
Jarum jam menunjukkan angka tiga, pagi dini hari. Angin dingin kota Malang menusuk hingga ke tulang. Sisi merapatkan jaket yang dia pakai. Mereka sudah berkumpul di lobi hotel, bersiap melakukan perjalanan menuju Bromo.
Pak Bagus, supir yang akan mengantar mereka kemana pun selama di Malang juga sudah siap. "Kita jalan sekarang pak ? " tanya Pak Bagus pada Ayah.
"Iya baiklah", jawab Ayah.
Mereka menuju mobil yang sudah disiapkan Pak Bagus. Perjalanan menuju Bromo dimulai. Sisi tidak sabar ingin menyaksikan matahari terbit dari puncak Gunung Bromo.
"Pasti akan sangat indah", batin Sisi membayangkan matahari terbit dari puncak Bromo.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima ketika mereka sampai di Bromo. Perjalanan mereka ke atas di lanjutkan dengan menggunakan mobil Jeep yang di sewa di pemberhentian terakhir. Pak Bagus tidak ikut, hanya menunggu di mobil sampai mereka kembali turun nanti.
Sampai diatas, Sisi sangat takjub melihat kebesaran Tuhan. "Itu yang disebut Negeri diatas Awan", ucap Satria sambil menunjuk ke hamparan padang pasir diatas puncak gunung Bromo.
Sinar Matahari mulai naik melalu puncak gunung. Warna langit yang tampak kemerahan bercampur jingga membuat siapapun yang melihat akan takjub atas kebesaran Tuhan. Semua memandang dengan rasa kagum.
Mereka berfoto bersama. Satria meminta bantuan seorang pendaki yang kebetulan lewat untuk mengambil foto mereka.
Setelah foto bersama, masing masing berfoto selfie. Satria mengambil banyak sekali foto Sisi saat gadis nya itu sedang menikmati pemandangan matahari terbit di puncak gunung Bromo yang sangat menakjubkan.
"Kita harus ambil foto banyak untuk kenang kenangan", ucap Satria mengajak Sisi foto bersama.
"Sekalian bikin foto prewed Kak jadi nanti ga perlu kesini lagi untuk foto prewed", Rama menggoda Satria dan Sisi yang asik mengambil foto berdua.
Pipi Sisi berganti warna menjadi agak memerah mendengar ucapan Rama, sementara Satria hanya cuek saja dan tetap melanjutkan acara foto foto nya.
Mereka kembali turun dari puncak ketika cahaya matahari sudah naik cukup tinggi, udara panas sudah mulai terasa di puncak kepala mereka.
"Kita cari sarapan di bawah", ajak Ayah.
Semua mengangguk tanda setuju dan mengikuti Ayah mencari sarapan dengan jalan kaki menelusuri desa di bawah kaki Gunung Bromo.
"Udara nya sejuk banget MasyaAllah", ucap Ibu sambil memandang sekeliling.
Satria berjalan sambil menggandeng tangan Sisi. Sejak dari puncak tadi Satria tidak melepaskan tangan Sisi, seakan takut Sisi akan menghilang jika tangan mereka terlepas.
Sisi sebenarnya agak risih dan malu karena ada Ayah dan Ibu. Tapi Satria mengatakan untuk bersikap cuek saja karena Ayah dan Ibu juga pernah muda. Akhirnya Sisi memilih untuk selalu berjalan di paling belakang.
Di ujung persimpangan jalan, ada sebuah kedai nasi. Dari jauh sudah tercium aroma masakan yang lezat. Ayah dan Ibu segera memasuki kedai tersebut, mencari tempat duduk untuk mereka. Yanga lain mengikuti dan duduk di meja yang sudah Ayah pilih.
Pemilik kedai datang menanyakan pesanan, kurang dari sepuluh menit semua makanan yang dipesan sudah tertata diatas meja.
Mereka makan dengan lahap, semua yang disajikan habis tanpa sisa. Terlebih Rama yang nafsu makan nya meningkat selama di Malang.
__ADS_1
Selesai makam, Ayah segera membayar dan mereka kembali ke mobil dimana pak Bagus sedang menunggu mereka.
"Hari ini jadwal kita kemana ? " tanya Ibu.
"Habis makan siang kita ke Museum Angkut Bu", jawab Sisi.
Sisi dan Renata memang yang sudah mengatur semua tempat tempat yang akan mereka kunjungi. Kalau mengenai tempat makan, Ayah dan Ibu yang urus.
"Pak Bagus kita kembali ke hotel dulu, nanti habis shalat dzuhur baru kita jalan lagi", instruksi Ayah pada pak Bagus.
"Baik pak Arya, siap laksanakan", jawab pak Bagus.
