Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Sisi kuliah


__ADS_3

Waktu kelulusan akhirnya tiba, kerja keras Sisi selama ini terbayar dengan hasil memuaskan. Sisi menjadi lulusan dengan nilai terbaik di sekolah nya.


Sisi di terima di Universitas Indonesia lewat jalur beasiswa nya. Sementara Satria dan Rama akan melanjutkan di Universitas Gajah Mada sesuai dengan yang sudah di tetapkan orang tua mereka.


Tentang sekolah Satria adalah ide dari Eyang yang sengaja ingin mendekatkan Satria dengan Mila. Namun Satria dan kedua orang tua nya belum mengetahui tentang rencana Eyang sebenarnya.


Eyang hanya meminta kedua cucu nya supaya kuliah di kota tempat Eyang tinggal dengan alasan Eyang ingin hari hari tua nya di temani kedua cucu nya. Satria dan Rama tidak bisa menolak karena mereka sangat menyayangi Eyang.


Satria mengajak Sisi untuk melajutkan di tempat yang sama tetapi Sisi menolak bantuan orang tua Satria, akhirnya hal yang di takut kan Satria terjadi, mereka akan melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda.


Hari ini hari pelepasan di sekolah mereka. Sisi tampil mempesona dengan balutan kebaya berwarna peach. Kebaya dari sebuah butik yang cukup ternama tersebut hadiah dari Ibu Satria, membuat Sisi tampil semakin cantik.


Sisi dipersilahkan oleh pihak sekolah menyampaikan beberapa kata kata perpisahan karena Sisi adalah lulusan terbaik tahun ini.


Turun dari podium, Sisi disambut dengan sebuah buket bunga dari Satria. Buket mawar merah bercampur pink dan putih, bunga kesukaan Sisi.


"Terima kasih , bunga nya cantik banget aku suka", ucap Sisi sambil tersenyum menerima buket bunga nya.


"Secantik kamu, bidadari hatiku", puji Satria dan sukses membuat pipi Sisi merona.


Mereka duduk bergabung dengan Renata dan teman kelas lain nya menikmati rangkaian acara sampai selesai.


"Ayah dan Ibu sudah pesan tempat untuk kita makan malam, tapi mereka ga bisa ikut karena ada acara dengan rekan bisnis", Satria memberitahu pada Sisi dan Renata tentang makan malam yang sudah di siapkan orang tua nya untuk mereka.


"Jam setengah tujuh nanti aku jemput ya", ucap Satria pada Sisi.


"Iya", jawab Sisi.


"Aku di jemput siapa ?" tanya Renata pura pura polos.


"Bawa mobil aja sendiri", goda Satria sambil tertawa.


"Aku antar Sisi pulang, kamu tunggu Rama di sini nanti dia jemput kok", ucap Satria pada Renata.


"Langsung pulang jangan pake mampir mampir dulu", teriak Renata menggoda Sisi dan Satria saat mereka sudah melangkah hendak meninggalkan lokasi acara pelepasan sekolah.


Sisi hanya menoleh ke arah Renata sambil tertawa dan melambaikan tangan.


"Sekali lagi selamat ya sayang, aku bangga banget sama kamu, bisa menjadi lulusan terbaik dan mendapat beasiswa di kampus yang sudah kamu impikan selama ini", Satria berkata sambil menatap Sisi lekat ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Makasih sayang, aku juga bangga sama kamu, nilai nilai kamu juga bagus semua", jawab Sisi.


"Aku mau jujur sama kamu, sebenarnya aku ga siap pisah sama kamu dalam waktu yang lama", Satria mengungkapkan kegelisahan yang dia rasa sejak tau mereka akan kuliah di kota yang berbeda.


"Kita harus bisa, demi masa depan kita juga nanti nya. Kalau kita berjodoh sejauh apapun kita terpisah percayalah semua akan baik baik aja", ucap Sisi.


Sisi mengusap lembut punggung tangan Satria memberi sedikit ketenangan.


