Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Kejahatan Mila


__ADS_3

Mila yang selalu di buat sakit hati oleh Satria karena selalu menolak dirinya, semakin hari semakin membenci Sisi.


Dia memikirkan sebuah rencana jahat untuk mencelakai Sisi. Mila menghubungi seorang teman nya di Jakarta yang bisa diajak kerja sama.


"Lebih baik aku rusak saja perempuan itu supaya Satria meninggalkan nya", ucap Mila pada dirinya sendiri.


Mila menjanjikan imbalan uang yang cukup besar jika teman nya itu berhasil. Mila meminta teman nya untuk membuat Sisi menjadi cacat seumur hidup nya.


"Buat perempuan itu ga bisa jalan selamanya", ucap Mila pada teman nya lewat sambungan telepon.


Rama yang tidak sengaja lewat mengambil air dari dapur, mendengar suara Mila sedang bicara di telepon. Dia mengintip dari mana asal suara tersebut, ternyata ada di taman belakang yang pintu nya terhubung dengan dapur.


Rama mendengar jelas apa yang dikatakan Mila pada seseorang dalam telepon tapi dia tidak tau siapa yang di bicarakan oleh Mila. Sampai di kamarnya, dia menghubungi Renata dan menceritakan percakapan Mila yang dia dengar tadi.


"Mungkin ga ya ada kaitan nya dengan Sisi ? " tanya Renata.


"Aku ga tau, tapi siapa orang yang dia benci sampai ingin membuat nya celaka", sahut Rama sambil berpikir.


"Ga usah cerita dulu sama Kak Satria, nanti dia khawatir", ucap Renata.


"Iya aku tau", jawab Rama.


Rama menutup telepon setelah mengadakan kesepakatan dengan Renata. Rama akan mencoba mencari tau dengan mengawasi Mila dan Renata akan berusaha selalu bersama Sisi beberapa hari ke depan.


HP Sisi yang terletak diatas meja bergetar. Pesan masuk dari Renata.


Renata,


nginep beberapa hari di rumah bisa ga ?


Sisi,


memang ada apa ?


Renata,


lagi bosen aja sendirian kalau malam


Sisi,


ya udah jemput


Renata,


oke boss


Renata menjemput Sisi di kostan. Dia meminta Sisi menginap selama lima hari. Awalnya Sisi menolak tapi Renata merajuk dan memohon, Sisi menjadi tidak tega dan menyetujui permintaan Renata.


Sementara itu, Rama mengajak Satria pulang ke Jakarta akhir pekan ini dengan alasan dia kangen rumah. Dengan senang hati Satria menyetujui permintaan adik nya itu.

__ADS_1


Rama sengaja mengajak Satria pulang ke Jakarta supaya Kaka nya itu jauh dari Mila. Rama punya firasat kurang baik tentang Mila. Dia akan mencari tau diam diam.


Sisi berangkat kuliah diantar Renata. Dan pulang nya pun nanti Renata akan menjemput Sisi. Turun dari mobil Rena, Sisi segera menuju kelas nya. Ada firasat tidak baik yang tiba tiba muncul di hati nya ketika turun dari mobil tadi. Tapi Sisi berusaha berpikir positif dan membaca istigfar berkali kali untuk menenangkan hati nya.


Seseorang dengan wajah tertutup masker dan kacamata berdiri di balik pohon di depan gerbang kampus Sisi. Memakai jaket kulit warna coklat dan topi dengan warna senada. Wajah nya tak terlihat, hanya postur nya yang tinggi besar yang terlihat jelas.


Ketika Sisi turun dari mobil, dari jarak yang cukup jauh orang itu mengambil foto Sisi dan mengirimkan pada seseorang.


Mila tersenyum ketika melihat orang suruhan nya mengirimkan foto Sisi yang baru saja dia ambil.


"Lakukan dengan sangat baik ketika dia keluar dari kampus nya", ucap Mila pada orang suruhan nya lewat telepon.


Pukul tiga sore Sisi keluar dari kampus. Dia menunggu Renata di halte depan kampus. Tiba tiba Sisi melihat seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun hendak menyebrang jalan sendirian. Sisi tidak tega melihatnya dan khawatir anak itu tertabrak.


Sisi menghampiri gadis kecil itu dan menawarkan bantuan untuk menemani menyebrang jalan. Gadis kecil itu pun menyetujui. Sisi mengandeng tangan gadis kecil tadi yang bernama Amira.


Amira menanyakan sesuatu pada Sisi saat menyebrang. Tiba tiba saja sebuah mobil melaju dengan kencang dan Sisi tidak menyadari nya.


Renata yang sudah turun dari mobil nya tidak melihat keberadaan Sisi di halte. Saat mengedarkan pandandan ke sekeliling, Renata melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah Sisi yang sedang asik mengobrol dengan seorang gadis kecil sambil menyebrang.


