
Author POV
Nuan masih juga enggan membalikkan badanya.
" Mau sampai kapan kau berdiri disana? Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan sebaiknya kamu keluar."
Nuan pun memberanikan memutar tubuhnya.
Lah malah di usir. Bilang saja bos mau lanjut lagi..
" Sudah katakan ada apa?" Tanya Dirga, yang tetap tidak mau menjauh dari Sia.
" Ada berkas yang harus bos tanda tangani. Dan meeting bersama tuan Keet sepertinya sudah tidak bisa di tunda lagi bos. Tuan Keet minta meeting nya di lakukan besok." Jelas Nuan.
" Lakukan meeting itu tanpa diriku."
" Tapi bos.."
" Aku bilang kau harus melakukannya sendiri. Aku tidak bisa jauh jauh dari istriku." Sia merasa sangat terganggu dengan ucapan suaminya itu lalu memberikan pukulan padanya.
" Kenapa memukulku, Sayang?"
" Besok aku sudah bisa pulang, Ga. Jadi kamu harus ke kantor."
" Tapi.."
" Gak ada tapi tapian." Sia sedikit melotot dan menggigit bibir bawahnya. Dirga malah tersenyum dan langsung mencium kilas bibirnya. Membuat Sia membelalakkan matanya dan memukul dadanya berkali kali.
" Kamu apa apan sih mas.. Nuan masih ada disini."
" Anggap saja kita sedang memberinya bonus akhir tahun."
Ya tuhan, apa ini hukuman bagiku, karena rela bekerja dengan pria tidak punya hati ini. Batin Nuan seraya berlali kali menghela napas.
" Oke, aku akan melakukan meeting nya besok, kau pergilah" usir Dirga tegas.
Hah! giliran istrinya yang gertak langsung ciut. Sok cull di luar tapi di depan istrinya cemen tingkat semut.
" Baik bos. Tapi bos, apa tidak masalah jika melakuka itu sekarang! Bukan kah istrimu baru saja melagirkan." Nuan melakuian serangan balasan. Tentu saja ia tidak ingin tersiksa sendiri. Nuan terkekeh di dalam hati.
" Huh!? Diam kamu, apa yang kau katakan." Kesal Dirga.
" Tahan bos. Jangan terbawa nafsu."
" Sudah keluar sana!"
" Baik." Nuan mungkin keluar dengan hati yang menangis namun ia juga merasa sedikit lega, sudah membuat seorang Dirga kesal.
__ADS_1
" Untung atasan, kalau gak.." Gerutu Nuan setelah berada di luar ruangan.
Sia akhirnya melepas pelukannya dengan wajah cemberut dan juga menghela napas lega. Ia menatap tajam suaminya itu, namun Dirga malah tertawa kecil. Iya tau Sia sedang kesal dan juga malu.
" Kenapa kau kesal, Sayang?"
" Itu karena ucapanmu itu sangat tidak enak di dengar. Aku sangat malu pada Nuan, bagai mana caraku menatap wajahnya kedepannya. Kau sungguh keterlaluan."
" Kenapa kau tertawa!" Sia semakin kesal karena Dirga malah tertawa geli.
" Aku tertawa karnamu. Sudah tidak usah di pikirkan apa yang baru terjadi. Kau seperti tidak mengenal Nuan saja." Ujar Dirga seraya menarik Sia kembali ke dalam pelukannya.
Sia memukul pelan dadanya." Dasar, kau ini."
💫💫💫💫
Besoknya Sia akhirnya di ijinkan pulang. Tak terasa ia bisa berada di rumah lagi, namun kali ini ia pulang dengan perut yang sudah tidak buncit lagi. Yang beberapa waktu dulu terus ia bawa kemana mana. Ia kembali dengan membawa keluarga yang sudah lengkap.
Sia yang sedang tiduran di samping Nathan tiba tiba di ganggu oleh Kamila.
" Ma.. Main sama Mila yuk."
" Tapi adik Nathan nya sedang tidur Sayang. Kita main nya saat adik Mila bangun aja ya nak."
Lalu Kamila mendekati adik kecilnya itu. Ia mencolek pipi gembul adiknya.
Namun bayi kecil itu tetap nyenyak dalam tidurnya. Karena ia baru saja menyantap ASI dari Sia dengan lahap, sehingga membuatnya mengantuk.
" Ma, kenapa Atan tidak mau main. Dia tidak mau bangun dan main sama Mila." Sia tertawa kecil.
