
Saat pelajaran selesai Lisa sangat terburu-buru merapika perlengkapan kampusnya, lalu bergegas keluar. Roy yg duduk di sampingnya masih berpura-pura tidak menghiraukan Gadis itu.
" Roy !" pangil Rio yg tiba-tiba sudah berdiri di depan kelas. Kehadiran nya hanya membuat ricuh se isi ruangan.
" Waah, lihat itu, keduanya benar-benar sangat mirip dan juga tampan." bisik beberapa mahasiswi lain nya.
Roy mendesah, ia mulai tak memahami sikap Rio saat ini, entah apa yg membuatnya jadi berubah seperti itu. Sudah sejak lama Rio membuat jarak dengannya, bahkan sejak masuk SMA Rio sudah mulai menjaga jarak di depan umum. Karena menurutnya itu sedikit memalukan.
" Ada apa denganmu ? kenapa kau selalu saja datang kemari ?" tanya Roy. Namun pertanyaan nya tak di respon oleh Rio.
Rio terus saja asik celingak celinguk melihat ke sembarang arah.
" Apa lo mulai bosen sama jurusan lo dan berpikir ingin pindah jurusan ?" Tanya Roy lagi yg masih menuggu jawaban dari Rio.
" Rio !" Panggil Ciko sedikit berteriak.
" Iya ! oh sory, itu, gue kesini cuma mau ngajak kalian makan bareng, iya makan. " Kata Rio terbata bata.
" Lo bilang apa ?" Kata Rio.
" Geu juga pengen bisa deket sama mereka. " dalih Rio asal bicara.
Roy tersenyum tipis seprti sebuah ejekan.
" Dasar orang bodoh " celetuk Roy.
" Lo bilang gue apa barusan ?" tanya Rio dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
" Gue bilang lo bodoh, lo tau kenapa ? karena lo paling nggak penter bohong. " ujar Roy.
Ini pertama kalinya ia mengatai Rio seperti itu. Walau keduanya kembar tipe Roy adalah seseorang yg pendiam dan lebih suka menyimpan amarahnya.
Seburuk apa pun hubungan keduanya selama ini, namun tidak sekali pun keduanya pernah berdebat atau bertengkar, karena Roy selalu memilih untuk mengalah.
Ia juga selalu ingat janjinya pasaku. Saat aku mau pergi ke Jakarta aku berpesan pada mereka berdua, harus saling menjaga dan melindungi kesua orang tua kita, jangan pernah membuat ayah dan bunda kecewa, jadi selama ini Roy terus menjaga sikapnya dan menahan diri.
" Apa kau sedang ingin ribut dengan ku ?" kata Rio dengan tatapan yg sudah berapi api. Sesangkan Roy membalas tatapannya seaakan menantangnya.
" Wo, wo. Teman-teman !. " Kata Ciko mencoba melerai kedua orang yg berwajah sama itu.
" Gue nggak ngerti hal yg lagi kalian perdebatkan, tapi menurut gue ini salah deh." Tambah Ciko.
" Roy, orang-orang sedang memperhatikan kita, sebaiknya kita keluar sekarang. " Timpal Tobi.
Namun Rio malah berlalu pergi meninggalkan semuanya.
*******
Jam 07.00 tepat aku bergegas menuju kantor Dirga. Pak Amin mengemudikan mobil secara perlahan, 20 menit kemudian kita tiba di depan kantor suamiku. Ini pertama kalinya aku datang ke kantornya, sejak kita bersama.
Dari kejauhan aku melihat sosok nya sedang berdiri, dengan perlahan aku mendekatinya terlihat senyum lebar di wajahnya.
Saat aku sudah mendekat dengan gerakan cepatnya sudah menarikku dalam dekapannya, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
" Kau luar biasa, Sayang. " Bisik Dirga.
__ADS_1
Dia selalu bisa membutaku tersipu malu.
" Tidak ada wanita yg bisa menandingi kecantikan istriku, luar dan dalam. " kata nya sedikit menggodaku.
" Aaaww. " Rintih nya akibat cubitan ku di perutnya.
" Sakit Sia, Kenapa kau mencubitku. ?" Katanya
" Apa kau harus menggodaku di saat seperti ini. " kata ku karena merasa malu, saat ini aku melihat senyuman tipis di bibir sekertaris Kevin yg sejak tadi berdiri di belakang Dirga.
" Apa salah nya! aku memuji istriku. ?"
" Lalu mau sampai kapan kau akan memelukku seperti ini !" Kataku menyadarkan tindakannya yg sudah menunda waktu makan malam nya.
" Ok, kita berangkat sekarang, Kevin " kata Dirga memberi perintah untuk bergegas pergi.
Di dalam mobil
" Kita akan makan malam dimana. ?" Tanyaku yg masih penasaran dengan tujuan kita saat ini.
" Kita akan makan malam di restoran Flawiza. " kata Dirga
" Di mana itu ?"
" Ada di Hotel Flawiza nona, karena kebetulan tuan akan ada pertemuan penting dengan klien di sana. " jelas sekertaris Kevin.
" Apa, apa maksudnya dengan klien penting, dan pertemuan apa? " tanyaku sedikit bingung.
__ADS_1
Dirga menjelaskan keadaannya, ia benar-benar ingin makan malam bersamaku, namun melupakan pertemuannya, jadi ia memilih melakukan keduanya bersamaan.