
Sampai di taman, Satria memarkir mobilnya. Dia tidak keluar, dia ingin tetap di dalam mobil sambil membaca surat dari Sisi.
Dear Satria,
Maaf jika aku memberitahukan kabar yang tidak kamu suka. Maaf jika aku sudah mengecewakan. Maaf jika aku terkesan egois. Sejak dulu, aku selalu bisa bermimpi untuk mendapat kesempatan menuntut ilmu di luar negeri, kamu pernah tau tentang hal ini sejak kita masih SMA.
Jika kamu mengatakan ini berat untuk kamu dengan kondisi kita yang harus terpisah jarak, maka sama hal nya dengan aku. Semua ini tidak mudah buat aku. Jauh dari kamu bukanlah hal yang aku inginkan. Sejak di tinggal kedua orang tua ku, dunia ku benar benar sunyi. Sampai akhirnya kita dipertemukan. Aku menemukan kembali warna dalam hidup ku sejak bersamamu. Aku kembali berani untuk bermimpi sejak bersamamu. Aku kembali menemukan semangat dan rasa percaya diri juga sejak bersamamu.
Suatu hari, aku lupa kapan tepatnya, tidak sengaja menemukan iklan beasiswa itu di internet. Lalu aku mencoba mengisi formulir pengajuan. Lama tidak ada jawaban bahkan aku sampai melupakan hal itu. Tiba tiba minggu lalu saat mengecek email ternyata ada jawaban dari kampus yang aku tuju.
Aku tidak langsung begitu saja menjawab bahkan sampai kamu membaca surat ini, email itu belum aku jawab.
Kalau kamu bertanya kenapa, jawaban nya adalah karena KAMU. Ya, karena kamu. Aku mau mengejar impianku jika kamu mengizinkan, jika kamu mendukung. Jika kamu merasa kalau aku tidak memikirkan perasaanmu, kamu salah besar.
Aku bisa saja langsung menyetujui tentang beasiswa itu jika aku tidak memikirkan kamu.Tapi aku tidak melakukan nya, aku ingin menerima beasiswa itu jika kamu mengizinkan, jika kamu tidak mengizinkan maka aku tidak akan ambil.
Aku ingin menjelaskan semua ini kemarin tapi kamu sudah marah di awal tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Sekarang aku jadi ragu, apakah benar masih ada cinta yang seperti dulu untuk ku di dalam hatimu.
Karena Satria yang ku kenal dulu adalah Satria yang selalu bisa mengendalikan emosinya karena cinta nya yang begitu besar untuk ku bisa mengalahkan segala emosi dalam dirinya.
Satria yang kutemui tadi malam tidak sama dengan Satria ku yang sebelumnya. Aku takut, aku kecewa..Apakah aku mulai kehilangan Satria ku ?
Satria ku adalah laki laki yang pernah berjanji akan melakukan apapun demi kebahagiaan ku, akan membantuku mewujudkan segala impianku.
Lalu kemana Satria ku itu ?
Jujur, aku sedang ragu dan merasa kehilangan. Aku terluka dan semakin takut untuk menghadapi kenyataan jika seandainya benar aku akan kehilangan Satria ku yang selama ini ada untuk aku.
__ADS_1
Maaf jika aku selama ini banyak melakukan kesalahan sehingga pelan pelan rasa cintamu hilang untuk ku.
Aku butuh waktu untuk sendiri. Mengobati luka dan mempersiapkan diri jika memang Satriaku sudah tidak mencintaiku lagi.
Kamu juga perlu waktu untuk kembali menanyakan hatimu, apakah benar masih ada cinta disana untuk ku.
Untuk sementara, aku memilih pergi dari hidupmu. Tidak perlu khawatir, karena aku akan baik baik saja. Aku butuh waktu, begitu pun dengan kamu. Sebaiknya kita seperti ini dulu untuk sementara, masing masing jalani kehidupan sambil kembali berpikir dan bertanya kemana hati ini akan tertuju.
Jika benar Satria ku masih mencintaiku, maka mintalah pada Tuhan untuk memberikan jalan nya bagi kita.