"Setiap hari harus selalu berkabar ya, vidio call atau telepon wajib setiap malam sebelum tidur", pinta Satria.


"Iya sayang iya", jawab Sisi gemas karena Satria mulai merajuk seperti anak kecil.


Kalau sudah begini Sisi akan sangat gemas pada Satria.


"Aku akan pulang ke Jakarta dua minggu sekali, Ayah dan Ibu sudah setuju", ucap Satria.


Ayah dan Ibu akan berkunjung ke Jogja setiap bulan dan kamu ikut ya sama mereka" lanjut Satria.


Jangan memaksakan kalau Ayah dan Ibu sedang sibuk, dua kali dalam sebulan kamu akan ke Jakarta juga", Sisi mencoba mengingatkan Satria kalau orang tua nya juga punya banyak pekerjaan di Jakarta.


"Kalau Ayah sama Ibu sibuk, kamu ke Jogja sama Rena ya, aku mau setiap weekend sama kamu, aku ga bisa jauh dari kamu terlalu lama", kembali Satria merajuk.


"Kita liat nanti ya, kalau waktu nya memungkinkan bisa kita atur lagi nanti", jawab Sisi.


Sebenarnya Sisi sudah berencana untuk mengajar privat kembali setiap weekend, untuk menambah nambah tabungan nya karena kebutuhan Sisi pasti akan bertambah saat dia sudah kuliah nanti.


Tapi dia akan berusaha membagi waktu nya untuk Satria. Dia tidak ingin bersikap egois lagi seperti saat dia fokus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.


"Sayang, kamu belajar yang rajin ya supaya nilai nilai nya selalu bagus jadi kita bisa cepet lulus", ucap Sisi ingin menyemangati Satria.


"Iya sayang, aku mau cepet lulus supaya cepet bisa kerja dan cepet bisa menikah sama kamu", jawab Satria sambil tersenyum.


Sisi mencubit tangan Satria, "pikiran nya nikah terus", ucap Sisi.


"Sejak ketemu sama kamu, tujuan hidup aku adalah hidup bahagia sama kamu, membangun rumah tangga dan punya anak seperti kedua orang tua aku", jawab Satria dengan tatapan serius tanpa ada sedikit pun terlihat main main.


Sisi yang di tatap seperti itu merasa jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipi nya sudah merona.


Walaupun sudah cukup lama dekat dengan Satria tetap saja Sisi selalu merona saat Satria sudah memberikan tatapan maut seperti ini pada Sisi. Tetap saja Sisi selalu sulit mengendalikan detak jantung nya.

__ADS_1


Sampai di depan kostan tempat Sisi tinggal, dia segera turun dari mobil dan pamit pada Satria.


"Jangan lupa siap siap, setengah tujuh aku jemput", teriak Satria dari dalam mobil.


"Iya", Sisi mengangguk dan melambaikan tangan pada Satria.


Sisi berganti pakaian dan merebahkan diri nya di atas kasur. Dia menatap langit langit kamar nya.


"Andai Ayah dan Ibu masih ada, aku pasti akan semakin bahagia", batin Sisi. Tanpa di sadari air mata nya menetes.


"Besok pagi aku akan mengunjungi Ayah dan Ibu", batin Sisi. Kemudian Sisi tertidur.


Sorenya,


Sisi terbangun ketika mendengar adzan magrib berkumandang. Cukup lama Sisi tertidur, dia merasa sangat lelah karena acara pelepasan di sekolah tadi.


Sisi langsung menuju kamar mandi, dia teringat acara makan malam dengan Satria, Renata dan Rama.


Selesai shalat magrib Sisi segera bersiap karena tidak lama lagi Satria akan menjemputnya.


Sisi mengambil celana model kulot berbahan jeans berwarna biru tua, untuk atasan nya Sisi memadukan dengan kemeja tangan pendek berwarna hitam.


HP Sisi bergetar, panggilan masuk dari Satria.


