Serpihan Luka

Serpihan Luka
Keputusan Sia.


__ADS_3

FLESIA POV


Hari sudah larut, tapi mataku masih enggan terpejam. Aku pergi dari rumah dengan rasa sakit hati yang mendalam karena perbuatan Dirga yang telah menyakiti perasaanku. Setelah mendengar segalanya dari papa dan mama, rasanya aku seperti tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup. Kenapa aku harus menerima siksaan dari suamiku sendiri atas apa yang tidak kulakukan. Kenapa ia tidak bisa mempercayaiku seperti mama dan papa yang sangat percaya padaku. Dirga lebih mengenalku dari siapa pun, selama 4 tahun aku menjadi istrinya, ku habiskan seluruh waktuku hanya untuk mencintainya dan melayani dirinya secara rohani dan jasmani, tapi dia dengan mudahnya mempertanyakan kesetiaanku hanya karena hal yang sebelumnya terjadi.


Hatiku terasa sakit setiap kali mengingat perbuatannya yang sangat menyakiti hatiku. Rasanya aku tidak sanggup meneruskan pernikahan ini karena kenangan menyakitkan itu terus menghantuiku, rasanya aku tidak sanggup lagi menghadapi Dirga apa lagi melihat wajahnya.


Pagi ini aku bangun lebih awal seperti biasanya, aku menyibukkan diri dengan membantu pelayan mama untuk menyiapkan sarapan. Kamila ku tinggalkan di kamar masih tertidur lelap, aku merasa bahagia karena akhirnya bisa terus memeluk gadis kecilku lagi.


" Pagi Sayang." Sapa mama tiba tiba sudah berdiri di belakangku.


" Pagi ma."


" Apa yang kamu lakukan, nak? Kau ini sedang hamil Sia, kenapa kau mengerjakan ini, biar bibi saja yang melakukannya." Omel mama.


" Iya ma. Tapi Sia merasa bosan dan sudah terbiasa saja selama ini selalu menyiapkan sarapan. Jadi gak bisa diam ma."


" Ya sudah. Ayo ikut mama duduk ada yang mau mama bicarakan." Aku mengikuti mama ke ruang tamu, karena tidak nyaman kalau harus bicara di dengar oleh pelayan.

__ADS_1


" Mama mau tanya, apa benar kau akan bekerja di kantor temanmu itu?"


" Iya ma. Kenapa ma? Apa mama tidak suka?"


" Tidak nak. Bukan itu maksud mama. Mama tau kau merasa tidak nyaman tinggal bersama mama tanpa bekerja. Mama juga setuju kamu bekerja, karena dengan bekerja kau bisa melupakan masalahmu dengan Dirga. Tapi Sayang, mama cuma mau pesan, tolong hati hati dan jaga kandunganmu dengan baik."


" Iya ma. Itu pasti."


Aku tidak pernah menyangka mama bisa semulia ini, aku sadar sejak awal mama sangat baik, dia memperlalukanku seperti putrinya sendiri. Tapi hari ini aku tau mama memiliki hati yang begitu tulus, aku benar benar tidak ingin kehilangan sosoknya. Tapi semalaman ini aku terus berpikir tidak akan sanggup lagi menerima Dirga dalam hidupku. Entah mengapa sangat sulit bagiku untuk bisa memaafkannya, sebelumnya aku bisa bertahan atas perlakuan buruknya tapi sebuah kenyataan yang ku dengar menimbulkan rasa benci yang teramat dalam padanya.


Saat melihatnya kemarin bara api di hatiku sangat meluap, aku sangat ingin membalas perlakuan buruknya terhadapku.


DIRGA POV


Aku sangat emosi ketika mengingat kejadian saat di rumah mama kemarin, semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan Sia lebih membela pria lain dari pada aku suaminya sendiri. Aku akui keslahanku pasanya, niatku untuk memperbaiki hubungan dengan Sia jadi rusak akibat ke hadiran pria sialan itu yang tidak tau dari planet mana datangnya.


Apa pun yang terjadi aku harus mendapatkan Sia kembali karena dia adalah milikku, tidak akan ku biarkan pria mana pun mengusik milikku. Aku pergi lagi ke rumah mama pagi ini untuk menemui Sia namun ia tidak ada di rumah, mama memperlakukanku sangat dingin, ia benar benar sudah menganggapku seperti orang asing. Mama bahkan tidak mengijinkanku untuk masuk kedalam rumah bertemu dengan Kamila, padahal aku sudah sangat merindukan putri kecilku itu.

__ADS_1


Apa? Aku sangat kesal saat mendengar dari mama kalau Sia saat ini sedang bekerja, bersama pria sialan itu. Aku bergegas pergi ke kantor Sia, sesuai dengan arahan dari mama, bagaimana pun aku harus bisa meminta maaf padanya hari ini, aku tidak ingin ini terus berlarut larut. Karena aku ingin segera bisa memeluk wanitaku lagi dan membawanya pulang bersama putri kami, kita akan memulai semuanya dari awal lagi da hidup bahagia seperti sebelumnya.


Pagi ini aku memberi perintah pada Nuan untuk memberi perhitungan pada Tania. Ia harus membayar segala kejahatan yang sudah ia lakukan padaku dan Sia.


Setibanya di kantor itu, aku melihat Sia sedang memasuki gedung kantor bersama pria itu, ia berbincang dengan santainya, sesekali ia menunjukkan senyuman di wajahnya. Itu membuatku sangat kesal, tapi aku harus bisa meredam amarku karena tuhuanku adalah untuk membujuk Sia agar mau memaafkanku.


Sia terlihat tidak suka melihat kedatanganku, namun aku membujuknya agar mau bicara denganku, dia menurutiku dan mengajakku untuk keluar dari gedung tersebut setelah ia meminta ijin pada pria yang bernama Riyon tersebut.


" Ada apa, kanapa kau datang menemuiku lagi? Bukankah aku sudah bilang tidak ingin melihatmu lagi." Kata katanya terdengar sedingin es, aku sadar ia sangat marah padaku, tidak bukan hanya marah, Sia pasti sangat membenciku sekarang. Dia bahkan tidak sudi melihat wajahku saat bicara.


" Aku ingin mengajakmu bicara, dan lagi apa ada alasan bagi suami untuk menemui istriny." Sia tersenyum sinis padaku. Apa seperti ini yang dirasakanya saat aku memperlakukan dirinya dengan dingin selama ini. Tidak ini belum seberapa di bandingkan dengan perlakuanku padanya. Setidaknya walau ia enggan melihatku ia masih bersedia mendengadkan ku bicara.


" Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu, aku sangat sibuk. Dan lagi pula aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Seperti yang kau katakan, aku setuju untuk berpisah denganmu saat anik ini lahir."


Kalimat terakhir yang ia katakan seperti pukulan berat bagiku, tidak ini tidak mungkin, Sia ku yang lembut dan penuh kesabaran tidak mungkin bisa menyetujui hal itu.


" Aku mohon padamu Sia. Aku berjanji tidak akan berbuat kasar padamu lagi, aku berjanji akan berubah, seumur hidupku aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik dan akan selalu mempercayai dirimu..."

__ADS_1


" Cukup, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi keluar dari mulutmu itu. Melihatmu saja membuat dadaku sangat sesak." Sia berdiri dari duduknya lalu bergegas meninggalkanku, panggilanku di abaikan olehnya. Rasa bencinya sangatlah besar padaku, tentu saja tidak akan semudah itu bagiku mendapatkan pengampunannya.


__ADS_2