
Sisi yang merasa sudah benar benar pulih dari sakit nya akibat kecelakaan beberapa waktu lalu, meminta izin pada orang tua Satria untuk kembali tinggal di kostan nya. Awalnya Satria dan orang tua nya keberatan, namun Sisi berhasil meyakinkan mereka kalau Sisi bisa menjaga diri nya dengan baik.
Sisi merasa tidak enak hati kalau selalu merepotkan keluarga Satria meskipun sebenarnya mereka tidak merasa di repotkan oleh Sisi.
"Ibu ga usah khawatir, kapan pun Ibu butuh Sisi telepon aja pasti Sisi temui Ibu", janji Sisi pada Ibu Satria yang bersikeras menahan Sisi tinggal bersama mereka.
"Kalau ada apa apa jangan sungkan kabarin kita ya Nak", ucap Ayah pada Sisi.
"Baik Yah", Sisi menjawab sambil mencium tangan kedua orang tua Satria dan pamit.
Renata sudah menunggu nya di dalam mobil, bersiap mengantar nya kembali ke kostan.
"Kak Adit ngajak nonton, gimana menurut kamu ? " tanya Rena di perjalanan mereka.
"Kalau hati kamu ngerasa nyaman, jalanin aja dulu Rena sayang, soal jodoh Tuhan sudah atur", jawab Sisi tersenyum.
"Makasih sayang selalu ada buat aku dan selalu dukung apapun yang aku mau", ucap Rena tulus pada sahabatnya itu.
"Iya sama sama, kamu juga selalu ada buat aku", Sisi kembali tersenyum.
Renata tidak mampir, hanya mengantar Sisi sampai gerbang karena dia ada janji nonton dengan Adit.
"Pulang nya jangan malam malam", ucap Sisi ketika mobil Renata akan meninggalkan kostan nya.
"Siap bos", ucap Rena tertawa dari dalam mobil.
*******
Selesai shalat magrib dan makan malam, Sisi membuka laptop nya, mengecek email. Ada sebuah email masuk dari sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Sisi pernah coba coba mengisi pengajuan beasiswa pada kampus tersebut beberapa waktu lalu ketika tidak sengaja melihat iklan nya di internet.
Dengan cepat Sisi membuka email tersebut dan membaca nya. Dan Sisi cukup terkejut dengan jawaban dari kampus tersebut yang menyatakan Sisi lolos seleksi awal dan berhak melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Sisi benar benar tidak menyangka. Perasaan senang, haru dan bingung semua bercampur menjadi satu.
Sisi bingung harus mulai dari mana dia akan menjelaskan pada Satria. Sisi khawatir jika Satria tidak mengizinkan nya melanjutkan beasiswa tersebut. Tapi ini adalah impian Sisi.
"Aku harus bagaimana Tuhan", batin Sisi.
Sisi mengambil HP nya dan mengetik pesan untuk Satria.
Sisi,
kapan ke Jakarta lagi ?
Satria yang kebetulan juga ingin mengirim pesan pada Sisi langsung membalas.
Satria,
kenapa ? udah kangen ya 😊
Sisi,
__ADS_1
ga juga 😋
Satria,
tapi aku kangen 😐
Sisi,
ada yang ingin aku ceritakan
Satria,
sekarang aja
Sisi,
enak nya ngomong langsung, nanti aja pas ketemu..belum terlalu mendesak 😊
Satria,
jumat ini aku pulang 😘
Sisi mengakhiri percakapan nya dengan Satria. Dia mematikan laptop nya, bersiap melaksanakan shalat isya terlebih dahulu sebelum tidur.
Dalam shalat nya, dia berdoa minta petunjuk atas hal apa yang harus dia lakukan terkait permohonan beasiswa nya. Sisi selalu melibatkan Tuhan dalam setiap hal yang ingin dia lakukan.
*******
"Maaf ya telat", ucap Sisi tersenyum.
"Udah biasa, dimaklumin nyonya mah banyak urusan", jawab Renata sambil tertawa.
Makanan datang tidak lama Sisi duduk. Kedua nya sudah merasa sangat lapar terlebih Sisi yang tadi pagi tidak sempat sarapan. Mereka makan dengan lahap.
"Gimana nonton nya kemaren? " tanya Sisi ketika makanan nya sudah hampir habis.
"Lancar jaya, ternyata Kak Adit romantis juga dan sangat peka", Renata memuji Adit yang sangat tau cara membuat nya berbunga bunga.
"Kalian pacaran ? " selidik Sisi
"Ga kok, Kak Adit belum nyatain perasaan nya baru sekedar nunjukin perhatian dan ngasih sinyal sinyal aja", jelas Rena.