"Aku udah di bawah", ucap Satria di dalam telepon.


"Tunggu ya aku turun", jawab Sisi.


Sisi segera mengenakan sepatu kets nya yang sudah dia siapkan, bergegas keluar kamar dan tidak lupa mengunci pintu kamar nya.


"Tuan putri aku cantik banget", puji Satria ketika Sisi sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.


"Udah jalan aja ga usah ngegombal", jawab Sisi sambil mencubit pelan lengan Satria.


"Minggu depan aku udah ke Jogja, kamu ikut ya anter ke Jogja nanti pulang sama Ayah dan Ibu. Satria membuka obrolan di perjalanan mereka menuju restoran.


"Aku belum bisa janji tapi akan aku usahakan kalau memang ga ada yang mendesak yang harus aku urus di sini", jawab Sisi.


"Sekalian aku mau kenalin kamu ke Eyang", ucap Satria.


Entah mengapa ada rasa takut dan tidak percaya diri dalam diri Sisi ketika Satria mengatakan akan memperkenalkan Sisi pada Eyang nya.


Satria menyadari perubahan wajah Sisi. Satria paham ada sesuatu yang mengganggu pikiran Sisi.


"Lagi mikirin apa sayang ?" tanya Satria lembut.


"Hmm..aku cuma khawatir kalau Eyang kurang suka sama aku gmn ?" jawab Sisi jujur.


"Eyang pasti akan suka sama kamu, percaya deh sama aku", Satria meyakinkan Sisi.


Sisi tersenyum mendengar jawaban Satria. Dia berusaha untuk percaya kata kata Satria.


"Semoga saja benar", ucap Sisi dalam hati.


Mobil Satria sudah berhenti di parkiran restoran tempat mereka makan malam, merayakan kelulusan mereka.


Satria menahan satu tangan Sisi ketika dia hendak membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Sayang, dengerin aku ya. Apapun yang akan terjadi di perjalanan kita ke depan nya nanti, kamu harus selau percaya kalau aku cuma mencintai satu perempuan yaitu kamu", Satria mencoba meyakinkan Sisi.


Sisi hanya menjawab dengan anggukan. Dia tidak tau harus berkata apa jika Satria sedang sangat serius seperti ini.


"Berjanjilah untuk selama nya akan menjadi milik ku", ucap Satria sambil mengecup lembut punggung tangan Sisi.


"InsyaAllah", jawab Sisi tersenyum.


Rama dan Renata sudah lebih dulu tiba di restoran itu, mereka sudah duduk di meja yang sudah di pesan oleh Ayah dan Ibu.


"Lama banget ihh, udah kelaperan tau", ucap Renata ketika Satria dan Sisi sampai.


"Macet", jawab Satria sambil tertawa.


"Minggu depan aku sama Rama udah harus berangkat ke Jogja, ikut anter juga ya Ren bareng Ayah, Ibu sama sisi", ajak Satria pada Renata.


"Iya bener Ren harus ikut ya, kan liburan ke jogja kita tahun lalu tertunda karena Ayah sibuk jadi sekarang gantinya", Rama melanjutkan ajakan Satria.


"Aku izin dulu sama Mama dan Papa", jawab Renata.


"Biar Ibu yang minta izin ke orang tua kamu", ucap Rama memberikan ide.

__ADS_1


Sisi hanya diam saja mendengarkan pembicaraan tiga orang sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil itu.


Kadang Sisi merasa seperti orang asing saat mereka bertiga sedang terlibat obrolan terutama jika membahas keluarga dan masa kecil mereka, Sisi hanya bisa diam mendengarkan.


"Jangan ngelamun nanti cantik nya hilang", goda Satria pada Sisi.


"Aku ga ngelamun", Sisi menjawab dengan senyum.


"Kenapa diem aja ?" tanya Satria


"Tiba tiba kangen orang tua ku", jawab Sisi mengalihkan.