Jaga kesehatan dan jaga diri kamu baik baik. Aku sayang kamu.
Dari yang selalu mencintaimu sampai kapan pun
-Sisi-
Satria tidak bisa menahan air matanya saat membaca surat dari Sisi. Dia benar benar merasa bersalah atas sikap nya tadi malam. Dia egois karena merasa Sisi tidak memikirkan dirinya, dia salah. Sisi sangat mencintai nya dan kini Sisi lah yang merasa bahwa Satria berubah, Sisi merasa kehilangan Satria yang selama ini dia kenal karena keegoisan Satria tadi malam.
"Kembalilah ku mohon, aku masih sangat mencintaimu dan sampai kapan pun rasa ini tidak akan berubah", ucap Satria terisak.
Satria memukul kan kepala nya berkali kali ke setir mobil di hadapan nya. Dia mengacak rambutnya frustasi.
"Sekarang aku harus cari kamu kemana sayang", ucapnya dalam hati.
Satria mengambil HP nya dan menghubungi Renata. "Mungkin saja Renata tau Sisi kemana", pikir Satria.
Hati Satria semakin sakit ketika Renata tidak tau keberadaan Sisi. Bahkan Renata juga menyalahkan Satria atas sikapnya kali ini.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa apa pada Sisi, aku ga bisa maafin Kaka", ucap Renata sebelum memutus sambungan telepon nya.
Renata memutuskan menemui Rama di rumahnya ketika tau Sisi pergi. Segera dia melajukan mobilnya menuju rumah Satria dan Rama.
Rama dan kedua orang tua nya sedang di taman belakang ketika Renata datang.
"Ka Satria belum di rumah ? " tanya Renata pada Rama.
"Dari pagi banget dia keluar dan sampai sekarang belum pulang", jawab Rama.
Renata menceritakan kalau tadi Satria menelpon nya dan sedang mencari Sisi. Rama dan kedua orang tua nya mulai khawatir. Mereka tidak menyangka kalau Sisi sampai pergi.
"Biar Ibu telepon Satria dan minta dia pulang dulu", ucap Ibu sambil segera mengambil HP nya.
Dua jam berlalu, akhirnya Satria pulang ke rumah nya. Renata sudah berusaha mencari keberadaan Sisi. Dia bertanya pada Adit, mungkin saja jika Adit melihatnya di kampus pagi ini, tetapi hari ini Adit sama sekali belum bertemu Sisi.
Satria tadi mencoba mencari di tempat Sisi biasa mengajar tapi tidak ada satu pun Sisi disana. Dari keterangan para orang tua muridnya, Sisi tadi malam meminta izin untuk tidak bisa mengajar dulu dalam waktu yang tidak bisa Sisi pastikan sampai kapan. Hal ini membuat Satria semakin terpuruk, karena itu artinya Sisi berencana pergi untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Dia tidak bisa membayangkan kalau Sisi tidak ingin kembali pada nya.
Satria pulang dalam kondisi yang sangat berantakan. Kedua orang tua nya serta Rama dan Renata sudah menunggu nya di ruang keluarga. Ibu nya menahan Satria untuk duduk terlebih dahulu ketika Satria hendak berlalu begitu saja melewati ruang keluarga.
"Ceritakan apa yang terjadi Nak", ucap Ibu lembut pada Satria.
Satria mengambil surat yang di tinggalkan Sisi untuknya dan memberikan pada Ibunya. Ibu lalu membaca nya dan memahami apa yang anak anak nya rasakan. "Kesalah pahaman diantara kedua anak ku harus segera berakhir", batin Ibu.
Satria juga menceritakan bahwa Sisi pamit pada orang tua muridnya sampai batas waktu yang tidak bisa Sisi tentukan.
"Kamu tenang dulu, Ayah akan suruh orang untuk mencari keberadaan Sisi", ucap Ayah menenangkan anaknya.
__ADS_1
"Semua ini karena kebodohan ku", jawab Satria penuh rasa sesal.
^^mohon dukungan nya untuk karya pertama author ini, supaya tetap semangat menulis^^🥰🥰🥰🥰