
Paginya kedua orang tua Satria kembali ke rumah sakit. Mereka ingin melihat kondisi Sisi setelah sadar. Ayah dan Ibu Satria juga menemui dokter yang menangani Sisi dan menanyakan perihal kondisi anak gadis nya itu.
"Berikan pengobatan terbaik untuk putri kami" Lagi lagi kedua orang Satria meminta pengobatan terbaik untuk Sisi.
"Baik Pak, Bu..pasti akan kami tangani nona Sisi dengan sangat baik", jawab sang dokter meyakinkan.
Setelah menyuapi Sisi sarapan dan meminum obat nya, Ibu pamit ikut Ayah ke kantor karena ada meeting penting hari ini. Renata juga pulang dengan diantar Rama, karena sejak kemarin Renata belum pulang ke rumah. Satria yang menemani Sisi di rumah sakit.
"Nanti sore Ibu sama Ayah kesini lagi ya sayang, kamu cepet sehat", ucap Ibu setelah mengecup kening Sisi sebelum meninggalkan ruangan nya.
"Iya Bu", jawab Sisi tersenyum.
"Kalau capek istirahat aja, aku ga apa apa kok", ucap Sisi pada Satria ketika melihat lingkar hitam di bawah mata Satria.
"Nanti aja kalau Rama udah kembali kesini", jawab Satria yang tidak ingin lengah menjaga Sisi.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. "Masuk", jawab Satria dari dalam.
Seorang gadis berperawakan tinggi semampai mengenakan rok jeans selutut dan kaos ketat warna merah muda pada bagian atas serta sepatu sandal berujung lancip pada bagian tumit. Gadis itu Vita. Dia datang menjenguk Sisi dengan membawa parcel buah untuk Sisi.
"Dari mana Kak Vita tau kalau aku disini ? " tanya Sisi ketika Vita sudah duduk di samping nya.
"Tadi pagi aku dengar dari Ketua BEM kalau ada anak fakultas teknik tingkat 1 yang kecelakaan di depan kampus, dan setelah aku tanya namanya ternyata kamu", jelas Vita.
"Ohh iya Kak, kenalin ini Satria..laki laki yang aku bilang kemarin", Sisi mengenalkan Satria pada Vita.
Sekitar setengah jam Vita di ruangan Sisi, kemudian dia pamit karena masih ada urusan di tempat lain. Vita menyampaikan salam dari Bara untuk Sisi. Satria cukup terkejut ketika Vita menyebut nama Bara. Dia menatap Sisi meminta penjelasan.
Sisi yang mengerti arti tatapan Satria akhirnya menceritakan siapa Vita dan tentang pertemuan nya dengan Bara tempo hari. Sisi menceritakan setelah Vita pamit.
"Hmmm..sepertinya aku berpikir untuk pindah kuliah aja ke kampus kamu", ucap Satria tiba tiba.
"Sayang..ga perlu sampai pindah kampus gitu", Sisi mencoba mendinginkan hati Satria yang panas.
"Aku sama Kak Bara kan ga pernah ada hubungan apa apa sejak awal, dan sekarang Kak Bara juga sudah ada Vita jadi dia ga akan ngelakuin hal yang aneh aneh", Sisi mencoba meyakinkan Satria.
"Andai kamu tau kalau aku begitu tersiksa jauh dari kamu", batin Satria.
__ADS_1
"Ada beberapa kerikil tajam yang berserakan dalam perjalanan cinta kita yang kamu ga tau", batin Satria lagi.
Sementara itu di Jogja, Mila sedang berseri seri karena dia pikir Sisi sudah menjadi cacat sesuai yang dia mau. Orang suruhan nya memberikan laporan kalau tugas selesai dengan baik. Dia mengirim foto Sisi dalam keadaan tidak sadarkan diri pada Mila tadi malam.
Eyang yang mendapati kedua cucu nya tidak pulang ke rumah sejak kemarin segera menelpon menantu nya untuk menanyakan keberadaan kedua cucunya.
Ibu Satria menjelaskan kalau kedua anaknya di Jakarta karena Sisi mengalami kecelakaan. Hal itu membuat Eyang semakin tidak menyukai Sisi.
"Siapa pun yang berusaha menentang keinginan ku, maka akan merasakan hukuman nya", ancam Eyang sebelum memutus sambungan telepon nya.
Ibu Satria hanya bisa bersabar menghadapi sikap keras kepala Eyang. Apapun akan di terima Ibu Satria jika memang itu hukuman akibat menentang Eyang, demi kebahagiaan Satria dan Sisi.
Ibu dan Ayah sudah sepakat akan mendukung Satria, tidak peduli hukuman apa yang akan diberikan oleh Eyang termasuk jika Ayah harus kehilangan hak warisnya, mereka sudah siap.
