Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter 33. Wanita pencuri hati 2


__ADS_3

Aku mengamati wajah kedua pria tampan yg sedang duduk di sisi kiri dan kanan di.


" Jadi gimana rasanya hari pertama jadi seorang mahasiswa. ?"


" Biasa aja kok mbak, ya sama aja kayak di SMA, dapat temen baru, belajar, apa lagi selain itu !" kata Rio


" Em, udah ada cewek yg nembak nggak ?" Godaku.


" Apaan cih mbak !"


" Nggak perlu di tanya lagi sayang, pasti sudah banyak cewek yg naksir mereka. " timpal Dirga.


" Bener nggak ada Roy. ?"


" Roy nggak perlu di tanyak mbak, gimana cewek mau deket kalau mukanya selalu kecut gitu kayak jeruk purut. " Ejek Rio.


Roy yg tersenyum ringan sambil tetap sibuk dengan telepon genggamnya. Berpura pura tak perduli dengan pertanyaanku.


" Dia itu Aneh. "


" Aneh ? Nggak, ah. " sahut Roy tiba tiba.


" Beran nggak ada satu cewek pun yg kalian suka.? adik mbak sekeren ini." aku masih kekeh dengan rasa penasaraku.


" Di suka atau menyukai itu kan berbeda Sia !"


" Aku rasa banyak yg menyukai Rio, dimana dia disitu ada kerumunan cewek cewek nggak jelas. " ujar Roy.


" Benarkan mbak bilang. "


" Ada satu cewek yg mencuri perhatianku cih mbak. " kata Rio mengejutkan semua orang.


" Siapa. ?" tanyaku.


" Dia tidak menatapku walau berdiri di hadapanku, dia juga tidak tersenyum saat melihatku, gadis itu, "

__ADS_1


" Gadis itu! siapa nama nya?"


" Rio nggak tau. "


Gelagak tawa mengisi ruang tamu saat ini.


" Wah, sepertinya gadis itu tidak menyukaimu Rio. "


" Aku rasa gitu mbak " tambah Roy.


Karena sudah merasa sangat lapar aku mengajak semua orang ke dapur untuk makan malam bersama.


Kita menyantap makanan yg di buat bibi.


Selesai makan aku dan Dirga berbalik ke kamar untuk tidur, rasa lelah sudah menyusiri sekujur tubuh, ingin segera terlelap melenyapkan kepenatan yg menyiksa diri.


Sesampainya di kamar aku menatap ranjang aku ingin segera menikmati empuknya ranjang itu. Ketika telepon genggam Dirga bersuara, aku tak mengubris langsung memeluk bantal guling.


Dirga saat ini berada di teras untuk menjawab panggilan yg masuk ke telepon genggamnya.


30 menit kemudian Dirga kembali dari kesibukannya menerima telephon. Ia duduk di pinggiran tempat tidur, lalu mengecup keningku.


' Selamat malam sayang. '


Lalu Dirga pun berbaring di sampingku, Ia menarik ku ke dalam dekapannya.


Seberkas sinar mengganggu kenyamanan penglihatanku. Cahaya itu memunculkan bintik bintik yg berebut memasuki pupil.


Aku menyingkirkan selimut, alih alih beranjak ke kamar mandi, aku memeriksa jam tangan Dirga yg berada di meja. Pada layar tertera jam 06.30.


Seketika mataku terbelalak, ini pertama kalinya aku bangun kesiangan. Telingaku mencerna abjad yg bila dieja bernada namaku.


" Sia, kamu udah bangun sayang !" teriak Dirga dari ruang kamar mandi.


" Hemm, kamu lagi apa Ga ?"

__ADS_1


" Aku udah selesai, masuk lah. "


Aku menyibakkan daun pintu yg sedikit tersingkap. Bisa jadi karena Dirga tidak menutup pintu dengan sempurna.


" aaa." dengan cepat aku berbalik karena terkejut melihat Dirga masih belum mengenakan apa pun.


" Kata kamu udah siap, pakai handuk mu donk, Ga. "


Walau kita sudah saling mengenali tubuh masing masing, namun rasanya masih sulit mihatnya tanpa mengenakan apa pun seperti itu.


" Kamu kenapa cih Sia, bukan ber'arti kamu belum melihatnya kan. ?"


" Tapi aku belum terbiasa dengan ini. "


" Maka kau harus belajar untuk membiasakannya mulai sekarang. " Bisik Dirga yg posisinya sudah sangat dekat denganku, dan memelukku.


" Kenapa tidak membangunkan ku. !"


" Aku tidak tega melakukannya, lagi pula ini juga tidak terlalu terlambat bagi kita. "


" Keluarlah aku harus mandi. "


" Kenapa memintaku keluar, aku ingin melihatmu mandi. " Goda Dirga


" Ga, "


" Baiklah, aku keluar. "


Senyum Dirga mengembang dari ujung telinga kanan ke telinga kiri, senyumnya selalu menular, aku pun mengikuti dan tak bisa menepis senyum itu.


Kepatuhan suamiku itu hanya Formalitas saja. Lagi lagi, Dirga menggangguku dengan memandangku terus menerus.


" Ga, ayo donk. "


" Ok, ok aku keluar. "

__ADS_1


Tatapan ku mengikuti langkah Dirga. Hingga sampai ke pintu.


__ADS_2