Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Perasaan yang tak biasa


__ADS_3

"Makan yang banyak supaya ga kurus", canda Satria di sela sela waktu makan mereka.


Kecanggungan yang terjadi diantara mereka, pelan pelan mulai mencair berganti dengan rasa hangat dan nyaman. Satria yang terlihat sangat pendiam di sekolah ternyata sangat menyenangkan jika sudah mengenal nya dekat.


Sisi sudah tidak terlalu canggung untuk merespon nya. Hanya saja tatapan mata Satria selalu berhasil membuat Sisi kesulitan bernafas.


"Jangan menatapku seperti itu", gumam Sisi.


"Memang kenapa ?" tanya Satria.


"Aku bisa mati karena gugup", Sisi menjawab dengan jujur dengan pipi yang merona.


Hati Satria senang mendengar perkataan Sisi.


"Aku sangat menyukai mata dan senyum indah mu jadi aku ga bisa jika harus berhenti menatap mata indah itu", jawab Satria dengan kata kata maut nya.


Sisi semakin merona, dia memalingkan wajahnya dari Satria supaya tidak kelihatan kalau pipinya sedang memerah karena malu.


"Cepat habiskan makannya", aku sudah sangat lelah dan ingin segera ada di rumah, ucap Sisi.


Sisi ingin menyelamatkan jantung nya, dia tidak kuat jika masih harus lebih lama lagi berada di dekat Satria.


"Aku sudah kenyang dan ga mau makan lgi", jawab Satria.


"Ga baik buang makanan, mubazir" ucap Sisi.


Entah dengan keberanian yang datang darimana, tiba tiba Sisi mengambil sendok di piring Satria dan menyendok makanan nya lalu menyuapi Satria.


Dan dengan gerak refleks Satria menerima suapan suapan dari Sisi hingga makan nya habis tak bersisa.


"Terima kasih", ucap Satria lembut sambil tiba tiba mengusap lembut puncak kepala Sisi.


"Tunggu di sini ya, aku ke kasir dulu", kata Satria.


Sisi hanya mengangguk. Dia masih kaget dengan perlakuan Satria padanya. Ada rasa nyaman bercampur gugup diperlakukan selembut itu oleh Satria.


Sebenarnya Satria masih ingin lebih lama lagi bersama Sisi tetapi Satria tidak mau memaksakan Sisi. Dia tidak ingin jika nantinya Sisi menghindarinya karena merasa tidak nyaman.


Sisi menyebutkan alamat nya pada Satria saat mereka sudah ada di dalam mobil.


"Rumah mu dekat dengan sekolah ?" tanya Satria.


"Iya", Sisi menjawab disertai dengan anggukan kecil.


"Aku kost di dekat sekolah", jelas Sisi. Dia tidak ingin Satria salah paham kalau nanti melihat rumah besar itu yang padahal bukan rumah nya tetapi hanya tempat dia kost.


"Orang tua mu tinggal dimana ?" Satria kembali bertanya pada Sisi.


"Aku sudah di tinggal ayah dan ibu sewaktu masih umur 10 tahun, mereka meninggal kecelakaan", jawab Sisi dengan senyuman. Sisi tersenyum supaya Satria tidak merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu.


"Maaf aku ga tau", Satria menyesal sudah membuat Sisi mengingat orang tua nya.


"Ga apa apa kok santai aja", Sisi meyakinkan Satria kalau dia tidak merasa sedih.


"Kamu udah lama kost dekat sekolah ?" tanya Satria kembali ingin tau lebih jauh tentang Sisi.


"Sebenarnya aku baru pindah hari ini, tadi pagi. Renata tadi bantu beres beres makanya dia maksa tadi supaya aku mau pergi sama dia lihat kamu tanding", Sisi menjelaskan.


"Ohh, kenapa ga bilang kalau hari ini sibuk pindah, maaf ya aku jadi merepotkan", ucap Satria merasa bersalah karena sudah meminta Sisi datang.


"Ga apa apa kok, kebetulan tadi memang mau temenin Rena juga sekalian", jawab Sisi tersenyum tulus.


Setiap Sisi tersenyum , Satria tidak mampu mengendalikan detak jantung nya.


"Sebelumnya kamu tinggal dimana ?" Satria kembali bertanya.


"Tinggal di rumah peninggalan orang tua, sama bibi dan anak anaknya. Tetapi dua hari yang lalu aku pindah karena rumah itu sudah menjadi hak bibi dan anak anaknya". Sisi menjelaskan kembali.


Satria menangkap ada kesedihan dimata Sisi saat menceritakan tentang kepindahan nya, dia tidak melanjutkan bertanya lagi karena tidak ingin membuat Sisi lebih sedih. Satria akan mencari tau lebih banyak lewat Renata karena Satria yakin pasti Renata tau tentang kejadian itu.


Mobil Satria berhenti di pinggir jalan tepat di sebrang rumah kost Sisi. Dia turun dari mobil, membukakan pintu untuk Sisi.


"Terima kasih", ucap Sisi saat Satria membukakan pintu untuk nya.


"Terima kasih juga sudah traktir makan dan anter pulang", lagi lagi Sisi berterima kasih pada Satria.

