
Dirga POV
Berkali kali aku menghubungi Sia, tapi nomornya terus saja sibuk. Aku merasa sangat kesal beecampur tidak tenang. Aku penasaran dengan siapa ia bicara hingga selama itu, apa laki laki yang hari itu. Batinku.
Sedangkan mama menolak panggilanku, aku sangat khawatir karena Kamila ikut di bawa oleh mama. Karena kesal aku meninggalkan pekerjaanku dan bermaksud pergi kerumah mama, tapi di tengah jalan aku berpikir sejenak, mungkin akan lebih baik seperti ini. Jika pun aku datang kesana mama pasti tidak akan mengijinkanku bertemu Kamila, karena saat inj ia sedang marah padaku.
-----------
Semalam aku minum cukup banyak, aku sampai tidak tau siapa yang membawaku pulang. Kepalaku sakit, di rumah tidak ada siapa pun selain diriku, lalu siapa yang sedang mandi di kamar mandiku. Aku berusaha turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi, sebelum aku membukanya pintu itu sudah terbuka dari sisi dalam.
" Kamu udah bangun Beb..?" Tania? Mataku membulat melihat wanita itu keluar dari dalam kamar mandi. Apa yang di lakukan wanita itu dirumahku sepagi ini, aku menggelengkan kepalaku berusaha untuk sepenuhnya sadar.
" Tania, apa yang kau lakukan di kamarku, kenapa kau bisa keluar dari kamar mandiku?" Tanyaku sedikit masih sempoyongan.
" Apa kau tidak ingan, Ga. Semalam..."
" Semalam apa?" Tangkas Dirga memotong ucapan Tania.
" Ayolah Beb, masak kamu lupa sih. Apa yang kita lewati semalam, sangatlah indah Sayang. Jadi gak mungkin terlupakan begitu aja." Ucapan dan kelakuannya membuatku merasa sangat tidak nyaman, wanita ular ini terus saja menggesekkan kakinya di pahaku.
__ADS_1
" Jaga sikapmu, Tania. Aku bukan seseorang yang yang akan lupa dengan tindakanku, walau sebanyak apa pun aku minum. Aku ingat kau yang mengantarku pulang, tapi aku juga ingat bahwa tidak terjadi apa pun di antara kita."Ujar Dirga.
" Aku tau sejak dulu kau tidak menyukaiku, Dirga. Aku tau saat ini hubunganmu dengan istri kampunganmu itu sedang renggang." ucap Tania.
Apa? bagai mana dia bisa tau hal itu?
" Apa kau baru sadar, betapa tidak sepadannya dia untukmu. Lalu kenapa, tidak kau tinggalkan saja dia dan kau cobalah denganku, aku pastikan pelayananku akan lebih baik darinya." Wanita ini sejak awal aku sangat tidak menyukainya, karena dia persis seperti yang ia katakan, seperti seorang pelayan di doskotik, seorang placur murahan, yang dengan mudahnya menyodorkan tubuhnya pada seorang laki laki.
"Dengar nona Tania. Sebaik apa pun pelayananmu, namun bagiku tidak akan pernah bisa di bandingkan dengan tubuh istriku, caranya bermain sungguh membuat air liurku selalu menetes di setiap aku menikmati tubuh seksinya. Jadi nona Tania tolong pakai telingamu baik baik, dulu, semalam atau pun di masa depan, di antara kau dan aku tidak akan pernah terjadi apa pun. Tolong ingat itu dan segera tinggalkan rumahku sekarang juga. Karena aku sangat membenci bau tubuhmu." Usir ku dengan tegas.
BRAKK!?
" Papa ini.."
" Nuan... Seret wanita ini dari sini sekarang." Ucap papa dengan lantang, dati suaranya yang bergetar aku sadar kalau papa sangat marah saat ini. Nuan membawa paksa Tania dari kamarku.
" Lepasin gue, gue bisa jalan sendiri, oke." Tania sangat kesal saat keluar dari dalam kamarku.
Setelah kepergian Tania dan Nuan, papa melangkah mendekatiku dengan tatapan pembunuh, aku menundukkan kepalaku.
