
Sesuai janji Satria, selesai Sisi mengajar kelas sore nya mereka menuju rumah Satria.
Ibu sedang sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk suami, anak anak nya, di tambah Sisi dan Renata.
Selesai makan malam nanti, Satria dan Rama kembali ke Jogja. Sisi dan Rena yang akan mengantar ke Bandara.
"Biar Sisi bantu ya Bu", ucap Sisi pada Ibu menawarkan bantuan.
"Ga usah sayang, Ibu aja ga apa apa kok, Sisi sama Satria aja sana", jawab Ibu.
"Satria lagi beres beres Bu di kamar, Sisi bantu Ibu aja", ucap Sisi.
"Hmm..ya sudah nih bantuin bersihin sayuran ya", ucap Ibu menyerahkan seplastik sayuran pada Sisi.
Sisi melakukan pekerjaan nya dengan baik. Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan dapur sejak tinggal sama Kaka Ayah nya dulu.
Sisi terbiasa dengan semua pekerjaan rumah di usia nya yang masih kecil, sejak kepergian kedua orang tua nya.
Dia tidak pernah mengeluh dengan semua itu. Hanya saja Sisi merindukan orang tua nya di saat dia sakit dan saat sedang bahagia juga.
Menjelang magrib, Renata juga sampai di rumah Satria. Dia menghampiri Sisi dan Ibu yang sedang di dapur.
"Wah calon mantu idaman nih tante", goda Renata pada Sisi.
"Aku juga mau ikutan bantu supaya diterima juga jadi menantu tante", ucap Renata tertawa.
Ibu dan Sisi ikut tertawa bersama mendengar ucapan Renata.
Adzan magrib berkumandang, hidangan makan malam sudah siap semua.
"Kita shalat magrib jamaah dulu setelah itu makan", ajak Ibu pada Sisi dan Renata.
Mereka bertiga meninggalkan dapur, menuju ruang ibadah.
Sudah ada Ayah, Satria dan Rama di ruang ibadah.
Mereka sedang mengantri mengambil air wudhu, hanya ada satu kran jadi harus bergantian.
Semua mengambil posisi. Ayah sudah siap di posisi imam, Satria segera komat.
Ayah menginstruksikan untuk meluruskan syaf dan mulai memimpin shalat magrib berjamaah.
Selesai shalat magrib, mereka semua menuju meja makan. Aneka lauk pauk yang menggugah selera sudah terhidang rapi di meja makan.
Semua mengambil posisi duduk masing masing dan memulai makan malam di selingi dengan obrolan obrolan santai.
Ayah menanyakan tentang kuliah masing masing.
Satria, Rama, Sisi dan Renata bercerita dengan semangat empat lima. Kedua orang tua Satria merupakan teman mengobrol dan tempat bertukar pikiran yang menyenangkan.
Ayah yang bijaksana dan Ibu yang penyayan membuat mereka ber empat merasa nyaman untuk bercerita tentang hal apa pun.
Setelah selesai makan malam dan lanjut ngobrol ngobrol santai sebentar di ruang keluarga, Satria dan Rama pamit kembali ke Jogja.
Sisi dan Renata pun ikut berpamitan karena mereka akan mengantar kedua kaka beradik itu ke Bandara.
Satria menyetir mobil Renata, Sisi duduk di sebelahnya. Renata dan Rama menempati kursi di belakang nya.
"Kalau jalan jalan ke Malang nya bulan depan, kira kira pada bisa ga ?" tanya Satria diperjalanan menuju Bandara.
__ADS_1
"Aku mah ngikut aja", jawab Rama.
"Sama deh Kak kayaknya aku juga ga terlalu sibuk bulan depan", jawab Renata.
"Kamu gimana sayang?", tanya Satria pada Sisi.
"Nanti aku kabarin ya, aku cek jadwal dulu ada di agenda", jawab Sisi.
Tiba di Bandara, mereka melipir sebentar ke coffee shop yang ada disana. Masih ada waktu 1 jam untuk Satria dan Rama melakukan check in.
"Kenapa ga langsung check in aja, santai nya bisa di ruang tunggu", saran Sisi.
"Nanti aja, aku masih kangen sama kamu", jawab Satria.
Kata kata sederhana tapi diucapkan dengan tulus, membuat kedua pipi Sisi jadi merona.
Rama sudah memesan minum untuk mereka. Lima menit, minuman pesanan Rama datang.
