Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter46. Tingkah aneh


__ADS_3

Lisa bukan tipe cewek yg bisa dikalahkan dengan mudah.


" Namanya juga generasi zaman dulu. Buktinya, mereka setuju-setuju saja menikah. " Sanggah kak Alpan yg tak mau kalah.


" Bukan karena cinta. Mereka menikah karena kesepakatan."


" Tapi, lambat laun mereka saling mencintai, Kan?".


Mata Lisa menyipit seolah-olah sedang berpikir.


" Bapak pergi dari rumah waktu saya kecil. Bisa di bilang, ketika sebuah hubungan tidak lagi menguntungkan satu sama lai, satu pihak akan memutuskan kontrak kerja sama itu." katanya tersenyum sinis.


" Kamu menakutkan, Lisa.Bagaimana kamu bisa hidup dengan pemikiran seperti itu ?"


Lisa tersinggung. Ia membanyah, " Hidup saya baik-baik saja, kok kak. Jauh lebih baik ketimbang ketika mendewakan cinta."


" Oke, tetserahlah kamu mau berpikir seperti apa. Tapi saya janji bisa bikin kamu bahagia kalau kamu jadi pacar saua. Terima cinta saya, ya?"


Lisa menggeleng. " Maaf, Mas. Saya nggak bisa menerima sesuatu yg nggak saya percayai."


" Tapi, Lisa.. kamu." Roy menghentikan gerakn tangan kak Alpan yg hampir menarik lenhan Lisa.


" Apa kau tidak mengerti perkataannya ?" katanya dengan tatapan tajam.


" Apa yg kau lakukan, lepas..." Alpan menepis tangan Roy. " Siapa laki-laki tak sopan ini, yah Lisa apa kau mengenal berandalan ini ?" katanya dengan nada sangat tak sopan.


Saat Roy ingin memukul wajah songong Alpan tersebut Lisa menghentikan Roy.

__ADS_1


" Cukup kak, saya tidak ingin lagi bicara atau bertemu dengan kakak jadi saya mohon pergi dari sini." Usir Lisa. " Tidak saya rasa kita saja yg pergi, Ayo ikut aku. " Lisa menarik tangan Roy menjauh dari laki-laki yg tak mengerti arti penolakan itu.


Lisa menarik Roy hingga sampai ke parkiran. Roy memperhatikan tangan Lisa yg masih tetap tak melepaskan tangannya, dengan senyuman aneh. Saat Lisa menyadari hal itu dengan cepat ia menepisnya.


" Ayo kita pergi sekarang. " Ajak Lisa.


Roy manggut-manggut " Baiklah, Naiklah. " suruh Roy.


Karena kereta yg dimiliki Roy sangat tinggi membuat Lisa bingung untuk menaikinya, Ia mengerutkan keningnya.


" Tidak bisakah kita naik bus saja, aku tidak suka naik motor. " ucap Lisa.


" Jangan bercanda, setelah menbanya sekali kau akan langsung menyukainya. "


Dengan berat hati Lisa akhirnya naik keatas motor.


" Pegangan, atau kau bisa terjatuh. " Kata Roy terdengar sedikit menggodanya. Lisa hanya memegang sudut baju Roy.


Ada senyum kemenangan di wajah Roy walau tak terlihat di balik helm yg ia kenakan.


*****


Pukul 11 siang aku dan Dirga sudah bersiap-siap untuk pergi berlibur, Dirga bilang ingin mengajak ku ke pantai. Sejak kembali bulan madu sudah cukup lama kita tidak pernah berlibur atau bersantai berdua.


Sesekali kita hanya pergi makan malam untuk berkencan, mengingat perkenalan yg begitu singkat lalu kita langsung memutuskan untuk menikah, jadi aku menyebutnya pacaran setelah menikah.


Aku membuat beberapa masakan dan membawanya untuk bekal kita berdua. Dirga sebelumnya mengatakan kita akan makan di sebuah restoran, namun aku menolak, tentu saja argumen nya selalu dapan ku kalahkan, dan kemenangan ada di tanganku.

__ADS_1


Aku membeli cukup banyak buah, entah kenapa aku selalu merasa lapar, sepanjang perjalan entah berapa banyak buah jeruk yg sudah ku makan.


" Aaaak... buka mulutnya donk, Ga... " paksaku, sejak tadi Dirga sudah kesal padaku karena terus saja ku paksa makan buah jeruk yg tidak di sukainya.


" Udah donk, Sayang, aku udah kenyang, kamu bisa makan sendiri aja. " sanggahnya.


Tapi entak kenapa aku merasa sangat kesal jika ia menolakku, aku melipat kedua tanganku lalu cemberut, Dirga melirikku, lalu mendesah.


" Sia, kamu kenapa sih, Sayang, sejak semalam begitu banyak maunya, dan harus selalu di turuti, jika di tolak kau akan kesal sendiri. Oke, aku akan memakannya demi kamu, jadi berhentilah cemberut, mana jeruknya berikan padaku. " ujar Dirga.


Aku malah berbalik menatap ke arah kaca mobil.


" Sia, kita mau liburan lo, kok kamunya malah gini sih, Sayang. " karena tak mendapat respon dariku ia menepikan mobilnya ke tepi jalan dan menghentikan laju mobil.


Ia melepas sabuk pengamannya lalu menarik wajakku menghadap padanya.


" Aku akan melakukan apa pun untukmu, jeruk ini bukan apa-apa, apa pun yg kau inginkan akan kulakukan, tapi setidaknya kasih aku penjelasan dengan perubahanmu saat ini. "


" Entah lah, yg jelas aku menginginkannya. " jawabku yg juga tak mengerti dengan keinginan anehku saat ini.


" Lalu sekarang apa yg kau inginkan ?" tanyanya sembari mendekatkan wajahnya padaku. " Apa kau ingin ini juga ?" tanyanya sambil menempelkan bibirnya di bibirku.


" Tapi, Sayang, kita bisa telat ke pantainya kalau kita bermain disini. " kataku sedikit menggodanya


" Tidak masalah untukku. " saat ia ingin menciumku lagi, aku malah memalingkan wajaku.


" Tapi aku sudah lapar. "

__ADS_1


" Apa, lagi... ?" pekik Dirga, ia duduk kembali dengan benar, aku tau saat ini ia pasti sedang kesal karena sudah ku permainkan.


Yg aku yakin Dirga kecilnya sudah mengeras di balik celananya.


__ADS_2