Serpihan Luka

Serpihan Luka
C2. Melepas Rindu.


__ADS_3

AUTHOR POV


Flesia bekerja sampai jam 5 sore. Ia selalu bergegas pulang begitu sip kerjanya habis, ia taluk Dirga pulang lebih dulu darinya, karena ia berpikir Dirga belum tau kalau dia bekerja selama ini. Dirga melarangnya dengan tegas agar tidak melakukan apa pun selain diam di dalam kamar.


" Sudah mau pulang, non Sia?"


Mata Fledia membulat dengan sempurna saat melihat Nuan ada di hadapannya. Tangannya mulai bergetar karena ketakutan, ia takut Nuan akan memberitahu Dirga kalau dirinya sedang tidak ada dirumah.


" N-Nuan.....!?"


" Ayo, saya antar pulang non." Ajak Nuan sopan.


Flesia tidak menyangka kalau Nuan masih memperlakukannya seperti biasa, walau sudah tau apa yang terjadi antara aku dan Dirga.


" T-Tidak usah, Nuan lagi pula rumah kan tidak jauh dari sini. Maaf, Nuan. Tapi bisakah kau tidak mengatakan hal ini pada, Dirga!!"


" Non, Sia tidak usah takut, saya tidak akan mengatakan apa pun pada tuan Dirga. Jadi non Sia santai saja."


Flesia menghela napas lega mendenagr itu dari mulut Nuan.


" Mari non."


Nuan membukakan pintu mobil untuk Flesia.


" Aku jalan saja."


" Non Sia kan lagi hamil, jangan terlalu kecapean. "


Nuan sangat kekek dan akhirnya Flesia pun mengalah dan naik kedalam mobil. Nuan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sangat berhati hati. Flesia hanya menundukkan kepalanya, Nuan meliliknya melalui kaca depan, ia bisa melihat kepedihan di wajah sang istri majikan.


Aku yakin semua yang terjadi tidaklah benar. Tapi untuk saat ini aku belum bisa melakukan apa pun untuk non Sia. Karena aku belum menemukan bukti apa pun.


Setibanya di rumah Flesia terkejut dengan kedatangan Roy dan Lisa.

__ADS_1


" Mba... Sia dari mana aja sih?" tanya Roy.


" Roy...! Lisa..? Kalian kok bisa ada disini?" tanya Flesia gugup. Roy langsung memeluknya begitu pun dengan Lisa.


" Tentu aja karena kita kangen Mba dan juga si gadis kecilku." ucap Roy. " Oh ya! my princess, ada di mana, Mba?"


Flesia mulai panik, ia tidak tau harus mejawab Roy bagai mana, Dirga sudah sangat tegar melarangnya utuk bertemu dengan Kamila, namun ia juga tidak mungkin mengatakan hal itu pada Roy.


" Non, Kamila pasti ada di kamarnya, aku akan memanggilnya." ujar Nuan. Lalu ia pun langsung bergegas memanggilkan Kamila.


Roy menatap Flesia cukup lama, ia merasa ada perubahan besar pada mba nya tersebut.


" Kenapa, mba?"


" Huh!? Kenapa, apa nya?" tanya Flesia panik.


Roy mendekati Flesia dengan tatapan tajam, ia meraih tangan Flesia. Lisa pun ikut mendekatinya.


" Oh, itu. Iya beberapa hari yang lalu mba sempet sakit, dan baru aja sembuh." Bohong Flesia.


" Iya mba, Lisa juga seperti melihat orang lain sekarang. Bukan mba Sia yang cantik dan ceria seperti biasanya." timpal Lisa. Flesia berusaha tersenyum, namun entah mengapa sangat sulit baginya untuk bersikap seperti biasanya. Roy menyadari ada hal yang aneh pada Flesia saat ini.


Bobot Flesia memang sangat menurun saat ini, di akibatkan karena tidak ada nya selera makan paska kehamilannya yang masih bulan awal, dan juga di akibatkan stress berlebihan yang di alaminya akibat perlakuan kasar sang suami.


"Apa? Terjadi sesuatu anatara mba dan mas Dirga? Semuanya baik baik aja kan, mba?"


