
Sisi yang sudah meminum obat penurun demam tetapi tidak kunjung pulih. Seluruh tubuh nya dirasakan semakin sakit. Wanita yang tadi pagi membantu nya kembali mengecek kondisi Sisi sore hari, saat pekerjaan nya sudah selesai.
Ayu yang berjanji tadi siang akan kembali mengecek kondisi Sisi tidak bisa datang karena pekerjaan nya cukup banyak hari ini. Sore hari ketika pekerjaan nya sudah selesai, dia teringat pada Sisi. Setelah berganti seragam dan hendak pulang, dia mampir ke kamar Sisi.
Ayu cukup panik ketika mendapati Sisi dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam kamar nya. Dia segera menelpon ke resepsionis hotel meminta bantuan. Dengan cepat bantuan datang, dua orang petugas hotel yang laki laki langsung membawa Sisi menuju lobi dimana sudah menunggu kendaraan hotel yang akan membawa Sisi ke rumah sakit. Ayu ikut mengantar Sisi.
Sampai di rumah sakit, Sisi langsung ditangani oleh dokter jaga di IGD. Setelah di lakukan pemeriksaan, Sisi di haruskan rawap inap untuk beberapa hari karena kondisinya yang lemah akibat dehidrasi dan kelelahan. Ayu mengurus semua nya. Dia tidak mengenal Sisi, namun naluri kemanusiaan nya mengatakan bahwa harus membantu Sisi.
Sisi masih belum sadarkan diri. Selang infus sudah terpasang di tangan nya. Dokter mengatakan bahwa Sisi sedang berjuang melewati masa kritisnya. Ayu menelpon atasan nya di hotel tempat dia bekerja, menceritakan kondisi Sisi. Setelah menitipkan Sisi pada perawat di rumah sakit, Ayu segera pulang karena anaknya yang masih berusia sembilan tahun sudah menunggu nya di rumah.
Pihak hotel masuk ke dalam kamar Sisi. Mencari segala keterangan yang bisa di dapat untuk menghubungi keluarga Sisi. Ada HP dan dompet Sisi yang ditemukan di dalam kamar selain koper yang bahkan belum Sisi buka sejak tiba di Malang.
Bagian resepsionis hotel mencoba membuka HP Sisi yang kebetulan tidak menggunakan password. Dia membuka menu kontak dan mencoba mencari nama nama yang sekira nya punya hubungan keluarga dengan Sisi. Terdapat kontak dengan nama "Ayah", langsung saja pihak resepsionis menghubungi nomor tersebut.
*************
Sementara itu di rumah Satria, Ayah dan Ibu serta Rama dan Renata sedang berada di taman belakang. Mereka masih berusaha mengecek keberadaan Sisi. Semua penerbangan domestik dan luar negeri sudah di cek oleh Asisten Ayah namun tidak ada jejak keberangkatan Sisi.
"Mungkin ga kalau Sisi menggunakan kereta", ucap Renata.
"Astagfirullah..kenapa Ayah ga kepikiran ya Ren", jawab Ayah sambil memukul dahinya.
Ayah hendak menghubungi asisten nya untuk mengecek jadwal kereta api jarak jauh ke semua rute, namun tiba tiba HP nya berdering.
Ada panggilan dari nomor tidak dikenal, kode area luar kota. Ayah langsung menjawab telepon nya dan mendengarkan dengan seksama seseorang diseberang sana sedang mengatakan sesuatu yang membuat Ayah terkejut.
"Baik Mba, terima kasih informasinya", jawab Ayah.
"Ada apa Yah ? " tanya Ibu panik ketika melihat ekspresi Ayah saat menerima telepon tadi.
__ADS_1
"Sisi ada di Malang dan sekarang di rumah sakit, kondisi nya kritis akibat dehidrasi dan kelelahan", jawab Ayah yang masih syok.
"Siap siap kita ke Malang sekarang, Ayah akan urus penerbangan tercepat", instruksi Ayah pada semuanya.
"Rena ikut ya Bu, kebetulan di mobil Rena ada pakaian ganti", ucap Rena pada Ibu.
"Iya sayang", jawab Ibu memeluk Rena.
