Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Tinggalkan Cucu Ku


__ADS_3

Sisi tiba di Hotel tempat Eyang menginap. Dia segera menuju kamar yang telah diberitahu oleh Eyang tadi lewat telepon. Tiba di depan pintu kamar, Sisi mengetuk dengan sopan, menunggu pintu di buka.


Eyang membuka pintu dan mempersilahkan Sisi masuk. Dia mengajak Sisi duduk di sofa yang terletak di sudut kamar hotel itu. Ekspresi Eyang yang datar membuat Sisi merasa gugup. Sisi tidak mengerti apa tujuan Eyang mengajak nya bertemu di sini.


"Aku dengar pernikahan mu dengan cucuku tinggal menghitung hari", ucap Eyang membuka pembicaraan.


"Iya Eyang", Sisi menjawab dengan gugup.


"Ada hal yang harus kau ketahui sebelum memutuskan untuk menikah dengan cucuku. Sejak awal aku sudah menjodohkan cucuku Satria dengan cucu sahabatku yaitu Mila. Aku adalah seorang keturunan ningrat dan aku ingin cucuku juga menikahi gadis dari keturunan ningrat pula dan Mila memenuhi kriteria itu", Eyang menatap Sisi tajam.


Bagai ditusuk puluhan pisau rasa sakit yang Sisi rasa ketikan mendengar pernyataan Eyang. Sisi tidak tau harus menjawab apa, dia hanya terdiam menunduk , tidak mampu membalas tatapan Eyang yang sangat tajam pada nya. Sisi berusaha kuat untuk menahan agar air mata nya tidak jatuh.


"Cucuku ternyata jatuh cinta padamu dan menolak perjodohan dengan Mila. Anak dan menantu ku pun mendukung penuh keputusan Satria, hal ini membuat ku kecewa dan aku pastikan anak menantu dan cucuku akan kehilangan semua hak waris atas harta harta ku jika cucuku tetap menikahimu", lanjut Eyang dengan tatapan semakin tajam pada Sisi.


Sisi merasa kesulitan bernafas mendengar kelanjutan kata kata Eyang. Jantung nya serasa sulit sekali berdetak normal. Rasa sakit di hati nya semakin bertambah. Sisi semakin kesulitan menahan air mata nya untuk tidak jatuh tapi dia tetap berusaha untuk terlihat kuat di depan Eyang.


"Aku tau kamu gadis yang baik dan anak menantu serta cucuku menyayangimu dan selama ini mereka sudah sangat bersikap baik padamu. Aku tau kamu juga menyayangi mereka dengan tulus, oleh karena itu aku secara pribadi meminta dengan sangat padamu tinggalkan cucuku jika kamu benar benar mencintai nya dan jika kamu tidak ingin anak menantu ku menjadi durhaka padaku sebagai orang tua mereka", Eyang langsung meminta apa yang dia inginkan dari Sisi.


Hancur sudah semua pertahanan yang sejak tadi Sisi jaga, air mata nya lolos begitu saja di pipi mulus nya sudah tidak bisa terbendung lagi ketika Eyang meminta Sisi untuk meninggalkan Satria.


Sisi tidak tau harus berbuat dan berkata apa. Hanya buliran air mata yang jatuh tidak mau berhenti, mewakili bagaimana sakit dan hancur nya hati Sisi.


"Akan aku pikirkan permintaan Eyang", hanya itu yang bisa Sisi ucapkan.


Dia segera bangkit dari sofa, meraih punggung tangan Eyang dan mencium nya sekilas. Sisi segera keluar dari kamar hotel Eyang dengan sisa sisa kekuatan yang dia miliki. Air mata masih belum mau berhenti, Sisi melajukan mobil ke apartemen masih dalam kondisi menangis.


"Aku harus gimana Tuhan", batin Sisi.


Sisi sangat mencintai Satria. Cinta nya tulus, Satria sudah mengambil seluruh ruang di hati nya tanpa tersisa ruang kosong sedikit pun. Dia tidak tahu apakah dia bisa jika tanpa Satria. Tapi Sisi juga tidak mau egois, dia tidak ingin melukai Eyang dengan kehadiran nya di hidup Satria. Sisi juga tidak ingin Ayah dan Ibu menjadi anak durhaka dan kehilangan semua hak mereka seperti yang Eyang bilang.


