Serpihan Luka

Serpihan Luka
Persalinan.


__ADS_3

Author POV


Setelah Dirga pergi cukup lama, Sia pun pergi menyusuri jalan, untuk menenangkan hatinya yang sangat gundah akan perasaan sakit yang ia rasakan saat ini. Apakah rasa sakit yang ia rasakan karena melihat air mata putrinya atau kah karena hatinya yang masih sangat mencintai Dirga, dan berharap ia Dirga tidak pergi meninggalkannya.


Cukup jauh ia berjalan hingga akhirnya ia tiba di titik dimana ia tidak mampu lagi melangkahkan kakinya, dan dengan tatapan mata membulat dan di iringi detak jantung yang berpacu lebih cepat.


Air mata Sia mengalir di ikuti gerak kaki yang melangkah setengah berlari. Ia langsung melompat ke arah Dirga dan memeluknya dengan erat, dengan isak tangis yang sudah sesegukan.


"Jangan pergi, jangan pergi, jangan tinggalkan aku dan Kamila. Kau harus membawa kami bersamamu..Hikk hikk."


Dirga membalas pelukan Sia dengan sangat erat, ia tidak menyangka bisa memeluk istrinya itu lagi. 5 menit yang lalu ia merasa harapannya untuk bisa memeluk istrinya itu sudah pupus. Karena penolakan Sia yang sangat terlihat tegas, dimana rasanya akan mustahil dia bisa berubah pikiran.


" Maaf, maaf, maafkan aku Sayang..Tidak, kau tidak perlu memaafkan ku, karena seumur hidupku, aku akan terus menebus kesalahan dan dosa yang sudah ku perbuat pada istri dan anakku."


Setelah cukup lama keduanya saling memgutarakan isi hati mereka, Dirga dan Sia saling merenggangkan pelukan mereka, sejenak sebelum Dirga mencium kening Sia dengan lembut ia menatap lekat sorot mata wanita yang masih sah menjadi istrinya itu. Ia menemukan kembali tatapan Sia nya yang dulu, sangat lembut dan juga sendu.



" Apa kau akan pergi begitu saja?"


" Tapi kau ingin aku pergi, Sayang."


" Lalu kau akan pergi? Bukankah kau sangat ahli mengikutiku kemana pun! Lalu kenapa kali ini kau ingin pergi bahkan saat aku tidak memintanya!"


Dirga mulai tertawa kecil, walau Sia terdengar kesal namun dari nada bicaranya tidak terasa dingin lagi seperti sebelumnya.


" Lalu kenapa kau belum pergi? Kenapa kau masih disini? Apa kau sengaja menungguku disini? Dari mana kau tau aku akan datang kesini?"


Aku tidak tau kau akan kesini, Sayang. Tapi entah mengapa aku merasa kau akan datang jika aku menunggu disini. Entah itu hanya harapan ku saja atau memang hatiku yakin kalau kau akan datang dan menghentikanku untuk pergi.


" Jawab aku, Ga?"


" Aku mungkin akan menunggumu seharian disini jika kau tidak datang, karena aku tidak bisa meninggalkanmu dan anak kita. Hanya itu jawaban yang aku punya. Yang artinya aku tidak tau kalau kau akan datang secepat ini padaku."


Sia berbalik lalu ia memeluk erat suami yang sangat ia rindukan itu. Sia tidak ingin mengenang apa yang sudah terjadi, dan memilih untuk tidak pernah membahasnya lagi, karena itu hanya akan membuatnya mengingat hal yang menyakitkan.


Kamila merasa sangat bahagia karena papanya kembali, begitu pun kedua orang tua Sia ikut merasa bahagia dan bersyukur, karena tidak akan melihat cucu dan juga anak dan menantunya harus berpisah dan saling terluka.


Sia dan Dirga dan juga Kamila memutusakan untuk tinggal sehari lagi disana, dan akan pulang esok hari ke Jakarta kerumah mereka.

__ADS_1


Di sore harinya Dirga menganjak Sia melihat matahari terbenam di dekat perkebunan ayahnya. Awalnya mereka ingin membawa Kamila ikut serta, tapi anak itu lebih ingin bermain bersama nenek dan kakeknya dari pada ikut bersama mereka.



" Kau tau, Sayang? Setiap kali aku kesini, seperti perlahan aku mengenal sosok dari Siaku. Ayah selalu cerita, kalau saat kecil kau sangat suka membantu mereka bekerja di ladang."


