Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter26. Flesia menghilang


__ADS_3

" wuuaah pasangan pengantin baru kita terlihat sangat luar biasa. " Goda Glend


" Tentu saja, wanitanya secantik ini dan di pasangkan dengan pria setampan Dirga, mereka benar benar sangat serasi. " tambah Nuan salah satu teman Dirga dan juga teman bisnisnya.


Mereka semua hadir di pernikahan kita berdua jadi Dirga tidak perlu memperkenalkanku lagi pada semua orang.


Sopia datang dengan membawa dua gelas minuman di tangannya.


" Ini minumannya, pesta ini belum sempurna kalau belum meminum segelas anggur. " kata Sopia dengan menyodorkan salah satu gelas minuman itu pada Dirga dan langsung di terima oleh Dirga.


" Apa mbak Flesia bisa minum. " goda nya, yg pasti sedang ingin menjatuhkan ku di hadapan semua orang.


" Sory, aku nggak pernah minum sebelumnya dan tidak ingin mencobanya juga. " Jawabku dengan senyuman.


Dirga mengambil segelas jus dan memberikannya padaku.


" Minum ini saja. " kata Dirga


Setelah cukup lama semua orang berbincang bincang Dirga yg asik bicara dengan teman temannya dan yg selalu di tempeli dengan Sopia membuatku sangat tidak nyaman berada di sana.

__ADS_1


" Ga, aku ingin kembali ke kamar. " bisik ku pada Dirga.


" Ya udah kita balik sama sama. " kata Dirga.


" Jangan Ga, nggak enak sama temen temen kamu, nggak pa2 aku balik sendiri aja, kamu lanjutin aja pestanya, bilang aja sama mereka aku agak pusing jadi balik duluan. "


Aku menyesali kata kataku yg membiarkan Dirga tetap disana. Aku kembali kekamar sendiri seperti yg ku mau, dan malah meninggalkan Dirga bersama Sopia disana yg jelas jelas aku tau kalau dia sangat menyukai suamiku.


Sampai di kamar aku membaringkan tubuh ku di atas kasur, pikiran ku mulai kalut, dan hatiku merasa tak tenang, untuk mendinginkan kepalaku aku memiloh untuk mandi.


Bahkan saat mandi pun pikiranku hanya pada Dirga yg masih belum juga kembali, selasai mandi aku memakai baju tidurku dan memakai pelembab wajah, karena merasa sangat khawatir alhirnya aku mengambil mantelku dan keluar dari kamar hotel.


Aku keluar hanya membawa hp ku dan kartu kamar hotel tanpa membawa dompet, karena awalnya aku hanya ingin melihat Dirga dari kejauhan.


Dadaku terasa sesak mata ku terbelalak, semua ketakutan dan kekhawatiranku pun seakan menjadi nyata.


Sopia memang menginap di lantai dua, dan kita ada di lantai tiga, tubuhku gemetaran, aku sudah di puncak emosiku, aku sudah mulai menangis.


Sampai di lantai satu aku keluar dari lip dan mulai berjalan keluar, pikiran ku kosong aku berjalan sempoyongan tanpa arah. air mata ku mengalir tak henti henti.

__ADS_1


Jam 12 malam Dirga kembali kekamarnya, dia membunyikan bel beberapa kali dan tak di bukakan pintu oleh ku. karena tidak mendafatkan jawaban dariku Dirga yg sedikit mabuk mencari kartu yg ada di sakunya.


" sia kamu lagi tidur, kok nggak bukain pintu cih sayag. " kata Dirga yg tak menyadari keberadaanku tak ada di dalam kamar.


Saat Dirga melihat tempat tidur da tak ada aku disana dirga memanggilku dan melihat ke kamar mandi tapi tak juga menemukanku.


" Dimana dia tengah malam begini." kata Dirga yg dengan cepat mengambil hpnya yg ada di dalam saku celananya.


Dirga yg awalnya sedikit mabuk seperti sudah tersadar sepenuhnya. Dirgaenelponku beberapa kali tapi tak ku jawab.


" Ada apa cih ini, kenapa sia tak mengangkat telpon ku dan kemana dia malam malam begini. " Dirga yg mulai panik berlari keluar mencari ku.


Sampai di lantai satu Dirga bertanya pada Resepsionis sambil menunjukkan potoku pada mereka Dirga bertanya apa mereka melihat ku keluar dari hotel, dan mereka bilang sudah 1 jam yg lalu aku leluar sari hotel.


Mengetahui itu Dirga semakin kalut, Dirga tau aku belum pernah kesini dan pasti tidak tau tempat ini.


Dirga naik taxi dan mulaiencariku kemana saja tanpa tau keberadaanku, yg pasti dia harus segera menemukanku.


Berkali kali Dirga menelponku, tapi aku masih tidak ingin bicara atau mendengar suaranya, aku benar benar tidak bisa melupakan apa yg baru saja ku lihat tadi.

__ADS_1


Sudah satu jam aku menangis, aku terduduk di tepi sungai yg di sinari lampu lampu jalanan, begiti banyak pasangan yg sedang menikmati leindahan malam ini, tapi aku malah menangis di suasana seindah itu.


Saat aku di hianati pertama kali aku masih bisa menerimanya, karena dengan cepat aku mengetahuinya dan aku juga belum sampai menikah dengan nya, lalu sekarang apa yg harus aku lakukan.


__ADS_2