Sambil menyeruput minuman masing masing, mereka kembali membahas tentang liburan ke Malang.
"Tante sama Om ikut juga ya kak", pinta Renata.
"Nanti di tanya dulu kalau ga sibuk pasti mau ikut", kata Satria.
"Banyak tempat di Malang yang bisa kita eksplor selain Bromo ada Museum Angkut, Kebun Binatang dan masih banyak lagi", jelas Satria.
"Jadi ga sabar", ucap Rena.
Sisi hanya diam mendengarkan sambil asik dengan ice chocholate nya.
"Kalau udah tau jadwal nya segera kabarin ya sayang, aku mau booking tiket pesawatnya", kata Satria.
"Pengen nyobain naik kereta pas berangkat kalau bisa", ucap Sisi tersenyum memperlihatkan dereran gigi putih nya yang berbaris rapi.
"Pengen ngerasain perjalanan pakai kereta argo", lanjut Rama.
"Boleh juga ide nya Sisi, pulang nya aja pesawat berangkat kereta aja Kak", Rena pun menyetujui keinginan Sisi.
Dan Satria sudah pasti akan menyetujui jika yang meminta adalah Sisi.
Terdapat lah hasil kesepakatan bahwa bulan depan mereka akan liburan ke Malang, berangkat naik kereta dan untuk pulang mereka memilih pesawat terbang.
Terdengar pemberitahuan bahwa penumpang dengan tujuan Jogjakarta di harapkan untuk melakukan check in.
"Waktunya check in", Sisi berkata sambil tersenyum ke arah Satria.
"Hmmm..", Satria merespon.
"Semangat sayang", Sisi tersenyum kembali pada Satria.
Hal yang paling Satria tidak suka adalah ketika dia harus berpisah lagi dengan Sisi.
Jika sudah bertemu dengan Sisi, berat rasanya kalau harus pergi lagi.
"Kita anter nya sampai sini aja ya", ucap Renata.
"Hati hati ya sayang, Rama juga hati hati", Sisi berkata pada Satria dan Rama.
Mereka berpisah di depan Coffee shop. Sisi dan Rena segera menuju parkiran.
__ADS_1
Satria menuju ke check in counter, di ikuti Rama di belakang nya. Meskipun mereka mengambil penerbangan malam, tetap saja Bandara masih sangat ramai.
Selesai check in, mereka menuju ruang tunggu. Satria menjatuhkan badan nya di kursi baris belakang di ruang tunggu.
Rama ikut duduk di sebelah Kaka nya. Satria mengambil HP nya dan mengirim pesan pada Sisi.
Satria,
hati hati di jalan pulang sayang. kabarin begitu sampai.
Mobil Renata menuju pintu keluar Bandara, HP di dalam tas Sisi bergetar. Pesan masuk dari Satria.
Dia membaca pesan nya dan segera mengetik balasan.
Sisi,
makasih sayang, kamu juga hati hatiπ
Satria,
akan sangat rindu kamu π
Sisi,
semangat π₯°
Satria,
πππ
Sisi,
HP aku lowbet, nanti di lanjut ya
Satria,
iya sayang π
Sisi menyimpan HP nya ke dalam tas.
"Ehem..senyum senyum aja", goda Rena sambil tetap fokus menyetir.
"Ga ada yang senyum senyum, biasa aja", elak Sisi.
"Kita ini udah deket sejak kelas satu SMA tapi kamu masih aja suka malu kalau aku godain", ucap Renata sambil tertawa.
"Kamu sih bikin malu aku terus", jawab Sisi sambil mencubit gemas tangan Rena yang sedang menyetir.
"Si, belajar nyetir ya, jadi kita bisa gantian kalau lagi ga ada Satria atau Rama", tawar Rena.
"Hmm..kamu capek ya jadi supir terus", jawab Sisi tertawa.
"Kok tau", ucap Rena sambil tertawa juga.
"Nanti aku belajar pas ada waktu luang", janji Sisi pada Rena.
Sisi berpikir tidak ada salah nya juga dia belajar nyetir, jadi bisa gantian sama Rena. Dan kalau suatu hari Sisi ada rezeki, dia juga ingin membeli mobil.
^^hai hai readers yang baik hati, jangan lupa dukungan nya buat author ya, biar tambah semangat nulisnya, makasih banyak^^ππ
__ADS_1
Rumah Satria