Menurut Ayah, mereka sudah punya segalanya dari hasil keringat Ayah sendiri. Perusahaan yang dibangun dengan susah payah dari bawah tanpa bantuan Eyang jadi Ayah merasa tidak apa apa kalau harus kehilangan harta dari Eyang, demi kebahagiaan anak dan istrinya.
Karena harta dan kejayaan bukan lah hal yang utama dalam mencapai kebahagiaan. Itu prinsip hidup kedua orang tua Satria selama ini.
Di rumah sakit,
Rama sudah kembali dari mengantar Renata. Nanti malam Renata akan kembali ke rumah sakit, dia ingin menginap menemani Sisi.
Terdapat sepasang sofa bed dan sebuah meja panjang di dalam kamar. Ada juga satu set kursi makan mini. Kamar mandi di dalam dan di lengkapi lemari pakaian serta lemari pendingin untuk menyimpan makanan dan minuman.
Ayah juga membawa satu buah kasur mobil jika sofa bed tidak cukup untuk Satria, Rama dan Renata. Sisi terharu dan bersyukur dengan segala perhatian yang dia dapatkan dari orang orang yang dia sayang.
Menjelang sore, beberapa orang teman kampus Sisi datang menjenguk. Sisi termasuk salah satu mahasiswi yang aktif di organisasi kampus. Selain itu, dengan kecerdasan nya yang diatas rata rata membuat Sisi cukup di kenal di kalangan dosen dan teman teman kampus nya baik yang satu fakultas maupun yang beda fakultas.
Rama menemani Sisi berbincang bincang dengan tamu nya, sementara Satria masih tertidur pulas karena tidur nya hanya sedikit tadi malam.
Renata membuka pintu ruangan Sisi dan ternyata ada beberapa teman kampus Sisi. Adit, sang Ketua BEM menatap terpesona ke arah Renata. "Cantik", gumam Adit. Rama yang melihat cara Adit menatap Renata tiba tiba merasa panas. Dia tidak suka cara Adit menatap Rena Nya.
"Adit", tiba tiba saja Adit mengulurkan tangan nya pada Renata, disambut dengan Huuuu dari teman teman yang lain.
"Renata, panggil aja Rena", jawab Renata membalas uluran tangan Adit.
Menjelang magrib, teman teman Sisi pamit. Rena mengantar mereka sampai ke pintu.
__ADS_1
"Apa aku boleh minta nomor HP mu ? " tanya Adit pada Renata saat di depan pintu.
"Nanti minta dari Sisi aja", jawab Renata tersenyum.
"Oke", sahut Adit dan segera menyusul teman teman nya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Ehemmm..kayak nya ada yang seneng diajak kenalan", Rama menyindir Renata dengan nada dan ekspresi yang terlihat kesal sambil berjalan ke kamar mandi.
Renata tidak merespon ucapan Rama. Dia dan Sisi saling tatap dan Sisi berbisik pada Renata, "ada yang cemburu kayaknya".
Mereka berdua tertawa ketika Rama sudah masuk ke kamar mandi.
"Sebelum janur kuning melengkung, aku masih bebas untuk di miliki siapa pun", ucap Rena kembali berbisik pada Sisi.
Lagi lagi mereka berdua asik tertawa. Ayah dan Ibu datang membawa banyak buah, kue dan makanan serta minuman untuk Sisi dan anak anak nya yang lain.
"Wah habis ada tamu ya sayang ? " tanya Ibu saat melihat ada sebuket bunga, dua parcel buah dan satu kotal donut terletak diatas meja.
"Iya Bu, temen temen perwakilan dari BEM kampus sama Kak Vita", jawab Sisi.
"Vita yang kemarin Sisi cerits ke Ibu ? " tanya Ibu meyakinkan.
"Iya", jawab Sisi.
"Siapa Vita ? " tanya Renata yang belum tau.
Sisi kemudian menceritakan pada Rena tentang Vita dan Bara.
Ayah membangunkan Satria karena adzan magrib sudah berkumandang. Cukup lama Satria tidur dan lumayan membuat dia kembali terlihat segar.
Pukul sembilan malam, Ayah dan Ibu pamit pulang. Sisi senang mendapat perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dari orang orang yang dia sayang. Hal ini bisa mempercepat proses penyembuhan Sisi, karena bahagia adalah obat yang mujarab bagi orang sakit.
Satria, Rama dan Renata menginap di rumah sakit. Mereka akan menemani Sisi sampai keluar dari rumah sakit. Terlebih Satria yang tidak beranjak sedikit pun dari ruang perawatan Sisi. Dia ingin selalu ada untuk Sisi.
^^jangan lupa dukungan nya berupa like, vote dan komen ya, makasih semua^^😘😘😘
Adit,
__ADS_1