Serpihan Luka

Serpihan Luka
Chapter 40. Pandangan Roy terhadap Lisa


__ADS_3

' Menarik, dia terlihat lucu' batin Rio.


" Lo kenal cewek Itu ! Rio? " tanya Leon yg sejak tadi berdiri di sampingnya.


" Gue pernah liat dia. " jawab Rio jujur.


" Dimana ?" tanya Leon penasaran.


" Sepertinya dia sejurusan dengan Roy, gue pernah liat dia di kelas yg sama sengannya. " jelas Rio pada Leon


Sejenak ia berpikir, apa jangan-jangan gadis itu sedang membicarakan tentang saudara kembarnya. Rio seketika memperlihatkan senyum tipis di bibirnya.


" Rio ! hari ini nongkrong yuk ?" Ajak Leon. Sejak menjadi mahasiswa Rio maupun Roy jarang keluar bersama teman-temannya kerena merasa tidak enak padaku dan juga Dirga.


Karena merasa masih enggan bertemu dengan Roy di rumah, akhirnya Rio mengiakan ajakan Leon.


Keduanya pergi ke sebuah Restoran, untuk makan dan juga nongkrong. Walau berbeda dengan Mahasiswa lainnya yg selalu lebih memilih nongkrong di diskotik, yg penuh dengan minuman keras dan juga wanita-wanita seksi.


Saat salah satu stap Restoran berjalan menuju meja mereka, Rio dari kejauhan melihat sosok yg baru saja di lihatnya di kampus beberapa saat yg lalu, ia tersenyum tipis pada gadis itu.


" Kau !" Lagi-lagi Lisa harus melihat wajah yg sama, ia mulai merasa sangat terganggu dengan sosok itu.


" Jangan salah paham, kita datang kesini untuk makan, bukan untuk mengikutimu. " Jelas Rio sebelum Lisa menyuarakan pemikirannya saat ini.

__ADS_1


Lisa menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia mulai tersenyum ramah pada kedua laki-laki itu. Layaknya pelayan yg baik dan sopan.


" Maaf tuan, apa saya bisa mulai mencatat pesanan anda ?" Lisa bertanya dengan sesopan mungkin, menahan emosinya.


Leon mengangguk. Lalu mulai memesan makannan mereka, selesi mencatat pesanan mereka Lisa berbalik berlalu meninggalkan meja Roi dan Leon.


" Wuah, dia beda banget ya, sama yg di kampus tadi!" kata Zion sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Hemm, Dia terlihat lebih cantik. "


Uhuk uhuk.


Zion yg sedang meneguk sedikit air putih sampai tersedak mendengar ucapan yg keluar dari mulut sahabatnya itu.


" Lo bilang apa ? gue nggak salah dengar kan Rio ?" tanya Zion dengan tatapan penuh rasa penasaran.


" Wuah... Akhirnya ada juga cewek yg menarik perhatian lo, dan itu pun cewek seperti dia. Cewek yg menurut gue tak sebanding dengan cewek yg ngerjar-ngejar lo selama ini. " ujar Zion.


" Maksud lo apa ngomong gitu ! jusrtu karena dia berbeda dari cewek yg lainnya. Bahkan di matanya aku seakan tak terlihat. " jelas Rio dengan senyuman yg sulit di artikan.


' Namun ada yg mengusik pikiranku, semoga saja yg kupikirkan itu salah.' batin Rio.


Sepuluh menit kemudian Lisa membawakan pesanan keduanya. Ia meletakkan nya tanpa melirik sekalipun pada tamu yg sedang ia layani. Lalu pergi tanpa berkata-kata.

__ADS_1


Zion yg memperhatikan Lisa merasa sangat kagum dengan pendirian Gadis itu.


Jam 8 malam Roy meminta pak Amin mengantarnya ke Supermarket terdekat, ada alat mandi yg ingin di belinya.


Tiba di depan Supermarket yg letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya, ia melihat dari dalam mobil sosok yg sudah lama menciri perhatiannya.


Lisa sedang membersihkan sampah yg sedang berserakan di depan Supermarket tersebut setelah sebelumnya di lemparkan kewajahnya oleh seorang laki-laki paruh baya.


Roy tak tau pasti laki-laki itu seorang pelanggan ataw pemilik Supermarket, karena ia tak dapat mendengar perkataan laki-laki itu.


Melihat Lisa seperti itu, Roy mulai merasa sesak di dadanya, ia merasa seperti melihat sosok mbaknya di posisi Lisa saat ini. Melihat Lisa meneteskan air matanya membuat Roy ingin sekali menghajar laki-laki tersebut.


Ia berjalan mendekati Lisa, lalu berdiri tepat di sampingnya. Lisa mendongak perlahan, dan melihat tatapan tajam dari Roy.


Dengan cepat ia mengusap air matanya, lalu berdiri membelakangi Roy. Saat Lisa ingin melangkah Roy menarik paksa tangan Lisa. Sampai Lisa berbalik dan menabrak tubuh Roy, yg parahnya lagi bibir keduanya ikut bertabrakan.


Mata keduanya membelalak, replek dengan kasar Lisa mendorong Roy menjauh darinya. Lisa menutup mulutnya.


" Apa yg baru saja kau lakukan ?" teriak Lisa sambil membersihkan bibirnya, seakan baru saja terkena kotoran.


" Apa kau sudah gila?" pekik nya lagi.


Roy tau saat ini apa pun yg akan di katakannya tidak akan mengubah pemikiran Lisa yg menganggapnya sudah gila kerena tiba-tiba menciumnya, walau sebanatnya itu hanya sebuah kecelakaan.

__ADS_1


" Kenapa kau menangis ?" kata Roy tak di sangka-sangka, bukan nya menjawab pertanyaan Lisa namun malah lebih mementingkan hal yg membuat Lisa menangis saat ini, Seakan yg baru saja terjadi tidak penting.


" Apa ?" Tanya Lisa terkejut.


__ADS_2