" Itu karena adik Atan masih mengantuk. Dia kan bermain dengan Mila saat sudah tidak mengantuk lagi nanti." Jelas Sia seraya membelai lembut rambut putrinya itu.
Karena tidak berhasil mengajak adiknya bermain Mila keluar dari dalam kamar dan mengajak kakek dan neneknya bermain.
" Ada apa Sayang? Kenapa tidak jadi bermain dengan Athan?" Tanya neneknya.
" Atan tidur nek. Dia tidak mau main tapi hanya mau tidur." Ayah dan Bunda Sia tertawa kecil setiap kali mendengar cucu perempuannya itu bicara. Karena pelapalan yang sampai saat ini belum terlalu jelas dk ucapkannya membaut orang yang mengajaknya bicara pasti sangat antusias mendengarkan dengan mulut menganga.
💫💫💫💫
Setelah beberapa hari berlalu, kini di rumah sudah tidak ramai lagi. Karena dua hari yang lalu, bunda dan ayah Sia kembali ke kampung.
Sia yang mulai sibuk sejak pagi, meningglkan anak anaknya di kamar bersama suaminya. Karena hari ini adalah hariibur Dirga tidak ke kantor, sebenarnya sejak putra kedua mereka lahir, sangat jarang Dirga pergi kekantor lebih suka memghabiskan waktu bersama ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri dan anak anaknya di rumah dan menyerahkan segala tugas kantor pada Nuan ,Selain meeting penting akan di lakukannya sendiri.
" Athan, ayo bangun nak. Main sama papa dan kak Mila. Kenapa tidur terus, papa sangat jarang melihatmu terjaga." Sambil mencoleh wajah kecil bayi laki lakinya itu, tak henti hentinya Dirga mrnungjukan senyum lebar di wajahnya.
" Lah, kok papa di cuekin sih, nak. Biasanya kalau mama yang bangunin kamu selalu nurut. Kok papa di bedain, ayo dong Sayang." Dirga terus saja mengganggu tidur putra kecilnya itu. Sampai sampai ia tak menyadari kehadiran Sia yang baru masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
" Sayang, kamu lagi apa? Athan jangan di bangunkan." protes Sia sedikit mengerutkan keningnya.
" Tapi, Athan mau main kan nak ya?"
" Main gimana kalau anaknya merem gitu. Dia mau tidur bukan mau main, Ga."
" Ya udah, main sama mama nya aja ya!"
" Ga.." Dirga tersenyum geli melihat Sia kesal.
" Kemarilah." Dirga meminta Sia duduk di dekatnya.
" Ada apa, Sayang?" Sia pun menurut dan langsung duduk di samping suaminya itu.
" Apa kau tidak lelah, sejak pagi terus sibuk mengurus seisi rumah ini!"
" Tentu saja lelah, tapi aku sangat bahagia. Aku tidak ingin melewatkan momen seprti ini, hanya dengan bermalas malasan di dalam kamar. Saat kau bisa melakukan tugasmu rasanya sangat menyenagkan."
" Hmm. Kalau begitu, apa kau bisa meluangkan sedikit waktumu untuk suamimu ini."
" Huh? Apa?" Sia memundurkan wajahnya.
" Apa yang kau pikirkan? Aku hanya meminta pahamu untuk menjadi bantalku." Dirga langsung merebahkan kepalanya di kedua paha Sia dengan manjanya.
" Apa, aku tidak memikirkan apa pun." Sia memalingkan wajahnya.
" Benarkah?"
" Hmm.."
Dirga terseyum menyeringai, ia menarik tangan Sia dan meletakkannya di dadanya sambil menggenggam nya erat. Sia mulai memijat kepala Dirga dengan tangan satunya. Dirga senyum senyum walau matanya terpejam.
" Kenapa senyum?" Apa kua menyuakinya?"
" Hmm, aku sangat menyukainya. Pijatanmu sangat enak."
" Emmm. Kalo begitu bagai mana kalau aku jadi tukang pijat saja. Kita bisa membuka rumah pijat untukku."
" Hah? Tidak boleh." Tegas Dirga.
" Kenapa?"
" Karena kau hanya boleh memijatku, tidak ada seorang pun yang ku ijinkan menyentuh istriku."
" Tapi kan aku yang menyentuh mereka bukan mereka yang menyentuhku, Sayang."
" Sama saja." Tegas Dirga.
__ADS_1