Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Satria dan Bara berkelahi


__ADS_3

"Apakah dia punya hubungan spesial dengan cowo itu", ucap Bara dalam hati.


Tanpa disengaja, dia melihat Sisi dan Satria di kantin, awalnya Bara ingin menuju perpustakaan, tapi tidak sengaja melihat mereka saat ingin memasuki perpustakaan yang kebetulan terletak bersebelahan dengan kantin.


Bara memutuskan mengamati mereka dari posisi yang tidak terlihat oleh Sisi dan Satria.


Dia tidak bisa mendengar percakapan kedua orang itu tetapi sangat jelas dari cara mereka menatap masing masing, seperti nya mereka bukan sekedar berteman.


"Akan aku tanyakan langsung nanti pada Sisi", batin Bara.


Pekerjaan merevisi anggaran akhirnya selesai setelah dua jam para anggota Osis berkutat di ruangan mereka. Hanya ada 6 orang yang bisa hari ini termasuk Bara dan Sisi.


Sisi segera merapikan alat tulisnya dan menyimpan ke dalam tas.


"Si, tunggu sebentar", panggil Bara ketika dia sudah bersiap ingin meninggalkan ruangan.


'Bisa bicara diluar sebentar, ada yang ingin aku tanyakan", ucap Bara.


"Di sini saja Kak", jawab Sisi.


"Kak Bara mau tanya apa ?" Sisi balik bertanya.


"Apa kamu ada hubungan spesial dengan Satria ?"


Bara langsung bertanya ke inti nya.


"Iya Kak", jawab Sisi singkat


'Apa kalian pacaran ?" tanya Bara lagi memperjelas.


"Iya Kak", lagi lagi Sisi hanya menjawab singkat.


"Kalau udah ga ada lagi, Sisi pamit Kak", ucap Sisi pada Bara.


"Kalau kamu udah ga pacaran sama Satria, aku bersedia menggantikan posisi Satria", ucap Bara dengan menatap dalam ke mata Sisi.


"Permisi Kak", ucap Sisi tanpa merespon pernyataan Bara barusan.


Sisi segera meninggalkan ruang OSIS dan menuju gerbang sekolah, Satria sudah menunggu disana.


Setelah menjemput Ibu nya dari rumah Renata, Satria kembali ke sekolah untuk menjemput Sisi.


Ibu nya meminta Sisi datang ke rumah Satria karena hari ini ayah Satria berulang tahun dan Ibu memasak banyak makanan enak, sehingga mengundang Sisi untuk makan bersama.


"Aku belum menyiapkan kado untuk ayah", ucap Sisi ketika sudah berada di dalam mobil Satria.


"Ga usah beli kado juga ga apa apa sayang, lihat kamu datang aja pasti ayah sudah senang", jawab Satria.


"Anter aku pulang dulu untuk ganti baju terus kita mampir di toko buku ya, aku beli kado dulu untuk Ayah", pinta Sisi pada Satria.


"Baiklah tuan putri ku sayang, apapun untuk kamu pasti aku lakukan", jawab Satria dengan senyum tulus nya.


"Gombal bwee", Sisi mencibir sambil mencubit lengan Satria lembut.


Setengah jam Satria menunggu di bawah. Sisi mandi dengan cepat lalu berganti pakaian, sederhana tetapi cukup pantas untuk menghadiri acara makan malam santai keluarga.


"Cantik dan sangat manis", batin Satria saat melihat Sisi keluar dari gerbang kost nya dan berjalan menuju mobil Satria.


Mereka mampir di sebuah toko buku sesuai permintaan Sisi.


Dia membelikan sebuah pulpen lengkap dengan wadah nya untuk diletakkan di meja kerja. Sederhana tetapi di beli dengan ketulusan.


Sisi menuliskan ucapan selamat ulang tahun di sebuah kartu kecil.


" Selamat ulang tahun Ayah, semoga sehat sehat selalu, panjang umur dan semakin berkah usia nya. Maaf Sisi hanya bisa membelikan ini, semoga Ayah suka".


