
Farizz sudah kembali sadar. Dokter yang memeriksa kondisi Farizz mengatakan bahwa Farizz masih harus dalam perawatan dan pengawasan dokter sekitar satu minggu ini untuk memastikan luka dikepala nya tidak mengalami pendarahan lagi.
"Aku akan temani Farizz selama dia di rawat di rumah sakit", ucap Sisi.
"Makasih ya sayang, malam nya aku akan temani kamu di sini", Satria membawa Sisi ke dalam pelukan nya.
"Farizz..anak Mama..cepet sehat ya sayang", Sisi membelai lembut rambut Farizz yang kembali tertidur karena pengaruh obat yang di suntikkan dokter.
Renata dan Rama datang membawakan pakaian Sisi untuk selama menemani Farizz di rumah sakit. Ayah dan Ibu serta Eyang juga datang untuk menjenguk Farizz. Sisi meminta pada Ibu untuk menunda jadwal pernikahan nya dengan Satria sampai Farizz sembuh.
"Kebahagiaan Sisi tidak akan sempurna jika Farizz sedang sakit", ucap Sisi tulus.
"Baiklah kalau itu yang Sisi mau, Ibu akan menghubungi WO nanti", jawab Ibu.
"Makasih Bu", Sisi memeluk Ibu.
"Terima kasih karena kamu bisa nemerima Farizz dan sangat menyayangi nya", batin Satria.
Satria dan Rama pamit harus ke kantor karena ada meeting dengan klien penting hari ini. Ayah juga sudah berangkat ke kantor, begitupun dengan Renata.
Kini Sisi ditemani oleh Ibu dan Eyang. Farizz bangun dari tidur nya. Sisi segera membersihkan badan Farizz, mengganti baju nya kemudian menyuapi makan. Setelah Farizz selesai makan, Sisi membantu Farizz minum obat. Sisi melakukan semua dengan tulus karena dia memang sangat menyayangi Farizz.
Eyang memperhatikan semua yang dilakukan Sisi sejak tadi. Dalam hati nya Eyang merasa menyesal karena sudah pernah egois dengan memisahkan Satria dan Sisi.
"Ibu kenapa , apa ada yang sakit ?", tanya Ibu Satria pada Eyang.
"Aku ga sakit, Aku hanya sedang merasa menyesal pernah memisahkan gadis sebaik Sisi dengan Satria", jawab Eyang dengan mata berkaca - kaca.
"Yang penting sekarang mereka sudah bersama lagi dan akan segera menikah", Ibu mengusap punggung Eyang yang mulai terisak.
"Mama..itu Eyang kenapa menangis ?", tanya Farizz yang melihat Eyang menangis.
"Mama juga kurang tau sayang, Farizz di sini dulu ya Mama mau ke Eyang dulu", Sisi mengecup lembut kening Farizz.
Sisi menghampiri Ibu dan Eyang yang sedang duduk di sofa. Sisi berjongkok di hadapan Eyang dan menanyakan mengapa Eyang menangis.
"Maafkan Eyang karena pernah memisahkan mu dengan Satria", Eyang memeluk Sisi dan kembali menangis.
"Eyang jangan seperti itu, sekarang Eyang sudah merestui Sisi dengan Satria dan itu sudah cukup bagi Sisi", Sisi menenangkan Eyang.
"Eyang doakan semoga kamu dan Satria bahagia selamanya sampai maut memisahkan", ucap Eyang sambil membelai lembut rambut Sisi.
__ADS_1
"Makasih Eyang", Sisi mencium tangan Eyang.
"Mamaa..Farizz haus", ucap Farizz.
Sisi kembali berdiri dan segera menghampiri Farizz yang meminta minum karena haus.
Eyang dan Ibu pamit karena ada keperluan di luar. Mereka berjanji nanti sore akan kembali lagi menemani Sisi di rumah sakit.
Sisi meminta izin pada klien nya untuk menunda terlebih dahulu proyek yang sudah disepakati sampai Farizz sembuh.
"Tapi kalau bapak berniat membatalkan kontrak kita karena bapak tidak bisa menunggu tidak apa apa Pak saya memaklumi", ucap Sisi di telepon.
Klien Sisi sudah sangat menyukai hasil kerja Sisi sehingga tidak masalah bagi mereka jika harus menunggu. Klien nya pun mengatakan bahwa mereka bersedia menunggu sampai Sisi siap bekerja.
"Mama jadi ga bisa kerja ya gara gara Farizz ?", tanya Farizz merasa bersalah.
