Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Membabi Buta.


__ADS_3

" Beritahu aku Sia, sudah berapa banyak pria yang kau biarkan menjamah tubuhmu ini selain aku?" Air mata yang mengalir sudah tak terhitung, Sia merasalan sakit di hatinya mendengar hinaan yang di ucapkan Dirga. Sungguh hanya dialah satu satunya laki laki yang pernah ia berikan hak itu, karena dia adalah suaminya.


" Mari kita mulai, kembali permainan yang tertunda." ucap nya sambil tersenyum menakutkan. Dia mulai meraba setiap lekuk tubuh Sia, tangannya mulai meremas kedua payudara Sia secara bergantian dengan salah satu tangannya. Dia memandang Sia penuh kebencian, namun apa yang bisa Sia lakukan selain menerimanya, karena ia memang berhak atas tubuhnya.


" Bagai mana, apa kau menikmatinya, apa saat laki laki itu menjamahmu, lebih baik dari yang kulakukan ini, Sia!?" Sia menutup matanya menahan kepedihan. Sungguh tidak di sangka ucapan itu terlontar dari mulut laki laki yang sangat ia hormati dan cintai itu. Alasannya sampai bertingkah di luar kendali seperti itu adalah, akibat apa yang ia saksikan tadi siang di supermarket.


Kau bahkan masih bisa tertawa se lepas itu dihadapan laki laki lain, kau sungguh tidak tau malu, Sia. Kenapa kau membuatku semakin membencimu.


Saat tangannya mulai bermain dengan ganasnya di gunung kembar Sia, Dirga tertawa sinis saat melihat reaksi Sia yang mulai terbuai akibat ulahnya.


" Lihat, bagai mana tubuhmu jalangmu ini sangat menikmti setiap sentuhanku. Bahkan tubuhmh sangat menantangku ingin aku melakukan lebih." Dia melempar b*a Sia kesembarang tempat setelah melepaskannya. Sia merasa sangat terluka, ia sudah pada puncak emosinya. Mungkin dia memang sudah membuat kesalahan namun ini sudah melewati dari batas kesabarannya. Ia merasa sangat tidak adil di perlakukan seburuk itu atas kesalahan yang belum tentu ia lakukan.


Dirga dengan buasnya bermain dengan bibirnya dan juga isi di dalam mulitnya ikut menjelajahi gunung kembar Sia. Dirga melirik Sia melihat reaksinya, Sia hanya bisa memejamkan mata tanpa mampu berbuat apa apa. Saat sia sudah sangat basah dari ulah ganas Dirga yang sedang memainkan tangannya di bagian bawahnya.Sia hanya bisa mengerkan kepalanya ke kanan dan kekiri, karena merasa suda tidak tahan dengan perlakuan kasar Dirga pada tibuhnya, di beberapa tempat bahkan saat ini sudah terasa sangat sakit. Saat Sia sudah pada puncak efek rasa dari perbuatannya. Dirga pun akhirnya memakan habis Sia dengan ganasnya sampai 1 jam penuh tanpa ia sadari perbiatannya saat itu sangat lah berbahaya bagi bayi yang ada di dalam kandungan Sia.


" Aaaahhhh..." Teriakan Sia memecahkan keheningan Dirga yang awalnya hanya tersengar suara desahan dari keduanya. Aliran darah pun keluar dari daerah V Sia. Lalu Sia mulai mengerang sejadi jadinya, menjerit kesakitan. Saat melihat cukup banyak darah yang keluar membuat Dirga mulai panik. Kesadaran Dirga pun mulai kembali. Ia bergegas mengangkat tubuh Sia dan membawanya ke rumah sakit, setelah menghubungi Nuan untuk menjaga Kamila, karena saat ini Kamila hanya tinggal di rumah seorang diri.


Setibanya di rumah sakit Sia langsung di tangani oleh dokter, Dirga menunggu dengan gelisah di luar ruang perawatan, ia merasa menyesal sudah lakukan hal yang bisa membahayakan nyawa bayi yang ada di dalam kandungan Sia, yang mungkin saja bayi itu adalah darah dagingnya. Berjam jam Dirga menunggu namun dokter belum juga selesai mengani Sia, Dirga mengusap kasar wajahnya.


" Dirga.."

__ADS_1


Terlihat mama nya sesang berjalan tergesa gesa menuju kearahnya.


" Mama.." ujar Dirga panik.


PLAK!!


Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Dirga, bekas tangan mamanya sedikit menyengat.


" Apa kau ini, putraku? Apa kau benar benar anak yang ku lahirkan setelah ku kandung selama 9 bulan penuh, yang ku lahirkan dengan bertaduh nya, yang ku besarkan sepenuh hati dan cinta. Hah?" bentak mamanya.


" Ma.."


" Diam, kamu Ga. Dengar kan aku, jangan bicara sepatah kata pun sebelum aku ibumu ini selesai bicara." Tegas mamanya. Setelah menarik napas dalam dalam mamanya melanjutkan ucapannya.


" Aku punya alasanya, mama tidak akan mengerti." seru Dirga. Namun mama nya malah tertawa sinis.


" Alasan, apa? Hanya karena kau melihat istrimu tinggal sekamar dengan pria lain?"


Dirga terkejut bagai mana mama nya bisa tau hal itu. Dia tau karena sebelumnya ia sempat menelpon kerumah mereka karena merindukan sang cucu, namun yang menerima panggilannya adalah Nuan. Nuan pun terpaksa buka mulut karena mamanya Dirga mengancamnya untuk bicara. Dalam perjalanannya menuju rumah sakit, ia memaksa Nuan untuk menjelaskan segalanya padanya.

__ADS_1


" Kenapa? Kau terkejut karena mama tau hal ini, yang sudah dengan baik kau rahasiakan. Lalu apa? Kau langsung memponis istrimu bersalah bahkan setelah ia menjelaskan padamu berkali kali kalau hal itu tidak benar. Kenapa kau bisa senaif itu, nak. Sia itu tidak mungkin melakukan hal itu, bisa saja ia di jebak oleh seseorang, kenapa kau tidak bisa memikirkan kemungkinan itu. Kenapa kau bisa menutup mata dan hatimu sampai seperti ini, Sayang?"


Dirga terdiam, ia berpikir mungkin saja apa yang dikatakan mamanya itu benar, namun hatinya sudah benar benar tertutup untuk memikirkan kemungkinan itu saat emosi.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang perawatan Sia. Dokter itu pun mengatakan Sia hampir saja mengalami keguguran, membuat emosi mamanya semakin memuncak, ia menangis seraya memukuli dada bidang Dirga. Ia sangat murka padanya sampai sampai ia berkata, tidak akan menganggapnya sebagai anak lagi kalau sampai Sia benar benar mengalami keguguran karena ulahnya. Karena sebelum dokter itu pergi ia mengatakan penyebab hal tersebut terjadi akibat hubungan intim yang di lakuiannya sangat berlebihan dan paksaan. Mamanya mengusir Dirga dari sana, ia tidak bisa membiarkan Dirga berada di dekat Sia karena khawarir akan membuat Sia kerakutan dan mengalami kondisi yang lebih buruk lagi.


Sampai dua hari Sia di rumah sakit, ia tidak pernah melihat Dirga datang menjenguknya hanya sang mertua yang selalu setia menemaninya. Ia sempat bertanya tentang Dirga pada mama Dirga dan ia menjelaskan kenapa Dirga tidak datang karena ia melarang nya untuk datang. Sia berjam jam menangis di pelukan mertuanya itu, ia mencurahkan seganya paddanya, karena mertianya sudah mengatakan padanya kalau beliau tau apa yang sedang terjadi pada hubungannya dengab sang putra.


Setibanya di rumah Dirga sedang duduk di sof bersama Kamila. Saat Kamila melihat Sia anak itu langsung berlari dan memeluknya.


" Ambil barang barang mu nak." ucap mamanya tiba tiba. " Mulai hari ini kamu dan Kamila akan ikut mama kerumah mama dan papa." ucap mamanya tegas.


" Ma.. Apa maksud mama?" tanya Dirga bingung.


" Tapi ma." timpal Sia.


" Jangan membatahku, Sia. Mama gak bisa biarkan kamu tinggal serumah dengan laki laki sikopat ini. Mama gak mau kau dalam bahaya lagi jika terus tinggal denganya disini."


" Mama..." Suara Dirga sedikit meninggi.

__ADS_1


" Diam, kamu. Kau bukan anak ku lagi, jadi jangan pernah memanggilku mama lagi."


Mamanya akhirnya membawa paksa Sia dan Kamila bersamanya. Ia tidak mendengarkan larangan dari Dirga, apa pun yang di katakan Dirga ia tidak perduli sama sekali.


__ADS_2