Serpihan Luka

Serpihan Luka
Godaan


__ADS_3

Author POV


Keesokak harinya Kamilan datang berama Rio dan Sopi. Kamila Rio turunkan dari gendongannya, lalu suara langkah kaki kecil memalingkan wajah Sia, ia tersenyum lebar saat putri kecilnya memanggil namanya.


Kamila langsung berhamburan ke dekapan mamanya itu. Dirga mengambil alih Nathan dari dekapan Sia. Sia tak henti hentinya menciumi gadis kecilnya itu, ia sangat merindukannya karena sejak kemarin ia tidak bisa melihatnya.


" Sopi, terima kasih karena sudah bersedia menjaga Kamila dan membawanya kesini. Padahal kau dan Rio pasti sangat sibuk."


" Gak masalah kok mba. Lagian aku suka sama Mila, dia sangat imut dan juga sangat baik." Sia tersenyum mendengar pujian dari Sopi.


" Mila kangen sama mama? Mila baik kan sama bibi dan paman?"


" Hmm.." Kamila mengangguk angguk. " Mila suka bibi Sopi, sama bibi Lisa." Ujar Kamila. Sopi dan Rio saling tatap sesaat.


" Ehem!?" Dirga mendehem, membuat kedua orang itu jadi salah tingkah.


" Mba, boleh aku gendong, si jagoan?" Ujar Sopi.


" Tidak.." Tangkas Dirga.


" Hah?" Sopi, Rio dan Sia terkejut mendengar penolakan Dirga yang begitu tegas. " Maksduku, kalau kalian sangat ingin mengendong putraku. Kenapa kalian tidak segea membuatnya saja sendiri." Goda Dirga.


" Mas, kira buat boneka?" Celetuk Sopi. " Yang sehari buat langsung jadi." Sopi mengerucutkan bibirnya.


" Makanya buruan nikah, biar ceper cetak dan cepet jadinya."


" Dirga.."


" Mas.."


" Mas, Dirga.."


Ucap ketiganya bersamaan. Dirga malah tertawa karena merasa sudah berhasil menggoda mereka semua. Ia mendapat sebuah cubitan cap kala jengking dari Sia yang membuatnya sampai mengaduh.


Lalu akhirnya Dirga menyerahkan Nathan pada Sopi. Ia Mengajak bayi kecil itu bicara dan bercanda bersama Kamila juga.


" Kok, bunda ma ayah gak datang, Yo? Terus kalian kok gak kekantor?" Tanya Sia.


" Em, bunda tadi pagi tiba tiba ngerasa pusing mba."

__ADS_1


" Apa? Bunda gak pa pa kan Yo?"


" Gak mba. Dia pasti kecapean aja kemarin seharian lelah di dalam bus, dan gak sempet istirahat saat tiba disini. Aku minta bunda istirahat aja di rumah hari ini."


" Em, syukurlah. Tapi kamj yakin kan bunda gak serius sakitnya." Timpal Dirga, Rio mengangguk.


" Lalu, kerjaan kamu?" Lanjut Sia.


" Kebetulan, satu jam lagi kita ada rapat sama klien di luar kantor, jadi sekalian aja kita meeting dulu baru ke kantor abis meeting."


Setelah itu Rio dan Sopi pun pamit, tinggal Sia, Dirga dan kedua anak mereka yang berada di ruangan itu. Bahkan Kamila ikut tertidur pulas di samping Nathan, adik kecilnya itu sambil memeluknya.


Dirga membelai lembut rambut Sia. Sia pun tersenyum sambil terus menatap wajah kedua kehidupan yang sudah lahir dari rahimnya itu. Selama dua hari ini, Dirga tak sedetik pun beranjak dari samping Sia. Ia makan dan tidur bersama nya tanpa berpikir untuk pergi walau sesaat.


*******


" Mereka tertidur sangat pulas." Ucap Dirga, yang tanpa sadar suaranya yang kecil itu malah membengunkan Sia.


" Kau tidak tidur, Sayang?"


" Hmm." Jawab Dirga.


" Aku gak bisa, Sayang?"


" Kenapa?"


" Entahlah, rasanya aku tidak ingin jauh dari kalian."


Sia menatapnya dengan tatapan menggoda. Sia sangat usil karena sengaja menggoda suaminya itu.


" Sia, jangan memandangiku seperti itu. Aku mungkin tidak akan bisa mengendalikan diriku."


