
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi pon terdengar sangat nyaring dari dalam ruangan tersebut.
Semua orang sontak berdiri, namun Dirga malam terduduk lemas di kursi tunggu. Akhirnya keceamsannya pun berakhir sudah. Jantungnya berdegup sangat kencang dengan semakin kencangnha suara tangisan putra keduanya itu.
" Ma..!?" Dirga memeluk mamanya, dengan air mata haru yang sudah mengalir di wajahnya.
" Anakmu sudah lahir, nak. Putra mu sudah lahir, Sia berhasik, Sayang."
" Iya, ma."
" Mas, selamat karena sudah menjadi ayah untuk kedua kalinya." Ucap Roy. Dirga memgangguk pelan. Lalu ia memeluk papanya, dan tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Lalu terlihat dokter yang membantu Sia bersalin keluar.
" Bagai mana keadaan istri dan anakku, dokter?"
" Mereka berdua baik baik saja, Dirga."
Dirga dan seluruh keluarga menghela napas lega, " Syukurlah."
" Selamat untukmu, sekarang masuklah, temui isrti dan anakmu, kalian harus melakukan sentuhan pertama pada purta kalian."
" Baik." Ucap Dirga, lalu ia mengikuti dokter Vino masuk kedalam.
💫💫💫💫
Saat tiba di dalam, suster sedang meletakkan putra kecilnya di dada Sia. Untuk melakukan sentuhan pertama, agar anak mereka langsung mengenali siapa orang tuanya, dan wangi tubuh dari orang tuanya. Di dalam dekapan Sia bayi kecil itu terus saja bergerak dan mulai menemperlkan bibirnya di dada Sia seolah sedang mencari sesuatu yang sangat ia inginkan.
" Wuah, putra kalian sangat agreaif ya, aku rasa hal itu menurun dari gan papanya." Ujar dokter Vino.
" Ahahahah.." Sia dan Dirga tertawa kecil mendengar sindiran dokter Vino. Setelah itu suster membersihkan bayinya sebelum bayi itu di serahkan lagi pada Dirga untuk di adzan kan.
Saat melakukan tugasnya itu, Dirga meneteskan air matanya. Perasaan yang sama seperti pertama kali, Kamila lahir kedunia saat Dirga menyentuh tangan kecil nya itu Dirga mendekatkan wajahnya untuk berbisik.
" Selamat datang, putra kecilku. Selamat datang di dunia ini sebagai pelita yang menyinari kebahagaian keluarga kita."
Maaf, nak. Karena papa pernah berbuat buruk padamu, dan terimakasih karena sudah hadir di dalam kehidupan mama dan papa.
Lalu Dirga menyerahkan kembali bayinya pada suster, lalu ia beralih mendekati Sia, dan mengelus lembut rambutnya lalu mengecup kilas kening dan bibir Sia.
" Terimakasih Sayang." Hanya kalimat itu yang mampu Dirga ucapkan untuk mengutarakan rasa bahagianya.
" Bayinya mau di beri nama apa, tuan?" Tanya suster yang hendak membawa bayi mereka ke ruang bayi.
" Nathan Lois Adinata." Jawab Sia dan Dirga bersamaan.
Tak lama kemudian Sia di pindahkan keruang inap. Dirga dan yang lainnya sudah berada di ruangan tersebut. Sambil saling mengucapkan selamat dan ungkapan lain nya yang penuh haru.
__ADS_1
Lalu sesuai permintaan Dirga dan mamanya suster membawa Nathan keruangan itu karena mereka sangat ingin melihat cucu beserta keponakan yang baru saja bergabung dengan keluarga besar mereka.
Suster pun membawa putra Sia dan Dirga masuk, dengan cekatan mama nya Dirga langsung memyambar cucu barunya itu dari tangan suster.
" Hallo Sayang!? Lihat pa, betapa tampannya cucu kita ini." Ujar mamamya Dirga sambil menunjukkan cucunya itu pada sang suami.
" Kau benar, ma." Seru papa nya Dirga membenarkan ucapan sang istri.
" Hai genteng. Salam kenal, aku Lisa.. Ngomong ngomong boleh aku menggendingnya tante?" Pinta Lisa, yang sangat gemas dan ingin sekali menggendong anak dari calon kakak iparnya itu.
