
Sisi mulai fokus pada beberapa proyek yang sudah dia dapatkan. Ini adalah awal yang baik bagi perusahaan yang dia bangun dengan kerja keras nya sendiri. Satu per satu impian nya mulai terwujud. Sisi kembali tinggal di rumah orang tua Satria bersama Farizz yang tidak mau jauh dari nya. Apartemen yang Sisi sewa kini hanya berfungsi sebagai kantor saja. Sedangkan Satria tetap di apartemen nya. Sesekali dia menginap di rumah orang tua nya jika Farizz meminta.
"Ibu harap kalian segera mempercepat pernikahan kalian supaya kalian bisa segera tinggal bersama, kasian Farizz", ucap Ibu ketika sedang makan malam.
"Aku tergantung bagaimana Sisi, karena Aku sudah siap kapan pun Sisi siap", Satria menatap Sisi menunggu jawaban.
Sisi menyadari bahwa segala keputusan kini tergantung pada dirinya. Sisi tau bahwa pernikahan tidak hanya sekedar ijab qabul di depan penghulu serta pesta dengan mengundang kerabat dan orang orang yang di kenal. Pernikahan bagi Sisi adalah babak baru kehidupan yang sebenarnya. Bagi nya pernikahan harus lah hanya satu kali seumur hidup.
"Sisi usahakan proyek proyek yang sedang berjalan segera selesai supaya Sisi bisa mulai fokus pada persiapan pernikahan", Sisi mencoba meyakinkan dirinya sendiri serta Satria dan keluarga nya.
Satria memahami bahwa Sisi belum seratus persen siap menikah. Entah apa yang membuat Sisi belum sepenuhnya yakin, Satria berencana akan membicarakan hal ini berdua saja dengan Sisi.
"Apa besok ada waktu untuk keluar berdua ?", tanya Satria ketika dia pamit pulang.
"Mau kemana ?", tanya Sisi.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat", Satria tersenyum.
"Baiklah", Sisi mengiyakan.
Satu kecupan lembut mendarat di bibir Sisi sebelum Satria menuju mobilnya. Sisi yang tidak siap dengan hal itu, reflek memukul lengan Satria. Segera Satria berlari sebelum mendapat pukulan yang lebih banyak lagi dari Sisi.
*************
Esok hari nya..
Pagi pagi sekali Satria sudah sampai di rumah orang tua nya. Seperti biasa, Satria sarapan dan makan malam selalu di rumah orang tua nya. Farizz sudah siap dengan seragam sekolah nya.
"Farizz hari ini pulang sekolah nya di jemput Uti ya, Ayah sama Mama ada urusan kerjaan sampai nanti malam", Satria berkata sambil membelai lembut rambut anaknya.
"Baik Ayah", jawab Farizz mengerti.
Satri sudah mengatakan pada Ibu dan Ayah nya bahwa dia perlu waktu berdua dengan Sisi untuk membahas pernikahan mereka. Kedua orang tua Satria mengerti dengan kondisi anak anak nya sehingga mereka tidak keberatan jika hari ini Farizz bersama mereka sementara.
Ayah Satria sengaja tidak ke kantor hari ini karena rencana nya sepulang Farizz sekolah, Ayah dan Ibu Satria akan mengajak Farizz bermain di Mall.
__ADS_1
Selesai sarapan Sisi dan Satria pamit. Mereka mengantar Farizz ke sekolah terlebih dahulu sebelum menuju tempat yang sudah di rencanakan Satria.
"Bye Ayah..Bye Mama..", Farizz melambaikan tangan nya pada Satria dan Sisi sebelum berbelok di lorong ke arah kelas nya.
Sisi dan Satria membalas lambaian tangan Farizz bersamaan. Satria melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Farizz.
"Kita mau kemana ?", kembali Sisi bertanya.
"Nanti kamu juga akan tau", jawab Satria tersenyum.
"Aku sambil follow up beberapa pekerjaan dulu boleh ?", tanya Sisi.
"Silahkan sayang..perjalanan kita masih cukup lama kok", jawab Satria mengusap lembut rambut Sisi dengan sebelah tangan nya.
Sisi sebenarnya penasaran kemana Satria akan membawa nya tetapi dia memilih fokus pada beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan nya.
