gue sekarang. " ucap Roy dengan wajah datarnya.


" Gue gk mau. " tolak Lisa seraya membalikkan badannya dan hampir melangkah meninggalkan Roy.


" Ikut gue, atau gue bakal cium lo disini. " Ancam Roy yg sudah menarik lengan Lisa sampai berbalik menatap wajahnya.


" Lo..."


Cup.


Roy sudah menutup Lisa dengan bibirnya, Lisa yg terkejut langsung mendorong Roy menjauh darinya.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Roy. Dengan napas ngos-ngosan dan tatapan tajam Lisa memelototi Roy kesal.


" Lo udah gila ya ! apa yg udah lo lakuin ?" Salsa terlihat sangat geram, dan hampir melayangkan tamparannya sekali lagi di sisi pipi Roy yg lainnya. Namun di tepis oleh Roy.


" Satu tamparan berarti satu ciuman, jadi pikirkan baik-baik sebelum kau bertindak. " ucap Roy sambil membetikan sebuah hlem pada Lisa. " Ikutlah bersamaku, gue janji nggak akan macam-macam sama lo, gue cuma butuh penjelasan dan menjelaskan sesuatu sama lo. " lanjut Roy dengan nada yg terdengar lebih lembut dan tulus.


*******


" Lagi apa, Sayang ?" tanya Ku di balik telepon.

__ADS_1


" Lagi kerja, Sayang. " jawab Dirga.


" Aku kagen kamu, aku ke kantor kamu ya ? aku bosen di rumah terus, boleh ya, Sayang ?" rengekku.


" *Ya udah, aku kirim sekertaris aku buat jemput kamu sekarang, oke. "


" Nggak usah, Ga, aku minta di anterin sama pak, Amin aja. "


" Oke, kalau gitu, hati-hati di jalan ya, Sayang !"


" Hemm*. "


Tiba di kantor Dirga, Sekertaris Kevin sedang menungguku di lobi, sepertinya perintah dari Dirga.


" Ayo ikut saya nona, Sia..." ajak sekertaris Kevin


Aku hanya menjawab dengan anggukan pelan.


" Baiklah. " jawabku singkat.


Aku sudah sangat mengenal ruang kerja Dirga, ia sudah beberapa kali menbawaku kesana.


Cklek.


" Silahkan masuk nona. " Sekertaris Kevin membukakan pintu dan mempersilahkan ku masuk. " Jika nona butuh sesuatu bisa hubungi saya seceptnya. " lanjutnya.


" Oke, aku ngerti. " Jawabkua singkat. Seraya aku melangkah masuk.


' Dia lagi rapat, terus aku mau ngapain sekarang ! apa aku istrahat aja dulu di dalam, sambil nunggu dia. ' batinku sambil menatap ruang istirahat Dirga yg ada di pojok ruangan.


Aku membaringkan tubuhku, entah karena bawaan hamil, aku selalu saja merasa mengantuk jika sudah berada di atas tempat tidur, dalam hitungan menit aku sudah menuju alam mimpi.

__ADS_1


15 memit kemudian Dirga datang, saat ia masuk keruangannya tapi tak menemukanku, lalu ia memeriksaku di ruang istirahat, ketika ia membuka pintu terlihat senyum lebar di wakahnya.


Ia melihat ku sudah tertidur lelap, Dirga melangkah mendekatiku, dan duduk di samping tempat tidur, ia menatap wajahku yg sedang tertidur pulas, lalu menyeka beberapa helai rambut yg menutupi wajahku.


' kau bilang merindukanku, tapi kau malah tertidur begitu sampai kesini. '


Cup.


Dirga mengecup keningku.


Dirga menyentuh perutku.


" Anak Papa, harus jaga Mama dengan baik ya, Sayang, dan jangan buat Mama merasa sakit sedikit pun ya, Sayang. " Bisik Dirga. Karena tak tega membanginkanku dan sudah tak terlalu sibuk Dirga ikut membaringkan tunuhnya, lalu memelukku dengan penuh kasih sayang.


********


Roy membawa Lisa kesebuah taman yg ada di pinggiran kota, terdapat danau kecil disana, awalnya Lisa menolak ajakan Roy yg memintanya untuk duduk di sampingnya seraya memandang kearah danau yg ada di hadapan mereka saag ini.


" Aku minta maaf. " ucap Roy tiba-tiba.


" Buat apa ?" Tanya Lisa dengan nada yg sudah tak terdengar ketus.


" Karena sudah mengacaukan segalanya, walau sejak awal gue nggak punya niat ngelakuin itu. " Jawab Roy terdengar tulus.


" Huuh. " Lisa mendongak kelangit dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya kebelakang. " Apa gue berhenti kuliah aja... ?" kata Lisa seraya menoleh ke arah Roy dan keduanya saling tatap. Lisa terlihat tersenyum tipis, namun senyuman itu tersirat kesedihan.


" Kenapa, apa sesulit itu ?" tannya Roy tanpa melepaskan tatapannya.


Lisa menggeleng, " gue cuma ngerasa udah capek aja, walau geu nggak pengen nyerah, tapi ini udah...." Roy menarik lengan Lisa.


" Jangan berhenti, gue janji akan bantu lo, jadi jangan nyerah gue mohon." Ucapan Roy terdengar membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2