Kata kata itu yang tertulis di kartu ucapan untuk ayah Satria, yang sudah Sisi anggap seperti Ayah nya sendiri.


"Aku jadi iri sama Ayah", celetuk Satria.


"Hush ada ada aja, masa iri sama Ayah sendiri," ucap Sisi sambil tertawa.


"Ayah begitu di sayang dan di hormati oleh gadis semanis dan sebaik kamu, gimana aku ga iri", ucap Satria membela diri.


'Aku sayang sama Ayah, menganggap Ayah seperti orang tua ku sendiri, tetapi aku lebih sayang anak nya , sayang dengan amat sangat", ucap Sisi dengan tulus.

__ADS_1


Sisi langsung berjalan meninggalkan Satria setelah mengucapkan kata kata itu, dia tidak ingin Satria melihat pipinya yang mulai merah karena ucapan nya sendiri.


Satria mengejar Sisi sambil tersenyum senang mendengar kata kata Sisi, belum pernah Sisi mengucapkan kata sayang pada nya, dia sangat bahagia mendengar nya.


"Ucapkan sekali lagi", pinta Satria pada Sisi saat mereka sudah di dalam mobil.


"Ucapkan apa ?" tanya Sisi pura pura tidak mengerti.


"Kata kata tadi waktu di toko buku, saat kamu bilang sangat sayang sama aku", Satria mengingatkan Sisi pada apa yang tadi dia ucapkan pada Satria.


"Aku tadi ga bilang begitu, kamu pasti salah dengar", jawab Sisi sambil tertawa.


Dia ingin menggoda Satria, sengaja membuat Satria kesal.


Satria menyetir sambil cemberut seperti anak kecil yang kesal karena dilarang makan permen.


Sisi menyukai ekspresi Satria seperti itu, terlihat menggemaskan dan dia mengabadikan dengan ponsel nya lalu menjadikan sebagai wallpaper HP nya. Dia tersenyum puas memandang wallpaper HP nya.


Satria semakin cemberut melihat Sisi tersenyum seperti itu. Dia merasa dikerjai oleh Sisi.


Tiba di rumah Satria.


Sisi mengucapkan salam pada kedua orang tua Satria lalu mencium tangan mereka secara bergantian. Sisi menyerahkan paperbag berisi hadiah ulang tahun kepada Ayah Satria.


"Terima kasih ya nak, seharusnya ga usah repot repot", ucap Ayah Satria.


"Ga repot kok Ayah, Sisi senang bisa punya kesempatan membelikan hadiah untuk Ayah", jawab Sisi dengan senyum tulusnya.


Setelah berbincang bincang sebentar di ruang keluarga, mereka melaksanakan shalat isya berjamaah.


Kemudian tak lama setelah shalat isya makanan sudah siap dan Ibu Satria mengajak semua nya menuju meja makan.


Selain Satria dan keluarga, hanya ada Sisi karena Renata sedang sakit jadi dia tidak bisa ikut merayakan ulang tahun Ayah Satria.


"Gimana kondisi Rena Bu ?" tanya Sisi pada Ibu Satria karena tadi siang Ibu Satria ada acara di rumah Renata.


"Sudah membaik sayang, besok katanya sudah masuk sekolah lagi", jawab Ibu Satria.


"Syukurlah", jawab Sisi.


"Kelas sepi ya kalau ga ada Rena", ucap Rama.


Suasana hangat kembali Sisi rasakan saat berada di tengah tengah keluarga Satria. Dia bersyukur karena diterima dengan baik di keluarga ini. Keluarga yang sudah lama tidak Sisi miliki.


Setelah acara makan selesai, Sisi membantu Ibu di dapur, merapikan sisa sisa makanan dan membersihkan semua alat makan.


Keluarga Satria tidak punya pembantu yang tinggal bersama mereka. Hanya ada seorang Bibi yang selalu datang pagi pagi dan pulang di sore hari.


