
Enam hari sudah Farizz ada di rumah sakit. Hari ini dokter sudah memperbolehkan Farizz pulang. Pagi pagi sekali Satria sudah mengurus segala hal yang menyangkut biaya pengobatan Farizz selama di rumah sakit.
Pelaku yang menabrak Farizz pun sudah tertangkap. Keluarga pelaku menghubungi Satria dan meminta berdamai secara kekeluargaan. Keluarga pelaku juga bersedia jika harus bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan Farizz.
Tapi semua terlambat. Satria sudah membawa kasus penabrakan anak nya ke jalur hukum. Dia menolak jalan damai secara kekeluargaan dan menolak biaya pengobatan dari keluarga pelaku.
Bukan bermaksud sombong, tetapi Satria hanya ingin agar pelaku mendapat pelajaran dari kejadian ini dan ke depan nya tidak akan terjadi hal serupa pada orang lain.
Sisi merapikan semua barang barang selama di rumah sakit, dibantu oleh Renata dan Ibu Satria juga. Farizz tampak ceria karena akan segera pulang ke rumah.
Ibu dan Ayah Satria menyarankan agar Farizz dibawa ke rumah mereka dulu untuk sementara supaya Ibu bisa membantu menjaga Farizz di rumah karena Sisi harus mengerjakan banyak hal.
"Aku mau Mama nanti juga tinggal di rumah Uti ya sama Farizz please", Farizz memohon.
Sisi menatap Satria dan kedua orang tua nya, meminta persetujuan dari mereka. Kompak Satria dan orang tua nya mengangguk.
"Hmm..baiklah, Mama akan turuti permintaan anak ganteng Mama", jawab Sisi tersenyum lembut.
"Sebaiknya pernikahan kalian segera dilaksanakan karena Farizz sudah tidak mau jauh dari Sisi", saran Ayah pada Satria.
"Iya Ayah..kalau Aku tergantung Sisi kapan siapnya", jawab Satria.
Satria juga mau nya menikahi Sisi secepatnya karena dia khawatir kehadiran Jonathan akan merusak segalanya. Meskipun Satria tau Sisi mencintai nya tetapi tetap saja hati nya merasa bahwa kehadiran Jonathan adalah sebuah ancaman bagi hubungan nya dengan Sisi.
Pukul sebelas mereka tiba di rumah orang tua Satria. Ibu sudah memesan jamuan makan siang dari restoran favorit keluarga mereka untuk menyambut kedatangan cucu mereka kembali ke rumah.
Farizz sangat beruntung tumbuh dan besar dalam keluarga yang sangat menyayangi nya dengan tulus tanpa memikirkan siapa orang tua kandung Farizz sebenarnya. Bagi keluarga Satria, Farizz adalah bagian dari mereka. Akan mendapatkan hak yang sama dengan adik adik nya yang lain nanti nya.
"Bu, besok boleh ga kalau mengadakan pengajian dan santunan anak yatim untuk syukuran karena Farizz sudah sehat ?", tanya Sisi pada Ibu ketika mereka sedang menyiapkan makanan yang baru saja diantar petugas restoran.
"Tentu saja boleh sayang..Ibu juga tadi nya mau bicarakan hal ini pada kalian", jawab Ibu semangat.
"Nanti Ibu bantu pesan makanan dari catering langganan kita ya, Sisi pilih aja menu nya", lanjut Ibu.
"Iya Bu, nanti selesai beres beres makan siang kita bahas untuk acara besok ya Bu", jawab Sisi.
Waktu makan siang tiba. Semua berkumpul di meja makan, hanya Eyang yang tidak ada karena sedang ada acara dengan teman teman nya.
__ADS_1
"Mamaa..Mama jadi kan tinggal di sini sama Farizz ?", tanya Farizz memastikan.
"Jadi sayang..", Sisi mengusap lembut rambut Farizz yang duduk di sebelahnya.
"Horee..berarti Farizz tiap malam bisa bobo sama Mama horee..", Farizz bersorak girang.
"Makan nya di habiskan dulu, kalau sedang makan ga baik berteriak nanti anak Mama tersedak", Sisi mengingatkan Farizz.
"Baik Mama..maafkan Farizz lupa", jawab Farizz polos.