__ADS_1
PLAKK!?
PLAKK!?
" Tamparan itu, untuk menantuku yang sudah kau sakiti dengan brutal, dan tamparan satulagi, untuk cucuku yang hampir saja lenyap akibat ulah gilamu, Dirga.." Bentakan papa menggelegar di telingaku.
" Sumpah demi tuhan, aku tidak pernah menyesali bahwa kau adalah putraku, darah dagingku. Kau mencoreng wajahku di hadapan Sia, kau membuatku malu bahkan hanya untuk menatap wajahnya."
" Pa, aku.."
" Diam, kau. Jika kah berani bicara sepatah kata saja, aku habisi kamu." Bentak papa. Aku hanya bisa mendengarkan kata katanya saat ini. Aku sungguh tidak mengerti, kenapa mama dan papa sangat membenciku, walau mereka tau apa yang sudah Sia lakukan padaku. Penghianatan apa yang sudah Sia lakukan, sehingga aku melakukan hal itu padanya.
" Apa? Ini yang kau butuhkan? Dengan ini baru kau mempercayai istrimu?" Papa melempar sebuah amplop coklat ke atas tempat tidurku. Sebuah gambar pun bertebaran dimana mana. Kuraih gambar gambar itu, dengan tangan genetar aku milihat wajah laki laki yang sekamar dengan Richa terlihat sedang menerima sesiatu dari seorang wanita yang tidak lain adalah Tania. Gambar itu menjelaskan kalau laki laki itu adalah orang suruhan Tania. Yang artinya kejadian malam itu sudah di atur dengan sempurna oleh Tania untuk menjebak Sia.
Tujuan wanita itu adalah memisahkan ku dan Sia dengan cara apa pun, dan dengan bodohnya aku benar benar terperangkap dalam jebakannya.
" Saat kau bilang akan menikahinya, aku sempat ragu wanita itu bukanlah yang terbaik untukmu, tapi dengan melihat sekilas gambarnya saja aku tau tidak ada seorang gadis sebaik dirinya didunia ini yang pantas menjadi istrimu dan menantuku. Tapi setelah apa yang kau lakukan padanya, aku menyesal, sangat menyesal membiarkannya menikahimu." Papa bukan hanya memukulku dengan secara pisik tapi ia juga memberikanku pukulan yang lebih berat dengan ucapannya.
Aku terduduk di lantai, merutuki kebodohanku, aku sungguh menyesal dengan apa yang sudah kulakukan, aku tidak tau apa Sia masih sudi memaafkanku.
__ADS_1
" Memohonlah padanya, jika kau tidak bisa mendafatkan kata maaf darinya. Maka aku sebagai orang tua mu akan mendukung keputusannya. Karena mulai saat ini Sia dan anak anakmu adalah keluargaku, dan kau akan ku anggap sebagai putraku lagi, jika Sia bisa menerimamu lagi dan memaafkan kesalahanmu. Bahkan jika dia memilih untuk berpisah denganmu, papa akan mendukung sepenuhnya." Setelah menyampaikan apa yang ingin di ucapkannya papa pergi dari hadapanku bergeming, aku terus memohon maaf padanya, tapi ia sedikitpun tak merasa iba padaku. Sebesar itulah kekecawaannya padaku saat ini. Ya, aku memang pantas mendapatkannya, sebanyak apa pun aku mengutuk diriku tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku sudah melakukan dosa besar pada Siaku. Aku sudah meragukan cintanya, aku tibutakan oleh amarah kecemburuan, aku tidak bisa mempercayai istrikunsendiri. Betapa bodohnya aku tuhan, karena marah sekali lagi aku mengobrak abrik isi kamarku. Aku bahkan membentak Nuan, yang ku anggap tidak bisa bekerja dengan benar, kenapa papa bisa lebih dulu menemukan kebenaran itu dan bukannya dia. Aku sudah memberinya perintah untuk mencari tahu kebenarannya sejak kejadian itu, tapi dia tidak menemukan apa pun, dan itu membuatku sangat kesal. Walau sesungguh nya saat ini aku hanya sedang mencari orang untuk melampiaskan kekesalanku.