
"Tidak,,tidakk,,"rengek Della pada Ana.
"Tidak ada yg akan bisa menolongmu dari ku" ucap Ana seraya berjongkok mendekati Della.
Hingga sa'at Ana menarik tangan Della.
"Annaaaa"teriak Leon dari dalam lift yg barusaja terbuka.
Hingga semua karyawan mengalihkan pandangannya pada sumber suara dan mereka langsung membungkukkan badannya.
Ana menundukan kepalanya lalu membuang nafas kasar karna ia sudah tau siapa yg memanggilnya.
Dengan tangan Ana yg masih memegang tangan Della,Ana meboleh dan berkata
"Apa?...." dengan dingin nan datar.
Leon yg sudah berada di samping Ana pun menarik tangan Ana membuat Ana berdiri.
"Pak..Pak leonn tolong selamatkan saya,saya tidak berbuat salah" ucap Della memohon dan bersujut di kaki Leon.
"Tindakan mu padanya sudah tidak bisa di ampuni" ucap Leon seraya mengambil belati dari tangan Ana.
Lalu secepat kilat Leon memotong tangan Della, tanpa belas kasihan.
Akkkhhhhhhh.....
Teriakan kesakitan dari Dela memenuhi seisi ruangan.
"Ta..Ta..Tangan ku"ucapnya dengan isak tangis kesakitan.
Semua orang terkejut dengan apa yg barusaja dilakukan oleh pimpinan mereka,yg memotong tangan karyawannya tanpa ada rasa iba, dan rasa bersalah sedikitpun.
"Lain kali kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan menyentuhnya oke" ucap Leon seraya mengelap tangan Ana dengan saputangan yg berada di sakunya,
Sedangkan tangannya sendiri telah penuh oleh darah.
Semua yg ada dusana bertanya-tanya,
__ADS_1
Siapa sebenarnya dia,sampai-sampai tuan Leon memanjakannya dan berani bertindak kriminal demi dirinya.
"Mau sampaikapan kalian disini,bubar dan kembali bekerja, kalau bisa panggilkan ambulan untuknya"ucap Leon seraya menunjuk Della yg sudah tidak sadarkan diri.
"Ayooo" ucap Leon seraya menarik tangan Ana memasuki lift.
-DI DALAM LIFT-
"Kenapa kau tidak memberitahu terlebih dahulu, jika kau mau ke sisni" ucap Leon pada Ana.
"Tidak sempat" ucap Ana singkat.
"Kau ini,,,,,,bukankah jam pulang kelasmu belum selesai" ucap Leon.
"Aku keluar sendiri" ucap Ana.
"Apa?...." ucap Leon.
Tak ada pembicaraan lain di sana sampai lift pun terbuka.
"Keruangan ku apa ruangan mu" tanya Leon.
"Selalu saja aku yg di tinggalkan" ucap Leon seraya mengusap wajahnya kasar.
Ana masuk kedalam ruangan tersebut lalu ia duduk du sofa sembari memainkan ponselnya.
"Apa kau bisa memabntuku mengerjakan beberapa berkas ini,supaya kita bisa lebih cepat ke markas" ucap Leon.
"Tidak mood" ucap Ana.
"Apa..." teriak Leon.
Ana menatap Leon dengan tajam seolah berkata'Apa,kau tidak suka'
"Baiklah biar aku saja" ucap Leon.
"Lalu untuk apa dia datang ke sini" batin Leon,.
__ADS_1
Setengah jam sudah berlalu,
Ana pun sudah merubah posisinya menjadi berbaring santay di sofa,sedangkan Leon masih berkutik dengan layar komputernya.
Tok..
Tok...
Tok..
"Masuk" ucap Leon.
Miska pun masuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
Ia melihat Ana yg dengan santainnya berbaring di sofa khusus wakil ceo,
"Siapa dia,berani sekali dia berbaring disana,aku saja tidak di perbolehkan,jangan kan duduk, menyentuh saja tidak boleh"batiin Miska.
"Apa jangan jangan, wanita ini yg membuat pak Leon memotong tangan Della di depan semua orang, siapa sebenarnya bocah tengik ini,bahkan ia tidak memperdulikan ku" lanjutnya.
"Ada apa" ucap Leon dingin nan datar.
"Ini pak,pekerjaan saya sudah selesai"ucap Miska.
"Iya terima kasih" ucap Leon dingin.
"Apakah ada lagi yg bisa saya bantu pak" ucap Miska.
"Tidak ,terimakasih" ucap Leon dingin nan datar.
"Apakah bapak mau di buatkan sesuatu" ucap Miska.
"Tidak perlu" ucap leon datar.
"Baiklah saya permisi dulu pak" ucap Miska yg berjalan beberapa langkah.
"Tungguuuu,,,,"ucap leon sedikit berteriak.
__ADS_1
NEXTTT......