
Satu jam berlalu, Renata dan kedua orang tua Satria tidak putus berdoa untuk keselamatan Sisi. Pintu ruang IGD terbuka dan dokter yang menangani Sisi menghampiri ketiga orang yang terlihat sangat mengkhawatirkan Sisi.
"Nona Sisi sudah berhasil melewati masa kritisnya tapi belum siuman, kami akan pindahkan ke ruang perawatan", ucap dokter menjelaskan kondisi Sisi.
"Berikan perawatan yang terbaik untuk putri kami", ucap Ibu pada dokter.
"Pasti nya Bu", jawab sang dokter kemudian berlalu dari ketiga orang yang sangat menyayangi Sisi.
Sisi masih terbaring belum sadarkan diri. Dia sudah di pindahkan ke ruang perawatan VVIP sesuai permintaan kedua orang tua Satria. Renata sejak tadi duduk di sebuah kursi pada ranjang bagian Kanan. Ayah dan Ibu Satria sedang mencari makan ke kantin.
Sementara itu di perjalanan menuju Jakarta, Satria merasa sangat panik dan gelisah. Dia takut hal buruk terjadi pada Sisi. "Apa aku percepat aja pernikahan aku dan Sisi supaya aku bisa selalu jaga dia", ucap Satria dalam hati nya.
"Kaka jangan putus berdoa, ga boleh berpikiran yang buruk ya", ucap Rama berusaha menenangkan hati Kaka nya.
Rama belum menceritakan tentang kecurigaan nya terhadap Mila. Dia takut Kaka nya akan bertindak yang membahayakan Mila. Ketika Sisi sudah sadar nanti baru Rama akan menceritakan tentang Mila. Kalaupun Satria emosi mendengar nya, akan ada Sisi yang bisa meredam nya.
"Sisi, ayo bangun jangan tidur kelamaan begini..aku ga mau sendirian", Renata memcoba mengajak Sisi bicara.
Kedua orang tua Satria kembali dari kantin, mereka membawakan makanan untuk Renata.
"Makan dulu Ren", ucap Ibu menghampiri Renata.
Renata berpindah duduk di sofa dan mulai memakan nasi yang di beli Ibu dari kantin. Kursi yang tadi di duduki Renata sekarang digantikan oleh Ibu.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, Sisi belum menunjukkan tanda tanda akan sadar kembali. Kedua orang tua Satria dan Renata masih menemani nya di ruang perawatan. Bayangan kejadian sore tadi tidak bisa hilang dari pikiran Renata. Dia berusaha mengingat nomor mobil yang menabrak Sisi tetapi belum berhasil juga.
Pintu kamar perawatan Sisi di dorong dengan cepat dari Luar. Satria berlari menghampiri Sisi. Di belakang nya menyusul adiknya. Satria duduk berlutut di samping ranjang Sisi. Dia mencium punggung tangan Sisi yang tidak memakai selang infus.
"Sayang ini aku datang, tolong buka mata nya..maafin aku karena ga bisa jaga kamu dengan baik", ucap Satria dengan air mata yang lolos begitu saja dari pipi nya.
"Kamu yang sabar ya Nak, berdoa untuk kesembuhan Sisi", Ayah berkata menguatkan hati anak nya.
"Ayah dan Ibu pulang aja, biar kami yang jaga Sisi disini", Rama meminta kedua orang tua nya pulang supaya bisa istirahat di rumah.
"Kabarin kalau ada perkembangan dari Sisi ya Nak", ucap Ibu.
"Pasti Bu", jawab Rama.
Satria tidak beranjak sedikitpun dari ranjang Sisi, dengan tangan Sisi tetap berada dalam genggaman nya. Renata dan Rama yang melihat kondisi Satria, ikut merasa terpukul.
__ADS_1
"Aku ga bisa ingat nomor mobil orang gila itu", ucap Rena dengan hati kesal.
"Ya sudah jangan di paksa, sekarang kita berdoa aja supaya Sisi bisa segera sadar", jawab Rama menenangkan.
"Temani aku makan", ajak Rama pada Renata.
Mereka berdua kini ada di kantin. Rama belum makan sejak mendapat kabar dari Renata, begitu pun dengan Satria. Selesai makan, Rama dan Renata kembali ke kamar Sisi dengan membawakan makanan untuk Kaka nya.
"Makan dulu Kak", ucap Rama sambil menyerahkan bungkusan makanan pada Satria.
"Aku belum lapar", jawab Satria pelan.
"Kaka harus makan supaya bisa jagain Sisi dengan baik", ucap Rama memaksa Kaka nya.
