
Hari ini Sisi sudah di bolehkan pulang dari rumah sakit. Selesai Sisi sarapan dan minum obat, Ibu Satria menuju bagian administrasi dan melunasi semua pembayaran biaya rumah sakit Sisi. Ayah Satria hari ini tidak datang karena harus ada meeting pagi ini.
Kedua orang tua Satria sudah sepakat akan membawa Sisi tinggal di rumah mereka untuk sementara. Semua demi keamanan Sisi karena mereka khawatir orang yang berniat menyakiti Sisi masih berusaha mengulang perbuatan nya.
Awalnya Sisi menolak karena merasa tidak enak hati. Sisi tidak ingin terlalu merepotkan. Akan tetapi Satria berhasil membujuk Sisi, dengan ancaman lebih tepatnya. Satria memberi Sisi pilihan, Dia pindah kuliah ke kampus Sisi atau Sisi bersedia tinggal di rumah orang tua nya.
Sisi menyerah dan memilih tinggal di rumah orang tua Satria sementara. Satria memang selalu berhasil membuat Sisi mengikuti yang sudah menjadi keinginan nya, begitupun Sisi yang juga selalu mampu membuat Satria patuh tanpa membantah jika ada sesuatu hal yang Sisi inginkan dari Satria.
"Aku ke kampus dulu, nanti kita ketemu lagi di rumah Satria ya", Renata pamit ke kampus.
"Hati hati di jalan", jawab Sisi melambaikan tangan pada Rena.
Ibu Satria sudah kembali dari bagian administrasi. Dia memberikan selembar resep pada Satria untuk diambil di apotik. Satria segera menjalankan instruksi dari Ibu nya.
Ibu mulai merapikan semua barang barang Sisi dengan dibantu oleh Rama. Sisi ingin membantu tapi Ibu melarang. "Duduk aja di sofa ya sayang sambil nonton TV", ucap Ibu ketika Sisi menawarkan bantuan.
"Nanti Sisi tidur di kamar tamu yang dibawah ya supaya dia ga capek naik turun", Ibu memberitahu Rama supaya nanti barang barang Sisi langsung di bawa ke kamar yang Ibu maksud.
"Baik Bu, jawab Rama.
"Nanti Ibu temani bicara dengan penjaga kost, sekalian Sisi ambil beberapa barang barang keperluan Sisi", kata Ibu yang sudah duduk di samping Sisi.
Sisi mengangguk dan tersenyum pada Ibu. Sisi mengucapkan banyak terima kasih karena sudah di perlakukan dengan sangat baik. Ibu memeluk Sisi dengan hangat. Sebulir air mata lolos begitu saja di pipi Sisi. Rasa haru dan bersyukur yang tiada henti di hati Sisi.
Satria sudah kembali dari apotik. Dia memasukkan obat obatan Sisi tersebut ke dalam tas. Mereka bersiap untuk pulang. Akhirnya Sisi kembali bisa merasakan udara luar. Satu minggu di rumah sakit membuat Sisi merasa jenuh.
Setelah selesai dengan urusan di kost Sisi, mereka langsung menuju rumah Satria. Sampai di rumah, Satria dan Rama membawakan barang barang Sisi di kamar. Ibu mengantar Sisi untuk istirahat di kamar.
"Sisi istirahat dulu di kamar, nanti waktu nya makan siang Ibu panggil ya"
"Baik Bu, jawab Sisi yang segera naik keatas tempat tidur.
Ibu menutup pintu kamar Sisi, meninggalkan Sisi supaya bebas istirahat. Satria pun di larang Ibu untuk mengganggu Sisi.
"Kapan kamu kembali ke Jogja ? " tanya Ibu pada Satria.
"Belum tau Bu", jawab Satria.
__ADS_1
"Jangan lama lama ninggalin kuliah, kamu harus cepat lulus kata nya mau bahagiain Sisi", ucap Ibu tersenyum.
"Tiga hari lagi aku balik ke Jogja", Satria masih ingin memastikan Sisi dalam keadaan aman bersama orang tua nya.
Sementara itu di Jogja,
"Eyang ada urusan mendadak di Jakarta, siang ini berangkat, kamu jaga diri baik baik di rumah", ucap Eyang pada Mila lewat sambungan telepon.
"Iya baik Eyang", jawab Mila gembira karena dirinya akan bebas keluar malam jika tidak ada Eyang.
Begitulah Mila sebenarnya..gadis manja yang harus dipenuhi segala keinginan nya. Tidak pernah mengerti tanggung jawab, yang dia pikirkan hanya hidup senang senang dengan harta orang tua nya yang melimpah. Dunia malam adalah salah satu yang dia suka. Sering pergi diam diam dari rumah Eyang demi bisa menikmati hiburan malam dengan temam teman nya.