Tidak mungkin Sisi menjawab bahwa dia merasa seperti orang asing saat mereka bertiga asik dengan obrolan yang tidak Sisi pahami.


Satria tau ada yang mengganggu pikiran Sisi dan dia akan bertanya nanti jika sudah berdua saja.


Satria yang terlihat cuek dan dingin sebenarnya sangat peka terhadap Sisi.


Dia selalu bisa membaca ekspresi dan gerak gerik Sisi ketika ada hal yang mengganggu pikiran Sisi. Hanya saja Satria lebih suka membahas nya saat mereka hanya berdua saja supaya Sisi merasa nyaman untuk mencurahkan isi hati dan pikiran nya.


Makan malam yang menyenangkan. Canda tawa mereka ber empat menghiasi acara makan mereka malam ini.


Walau Sisi terkadang hanya diam tetapi ada saat nya dia juga ikut tertawa. Dia juga bahagia dan merasa bersyukur di kelilingi orang orang baik dan sayang pada nya.


Tepat pukul sepuluh malam mereka meninggalkan restoran.


Satria mengantar Sisi pulang dan Rama seperti biasa mengantar Renata.


Dalam perjalanan pulang,


"Besok pagi aku ada sparing di Cibubur, temenin ya sayang", pinta Satria pada Sisi.


"Jam berapa ?" tanya Sisi.


"Jalan jam 9", jawab Satria.


"Tapi aku mau ke makam Ayah Ibu dulu bisa ?", Sisi bertanya balik.


"Ya udah aku jemput jam tujuh ya, kita ke makam dulu baru ke Cibubur", jawab Satria.


Sisi mengangguk tanda setuju.


"Kalau ngantug tidur aja nanti aku bangunin kalau udah sampai di kostan", ucap Satria saat melihat mata Sisi mulai merah menahan rasa kantuk nya.


"Ga apa apa kok, masih bisa tahan. Aku temenin kamu nyetir aja", jawab Sisi.


Empat puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di kostan Sisi.


Satria menahan tangan Sisi ketika Sisi sudah akan membuka pintu mobil hendak turun.


"Untuk kamu", ucap Satria sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna pink ke tangan Sisi.


"Apa isinya ?" tanya Sisi


"Buka aja", jawab Satria sambil menatap Sisi lekat.


Sisi membuka kotak tersebut.


Isinya sebuah kalung berwarna putih dengan liontin bertuliskan huruf SS yang diambil dari nama mereka, Satria Sisi.


Satria tau kalau Sisi kurang suka dengan perhiasan emas kuning jadi dia memilih perhiasan emas putih sebagai hadiah kelulusan Sisi dan supaya Sisi tetap ingat dirinya jika memakai kalung itu.


"Bagus banget, makasih ya", ucap Sisi terharu dengan mata yang berkaca kaca.


"Dipakai terus ya sayang, supaya kamu selalu ingat sama aku", pinta Satria.


"Aku beli dari uang tabungan sendiri, ga minta sama Ayah dan Ibu", ucap Satria.


"Udah lama aku nabung nya, udah kepikiran mau kasih ini untuk kamu pas kita lulus", tambah Satria menjelaskan tujuan dia membeli kalung itu untuk Sisi.


"Makasih ya sayang", ucap Sisi sambil tersenyum bahagia.


Sisi sebenarnya juga sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Satria.


Tetapi dia berencana memberikan ketika nanti Satria akan berangkat ke Jogja. Sisi akan diam diam meletakkan hadiah nya ke dalam tas Satria tanpa dia tau.


"Aku pulang dulu, kamu istirahat ya sayang", ucap Satria sambil melambaikan tangan pada Sisi.


Saat mobil Satria sudah tidak terlihat, Sisi segera masuk. Dia sudah ingin segera tidur karena hari ini benar benar sangat melelahkan meskipun juga menyenangkan.

__ADS_1


^^selamat membaca readers, semoga suka dan jangan lupa like dan vote nya, terima kasih banyak^^🥰🥰


__ADS_2