Tiba di Hotel, Sisi dan Renata langsung menuju kamar. Sisi segera menuju kamar mandi, membersihkan badan nya yang sudah terasa sangat lengket. Setelah Sisi selesai, gantian Renata yang masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara itu di kamar Satria, kedua kaka beradik itu langsung tertidur. Mereka terbangun ketika adzan dzuhur berkumandang. Buru buru Satria dan Rama mandi. Ayah sudah menelpon mereka untuk berkumpul di lobi hotel selesai shalat dzuhur.
"Kita makan siang dulu di sini pak Bagus", ucap Ayah kepada pak Bagus sambil menunjukkan nama sebuah tempat di layar HP nya.
"Baik pak, kebetulan tidak jauh dari sini", sahut pak Bagus.
Selesai makan siang mereka menuju Museum Angkut. Kembali Sisi dibuat takjub dengan jenis jenis kendaraan yang ada di dalam museum. Suasana klasik tercipta, menambah nilai plus tempat tersebut dimata Sisi.
"Suka ga sama tempat nya ? " tanya Satria sambil tangan nya tak lepas menggandeng tangan Sisi.
"Suka banget", jawab Sisi sambil tersenyum manis ke arah Satria.
"Bisa ga sih kalau ga rusuh", ucap Satria sambil melotot ke arah adik nya yang selalu usil itu.
Sisi tidak merespon, dia hanya menunduk karena pipi nya sudah terasa hangat dan bisa dipastikan warna nya sudah berubah jadi memerah karena malu.
"Kita liat ruangan lain aja", Satria segera menarik tangan Sisi untuk menjauh.
Orang tua nya serta Rama dan Renata hanya bisa tertawa melihat tingkah Satria.
Sore hari mereka kembali ke hotel, kembali mereka mengistirahatkan badan sejenak di kamar masing masing.
Ayah tampak kembali dengan laptopnya, memeriksa beberapa email yang di kirim asisten nya.
"Malam ini kita makan malam dimana ? " tanya Ibu.
"Di luar aja, anak anak minta makan seafood", sahut Ayah dengan tatapan yang tidak lepas dari layar laptopnya.
"Kalau Ayah sibuk kita makan malam di hotel lagi aja, anak anak pasti ngerti kok", saran Ibu.
__ADS_1
"Ga usah, kita makan diluar aja nanti bisa dilanjut periksa email nya sehabis makan malam", jawab Ayah tersenyum meyakinkan Ibu.
Selesai melaksanakan shalat magrib, mereka kembali berkumpul di lobi hotel.
Pak Bagus datang dengan mobil yang sudah siap mengantarkan mereka menuju restoran seafood yang cukup terkenal di kota Malang.
"Besok jadwal kita kemana ? " tanya Ayah dalam perjalanan menuju restoran seafood.
"Besok kita main nya di daerah Batu sampai malam Yah, pengen ngunjungin BNS malam hari nya", jawab Satria.
"Kalau besok kalian aja yang jalan ke Batu gimana karena Ayah ada meeting dadakan besok siang ? " ucap Ayah pada anak anak nya.
"Jadi Ayah ke Jakarta besok ? " tanya Rama.
"Iya, besok pagi Ayah sama Ibu terpaksa pulang duluan, proyek ini penting untuk Ayah", jawab Ayah menjelaskan.
"Kalian ga apa apa kan kalau di tinggal ? " tanya Ibu.
"Semoga meeting Ayah berjalan lancar dan proyek yang Ayah inginkan itu bisa Ayah dapat", ucap Sisi tulus.
"Aamiiinn..makasih sayang", jawab Ibu sambil memeluk Sisi yang duduk di sebelah nya.
"Aku kapan bisa meluk kayak gitu hemm", Satria berucap.
"Halalin dulu dong", jawab Ibu tertawa meledek Satria.
Restoran seafood yang mereka kunjungi selalu ramai setiap malam nya. Beruntung Ayah sudah memesan tempat lebih dulu jadi ketika mereka sampai tidak perlu menunggu antrian tempat duduk. Mereka langsung menyebutkan pesanan ketika seorang pelayan menghampiri meja mereka.
Kurang dari setengah jam, satu per satu makanan yang dipesan datang. Mereka langsung menyantap dengan lahap. Aroma makanan yang sangat menggoda yang sebanding dengan rasa yang lezat membuat semua makanan habis tanpa sisa.
Pukul sembilan malam mereka kembali ke hotel. Ayah dan Ibu langsung menuju kamar, di susul Satria dan yang lain menuju kamar masing masing juga.
Sebelum tidur, Ibu membereskan semua barang barang nya dan Ayah karena besok sehabis shalat subuh, Ibu dan Ayah kembali ke Jakarta lebih dulu.
Asisten Ayah sudah berhasil mengganti tanggal dan jam terbang untuk tiket pesawat atas nama Ayah dan Ibu.
Sementara Satria dan yang lain masih dua hari lagi baru kembali ke Jakarta.
^^readers yang baik hati, jangan lupa dukungan nya supaya author tetap semangat menuntadkan karya pertama nya ini, makasih^^😘😘😘
Bromo
__ADS_1
Museum Angkut