Semua yang hadir di meja makan merasa senang melihat Farizz yang sudah dekat dan patuh pada Sisi. Mereka melanjutkan menghabiskan santapan makan siang lezat yang terhidang di meja makan. Setelah selesai, semua berkumpul di ruang keluarga kecuali Farizz yang diantar Satria ke kamar karena harus istirahat setelah minum obat.
"Farizz sudah tidur, yuk jalan sekarang kalau mau ambil barang barang dulu ke apartemen", ajak Satria pada Sisi.
"Ibu nanti kita lanjut ya bahas pengajian besok, Sisi ambil beberapa barang keperluan dulu", Sisi pamit pada Ibu dan yang lain.
"Iya sayang..hati hati ya", jawab Ibu.
Satria mengantar Sisi ke apartemen nya untuk mengambil beberapa barang yang Sisi perlukan.
"Hmmm..Aku ada beberapa proyek yang terpending, apa boleh kalau aku selesaikan dulu proyek proyek itu sebelum kita menikah ?", Sisi balik bertanya.
"Baiklah..Aku akan menunggu sayang", jawab Satria tersenyum.
"Makasih sayang..", balas Sisi.
Satria tidak ingin menghalangi segala impian impian Sisi. Satria tau proyek proyek itu penting dan berarti bagi Sisi, oleh karena itu dia memberikan waktu pada Sisi untuk menuntaskan terlebih dahulu proyek proyek yang sudah dia menangkan tender nya.
Sampai di apartemen nya Sisi mengambil semua barang yang dia perlukan. Satria melihat lihat ruang kerja yang Sisi jadikan kantor sementara di apartemen nya. Sejak Sisi kembali, Satria belum sempat melihat ruang kerja yang Sisi desain sebagai kantor nya ini.
Sisi yang sudah selesai, segera menghampiri Satria di ruang kerja nya.
"Aku suka desain ruang kerja kamu ini", puji Satria.
"Makasih sayang..", Sisi tersenyum.
"Mudah mudahan nanti kamu bisa segera punya kantor sendiri untuk perusahaan desain ini ya sayang", Satria meraih kedua tangan Sisi.
__ADS_1
"Aminn..makasih ya sayang untuk doa dan support nya", jawab Sisi.
Satria merapatkan tubuh nya pada Sisi, dengan cepat dia mengecup lembut bibir Sisi.
"Kita jalan sekarang yuk, takut nanti Farizz bangun lagi dan mencari Aku", Sisi menghentikan ciuman Satria yang mulai menuntut lebih.
"Sebentar aja..Aku janji cuma begini aja ga lebih", Satria menahan badan Sisi dan kembali melanjutkan menyentuh bibir Sisi lembut dan dalam.
Sisi tidak punya pilihan selain merespon sentuhan lembut Satria di bibir nya karena sebenarnya Sisi juga menginginkan hal itu. Sisi selalu merasakan getaran getaran hangat saat Satria menyentuh nya pada bagian manapun. Berada di dekat Satria saja selalu berhasil membuat Sisi merasa aman dan nyaman. Perasaan yang tidak pernah Sisi dapatkan dari laki laki lain.
Mereka menghentikan ciuman yang sudah mulai panas ketika tiba tiba ponsel Satria berdering untuk ketiga kali nya.
Panggilan masuk dari Ibu nya dan terdengar suara Farizz menangis di sebrang sana ketika Satria menekan tombol jawab.
"Huhuhuuuu Ayah dan Mama ninggalin Farizz", isak Farizz di sebrang.
"Ayah dan Mama ga ninggalin Farizz kok, ini sudah mau kembali ke rumah Uti, Farizz jangan nangis ya kan anak Ayah jagoan", bujuk Satria.
"Cepat pulang Ayah...Farizz mau sama Mama hiksss", Farizz masih menangis tersedu sedu.
"Iya ini Ayah sama Mama segera ke sana ya", Satria memutuskan sambungan telepon.
Segera Satria dan Sisi kembali ke rumah orang tua nya karena Farizz sudah mencari mereka.
Farizz benar benar sudah sangat bergantung pada Sisi, sama hal nya dengan Satria yang akan kehilangan arah jika tanpa Sisi.
☆
☆
☆
☆
☆
^^maaf ya bunda author update nya lambat..masih ekstra perhatian ke baby bunda yang dalam proses penyembuhan dari campak..mudah mudahan secepatnya bunda bisa update lebih byk dan lebih cepat..jangan lupa like vote dan komen nya ya..mkasih banyak semua^^🥰🥰🥰
__ADS_1