Satu setengah jam perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya mereka sampai. Sebuah restoran yang terletak di pinggir Ibu Kota. Di kelilingi bukit dan hamparan rumput hijau yang menyerupai karpet permadani, jauh dari hiruk pikuk Kota Jakarta.
"Bagus banget", puji Sisi.
"Dalam rangka apa bawa aku ke tempat ini ?", tanya Sisi penasaran.
"Aku mau kita bisa membicarakan tentang masa depan kita berdua dari hati ke hati, hanya kita berdua tanpa ada campur tangan orang lain", jawab Satria tersenyum.
"Hmmm..kita mulai dari mana?", tanya Sisi.
"Apa kamu benar benar sudah yakin untuk menikah dengan ku, Aku tidak memaksa jika kamu belum yakin tapi kamu harus tau kalau Aku selalu mencintaimu sampai kapan pun dengan atau tanpa kita menikah", Satria mulai pada pembahasan.
"Perasaan aku untuk kamu juga masih sama seperti aku yang sebelum pergi ke London. Aku sudah yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersama mu, hanya saja untuk saat ini aku merasa perlu menyelesaikan dulu beberapa proyek yang sudah aku terima", Sisi kembali meyakinkan Satria.
"Yakin tidak ada laki laki lain ?, Jonathan misalnya..", Satria kembali mempertanyakan.
"Ya ampun sayang..Kamu cemburu sama Kak Jo ?", Sisi tersenyum.
"Sebagai sesama laki laki, aku tau kalau Jonathan mencintai kamu, aku bisa lihat dari cara dia menatapmu dan jujur aku khawatir kalau dia akan merebut kamu dariku", Satria menyampaikan kekhawatiran nya.
__ADS_1
"Kalau aku mau menerima dia, bisa aku lakukan sejak masih di London tapi aku memang ga bisa membuka hati aku untuk laki laki lain", jawab Sisi.
"Apakah kamu kembali karena menghindar dari Jonathan ?", tanya Satria lagi.
"Ga sama sekali. Sejak Aku bertemu Farizz di London malam itu, Aku selalu merasa bahwa ada kemiripan antara dirimu dan Farizz dan aku sangat ingin membuktikan hal itu meskipun saat itu aku berpikir bahwa aku akan semakin sakit jika ternyata benar bahwa Farizz adalah anakmu dan Mila. Sejak saat itu, Aku merasa bahwa aku harus kembali dan meninggalkan London. Dan Aku tidak menyangka akan bertemu kalian secepat itu", Sisi menjelaskan.
"Kamu harus percaya jika aku tidak akan memilih laki laki lain manapun untuk menjadi suamiku, aku hanya akan menjadi istrimu", kembali Sisi meyakinkan Satria.
Pelayan datang menghampiri meja Sisi dan Satria, membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah selesai meletakkan semua, pelayan mempersilahkan mereka menikmati makanan nya.
"Aku minta maaf karena sempat mengkhawatirkan keberadaan Jonathan. Aku hanya ga sanggup jika harus kehilangan kamu", Satria mengeluarkan segala isi hati dan pikiran nya.
"Aku ga marah sayang. Aku mengerti dengan rasa khawatirmu karena aku pun pasti akan sama jika melihat ada wanita lain dekat dengan mu", Sisi tersenyum lembut.
"Bulan depan Aku siap menjadi istrimu", Sisi kembali tersenyum.
"Benarkah ?", tanya Satria masih tidak percaya dengan pernyataan Sisi.
"Iya sayang..nanti kita bicara pada Ibu dan Ayah untuk kembali mempersiapkan segalanya, semoga waktu dua minggu cukup ya sayang", ucap Sisi bersemangat.
Satria meraih tangan Sisi dan mencium nya. Mereka menghabiskan makanan yang sudah terhidang sambil membahas beberapa hal mengenai persiapan pernikahan mereka.
Selesai makan, Satria mengajak Sisi berkeliling kebun teh yang terletak tidak jauh dari restoran tadi mereka makan. Sore hari mereka kembali ke Ibu Kota.
☆
☆
☆
☆
☆
^^tetap dukung bunda ya readers..mohon di bantu vote like dan komen nya..makasih readers sayang..^^🥰🥰🥰
__ADS_1