Rama mengabarkan pada Satria mengenai Sisi yang sudah diketahui berada di Malang. Satria tidak kalah kaget nya dengan yang lain. Dengan segera dia bersiap berangkat ke Malang. Kekuatan nya tiba tiba muncul begitu saja ketika dia mendengar kabar tentang Sisi. Hanya satu yang dia pikirkan yaitu harus segera bertemu Sisi.
"Kamu yang kuat ya sayang, aku akan datang jemput kamu", batin Satria lirih.
***********
Pukul sepuluh malam Satria dan keluarga nya serta Renata tiba di Malang. Mereka langsung menuju rumah sakit yang sudah di informasikan pihak hotel tempat Sisi menginap.
Dokter yang menangani Sisi menjelaskan kondisi Sisi pada mereka ketika sudah sampai di rumah sakit. Satria langsung menghampiri ranjang Sisi, hati nya semakin sakit ketika melihat Sisi terbaring belum sadarkan diri.
Ayah dan Ibu menenangkan Satria. Sisi akan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP supaya mereka semua nyaman menjaga Sisi dan Sisi pun mendapatkan perawatan yang terbaik.
Malam ini mereka semua tidur di ruang perawatan Sisi yang sudah pindah ke ruang VVIP. Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari, tiba tiba Satria merasakan tangan Sisi yang berada dalam genggaman nya bergerak. Satria langsung menekan tombol panggilan ke ruang perawat.
Seorang dokter jaga bersama seorang perawat masuk ke dalam ruangan Sisi. Dia memeriksa kondisi Sisi yang sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya. Kedua orang tua Satria serta Rama dan Renata pun terbangun.
Sisi mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan, dia tidak mengingat berada dimana. Samar samar dia melihat bayangan Satria yang semakin jelas. Sisi meneteskan air mata ketika tatapan nya bertemu dengan tatapan Satria.
Langsung saja Satria memeluk Sisi. Air mata kedua nya sama sama tidak bisa dibendung lagi. Rasa sakit, kecewa, penyesalan dan takut kehilangan semua bercampur menjadi satu.
"Maafin aku ya sayang, aku dengan segala kebodohan ku sudah menyakiti kamu", ucap Satria sambil terus mengecup punggung tangan Sisi.
__ADS_1
"Tolong jangan pernah ragu dengan rasa cintaku untuk mu, semua masih sama tidak berkurang sedikitpun bahkan semakin hari semakin bertambah", Satria mencurahkan semua isi hati nya.
Sisi tidak bisa berkata apa apa, air mata nya masih terus mengalir tanpa bisa dia tahan.
Ibu, Renata, Ayah dan Rama menghampiri Sisi. Satu per satu mereka memeluk Sisi.
"Kalau suatu hari nanti Satria menyakiti hati kamu lagi, jangan pergi tapi kamu harus datang ke aku maka aku akan memukul dia sampai dia ga sanggup berdiri", ucap Rama pada Sisi tersenyum.
Sisi mencoba tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Rama.
Yang lain tertawa mendengar ucapan Rama, kecuali Satria.
"Kalian kembali istirahat aja, biar aku yang jagain Sisi" ucap Satria.
Kompak Ibu, Ayah, Rama dan Renata menuju sofa dan melanjutkan tidur mereka.
"Jangan pernah pergi lagi dariku, aku mohon" ucap Satria pada Sisi ketika mereka sudah berdua saja.
"Asal kamu berjanji tidak akan pernah emosi lagi di depan ku" , jawab Sisi.
"Aku merasa tidak dicintai kalau diperlakukan seperti itu", tambah Sisi.
"Aku janji sayang, maafin aku ya", lagi lagi Satria minta maaf atas kesalahan nya.
"Aku sudah memaafkan kamu tanpa kamu minta pun", jawab Sisi tersenyum.
Menjelang subuh, Sisi kembali tertidur dan Satria pun ikut tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Sisi. Dia tidak ingin meninggalkan Sisi walau hanya sebentar.
^^Kira kira Sisi dan Satria akan segera nikah ga ya supaya Sisi bisa kuliah di luar negeri ? tungguin ya, author nanti kasih jawaban nya..hehe^^
__ADS_1
^^mohon dukungan selalu ya readers, makasih sebelumnya^^😊😊😊