" Kau lihat itu, Ga? Dulu aku dan si kembar, selalu bermain disana. Mereka sangat suka menggangguku, dengan melemparkan lumpur ke wajahku."


" Andai, aku mengenalmu sejak saat itu, aku bisa ikut bermain dengan kalian." Ucap Dirga sambil tertawa kecil. " Lalu aku juga bisa melihat sosok Sia kecilku. Yang sangat menggemaskan." Lanjut Dirga.


" Awww.." Sia mencubit perut Dirga.


" Aku berharap kau tidak melihanya." Ujar Sia.


" Kenapa? Ah, pasti kau sangat sangat gemuk dan juga jelek kan?"


" Kau mengejekku?" Kesal Sia.


" Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mengejek istriku yang cantik ini."


Setelah matahari sudah tak menampakkan sinarnya, mereka pun kembali kerumah.


💫💫💫💫


" Tenanglah Sayang. Aku ada bersamamu, kita hadapi ini bersama. Walau aku tidak bisa merasakan rasa sakitnya tapi aku akan memberimu kekuatan dan akan selalu berada di dekatmu." Seru Dirga sambil mnggeggam erat tangan istrinya itu. Dirga membelai lembut rambut Sia seraya mengecup keningnya.


" Dirga!?" Seorang dokter kandungan datang menghampiri Dirga. " Apa yang terjadi?"


" Sepertinya istriku akan melahirkan." Jawab Dirga.


" Apa? Tapi ini belum waktunya kan?" Tanya dokter tersebut.


" Aku tau itu, tapi.."


" Baiklah, suster bawa nyonya Sia keruang persalinan sekarang." Tangkas dokter itu, dan susterpun langsung membawa keruang persalinan dan di ikuti oleh Dirga sambil terus menggebggam tangan Sia.


" Apa dia akan baik baik saja?" Tanya Dirga cemas.


" Tentu saja. Ini kan bukan pengalaman pertama untuk kalian, jadi cobalah untuk tenang."

__ADS_1


Walau Sia melahirkan lebih awal dari waktu yang di tentukan, namun Sia tidak harus melakukan operasi. Dan dokter mengatakan Sia bisa melahirkan secara normal.


💫💫💫💫


3 jam sudah berlalu, sejak Sia masuk kedalam ruang persalinan. Dirga terduduk di kursi tunggu dengan cemas, ia terus berdoa agar istri dan anaknya akan baik baik saja.


Seseorang bergegas mendekat ke arah Dirga.


" Mas, Dirga! Bagai mana keadaan mba Sia?" Tanya Roy dengan napas ngos ngossan. Di sampingnya juga ada Lisa yang ikut datang bersamanya. Begitu mendengar kabar bahwa Sia akan melahirkan Roy dan Lisa langsung bergegas datang dari kantor ke rumah sakit.


" Sia, masih ada di dalam." Jawab Dirga.


" Semuanya baik baik aja kan mas?" tanya Lisa.


Dirga mengangguk, " Dokter mengatakan kalau Sia baik baik saja dan bisa melahirkan secara normal."


" Ahhh, Syukurlah." Seru Roy.


Dirga mondar mandir kesana kemari karena cemas, baginya ini sudah terlalu lama sejak Sia masuk kedalam ruangan itu, ingin sekali ia memaksa menerobos masuk dan menyaksikan sendiri cara kerja dokter dokter di dalam sana yang menurutnya sangat tidak becus.


Lalu tak lama kemudian orang tuanya datang, lalu mendekati Dirga.


" Bagai mana ini ma? Kenapa mereka sangat lama sekali? Sia dan anak ku akan baik baik saja kan?" Tanya Dirga pada mamanya dengan sangat cemas.


" Sia dan anakmu pasti baik baik saja. Tenanglah, istrimu sudah berhasil melahirkan Mila dengan selamat sebelumnya, lalu kenapa kau berpikir kali ini tidak."


" Tenanglah, nak." Papanya menepuk pundak Dirga memintanya agar lebih tenang, karena ia membuat semua orang ikut panik. Melihagnya begitu cemas dan tidak bisa duduk diam. Tak lama kemudian, suara tangisan bayi pon terdengar sangat nyaring dari dalam ruangan tersebut.


.


.


.


.


.


Terimakasih, salam kasih dari author Frisca dewy.😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2