Ayah Satria dan kedua anaknya kembali ke ruang keluarga. Mereka menonton pertandingan sepak bola, olahraga favorit mereka. Sementara itu, Ibu dan Sisi masih sibuk di dapur.


Sisi membantu Ibu memotong buah, untuk di hidangkan sebagai pencuci mulut, ditemani dengan puding coklat kesukaan Satria.


"Ibu senang kalau Sisi bisa menerima cinta Satria, perasaan nya tulus untuk Sisi dan dia tidak akan menyakiti Sisi, Ibu yakin itu", ucap Ibu Satria pada Sisi di sela sela pekerjaan mereka di dapur.


"Terima kasih Bu, Sisi merasa beruntung dipertemukan dengan laki laki sebaik Satria", jawab Sisi sambil tersenyum manis.


"InsyaAllah Sisi akan selalu menjaga hati Sisi untuk Satria", ucap Sisi melanjutkan percakapan.


"Semoga kalian berjodoh ya sayang, sampai maut memisahkan nantinya", ucap Ibu Satria penuh harap bahwa suatu hari nanti anaknya benar benar berjodoh dengan Sisi.


"Amin ya Allah"..jawab Sisi


Keesokan hari..


Siang ini ada pertandingan sepak bola. Liga sekolah sudah di mulai. Kelas Satria akan bertemu dengan kelas Bara siang ini.


"Doain aku menang ya nanti siang", ucap Satria pada Sisi saat mereka dalam perjalanan menuju ke sekolah.


"Tanpa diminta pun, aku selalu mendoakan mu", jawab Sisi.


"Terima kasih sayang", ucap Satria sambil mengelus lembut puncak kepala Sisi.


Liga sekolah di mulai..


"Kamu ga nonton Satria bertanding ?", tanya Renata pada Sisi saat mereka sedang duduk di kantin.

__ADS_1


"Ga dulu Ren, aku harus cari bahan untuk mading", jadwal terbit nya dua hari lagi, jawab Sisi.


Selain sebagai sekretaris II, Sisi juga dipercaya sebagai pengurus mading sekolah dan bertugas menjadi penyiar radio sekolah satu minggu sekali, bergantian dengan siswa siswi lain yang terpilih.


"Ya udah nanti aku bantu ya cari bahan bahan untuk mading", ucap Renata.


"Makasih", jawab Sisi sambil tersenyum pada Renata.


Di lapangan, pertandingan antara kelas Satria melawan kelas Bara sudah berlangsung selama 45 menit, babak pertama sudah terlewati dan skor sementara 2 untuk kelas Satria dan 1 untuk kelas Bara.


Memasuki babak kedua dan permainan mulai panas. Persaingan antar kedua kelas semakin terasa, terutama antara Satria dan Bara. Masing masing saling menyimpan rasa tidak suka satu sama lain.


Sama sama berada di posisi penyerang membuat mereka semakin terlihat persaingan nya, terlebih lagi Bara juga menyukai Sisi dan menganggap Satria sudah menjadi saingan nya karena menjadi pacar Sisi.


Tiba tiba saja Bara melepaskan tendangan dengan cukup keras dan mengenai tepat pada engkel Satria sebelah kiri. Satria terjatuh membentur lapangan cukup keras, siku nya berdarah karena dia gunakan sebagai penahan badan nya tetapi karena kurang kuat pertahanan nya, Satria tetap jatuh. Dia segera bangkit lalu menghampiri Bara dan menanyakan maksud dari Bara yang seperti sengaja mengarahkan bola pada Satria.


Tidak terima karena di tuduh sengaja ingin mencederai Satria, Bara pun menjawab dengan emosi, dan reflek mengarahkan pukulan ke arah wajah Satria. Dengan sigap Satria menangkis pukulan Bara dan berbalik memberikan perlawanan, membuat bibir bawah Bara berdarah karena Bara telat menahan pukulan Satria.


Tidak terima bibir bawahnya dibuat terluka, Bara membalas dan berhasil mengenai pelipis Satria. Darah segar mengalir dari pelipis Satria yang robek.


