
Pak Albert merasa kasihan pada Sisi dan bersedia membantu Sisi seperti yang Sisi minta.
"Baiklah saya akan bantu, Nona Sisi bisa berangkat dengan pesawat pribadi saya jadi keberangkatan Nona tidak akan terlacak di Bandara manapun", jelas Pak Albert.
"Terima kasih banyak Pak Albert, saya berhutang budi pada Bapak", jawab Sisi.
"Tidak perlu merasa seperti itu, saya akan melakukan apapun untuk kebaikan karyawan saya", Pak Albert tersenyum hangat.
Dalam hati nya Pak Albert mengagumi Sisi. Gadis muda dengan kecerdasan diatas rata rata dan attitude yang sangat baik pula. Besar harapan Pak Albert jika suatu hari Sisi bisa bersama anak nya Jonathan. Karena alasan itu Pak Albert ingin segera supaya Sisi bersama dengan Jonathan mengurus cabang perusahaan di London dan Sisi melanjutkan pendidikan nya.
"Dengan sering nya bersama semoga anak ku dan Sisi bisa saling mencintai", batin Pak Albert.
Sisi mempersiapkan segala nya. Karena malam ini dia akan terbang ke London. Keputusan nya sudah bulat meskipun ini menyakitkan bagi Sisi tapi dia merasa inilah yang terbaik.
"Karena sampai kapan pun aku tidak akan mendapat restu dari Eyang jadi lebih baik aku mundur", batin Sisi.
Siang hari nya Satria menjemput untuk makan siang. Sisi minta makan siang di restoran yang pertama kali mereka kunjungi saat dulu Satria mencoba mendekati Sisi, yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari kantornya.
Sisi berusaha bersikap biasa saja karena tidak ingin Satria merasa curiga. Sesekali Sisi mengambil alih sendok makan Satria dan dia menyuapi Satria. Sisi beralasan ingin latihan menjadi istri yang bisa menyenangkan suami dan Satria menyukai hal itu.
Dalam hati nya Sisi merasa sakit setiap dia bersikap manis pada Satria dan juga sebaliknya dia juga merasa sangat sakit ketika Satria bersikap manis pada nya. Tapi dia berusaha menikmati semua itu karena bagi nya ini adalah detik detik terakhirnya bersama Satria. Dia ingin menyimpan segala nya sebagai hal terindah dalam hidup nya.
"Nanti pulang kerja kita belanja bahan makanan ya sayang, aku masak makan malam buat kita berdua nanti", ajak Sisi.
"Oke calon istri ku sayang, apapun yang kamu mau pasti aku kabulkan", Satria mengecup lembut punggung tangan Sisi.
Selesai makan siang, Sisi kembali ke kantor dan Satria menuju butik setelah mengantar Sisi ke kantor nya. Satria ada janji untuk fitting baju nya hari ini kebetulan hari ini dia masih cuti kerja.
Satria memanfaatkan waktu libur nya dengan sangat baik untuk menyelesaikan hal hal terkait pernikahan nya yang tertunda selama dia di luar kota.
__ADS_1
Sekilas ada rasa khawatir dalam hati nya yang membuat Satria tidak nyaman tetapi dia tidak tau apa. Dia hanya berdoa semoga tidak terjadi hal buruk pada orang orang yang dia sayang terutama Sisi.
Sore hari Satria selesai dengan segala urusan nya. Dia segera menuju kantor Sisi. Sisi sudah menunggu di Lobi ketika Satria sampai di kantor nya.
Pukul Dua dinihari nanti orang suruhan Pak Albert akan menjemput Sisi di apartemen menuju tempat Pesawat pribadi milik Pak Albert berada dan Sisi akan segera terbang ke London.
"Aku masih punya waktu beberapa jam bersama Satria", batin Sisi.
Seperti yang sudah direncanakan saat makan siang tadi, kini mereka berada di supermarket membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak. Sisi ingin memasak makanan kesukaan Satria malam ini.
Selesai dengan semua belanjaan nya mereka segera menuju apartemen. Sisi yang merasa ini adalah hari terakhirnya bersama Satria , maka dia sudah menyiapkan diri atas segala kemungkinan yang nanti terjadi ketika mereka berdua saja di apartemen.
Sampai di apartemen Sisi segera menuju kamar nya untuk mandi. Satria membantu di dapur menyusun barang belanjaan mereka tadi dan meletakkan di tempat nya masing masing.