Sisiiiiiii awass...Renata berteriak histeris..


Namun terlambat, Mobil tersebut sudah menabrak Sisi dan gadis kecil yang bersama nya tadi. Amira dengan cepat mendorong tubuh Sisi hingga membentur trotoar pembatas jalan. Kepala Sisi membentur aspal dengan cukup keras. Darah mengucur deras dari kening Sisi dan Sisi tidak sadarkan diri. Sementara kondisi Amira sangat mengenaskan. Gadis kecil itu tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi tadi.


Renata yang berlari menghampiri Sisi dan Amira, berteriak histeris meminta pertolongan. Orang orang disekitar kejadian langsung berkerumun menghampiri Renata. Sisi dan juga Amira diangkat ke dalam mobil Renata. Dengan kecepatan tinggi Renata segera membawa Sisi dan Amira menuju rumah sakit.


"Aku ga boleh panik", batin Renata.


Rama segera memesan tiket pesawat untuk dirinya dan Satria pulang ke Jakarta.


Satria yang sedang di lapangan futsal tiba tiba merasakan suatu firasat yang tidak baik. Tidak lama HP nya bergetar, sebuah pesan masuk dari Rama.


Rama,


kita pulang ke Jakarta sekarang, Sisi kecelakaan.


tiket peswat udah aku pesan, aku tunggu Kaka di gerbang lapangan futsal sekarang.


Satria syok membaca pesan dari Rama. HP nya sampai terlepas dari tangan nya. Dia segera mengambil tas nya dan berlari menuju tempat Rama menunggu nya.


Sementara itu di rumah sakit,


"Pasien atas nama Nona Sisi kehabisan banyak darah, stok darah yang sesuai sedang tidak ada di rumah sakit ini", ucap dokter di ruang IGD pada Renata.


"Ambil darah saya saja dokter, kebetulan golongan darah kami sama", ucap Ibu Satria yang baru saja datang dan mendengar apa yang dokter sampaikan pada Renata.


Seorang perawat membawa Ibu ke ruang pendonoran. Tiba tiba dokter tadi kembali menemui Renata dan menyampaikan bahwa Amira dalam keadaan kritis dan ingin bertemu Renata. Amira mengucapkan kata "Kaka" berkali kali, pikir dokter tersebut Amira mencari Renata.


Renata menghampiri Amira. Dengan terbata bata dan nafas yang naik turun Amira mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Aku mau minta maaf pada Kaka baik yang tadi, ada orang yang memberiku uang supaya aku minta tolong pada Kaka baik untuk minta di sebrangkan", ucap Amira terbata bata.


"Kaka baik jadi sakit karena aku", nafas Amira semakin tidak beraturan setelah mengucapkan kata kata terakhir tadi. Dan tidak lama pada monitor terdapat tanda garis lurus di bagian detak jantung. Renata berteriak memanggil dokter. Segera dokter memeriksa dan ternyata Amira tidak terselamatkan nyawa nya.


Renata masih syok dengan kata kata yang diucapkan Amira tadi sebelum meninggal.


"Apakah benar ada orang yang ingin sengaja mencelakai Sisi , apakah benar Mila ? " Renata berusaha mencerna semua nya dengan baik.


Ddrrttt...ddrŕrttt..HP Renata bergetar, di lihat nya ada pesan dari Rama.


Rama,


aku dan satria menuju bandara juanda. kita naik pesawat jam lima sore ini.


Renata,


iya hati hati.


Rama,


gimana kondisi Sisi ?


Renata,


sedang dalam penanganan dokter, aku sama Ibu di sini.


Rama,


oke hati hati..ada apa apa kabarin.


Satria masih syok banget, aku tenangin dia dulu


Renata,


iya kamu juga hati hati


Renata duduk di ruang tunggu IGD. Tidak lama Ayah Satria datang menghampiri, di susul Ibu yang baru saja selesai diambil darahnya untuk Sisi.


"Gimana semua ini bisa kejadian Ren ? " tanya Ayah dan Ibu Satria


Renata menceritakan semua yang dia lihat. Dia juga menceritakan perihal Amira dan tentang percakapan Mila di telepon yang diceritakan Rama pada nya malam kemarin.


"Semua memang seperti sudah terencana, tapi apa benar Mila sejahat itu", ucap Ibu lirih.


"Kita ga punya bukti yang kuat", jawab Ayah.


Renata serta kedua orang tua Satria tampak tegang menunggu dokter yang menangani Sisi keluar dari balik pintu. Namun yang di tunggu tidak kunjung muncul.


^^mohon dukungan nya dari kaka kaka readers untuk aunthor baru ini, semoga author semangat bisa menyelesaikan karya pertamanya..^^🥰🥰🥰

__ADS_1


Mila,



__ADS_2