" Apa aku tidak boleh memandangi suamiku? Apa kau sudah mulai tidak menyukaiku, Ga?" Ujar Sia sedikit memanjakan ucapannya.


" Sia, berhenti menggodaku. Atau aku akan hilang kendali." Sia tertawa, ia merasa sangat lucu karena berhasil membuat Dirga sedikit kesal.


" Kau mentertawakanku sekarang. Lakukan itu selagi kau bisa, Sayang." Tiba tiba Dira kembali membaringkan tubunya lalu memeluk Sia dengan erat. Sia berusaha melepaskam diri, namun tak berhasil.


" Ga, lepas. Nanti Kamila bangun. Dan bagai mana kalau ada dokter atau yang lain masuk."

__ADS_1


" Memangnya apa yang kulakukan. Aku kan hanya memeluk istriku. Siapa pun yang melihatnya aku tidak perduli."


" Ga.."


" Diamlah. Bukankah kau memintaku untuk istirahat, sekarang aku ingin tidur. Jadi diam dan buat suamimu tertidur."


Sia pun akhirnya melingakrakn tangannya membalas pelukan suaminya itu. Awalnya ingin membuat Dirga tidur, malah dia juga ikut tertidur di dalam dekapan suaminya itu.


Kedatangan seorang dokter membangunkan Dirga.


" Ehem. Ya tuhan, untung istriku sudah kembali dinas dari luar kota. Liat yang beginian gak tahan lama lama tugas pengen cepet pulang kelonan ma istri." Ucap dokter Kris yang sejak lahiran merawat Sia. Dirga hanya membalas ucapan dokter Kris dengan senyuman.


" Baru kali ini, aku ngeliat pasangan yang udah memiliki dua anak masih kayak pengantin baru. Buat iman para jomblo meronta ronta. Untung aku udah nikah, kalo gak udah ku suntik racun tikus kamu, karena iri."


" Tapi yang paling mematikan itu adalah, wanita bagi pria. Tanpa wanita, rasanya seperti hidup tak berarti." Ujar Dirga, lalu keduanya pun tertawa kecil.


" Aku setuju. Dan aku juga baru sadar itu setelah menikah." Seru dokter Kris.


" Yaudah, aku sekalian mau ngasih tau, sebaiknya mulai besok kalian sudah harus meninggalkan kamad ini. Karena aku tidak sanggup melihat para makluk jomblo menangis karena kalian." Ucap dokter Kris. Lalu ia pun pamit keluar.


Setelah dokter gablek itu keluar Dirga menatap wajah istrinya yang sedang tertidur sangat dalam. Walau tanpa riasan, Sia tetap terlihat cantik. Lalu tiba tiba mata Sia terbuka perlahan, saat ia sudah benar benar sadar, Sia menyunggingkan senyuman pada suaminya itu. Senyuman yang begitu manis dan hangat sehingga mampu melelehkan gunug es.


" Lagi lagi kau memggodaku."


" Hmm!?" Sia memalingkan wajahnya sambil tersenyum.


" Sepertinya menyiksaku, merupakan hobi yang sangat kau nikmati saat ini ya, Sayang." Sia kembali tersenyum seraya mengecup pipinya.


" Maaf." Dirga menyeringai, Dirga sudah menarik tengkuk jenjang istrinya itu, sesaat keduanya saking tatap dengan mesra. Lalu Dirga menarik dagu istrinya lalu menciumnya dengan lembut. Bibir keduanya pun saling berpaut satu sama lain. Karena merasa kehabisan napas sesaat mereka melepaskan ciuman itu, lalu melakukannya lagi sampai mereka tak sadar ada seseorang yang membuka pintu.


" M--Maaf, bos.." Sia dan Dirga terkejut mendengar suara itu. Yang datang adalah Nuan, karena sangat malu, Sia memeluk Dirga dan membenamkan wajahnha di dada bidang suaminya itu.


Kenapa hidupku sangat sial. Mereka selalu saja begitu, membuatku selalu melihat adegan mesum mereka begini. Batin Nuan.


" Kenapa tidak ketuk pintu dulu." Ucap Dirga santai. Sedang kan Nuan saat ini sedang membelakangi mereka.


" Maaf bos, saya tidak tau kalau kalian bahkan bisa melakannya disini." Ucap Naun tanpa sadar.


Sejak kapan, masuk kedalam kamar pasien pake ketuk pintu dulu? Memangnya rumah sakit ini rumah mu. Gerutu Nuan sangat kesal pada bosnya itu.

__ADS_1


__ADS_2