Serpihan Luka

Serpihan Luka
10 Tahun lebih tua


__ADS_3

AUTHOR POV


Rio



Hari ini Rio di angkat sebagai maneger di perusahaan ia bekerja, tidak ada yang menyangka sangat mudah baginya dengan kecerdasanya membuat dirinya menjadi seorang pekerja yang handal. Dengan di angkatnya sebagai maneger muda Rio akan membutuhkan seorang asisten.


" Lena apa kau sudah menemukan asisten untukku?"


" Sudah pak, aku sudah memintanya untuk mulai masuk bekerja hari ini."


" Orang seperti apa yang kau pilihkan menjadi asistenku? Bahkan di hari pertamanya saja sudah terlambat begini."


" Maaf kan saya pak. Saya akan memberi teguran keras padanya, agar.."


" Sudahlah, kau sebaiknya kembali bekerja."


" Baik pak."


Rio sangat kesal, dia sangat tidak suka dengan kariawan yang tidak ontime, apa lagi dia hanya sebagai seorang asisten.


Tok tok


" Masuk."


Rio tidak memperdulikan siapa yang masuk kedalam ruangannya.



" Maaf pak, saya terlambat."


" Apa kau tau..."


Mata Rio seakan tersihir melihat sosok wanita cantik yang ada dihadapannya saat ini.


" Sopi...!?"


" Hai kak, apa kabar?"


Sopi langsung mendekati Rio dan menrangkul lengannya dengan manja, sejak 3 tahun yang lalu Rio dan Sopi sudah tidak saling bertemu atau saling kontak. Sopi tidak pernah berubah setiap ia bertemu Rio dia akan terus saja menempelinya seperti permen karet.


" Kau! Bagai mana kau bisa ada disini? Bukankah studymu baru selesai tahun ini?"


" Kakak, tidak merindukanku ya? Kok malah nanyain hal yang gak penting sih?"


" Baiklah, apa kabarmu? Sejak kapan kau kembali ke Jakarta? "


Sopi terlihat kesal ia bahkan memanyunkan bibirnya dan melepaskan tangannya dari lengan Rio.

__ADS_1


" Jawab dulu pertanyaanku? Apa kakak merindukanku?" Rengek Sopi.


Aku tidak menyangka selama apa pun waktu berlalu, dia masih tetap sama, sangat manja dan kekanakan. Ikuti saja kemauannya atau dia akan terus merengek padaku.


" Tentu saja."


" Tentu saja apa? Bicara yang jelas kak?"


Dia ini.


Rio memijat pelipisnya karena merasa sedikit kesal.


" Tentu aku merindukanmu."


" Bohong."


Hah!!! Sudahlah aku menyerah menghadapinya. Aku sudah mengatakan apa yang ingi dia dengar tapi dia malah membuatku terlihat bodoh.


" Apa maksudmu?"


" Kalau kakak merindukanku, kau pasti akan mencoba menghubungiku kan? Tapi setelah mengabaikan ku selama 3 tahun bagai mana aku bisa percaya kalau kakak merindukanku." Sopi semakin kesal.


" Kau tau aku tidak punya nomor ponselmu Sopi."


" Itu karena kakak tidak pernah memintanya atau pun ingin tau tentang aku. Aku tau kakak tidak pernah benar benar memganggapku ada, apa lagi menyukaiku. Aku sadar kalau aku cuma sebatas anak seorang pelayan."


Setelah mengatakan itu Sopi melangkah hampir keluar dari ruangan tersebut.


Rio menarik lengannya. Sehingga Sopi berbalik dan menundukkan kepalanya, ia berusaha menutupi cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


" Apa yang kau katakan! Kenapa kau berpikir seperti itu?"


" Tapi kakak memang tidak menyukaiku kan?"


Sopi mengangkat wajahnya dan Rio melihat air mata Sopi yang tergenang hampir mengalir dari kornea matanya.


" Maaf kak, aku hanya sangat merindukan kakak sampai tidak bisa mengendalikan diri. Tolong lupakan saja apa yang sudah kukatankan. Dulu aku sudah berjanji pada kakak, tidak akan memaksa kakak untuk membalas perasaanku."


Rio melepaskan pegangannya. Ia merasa bersalah sudah membuat Sopi bersedih, namun entah mengapa hatinya tidak juga tergrak untuk menyukai wanita cantik itu.