"Ehh ga kok sayang, klien Mama mau kok nungguin sampai Farizz sehat", Sisi mencium lembut pipi Farizz.
Sisi merawat Farizz dengan penuh kasih sayang. Farizz pun merasa sangat nyaman dengan keberadaan Sisi. Sosok seorang Ibu yang selama ini Farizz dambakan, kini benar benar hadir nyata dalam hidupnya.
Sore hari nya Satria segera menuju rumah sakit setelah urusan pekerjaan nya selesai. Rama dan Rena juga mampir terlebih dahulu ke rumah sakit.
Kedua orang tua Satria beserta Eyang juga kembali ke rumah sakit setelah urusan mereka masing masing selesai.
"Hmm..anak Ayah mau buku cerita ?", tanya Satria yang mendengar permintaan anak nya.
Farizz pun mengangguk dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.
"Farizz tunggu di sini ya, Ayah sama Mama pergi dulu beli buku cerita nya", ucap Satria pada anak nya.
"Farizz ga apa apa kalau Mama pergi dulu sebentar ?", Sisi pun meminta persetujuan Farizz.
Fariz kembali mengangguk tanda setuju kalau Sisi dan Satria pergi membeli kan nya buku cerita.
Satria memang berniat mengajak Sisi untuk makan di luar supaya Sisi tidak jenuh karena seharian sudah menjaga Farizz di rumah sakit. Kebetulan ada kedua orang tuanya, serta adik nya dan eyang jadi Farizz tetap ada yang menjaga jika Sisi pergi sebentar.
Satria dan Sisi berpamitan pada yang lain dan menitipkan Farizz. Kedua pasangan itu berjalan melewati lorong rumah sakit yang cukup panjang untuk menuju parkiran. Satria menggengam erat tangan Sisi seolah takut Sisi akan hilang jika tidak di genggam.
Langkah kedua nya terhenti ketika akan berbelok di ujung lorong. Sisi melihat seorang wanita paruh baya yang sangat dia kenal. Satria pun mengenali wanita itu, meski baru sekali bertemu tapi Satria masih mengingat wanita itu dengan sangat baik.
"Mamaaa..", Sisi memanggil wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Sisiii..", wanita paruh baya tersebut menghentikan langkahnya ketika mengenali suara Sisi.
"Mama ngapain di sini ?", tanya Sisi.
"Papa Albert jantung nya kumat lagi Nak, tadi pagi terpaksa di larikan ke rumah sakit", jelas wanita itu yang ternyata adalah istri Pak Albert.
"Mama sudah kabarin Kak Jo ?", tanya Sisi.
"Sudah sayang..dan Sisi di sini ada keperluan apa ?", istri Pak Albert bertanya.
"Hmm..ini Mah, anak nya Satria kemarin kecelakaan dan di rawat di sini, Sisi bantu Satria jaga anak nya", jelas Sisi.
"Oww begitu..Mama turut prihatin atas kejadian pada anak mu", istri Pak Albert berkata pada Satria.
"Terima kasih Nyonya..Saya pun prihatin dengan Pak Albert, semoga lekas sembuh", jawab Satria sopan.
"Mama..Sisi ada keperluan keluar sebentar, nanti Sisi jenguk Papa ya", Sisi pamit pada istri Pak Albert.
Istri Pak Albert memberikan informasi mengenai kamar rawat Pak Albert dan mereka berpisah di ujung lorong rumah sakit. Sisi dan Satria melanjutkan perjalanan mereka hendak makan malam dan ke toko buku. Istri Pak Albert menuju apotik rumah sakit karena ada obat yang harus dia tebus.
"Apa Jonathan akan ke Jakarta ?", tanya Satria di perjalanan.
"Hmm..bisa iya bisa juga ga, aku kurang tahu", jawab Sisi.
"Memang nya dia ga hubungi kamu ?", selidik Satria dengan nada cemburu.
"Ga ada", jawab Sisi lembut dan tersenyum.
Senyum yang membuat Satria lupa kalau dia sedang cemburu.
Satria merasa jika kedekatan Sisi dengan kedua orang tua Jonathan pasti ada hubungan nya dengan Jonathan. Satria merasa cemburu dan dia mulai resah dan takut jika Sisi dan Jonathan bertemu kembali.
☆
☆
☆
☆
☆
__ADS_1
^^mohon maaf ya readers, author agak lambat up nya karena kedua anak bunda author lagi kurang sehat..tetep dukung bunda terus ya, jangan lupa like vote dan komen..makasih readers sayang..^^🥰🥰🥰🥰