Melihat perkelahian itu, Arya segera menyuruh seorang teman nya mencari Sisi.


Kebetulan teman nya itu tadi melihat Sisi sedang di ruang mading bersama Renata.


Dengan nafas yang terengah engah Sisi dan Renata menghampiri Satria di lapangan.


"Berhentiiii.." teriak Sisi. Dia langsung menghampiri Satria dengan baju yang sudah dipenuhi darah yang mengalir cukup banyak dari pelipis nya yang robek. Kondisi kaki Satria pun cukup sulit untuk digerakkan.


"Apa apaan sih kalian", Renata ikut bicara.


"Dia yang mulai, dia sengaja mengarahkan bola ke kaki ku dan melukai engkel sebelah kiriku, rintih Satria sambil menunjuk Bara dan menatap dengan penuh amarah.


Melihat luka di badan Satria dan melihat ekspresi Satria yang menahan sakit di kaki kirinya, Sisi percaya pada apa yang Satria ucapkan.


"Aku kecewa sama Kak Bara", ucap Sisi sambil menatap tajam pada Bara.


Dia kemudian berlalu meninggalkan lapangan sambil memapah Satria menuju ruang UKS untuk mengobati luka Satria.


Bara hanya menatap kepergian mereka dengan rasa kesal yang amat sangat, kemudian dia juga meninggalkan lapangan dan kembali menuju kelas nya.


Pembina OSIS dan guru BP mengetahui kejadian tadi di lapangan. Banyak siswa siswi yang bersaksi dan semua pernyataan menyalahkan Bara sehingga membuat Bara mendapatkan SP I , jika terulang kejadian seperti tadi, maka Bara akan di copot dari jabatan nya sebagai Ketua OSIS.


Satria tidak bisa menyetir mobilnya dengan kondisi kaki cedera seperti itu. Rama datang ke sekolah nya untuk mengantikan Satria menyetir mobilnya pulang.


Sisi ikut pulang mengantar Satria bersama Renata juga.


Ibu Satria segera menghubungi dokter keluarga mereka untuk memeriksa kondisi anaknya.


"Hari minggu ini padahal aku ada sparing di Senayan", ucap Satria kesal.


"Mungkin ini semacam teguran dari Allah, kamu di suruh istirahat dulu sebentar main bola nya".


Sisi berusaha menghibur Satria supaya dia tidak kesal lagi.


"Absen dulu main bolanya sampai cedera di kaki nya benar benar sembuh", pinta Sisi dengan tatapan memohon.


"Iya sayang, aku akan ikut yang kamu mau", jawab Satria sambil tersenyum pada Sisi.


Satria tidak tega melihat Sisi yang sangat khawatir dan memohon pada nya untuk berhenti sementara main bola.


"Maaf sudah membuat mu khawatir", ucap nya pada Sisi.


"Jangan masuk sekolah dulu selama tiga hari ya, karena kaki mu harus benar benar di istirahatkan dulu dari semua aktifitas supaya lekas pulihnya, akan saya buatkan surat izin sakit nya", ucap dokter keluarganya pada Satria.


"Iya baik dok", jawab Satria.


"Aku pasti akan kangen banget sama kamu, tiga hari ga ketemu kamu", Satria merajuk pada Sisi seperti anak kecil.


"Aku akan datang kesini setiap pulang sekolah, kamu tenang aja", jawab Sisi menenangkan Satria.


"Janji ?" tanya Satria meminta kepastian ucapan Sisi.


"Tentu saja", jawab Sisi meyakinkan


:Ehem..ehem..di sini ada orang ya, dunia bukan hanya milik berdua", Renata dan Rama meledek mereka yang sedari tadi hanya asyik berdua tidak menghiraukan orang orang di sekitar.

__ADS_1


"Iri aja", jawab Satria sambil mencibir pada Rama dan Renata.


^^readers jangan lupa like dan vote nya^^ 😚


__ADS_2