Selesai mandi Sisi mulai memasak. Satria menunggu di ruang tamu sambil menonton TV.
Sesekali air mata jatuh begitu saja di pipi nya sambil memasak. Sisi belum bisa melupakan semua kata kata Eyang tadi malam.
Hidangan makan malam sudah siap dan Sisi memanggil Satria. Mereka makan berdua. Satria sangat menyukai masakan Sisi. Selama tinggal bersama dengan orang tua Satria, Sisi banyak belajar memasak dari Ibu.
Selesai makan Sisi segera merapikan meja makan. Dia mulai sibuk mencuci alat masak dan juga alat makan mereka. Satria masih duduk di meja makan memperhatikan Sisi.
Perlahan Satria mendekat menghampiri Sisi. Dia memeluk Sisi dari belakang dan Sisi tidak menolak semua perlakuan Satria. Jauh dari lubuk hati nya Sisi juga menginginkan sentuhan lembut Satria saat ini.
"Untuk yang terakhir kali nya aku ingin merasakan nya", batin Sisi.
Merasa Sisi nemerima nya , Satria mempererat pelukan nya. Cukup lama Satria memeluk Sisi disana. Perlahan dia membalikkan tubuh Sisi supaya berhadapan dengan nya. Satria mendekat kan bibir nya pada bibir Sisi setelah mereka kini berhadapan. Sentuhan lembut di bibir Sisi berhasil membuat jantung nya berdetak tidak karuan.
Ciuman lembut dari Satria mendarat di bibir Sisi. Awalnya pelan dan lembut tetapi kini berubah jadi saling menuntut. Mereka berciumam dengan cukup panas. Tangan Satria mulai masuk ke dalam kaos Sisi yang longgar, menyentuh bagian tubuh Sisi yang lain nya.
__ADS_1
Hawa panas menjalar dari tangan Satria ketika menyentuh bagian kulit Sisi di dalam kaos nya. Ciuman mereka pun semakin menuntut. Sejenak mereka melepaskan ciuman karena hampir kehabisan nafas. Kini bibir Satria berpindah tempat mulai menyentuh pada kulit bagian leher Sisi. ******* demi ******* mulai keluar dari mulut Sisi ketika Satria menyentuh kulit lehernya dan tangan nya mulai bermain main di kedua payudara Sisi.
Semakin turun sentuhan bibir Satria dan kini bibirnya sampai pada puncak payudara Sisi. Kaos yang dia kenakan sudah terlempar ke sembarang tempat. Sisi semakin mendesah ketika puncak payudara nya di hisap Satria dengan sangat rakus.
Dan Sisi tidak bisa menahan diri lagi ketika tangan Satria mulai menyentuh are sensitif bagian bawahnya. Sisi bergerak liar kesana kemari tidak bisa menahan getaran getaran aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Satria menggendong Sisi ke kamar nya dan merebahkan diatas kasur perlahan. Dia melanjutkan memberikan sentuhan sentuhan lembut pada setiap inci tubuh Sisi. Semakin lama semakin panas. Kini mereka berdua sudah sama sama tidak berpakaian. Ketika Satria mencoba untuk melakukan penyatuan, Sisi mulai tersadar karena rasa yang amat sakit dari area sensitif bagian bawah nya.
Tanpa terasa air mata Sisi mengalir deras menahan rasa Sakit. Melihat Sisi yang kesakitan sampai menangis, Satria tersadar dan segera menghentikan kegiatan nya. Dia menjatuhkan badan di samping Sisi.
"Maafkan aku", ucap nya merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
Satria mengusap kasar wajahnya karena hampir saja menyakiti Sisi dengan merenggut mahkota nya sebelum mereka resmi menikah. Beruntung nya Satria segerea tersadar ketika melihat Sisi menangis kesakitan.
Segera dia bangkit, mencium kening Sisi lembut dan segera menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasrat nya yang tertahan.
Air mata Sisi mengalir semakin deras ketika Satria sudah beranjak dari kasurnya. Bukan karena dia menyesali yang sudah terjadi tetapi karena Sisi ingat kenyataan bahwa sebentar lagi dia akan pergi dari hidup Satria.
"Akan aku ingat setiap sentuhan nya malam ini", batin Sisi.
☆
☆
☆
☆
☆
__ADS_1
^^jangan lupa like vote dan komen ya readers..^^😇😇😇