__ADS_1


"Terima kasih juga karena sudah mau datang melihat pertandingan ku sore ini", jawab Satria disertai senyum mautnya yang mampu melelehkan hati perempuan manapun yang melihat, tapi senyum itu hanya untuk Sisi karena selama ini Satria tidak pernah tersenyum seperti itu terhadap perempuan lain.


"Aku masuk ya", pamit Sisi.


Satria mengangguk..Namun tiba tiba dia memanggil Sisi lagi dan Sisi kembali menoleh kearah nya.


"Ada apa ?" tanya Sisi


"Aku menyukai mu"..jawab Satria disertai tatapan mata yang tidak kalah mematikan dengan senyum maut nya.


"Terima kasih"..Sisi menjawab dengan senyum tulusnya yang selalu membuat Satria merasa jantung nya berhenti setiap melihat senyum itu.


Sisi segera masuk ke dalam kost nya dengan perasaan sulit dia pahami, meninggalkan Satria yang masih berdiri di depan gerbang menatap punggung Sisi yang sudah melangkah masuk ke dalam gerbang.


Segera Sisi masuk ke dalam kamar nya, mengunci pintu kamar dan merebahkan diri nya di kasur.


Sekarang perasaan Sisi tidak menentu. Dia merasa senang dan bahagia ketika mendengar Satria berkata menyukai nya. Perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan, belum pernah Sisi merasa sebahagia ini. Tetapi Sisi juga takut untuk berharap lebih. Suara hati nya yang lain melarang Sisi untuk merespon lebih jauh, melarang Sisi untuk berharap lebih, mengingatkan Sisi tentang rasa kecewa dan sakit.


Sisi terbangun dari tidurnya ketika HP di dalam saku celana jeans nya bergetar. Dia kaget karena kamarnya masih gelap. Sisi rupanya tertidur karena saat pulang merasa sangat lelah setelah seharian banyak sekali melakukan aktifitas.


Memikirkan Satria membuat Sisi tertidur dan masuk ke alam mimpi. Dan sekarang pesan dari Satria pun yang membuat Sisi terbangun dari tidurnya.


Satria


Aku sudah di rumah, sudah selesai bersih bersih dan shalat. kamu lgi apa ?


Sisi


baru bangun, tadi ketiduran


Satria


mandi dulu lanjut shalat mumpung masih ada waktu nya


Sisi


oke bos 😁


Satria


Sisi meraih handuk nya dan segera menuju kamar mandi. Selesai mandi Sisi melanjutkan Shalat magrib. Kemudian Sisi mengambil buku pelajaran sekolah, memeriksa materi untuk hari senin nanti.


HP nya kembali bergetar saat Sisi sedang menonton televisi.


Satria


sedang apa ?


Sisi


nonton tv


Satria


besok sore jadi ya nonton ?


Sisi


udah ajak Rena ?


Satria


sudah


Sisi


ok


Satria


kamu suka film apa ?


Sisi


semua genre aku suka kok

__ADS_1


Satria


suka warna apa ?


Sisi


ungu dan hitam


Satria


kamu risih ga kalau aku seperti ini ?


Sisi


seperti ini gimana ?


Satria


mendekati kamu dan ingin kenal lebih dekat


Sisi


ga kok, santai aja


Satria


marah ga kalau dengan kata kata aku yang tadi ?


Sisi


kata kata yang mana ?


Satria


aku menyukaimu, sejak pertama kali lihat kamu di kantin sekolah


Sisi


ga kok 😊


Satria


jika kamu merasa terganggu dan ga nyaman, bilang ya


Sisi


iya


Satria


boleh aku vidio call ?


Lama Satria menunggu jawaban dari Sisi tapi jawaban itu tidak ada. Satria berpikir apa Sisi ga suka kalau Satria mau vidio call. Satria mulai resah, dia takut Sisi akan menghindarinya karena dirinya sudah membuat Sisi tidak nyaman.


Ternyata Sisi sudah tertidur di kamar nya. TV masih menyala tapi mata Sisi sudah sangat mengantuk sehingga dia tidak sempat mematikan TV dan tidak menjawab lagi chat dari Satria.


Sementara itu, Satria tidak bisa tidur karena bayang bayang Sisi selalu saja berkeliaran dalam benaknya.


Sisi terbangun, dilihat nya jam menunjukkan pukul 03.00, dia mematikan TV lalu ke kamar mandi untuk wudhu. Sisi shalat tahajud. Dia ingin mengadu pada Allah tentang perasaan nya akhir akhir ini. Sisi selalu bersujud di sepertiga malam jika hati nya sedang tidak menentu, seperti saat ini. Satria membuat hati dan pikiran Sisi tidak menentu.


Satria pun melakukan hal yang sama. Karena terus menerus memikirkan Sisi, dia tidak bisa tidur. Akhirnya Satria memutuskan untuk shalat di sepertiga malam nya.


Mungkinkah doa mereka bertemu di langit sepertiga malam ?







^^readers ku yang baik hati mohon bantu like dan vote nya ya^^

__ADS_1


^^terima kasih banyak^^😚


__ADS_2