
Satria menepati janji nya pada Sisi. Jumat sore seperti biasa, dia sudah ada di Jakarta. Sisi ada kelas privat sore itu di rumah muridnya yang kelas 6 SD. Baru sampai di rumah nya Satria langsung mandi, lalu pergi lagi menuju tempat Sisi mengajar.
"Bilang sama Ibu, nanti Kaka makan malam di luar sama Sisi", pesan nya pada Rama.
Rama yang sedang asik menonton acara tv hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Kaka nya.
Begitu sampai di tempat Sisi mengajar, Satria mengirim pesan pada Sisi. Dia menunggu di taman yang tidak jauh dari tempat Sisi mengajar.
Jarum jam menunjuk kan pukul lima sore. Sisi selesai dengan tugas mengajarnya sore ini, dia segera merapikan barang barang nya lalu berpamitan pada kedua orang tua murid nya.
Sisi menemui Satria di taman yang tidak jauh dari rumah muridnya. "Maaf lama nunggu", ucap Sisi ketika sudah masuk ke dalam mobil Satria.
"Ga apa apa, aku juga belum lama", jawab Satria tersenyum.
Satria melajukan mobil nya menuju Mall yang biasa mereka kunjungi. Mereka berencana untuk makan dan nonton , kali ini hanya berdua saja. Satria sedang menginginkan waktu untuk berdua saja dengan Sisi tanpa ada yang lain.
Sampai di Mall, mereka langsung menuju ke lantai dimana bioskop nya berada. Mereka menonton terlebih dahulu karena waktu pemutaran film yang ingin mereka tonton sebentar lagi.
Kali ini film yang mereka tonton adalah film drama romantis. Seperti biasa, Sisi sangat fokus menonton film nya. Satria sesekali mengambil foto Sisi jika dia mendapati pose Sisi yang lucu, menarik dan menggemaskan dimata Satria.
Setelah hampir dua jam waktu berlalu, lampu di ruangan bioskop kembali menyala, tanda film sudah selesai. Banyak pasang mata yang terlihat agak sembab karena menangis ketika menonton film kali ini. Cerita film dengan ending yang cukup menyedihkan membuat yang menonton banyak menitikkan air mata, tanpa terkecuali Sisi. Mata Sisi juga terlihat sedikit merah, menyisakan sebulir air mata di pipi nya dan di hapus dengan lembut oleh Satria dengan jari nya.
Kedua nya keluar dari bioskop, berbarengan dengan orang orang yang juga baru selesai nonton. Mereka segera menuju restoran Jepang favorit jika berkunjung ke Mall ini. Satria memesan makanan untuk Sisi dan dirinya. Sudah lama mengenal Sisi membuat Satria sudah hafal makanan yang Sisi suka begitupun Sisi yang sudah sangat paham apa yang Satria suka dan tidak.
"Katanya mau cerita sesuatu", ucap Satria saat mereka sedang menunggu pesanan datang.
__ADS_1
Baru Sisi ingin menjawab, pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan. Sisi mengajak Satria makan terlebih dahulu sebelum menyampaikan tentang pengajuan beasiswa nya.
Sisi mengumpulkan keberanian dan sedang memikirkan akan mulai dari mana membahas nya dengan Satria.
"Jadi mau cerita apa ? " tanya Satria kembali ketika makanan mereka sudah hampir habis, satria sudah sangat penasaran karen dia sempat memperhatikan kalau Sisi terlihat gelisah.
"Hmm..aku mendapat kesempatan untuk bisa memperoleh beasiswa di luar negeri, aku mau minta izin sama kamu", ucap Sisi dengan ragu ragu dan gugup.
Sisi tidak siap dengan segala kemungkinan jawaban Satria. Dia menunduk, tanpa berani menatap Satria.
Satria yang mendengar kata luar negeri, langsung menolak tanpa bertanya dengan jelas dimana kampus dan negaranya. Hanya satu hal yang terpikir oleh nya bahwa dia tidak sanggup berjauhan dengan Sisi. Untuk jarak Jakarta - Jogja saja berat bagi Satria, mau di perjauh dengan luar negeri, Satria menolak dengan tegas.
