Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Kehilangan


__ADS_3

Sore hari menjelang ketika Sisi tiba di Malang. Setelah turun dari kereta, dia segera menuju pintu keluar. Sisi menghampiri seorang tukang ojek dan meminta mengantarkan nya ke sebuah Hotel yang sudah dia pesan ketika dalam perjalanan menuju Malang.


Sisi menghubungi para dosen nya dan meminta izin untuk melakukan kegiatan belajar secara online dengan alasan ada keperluan di luar kota.


Sisi diberi kemudahan karena selama ini nilai nilai nya selalu diatas rata rata, menuju sempurna.


"Aku butuh waktu untuk sendiri sampai batas yang tidak bisa aku tentukan", ucap Sisi dalam hati nya.


Sisi terpaksa memblokir nomor orang orang yang terkait dengan Satria seperti kedua orang tua Satria, Rama dan Renata.


"Maafin aku ya Ren, kamu jangan khawatir aku akan baik baik saja", Sisi teringat akan Renata.


Sampai di hotel yang di maksud, Sisi segera melakukan check in dan segera menuju kamar nya untuk istirahat. Hati dan fisik nya cukup lelah. Di perjalanan menuju Malang, Sisi berusaha kuat untuk menahan air mata nya agar tidak jatuh karena selalu mengingat Satria.


Kini ketika Sisi sudah berada di dalam sebuah kamar hotel di kota yang memberikan banyak kenangan baginya dan Satria, Sisi tidak bisa menahan bendungan air mata yang dia tahan sejak diperjalanan.


"Apakah aku masih boleh berharap bahwa cintamu masih selalu ada untuk ku", batin Sisi dalam tangisnya. Sisi menangis sampai tertidur.


***********


Hari semakin malam dan Satria semakin gelisah karena belum mendapat kabar tentang Sisi. Satria tidak sanggup melakukan hal apapun selain hanya merutuki kebodohan nya. Untuk makan saja dia tidak berselera sama sekali. Dia hanya duduk diam di kamar nya, air mata membasahi pipi nya setiap dia mengingat Sisi.


"Kamu dimana sayang, aku mohon kembali padaku, aku ga bisa kehilangan kamu", berkali kali Satria mengucapkan kata kata itu sejak Sisi pergi.


"Bagaimana Yah ?" tanya Ibu pada Ayah yang sedang mencari keberadaan Sisi.


"Kemungkinan Sisi ga di Jakarta Bu", jawab Ayah.


"Sisi....kemana kamu Nak, pulang sayang", ucap Ibu khawatir.


"Ibu tenang dulu ya, semua penerbangan keluar kota bahkan keluar negeri akan di cek", ucap Ayah menenangkan.

__ADS_1


Renata dan Rama juga khawatir hanya saja mereka memilih diam di depan Ibu supaya tidak membuat Ibu semakin panik.


"Aku anter makan dulu untuk Kak Satria", ucap Renata sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga.


Di kamarnya Satria sedang memeluk sebuah foto dirinya berdua dengan Sisi ketika Renata masuk mengantarkan makanan.


"Kaka harus makan, kalau Kaka sakit gimana bisa cari Sisi", ucap Rena tegas.


"Apa aku masih punya kesempatan untuk bersama Sisi lagi ?" tanya Satria putus asa.


"Seperti yang Sisi katakan dalam suratnya, jika Kaka benar masih mencintai dia maka minta pada Tuhan untuk diberikan jalan bersama lagi", Renata mengingatkan isi surat yang Sisi tulis.


"Letakkan saja di meja nanti Kaka makan", jawab Satria lemah.


Renata meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja kemudian dia kembali menuju ruang keluarga, dia memberikan waktu Satria untuk sendiri.


Setelah Renata keluar dari kamarnya, Satria menuju kamar mandi. Dia berwudhu dan melaksanakan shalat. Dia mengikuti apa yang Sisi katakan, meminta pada Tuhan untuk dipertemukan lagi dengan Sisi yang masih sangat dia cintai sampai kapan pun.


*********


"Aku tidak boleh sakit", batin Sisi.