Sampai di apartemen nya Sisi segera menuju kamarnya. Dia menumpahkan semua yang sejak tadi berusaha dia tahan meski sebagian sudah lolos begitu saja tanpa bisa dibendung.

__ADS_1


Sisi menangis sejadi nya. Dia benar benar hancur dan sakit. Sisi belum tau harus melakukan apa. Dia juga tidak tahu harus bicara pada siapa tentang hal yang diminta Eyang. Sisi menangis sampai akhirnya dia tertidur.


Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari ketika Sisi terbangun. Kondisi nya cukup kacau dengan mata yang merah dan sembab. Sisi segera menuju kamar mandi membersihkan diri.


Segera Sisi melakukan shalat malam nya. Dia berdoa meminta petunjuk tentang apa yanga harus dia perbuat. Cukup lama Sisi berdoa hingga dia kembali tertidur diatas sajadahnya.


Pagi hari nya Sisi terbangun dengan perasaan yang sedikit membaik setelah mencurahkan segala nya dalam shalat dan doa nya.


Sisi segera mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Dia membuat sarapan terlebih dahulu karena perutnya terasa perih sejak dia bangun tadi. Sisi makan dengan tidak terlalu berselera tetapi dia merasa tetap harus makan supaya tidak sakit.


Sisi bersiap berangkat ke kantor. Ketika dia membuka pintu, Sisi terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


Satria tersenyum manis pada Sisi ketika pintu apartemen terbuka.


"Kejutan", ucap nya sambil merentangkan kedua tangan nya di depan dada.


Sisi terpaku di depan pintu. Dia belum siap untuk bertemu dengan Satria. Tapi Sisi berusaha untuk tetap tersenyum karena tidak ingin Satria merasa curiga.


"Ga mau peluk aku nih ? " , Satria masih merentangkan kedua tangan nya di depan dada.


Sisi segera memeluk Satria. Setetes air mata kembali lolos begitu saja di pipinya. Dengan cepat Sisi segera mengusap karena tidak ingin Satria melihat nya.


Tapi bukan Satria jika tidak peka dengan Sisi.


"Kamu nangis ? ", tanya nya menelisik dalam ke manik mata Sisi.


"Aku terharu kamu udah pulang mungkin karena terlalu rindu", Sisi berusaha mengalihkan.


"Aku anter ke kantor ya , nanti siang kita makan siang bareng", Satria menggandeng tangan Sisi masuk ke dalam lift menuju parkiran mobil di basement.


"Kamu ga kerja ? " , tanya Sisi.

__ADS_1


"Aku masih libur sayang", jawab Satria lembut sambil mengecup puncak kepala Sisi.


Hati Sisi semakin sakit setiap dia mendapat perlakuan manis dari Satria.


Sisi sudah memutuskan bahwa dia akan menuruti keinginan Eyang. Itu yang terbaik bagi semua menurut Sisi karena dia bisa bahagia jika ada yang tidak merestui nya. Sisi memilih pergi dan mengalah.


Sisi segera turun dari mobil ketika sampai di depan kantornya. Nanti siang Satria janji akan menjemput nya untuk makan siang di luar.


Satria merasakan kalau Sisi agak berbeda tapi dia akan menanyakan nanti ketika makan siang. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Sisi jika bertanya pagi ini.


Sisi segera menuju ruangan Pak Albert ketika sampai di kantor. Dia meminta izin pada Sekretaris Pak Albert terlebih dahulu.


"Silahkan Mba Sisi, Bapak ada di ruangan nya", jawab sang Sekretaris ramah.


Sisi mengetuk pintu dengan sopan dan segera masuk setelah Pak Albert mempersilahkan.


"Ada apa Nona Sisi ? ", tanya Pak Albert.


Sisi ragu dan bingung memulai dari mana. Dia terdiam sejenak kemudian dia mengutarakan maksud nya untuk mempercepat keberangkatan nya ke London. Sisi menceritakan secara jujur apa yang terjadi pada Pak Albert. Sisi merasa Bos nya ini bisa membantu nya untuk pergi jauh dari Satria tanpa bisa ditemukan lagi.







^^jangan lupa dukung author ya readers dengan like vote dan komen..terima kasih banyak sebelumnya..^^🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2