"Aku ga bisa kasih kamu izin", jawab Satria tegas dan dingin, tidak ingin dibantah.
"Tapi ini ga lama, cuma dua tahun", Sisi masih berharap Satria merubah keputusan nya.
"Mau satu hari atau dua tahun, aku ga bisa kasih izin, kamu ngerti ga sih perasaan aku gimana ketika harus jauh dari kamu", Satria mengucapkan itu dengan nada yang cukup tinggi.
Sisi yang tidak menyukai jika ada yang bicara dengan nada tinggi merasa kecewa pada sikap Satria. Dengan gerakan cepat dia mengambil tas nya yang terletak diatas meja, segera Sisi berdiri dan berlalu meninggalkan Satria.
"Sisi berhenti", ucap Satria berteriak.
Namun Sisi tetap berlalu tanpa menoleh pada Satria. Dia segera keluar dari restoran dengan berusaha sekuat hati menahan supaya air mata nya tidak tumpah.
Satria meninggalkan beberap lembar uang seratus ribuan diatas meja dan segera berlari menyusul Sisi. Ada seorang anak kecil yang tidak sengaja menabrak Sisi sehingga langkah Sisi tertahan di depan sebuah toko mainan anak anak. Satria berhasil menahan Sisi.
__ADS_1
"Kita belum selesai bicara, maaf kalau tadi aku kelepasan", ucap Satria sambil meraih tangan Sisi supaya Sisi tidak pergi.
"Ga ada lagi yang perlu dibahas, aku mau pulang", jawab Sisi tanpa mau menatap ke arah Satria.
"Aku antar pulang", Satria membawa Sisi menuju parkiran tanpa melepaskan genggaman nya dari tangan Sisi.
Sisi segera masuk ke dalam mobil Satria begitu mereka sampai di parkiran. Satria menyusul masuk, segera dia melajukan mobil keluar dari Mall tersebut menuju kostan Sisi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Kedua nya diam, sibuk dengan pikiran masing masing. Sisi kecewa dengan sikap Satria dan sama hal nya Satria pun merasa bahwa dirinya tidak cukup berarti bagi Sisi karena Sisi selalu ingin mengejar impian impian nya tanpa ada Satria di dalam mimpi mimpi nya tersebut.
"Apa tidak cukup baginya menyelesaikan kuliah di Jakarta dan aku akan segera menikahi nya lalu akan bertanggung jawab atas hidupnya selamanya", batin Satria.
"Dia pernah berjanji akan selalu mendukung dan akan melakukan apapun untuk mewujudkan mimpi mimpi ku, tapi sekarang bahkan dia tidak mendukung ku untuk salah satu impian ku", ucap Sisi dalam hati yang berusaha menahan tangis nya supaya tidak jatuh di depan Satria.
Mobil Satria berhenti ketika sudah sampai di depan gerbang kost Sisi. Dengan segera Sisi membuka pintu dan hendak keluar, namun Satria menahan tangan Sisi.
"Aku mohon pikirkan lagi", ucap Satria lirih.
Sisi tidak menjawab dan tidak menatap Satria, dia segera melepaskan tangan Satria lalu dengan cepat nya segera keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam gerbang tanpa menoleh lagi pada Satria.
Satria menghembuskan nafas kasar dan mengacak rambutnya. Dia merasa frustasi dengan semua yang baru saja terjadi. Dia tau sudah bersalah melukai hati Sisi dengan membentak nya saat di restoran tadi. Satria menyesal. Dia terbawa emosi karena tidak siap dengan kenyataan bahwa Sisi ingin mengambil beasiswa di luar negeri.
"Aku harus bagaimana Tuhan", ucap Satria frustasi.
Sementara itu Sisi langsung merebahkan dirinya di kasur. Lampu di dalam kamar nya di biarkan gelap, dia tidak ingin melakukan apapun saat ini kecuali menangis. Rasa sesak yang sudah sejak tadi dia tahan kini semakin menyesakkan. Air mata nya tumpah begitu saja tanpa bisa Sisi tahan lagi. Dia merasa sakit, saat sudah tertidur pun Sisi masih menangis.
__ADS_1
^^mohon bantuan dukungan nya untuk author baru ini, terima kasih banyak sebelumnya^^😊😊😊