Mendengar kata kata adiknya, Satria beranjak dari samping Sisi, pindah duduk di sofa dan mulai memakan makanan nya.
Ketika makanan Satria hampir habis, tiba tiba Sisi merintih menyebut nama Satria. Dengan setengah berlari Satria segera menghampiri Sisi. Rama dan Renata juga segera menghampiri ranjang Sisi.
"Ini aku sayang", Satria mengecup kening Sisi dan menggengam tangan Sisi.
Perlahan Sisi membuka matanya. Setetes air bening mengalir dari pinggir mata Sisi. Sisi mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Samar samar dia melihat bayangan Satria, Renata dan Rama.
"Aku dimana ? " tanya Sisi
Tidak lama dokter datang memeriksa kondisi Sisi. Rama pun memberi kabar kepada kedua orang tua nya dengan mengirim pesan ke HP Ibu nya.
"Alhamdulillah kondisi Sisi sudah lebih baik, tapi masih perlu perawatan di sini selama satu minggu untuk observasi luka akibat benturan di kepalanya", jelas dokter.
"Terima kasih dokter", ucap Satria sebelum dokter tersebut meninggalkan ruangan Sisi.
Sisi mencoba mengingat kejadian yang menimpa nya. Dia teringat pada Amira, gadis kecil yang dia antarkan menyebrang jalan.
"Dimana Amira ? " tanya Sisi.
Renata menjelaskan kalau Amira tidak tertolong karena terlalu banyak kehabisan darah. Renata juga menyampaikan permintaan maaf Amira untuk Sisi.
"Siapa Amira dan apa hubungan nya dengan Sisi ? " Satria minta penjelasan.
Renata menceritakan semua urutan kejadian sesuai dengan yang dia lihat. Dan Rama juga menceritakan tentang pembicaraan Mila dengan seseorang di telepon.
__ADS_1
"Kita ga punya bukti yang kuat untuk melaporkan Mila, yang penting sekarang Sisi selamat", Rama mencoba menenangkan Kaka nya yang sudah sangat emosi mendengar cerita nya dan Renata.
Sisi yang melihat ekspresi mematikan dari Satria, segera menenangkan Satria. Dia meyakinkan Satria kalau dirinya akan segera sembuh.
"Tuhan pasti akan selalu menjaga aku dengan baik", ucap Sisi menenangkan hati Satria.
"Aku ga akan biarkan ada orang menyakiti kamu", batin Satria.
Renata tidur di sofa, di ujung kaki nya duduk Rama yang masih memainkan ponsel nya. Satria masih duduk di samping ranjang Sisi yang kembali terlelap karena pengaruh obat yang di suntikkan dokter supaya Sisi beristirahat.
"Kaka kalau ngantug tidur aja dulu, biar aku yang jaga Sisi", ucap Rama.
"Kamu aja yang tidur, kaka belum ngantug", jawab Satria.
Sementara di rumah, Ayah dan Ibu mencoba memejamkan mata. Pikiran mereka masih pada Sisi yang kini terbaring di rumah sakit. Kedua orang tua Satria masih tidak menyangka kalau ada orang yang sengaja ingin mencelakai Sisi.
Sisi terbangun karena tenggorokan nya terasa sangat kering. Satria tertidur di pinggir ranjang bagian kanan. Sisi mengusap lembut rambut Satria yanh tertidur dengan posisi telungkup.
Gerakan Sisi membuat Satria terbangun.
"Ada yang kamu inginkan sayang ? " tanya Satria dengan kesadaran nya yang masih setengah.
"Haus", jawab Sisi pelan.
Satria mengambilkan air diatas meja dan membantu Sisi minum menggunakan sedotan.
Satria mengusap lembut puncak kepala Sisi.
"Ada lagi ? " tanya Satria.
Sisi hanya menjawab dengan menggeleng dan mencoba mengukir senyum untuk Satria.
"Cepet sehat ya, aku akan temenin kamu selama di sini", ucap Satria sambil menggenggam tangan Sisi dan mencium nya lembut.
Hati Satria terluka melihat orang yang dia cinta terbaring lemah di ranjang rumah sakit seperti ini. Satria merasa tidak rela jika ada orang yang tega berbuat jahat terhadap Sisi.
Meskipun Sisi berusaha untuk selalu tersenyum pada Satria tapi sangat dipahami oleh Satria kalau gadis nya itu menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku akan selalu disini untuk mu", batin Satria.
__ADS_1
^^bantu dukungan nya ya readers, like komen dan vote jangan lupa^^
makasih banyak 🥰🥰🥰