" Tentu, ini peganglah dengan hati hati." Mamanya Dirga menyerahkan Nathan pada Lisa.
" Jadi mba, mas!? Aku harus memanggil keponakan baru ku ini siapa?" Tanya Roy.
" Nathan fahar abbas." ujar Dirga.
" Nama yang bagus, lalu paman akan memanggilnya Nathan, terdengar sangat berkarisma." Ujar Roy, sambil menyentuh pipi kecil keponakannya itu.
Setelah acara saling memperkenalkan diri dengan Nathan selesai. Orang tau Dirga kembali kerumah, begitu pun dengan Roy dan Lisa, mereka harus segera kembali kerumah, karena Rio berkata ingin kerumah sakit juga menemui keponakan barunya. Karena Kamila tidak ada yang menjaganya di rumah, maka merekalah yang harus pulang.
💫💫💫💫
Saat semua orang sudah pergi, hanya tinggal Dirga yang masih berada di sisi Sia. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Sia dan memelukny dengan sangat erat.
" Kenapa menangis Sayang?" Tanya Dirga saat menyadari Sia terisak di dalam dekapannya.
" Kau ingat, Sayang! Saat Kamila kita lahir, kau juga mengatakan hal yang sama seperti itu." Seru Dirga.
" Tentu saja aku ingat, mana mungkin aku bisa melupakannya, saat itu maupun sekarang, terasa sangat lah sama."
Kreeeek
Saat pintu terbuka, Sia dan Dirga terkejut dan juga langsung tersenyum melihat siapa yang baru datang.
" Bunda!?"
" Sia.."
Orang tau datang bersama Rio, Sia tidak tau kalau orang tuanya akan datang secepat itu.
" Mas, mba Sia itu baru saja melahirkan, jangan memeluknya seerat itu." Ledek Rio. Sepontan Dirga turun dari atas ranjang dan menyambut kesatangan mertuanya itu.
" Ya Elah mas. Baru juga lahir, udah mau buat lagi aja." Lanjut Rio meledek Dirga.
" Rio..!!" Seru ayahnya.
__ADS_1
" Maaf, Ayah."
Bunda nya langsung memeluk Sia dengan lembut dan hangat. Dekapan yang sangat ia rindukan kini dapat ia rasakan lagi.
" Kamu baik baik saja, nak?" Tanya nya sambil mengelus lembut rambut putri tercintanya itu, Sia mengangguk pelan sambil tersenyum. " Bunda sangat merindukanmu."
" Sia juga, bun."
Dirga, Rio dan ayah Sia hanya tersenyum melihat ibu dan anak itu saling melepaskan rindu.
" Mana cucu bunda?"
" Dia sedang berada di ruangan nya bun. Namanya adalah Nathan, cucu kedua binda dan ayah kami beri nama Nathan."
" Nama yang bagus, nak." Seru ayahnya.
" Apa kita boleh melihatnya mba?" Tanya Rio.
" Tentu saja." Jawab Dirga." Tadinya mereka masih mengijinkan Dia di bawa kesini, tapi sekarang kita hanya bisa melihat dari luar ruangannya." Jelas Dirga.
" Rio, kenapa Mila tidak kau bawa kesini? Aku sangat merindukannya." Tanya Sia. Tadinya ia berharap Rio akan datang dengan membawa Kamila bersamanya.
" Tadi saat kita mau berangkat, Mila baru saja tidur, jadi kita tidak tega membangunkannya." Jawab Rio.
Setelah itu Dirga pergi keluar mengntarkan mertuanya untuk melihat cucunya. Dan hanya tinggal Rio yang menjaga Sia.
" Aku kan juga ingin melihat jagoanku mba." Kesal Rio, sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kalau begitu ikuti saja mereka. Mba yakin mereka belum jauh."
" Aku tidak ingin di pukul oleh suami bucin mu itu."
" Apa?"
" Bukankah dia sudah bilang aku tidak boleh bedanjak dari tempat ini sampai mereka kembali. Dia menagatkan itu dengan sangat tegas."
" Tapi mba gak pa pa."
Walau Sia mengatakan dia baik baik saja, Rio yang merasa tidak baik baik saja jika dia pergi meninggalkan mba nya itu. Karena Dirga sangat tegas dengan ucapannya, dan di dukung oleh ayahnya juga.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih.😘😘😘😘