" Iya, Roy. Semuanya baik baik aja kok, Sayang." Flesia mengalihkan pandangannya dari Roy, karena saat ini matanya mulai berkaca kaca.


" Oh ya, kabar Rio gimana? Kok gak di ajak sekalian sih, Roy!!" Flesia mencoba mengalihkan pembicaraan. Walau Roy tau itu, namun ia tidak ingin bertanya lebih lanjut, karena Flesia sendiri tidak ingin mengatakan apa apa maka ia hanya bisa menunggu sampai mba nya itu cerita sendiri. Apa lagi jika itu adalah masalah keluarganya, ia tidak berhak untuk ikut campur.


" Tadinya sih mau ngajakin, tapi jadi lupa waktu udah ngobrol sama Lisa."


" Hem... Kok aku sih?" tangkas Lisa.

__ADS_1


" Ya emang gara gara kamu kan?"


"Kamu nyalahin aku..." kesal Lisa.


Flesia sedikit menunjukkan senyuman di bibirnya, ia sangat merindukan perdebatan adik dan calon adik ipar itu. Ia bingung kenapa sepasang kekasih itu masih bisa bertahan walau setiap hari ada saja yang mereka berdua perdebatkan.


" Mama....!?" Panggil Kamila, Kamila turun bersama Nuan. Kamila berlari kearah Flesia, dan berhamburan kepelukannya. Sudah hampir 1 bulan keduanya tidak di ijinkan bertemu walau mereka ada di rumah yang sama. Akhirnya ia bisa memeluknya lagi, betapa Flesia sangat merindukannya, ia bahkan tidak bisa menahan emosinya dan air matanya pun jatuh tah tertahankan. Akhirnya keduanya bisa saling melepas rindu.


Terimakasih tuhan, akhirnya aku bisa memeluk anak ku lagi setelah sekian lama.


" Anak mama...", Flesia menciumi wajah Kamila sampai puas. Bukan hanya Roy yang merasa kebingungan saat melihat adegan anak dan ibu tersebut, Lisa bahkan sampai terperanga melihatnya.


Situasi apa ini? Kenapa mba Sia dan Kamila kayak udah lama banget gak ketemu, padahal mereka kan setiap hari ketemu. Apa emang mereka selalu gini? Batin Lisa.


Aku yakin ada yang gak beres. Tapi apa? Batin Roy.


Flesia yang tiba tiba tersadar dengan cepat cepat menyeka air matanya dan berdiri sambil menggendong Kamila. Ia mencoba kembali tersenyum, namun Flesia bukan seorang pembohong yang handal, ia benar benar tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang artis.


" Paman...!?" Panggil Kamila dengan lapar yang kurang jelas begitu melihat sang paman.


" Hai Sayang...!?" Roy langsung meraihnya dari tangan Flesia karena anak kecil itu langsung mengulurkan kedua tangannya ingin di gendong olehnya.


" Aku dong, Roy yang gendong." rengek Lisa.


" Halo tante cantik..." Dengan pelapalan yang masih kurang jelas dan suara imutnya siapa pun yang melihatnya pasti sangat ingin menggendongnya.


" Hai, Cantik.... Apa kabar. Sini sama tante aja yuk!" Ajak Lisa, dan Kamila pun dengan sekejap sudah berpindah kepangkuannya.


Cukupa lama mereka saling berbincang dengan anak umur 3 tahun itu, saling bercanda. Tawa mereka mengelegar saat Kamila belepotan mengucapkan beberapa kata.


" Mama, Mila, mau tidur sama mama." Kamila mengigau dalam tidurnya. Tiba tiba Kamila merasa mengantuk, dan tertidur di pangkuan Roy. Roy dan Lisa saling tatap, mereka seakan memiliki pemikiran yang sama di dalam kepalanya.


Tidak terasa hari sudah sangat malam, Flesia menyiapkan makanan untuk mereka, ia terpaksa melakukan hal itu karena Roy mengatakan akan menginap malam ini di sana. Ia tidak tau hukuman apa yang akan ia dapatkan dari Dirga setelah ini karena sudah berani melakukan sesuatu yang di larang nya dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2