" Ohya, mulai hari ini aku akan bekerja disini sebagai asisten kakak. Tapi kalau kakak merasa tidak nyaman, aku bisa berhenti dan mencari pekerjaan lain."


" Tidak, tetap lah bekerja. Aku tidak merasa terganggu sama sekali."


Apa kau bodoh, mana mungkin dia merasa terganggu kalau dia tidak memiliki perasaan padamu.


🌀🌀🌀🌀🌀


Roy

__ADS_1



Saat waktu makan siang Roy masih sibuk dengan pekerjaannya, ia bahkan tidak menyadari kedatangan Lisa. Lisa langsung mengejutkannya dengan memeluknya dari belakang.


" Apa pekerjaanmu lebih penting dari pada perutmu?" Tanya Lisa dengan manjanya. Roy tertawa kecil ia memutar tububnya hingga menghadap sang kekasih.


" Tapi kedua hal itu tidak lebih penting dari dirimu." Jawab Roy dengan wajah datarnya.


" Ucapanmu romantis tapi wajahmu menyebalkan." Celetuk Lisa.


" Apa?" Roy memcubit pelan pipi Lisa.


Mereka pun keluar bersama sambil bergandengan tangan untuk makan siang di luar. Keduanya memang sudah terang terangan mengumumkan pada sebua orang di kantor tentang hubungan mereka. Saat kariawan lain menyapa keduanya mereka pun tak sungkan sungkan membalas sapaan mereka dengan senyuman.



" Aduh yang pasangan, buat iri aja deh. Kemana mana selalu berdua." Ucap salah satu kariawan.


" Kalau bertiga, yang satunya setan mba." Seru Roy, sontak beberapa orang yang ada di depan lip pun tertawa. Jarang jarang Roy mau bercanda, karena selama ini dia selalu menunjukkan wajah serius saat bekerja atau pun di luar jam kerja.


" Ahahahha, bisa aja kamu, Roy." Ucap salah satu wanita yang sedang menggoda Roy dan Lisa.


" Atau mba mau ikut kita?" Ajak Lisa.


" Gak ah, Lis. Aku gak mau jadi setannya." Tolak wanita tersebut. Lisa dan Roy pergi meninggalkan kerumunan orang tersebut dengan menebarkan keharmonisan hubungan percintaan mereka.


Lisa adalah wanita yang keras kepala dan Roy adalah laki laki yang dingin. Dia hanya menunjukkan sisi romantisnya pada Lisa namun itu pun sangat jarang di temukan. Kedua insan itu sudah putus hampir 3 kali, namun hanya bertahan 1 atau 2 minggu tidak saling bicara dan pada akhirnya kembali lagi menjadi sepasang kekasih. Sungguh pasangan yang aneh.


🌀🌀🌀🌀🌀


Selama 3 hari kebelakang Dirga sering kali meninggalkan ruang rapat bahkan beberapa kerja sama dengan klien hampir tidak berjalan dengan baik. Selain tidak fokus dalam bekerja Dirga juga sering meninggalkan ruang meeting hanya untuk menemui Flesia.


" Jika terus begini, tidak lama lagi perusahaan bisa mengalami kerugian besar." Keluh Nuan. Ia mulai prihatin melihat kondisi Dirga saat ini. Dua hari lalu Nuan mengantarkan bingkisan dari Dirga untuk Flesia, dan di tolak mentah mentah oleh Flesai. Nuan coba menjelaskan kondisi Dirga saat ini pada Flesia namun ia sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap Dirga lagi.


Nuan juga bisa memahami perlakuan Flesia, karena dia sendiri sudah menyalsikan perlakuan buruk Dirga tethadap istrinya itu.


Dirga yang saat ini terlihat seperti bukan Dirga yang biasanya, Dirga yang dulu selalu rapi dan menjaga kebersihannya, saat ini seperti pria yang tinggal di hutan. Dia tidak perduli lagi dengan penampilannya yang sudah acak acakan. Kumis yang sudah tidak di cukur dengan rapi, membuatnya terlihat 10 tahun lebih tua dari usia sesungguhnya.


" Aku tidak akan membiarkan ini ber'akhir begitu saja." Dirga yang baru saja selesai mandi, menatap pantulan wajahnya di cermin.


.


.


.


.


***Terimakasih, jangan lupa like, vote & komennya.

__ADS_1


Salam kasih dari Author Frisca. 😘😘😘😘***


__ADS_2