Tentu saja Eyang tidak pernah tau tentang Mila yang sebenarnya. Mila selalu berhasil memainkam peran nya sebagai anak gadis yang santun, penurut dan patuh saat di depan Eyang.
Tapi tidak dengan Satria dan Rama yang sudah tau seperti apa sebenarnya Mila. Seorang teman Rama pernah mengirimkan foto Mila yang sedang asik mabuk mabukkan di sebuah diskotik di Jogja.
Sore hari di rumah Satria,
Ayah baru saja pulang dari kantor. Tidak lama berselang, Renata juga sampai di rumah Satria. Semua sedang berkumpul di taman belakang.
Sisi terlihat sudah membaik, wajah nya sudah tidak sepucat ketika di rumah sakit.
Selesai shalat magrib, semua berkumpul di meja makan. Tiba tiba bel pintu rumah berbunyi. "Biar aku aja yang buka", ucap Rama langsung berdiri dari kursi nya.
Rama membuka pintu dan cukup terkejut dengan yang dia lihat. Eyang berdiri di depan rumah dengan sebuah koper ukuran kecil di tangan nya.
Rama mengambil alih koper dari tangan Eyang dan berjalan di belakang Eyang.
"Semua ada di ruang makan Eyang", ucap Rama.
Tanpa menjawab, Eyang langsung menuju ruang makan di ikuti oleh Rama.
Ayah dan Ibu langsung berdiri menyalami Eyang. Di ikuti oleh Satria, Sisi dan juga Renata. Kali ini Eyang berusaha tidak menatap tajam ke arah Sisi.
"Silahkan ikut makan sekalian Bu", ucap Ibu Satria pada Eyang dengan hormat.
Semua makan tanpa ada yang bersuara. Masing masing sibuk dengan pikiran nya. Ayah dan Ibu bertanya tanya perihal tujuan kedatangan Eyang. Sementara Satria lebih memilih untuk tidak peduli dengan kehadiran Eyang.
__ADS_1
Lain hal nya dengan Sisi yang merasa tidak enak hati Eyang tau dia ada di rumah Satria. Sejak awal bertemu Sisi selalu merasa kalau Eyang tidak menyukainya.
Selesai makan malam, Sisi dan Renata masuk ke kamar. Begitu pun Satria dan Rama menuju kamar masing masing. Eyang mengajak Ayah dan Ibu bicara di taman belakang.
"Kenapa gadis itu ada di rumah ini ? " tanya Eyang dingin.
"Aku menyuruh nya tinggal disini untuk sementara karena dia sedang dalam pemulihan dari kecelakaan tempo hari", jawab Ayah tidak kalah dingin.
"Aku tidak suka gadis itu disini, suruh dia kembali ke tempat nya", perintah Eyang tegas.
"Maaf Bu, ini rumah ku jadi aku berhak membawa siapa saja untuk tinggal dsini dan Ibu tidak berhak mengatur", jawab Ayah tidak kalah tegas.
Eyang merasa emosi nya tersulut karena sekarang anak satu satu nya sudah berani membantah nya hanya demi membela gadis yang tidak jelas asal usul nya bagi Eyang.
"Aku akan mempercepat perjodohan Satria dan Mila dengan atau tanpa persetujuan kalian", ucap Eyang emosi.
"Satria anak ku jadi Ibu tidak berhak mengatur masa depan nya, biarkan dia memilih sesuai keinginan hati nya" jawab Ayah dengan tegas.
"Aku pastikan kamu dan anak anak mu akan kehilangan semua hak waris kalian jika Satria menolak perjodohan itu", ancam Eyang.
"Kami lebih baik kehilangan semua harta itu daripada harus kehilangan kebahagiaan", jawab Ayah.
Eyang semakin emosi mendengar semua jawaban jawaban Ayah. Dia meninggalkan taman belakang, mengambil koper nya yang masih ada di ruang tamu dan segera pergi meninggalkan rumah Satria.
Dengan kondisi hati yang penuh emosi, Eyang memberhentikan taksi yang kebetulan baru saja mengantarkan penumpangnya yang turun di depan rumah Satria.
Eyang minta supir taksi tersebut mengantar nya ke hotel bintang lima di pusat kota Jakarta.
Sementara Ibu berusaha untuk meredakan emosi Ayah. Ibu mengajak Ayah untuk istirahat di kamar.
Satria yang berpapasan dengan Ibu di dapur ketika ingin mengambil minum, menanyakan keberadaan Eyang.
Ibu hanya menjawab bahwa Eyang ada urusan dengan teman nya jadi batal menginap di rumah.
Satria merasa ada yang di tutupi Ibu..tapi dia tidak memaksa ingin tau.
"Pasti nanti Ibu cerita", batin Satria.
__ADS_1
^^readers mohon bantu dukungan nya ya, like komen dan vote yang banyak, makasih sebelumnya^^🙏🏻🙏🏻😘😘