Dia meraba keningnya, suhu badan nya cukup tinggi. Tenggorokan nya pun terasa amat sakit. Sisi ingin minum tapi dia tidak bertenaga untuk bangun. "Aku harus bisa", batin Sisi dan kembali mencoba bangun dengan perlahan. Di raihnya sebotol air mineral yang terletak di atas meja, tidak jauh dari tempat tidur. Sisi berhasil mendapat botol air mineral tersebut, segera dia membuka tutup botol dan meminum nya.


Sisi menelpon bagian restoran, memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sejak kemarin belum terisi sama sekali. Sisi tidak ingin sakit, sekalian dia memesan obat pada layanan kamar melalui telepon.


Setengah jam kemudian makanan yang Sisi pesan datang. Tidak lama, datang juga seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan yang bertugas sebagai room service mengantarkan obat yang Sisi pesan. Dia menanyakan kondisi Sisi karena Sisi terlihat sangat pucat dan lemah.


"Apa boleh saya bantu untuk cek suhu nya Mba, kebetulan saya bawa termometer digital tadi", ucap sang pelayanan.


"Silahkan Mba", jawab Sisi mencoba tersenyum.

__ADS_1


Wanita tersebut mengecek suhu badan Sisi dan ternyata hasilnya cukup tinggi, suhu badan Sisi pagi ini 41 derajat. Wanita tersebut menawarkan untuk membantu membawa Sisi ke dokter tetapi Sisi menolak, dia mengatakan hanya butuh istirahat dan minum obat. Akhirnya wanita itu meninggalkan Sisi di kamar nya, memberikan waktu untuk Sisi istirahat dan dia berjanji akan kembali lagi siang untuk mengecek kondisi Sisi.


************


Satria yang baru bisa tidur sehabis subuh, tiba tiba terbangun dari mimpi buruknya. Satria bermimpi melihat Sisi menangis di sudut ruangan yang gelap, ketika Satria menghampiri Sisi menghilang begitu saja.


"Astagfirullah", ucap Satria sambil mengusap wajahnya ketika terbangun dari mimpi buruknya.


"Sayang kamu dimana dan gimana kondisi kamu", batin Satria sambil kembali meneteskan air mata.


Hati Satria semakin merasa tidak tenang setiap mengingat Sisi. Dia merasa Sisi dalam kondisi yang sedang tidak baik baik saja.


"Aku harus gimana..aaarrgggghhhhh" teriak nya frustasi.


Rama yang tidak sengaja lewat di depan kamar kaka nya mendengar teriakan Satria. Langsung saja Rama masuk ke dalam kamar dan mengecek kondisi kakanya.


"Ada apa Kak ?" tanya Rama.


"Mimpi buruk tentang Sisi, aku kehilangan dia", ucap Satria perih.


Rama mengajak Kaka nya untuk turun ke ruang makan karena Kaka nya belum makan sejak kemarin. Makanan yang tadi malam Renata antar bahkan tidak disentuh sedikitpun oleh Satria.


"Aku ga lapar", ucap Satria ketika sudah duduk di meja makan.


"Minum susu aja ya Nak", jawab Ibu sambil memberikan segelas susu pada Satria.


Satria hanya menatap gelas susu yang diberikan Ibu nya tanpa berniat untuk meminum nya. Semangat nya untuk melakukan apapun hilang seiring dengan kepergian Sisi yang dia tidak tau kemana.


"Aku akan melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia asalkan kamu kembali", ucap Satria lirih. Setetes air mata lolos begitu saja di pipi Satria. Satria tampak semakin kacau.


"Hhhmmm..baru Sisi pergi tanpa kabar anak ku sudah begini, bagaimana nanti jika Ibu benar benar tetap memaksa menjodohkan nya dengan Mila, bisa bisa anak ku kehilangan nyawa nya" batin Ayah.

__ADS_1


^^kira kira Sisi dan Satria bersatu lagi ga ya ? , dukung terus ya readers, supaya semangat buat ngelanjutin, makasih sebelumnya^^😊😊


__ADS_2