"Kalau dia beneran serius sama kamu gimana ? " tanya Sisi lagi.
"Mungkin aku akan coba buka hati buat orang lain, karena Rama ga kasih kepastian apa pun", jawab Renata.
"Istikharah ya sayang sebelum nanti nya ambil keputusan", Sisi mengingatkan.
"Ada yang pengen aku ceritain tapi Satria belum tau soal ini", ucap Sisi dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Cerita aja, aku ga akan bilang sama Kak Satria" jawab Renata yang mengerti Sisi sedang bingung.
Selama ini Satria selalu jadi orang pertama yang Sisi jadikan tempat bercerita tapi ketika mereka terpisah jarak seperti sekarang, ada kondisi dimana Sisi harus berbagi dengan Renata terlebih dahulu karena Renata yang selalu bisa Sisi temui kapan pun Sisi butuh.
Sisi mulai menceritakan perihal dirinya yang hanya coba coba mengajukan beasiswa pada sebuah universitas di luar negeri dan ternyata dia lolos tahap awal dan berkesempatan untuk lanjut ke tahap berikutnya.
Renata mendukung Sisi untuk melanjutkan karena dia tau itu adalah impian Sisi, bisa kuliah di luar negeri adalah impian Sisi sejak mereka masih SMA, Renata sangat tau itu.
"Kejar apapun yang menjadi impian mu selagi ada kesempatan. Kalau Kak Satria benar benar cinta sama kamu, dia akan mendukung setiap hal yang ingin kamu capai", Renata memberi dukungan dan semangat pada Sisi.
"Makasih Rena sayang", Sisi terharu dan memeluk Renata.
"Apa menurutmu Satria bisa menerima dan mendukung keinginan ku yang satu ini ? "
Sisi masih sedikit ragu.
"Kalau dia benar benar cinta sama kamu, dia akan berkorban apapun untuk kamu dan akan rela menunggu sampai kapan pun", jawab Rena meyakinkan Sisi.
Sisi tersenyum mendengar kata kata Renata. Sekarang dia sudah yakin akan membicarakan hal ini pada Satria.
"Begitu dia pulang hari jumat nanti, aku akan bahas", batin Sisi dengan penuh keyakinan.
"Pulang sekarang yuk, habis magrib aku ada janji sama Kak Adit mau ke toko buku", Renata mengajak Sisi pulang.
"Hmm..sekarang sibuk sejak kenal Kak Adit", goda Sisi tertawa.
Pipi Renata memerah di goda seperti dan kedua tangan nya sukses mendarat di pipi Sisi, menyubit kedua pipi Sisi. Yang dicubit pun mengaduh kesakitan. Tawa kedua sahabat itu kembali terdengar di sudut cafe tempat mereka duduk.
Selesai membayar di kasir, kedua sahabat itu langsung menuju mobil. Renata mengantar Sisi pulang. Dia mengajak Sisi untuk ikut keluar nanti malam dengan Adit, namun Sisi menolak. Selain membatasi pergaulan nya dengan teman laki laki, Sisi juga lebih suka di rumah kecuali jika dengan Satria dan keluarga nya baru Sisi mau.
"Aku ga mau jadi baygon kalau ikut kamu dan Kak Adit keluar malam ini", ucap Sisi tertawa.
"Menurut yang kamu tau, Kak Adit orang yang seperti apa ? " Renata menanyakan pendapat Sisi.
"Hmmm..aku kenal dia karena aktif di BEM, ga terlalu dekat kalau ketemu hanya kepentingan organisasi tapi dari yang aku dengar dan aku amati, Kak Adit cerdas, dia baik, ramah sama semua orang, dia juga ga sombong walaupun orang tua nya berada juga dan aku juga sempet beberapa kali ketemu dia di masjid kampus seperti nya ibadah nya rajin juga", Sisi mencoba mengutarakan hal hal yang dia tau tentang Adit.
Renata yang mendengarkan tersenyum senang. "Aku berserah padamu Tuhan, siapa pun nanti nya jodoh ku yang telah engkau tetapkan, aku yakin itu yang terbaik", batin Rena.
"Ehhh malah ngelamun, lagi nyetir ga baik ngelamun", Sisi mengagetkan Rena yang asik dengan pikiran nya tentang Adit.
Tiba di depan kostan, Sisi segera turun. Lagi lagi dia tidak lupa untuk mengingatkan Rena agar jangan pulang terlalu malam.
Rena mengiyakan sambil melambai ke arah Sisi, kemudian segera melajukan mobilnya arah pulang ke rumah nya.
^^jangan lupa bantu dukungan nya ya readers ku sayang yang baik hati, makasih semua ^^😘😘😘
Cafe sebrang kampus Sisi,
__ADS_1