
Persiapan pernikahan Rama dan Renata sudah hampir selesai seratus persen. Sisi dan Satria pun sudah mulai merancang pernikahan mereka. Ibu dengan senang hati akan membantu Sisi dan Satria karena saat ini baik Sisi dan Satria sedang sama sama fokus pada beberapa proyek yang harus mereka selesaikan segera.
Satria mengizinkan Sisi mengembangkan perusahaan yang dia bangun sendiri, dalam bidang desain interior. Satria tau Sisi punya impian besar dan dia tidak ingin Sisi melepas mimpi mimpi nya lagi.
Sisi mulai membantu Satria mengurus Farizz. Setiap pagi, Sisi akan menjemput Farizz di apartemen Satria dan mengantarnya sekolah. Pulang sekolah juga Sisi akan menjemput Farizz lalu membawa Farizz ke apartemen nya karena Sisi masih memakai apartemen nya sebagai kantor sekaligus tempat tinggal.
Sore hari Satria akan menjemput Farizz di apartemen Sisi. Biasanya Satria dan Farizz pulang setelah makan malam.
"Anak Ayah ngerepotin Mama Sisi ga ?", tanya Satria pada Farizz.
"Ga kok Ayah, Farizz anak yang pintar dan penurut", jawab Sisi tersenyum.
"Kasih tau aku ya kalau kamu kerepotan urus Farizz", ucap Satria.
"Tenang aja , aku masih bisa urus Farizz dan kerjaan berbarengan kok", kembali Sisi tersenyum.
"Besok kita fitting baju untuk acara Rama dan Rena", Satria mengingatkan.
"Iya tadi Ibu juga telepon. Besok pulang Farizz sekolah aku ke butik, kita ketemuan di butik aja", jelas Sisi.
Makan malam sudah selesai Sisi siapkan. Mereka bertiga segera makan dengan lahap. Satria semakin hari semakin terbiasa dengan masakan Sisi. Farizz pun menyukai masakan Sisi. Kedua Anak dan Ayah itu sudah tidak sabar ingin segera bisa tinggal bersama Sisi.
"Ayah, kapan Farizz boleh nginep di sini ? Farizz pengen dibacain dongen sebelum tidur sama Mama", ucap Farizz polos.
"Hmm..weekend aja kalau mau nginep ya jadi ga ganggu kerjaan Mama juga", Satria menatap Sisi meminta persetujuan.
Sisi mengangguk dan tersenyum tanda setuju.
"Horeee..makasih Ayah..makasih Mama", Farizz bersorak senang.
Sabtu pagi..
Hari ini Rama dan Renata menikah. Pagi pagi sekali Satria sudah menjemput Sisi di apartemen nya. Mereka kemudian menuju hotel dimana acara akad nikah dan resepsi Rama dan Renata akan berlangsung. Sisi sudah siap dengan pakaian dan riasan natural nya. Pagi ini Sisi terlihat semakin cantik dan Satria tidak bosan selalu menatap ke arah Sisi. Yang ditatap menjadi gugup dan jantung nya berdetak tidak menentu.
"Bisa kan jangan ngeliatin aku begitu", ucap Sisi tertunduk malu.
__ADS_1
"Ga bisa..salah kamu sendiri cantik banget jadi bikin aku ga bisa ngeliat ke arah lain", Satria tersenyum menggoda Sisi.
"Ada Farizz loh di belakang" , Sisi melirik Farizz yang sedang sibuk menonton di kursi belakang.
"Farizz juga pasti setuju sama pendapat Ayahnya", Satria semakin menggoda Sisi.
Satu cubitan dari Sisi berhasil mendarat di lengan Satria yang sedang mengemudi. Satria pun mengaduh kesakitan. Mereka berdua kemudian
tertawa bersama. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan. Dalam hati nya Satria mengucap syukur karena hidup nya kembali merasa lengkap dengan hadir nya Sisi. Dunia nya kembali berwarna indah seperti dulu karena Sisi sudah kembali.
Sampai di hotel tempat acara pernikahan Rama dan Renata, Satria segera menyerahkan mobilnya pada petugas parkir. Dia dan Sisi serta Farizz segera mencari keluarga nya dan bergabung bersama mereka. Acara prosesi ijab qabul Rama dan Renata sebentar lagi akan di mulai.
"Rena yang akan menikah tapi mengapa Aku yang merasa gugup", batin Sisi.
Satria yang melihat ekspresi gugup Sisi, segera meraih tangan Sisi ke dalam genggaman nya memberikan kehangatan dan ketenangan bagi Sisi.
"Sebentar lagi kamu akan merasakan ada di posisi Rena", bisik Satria ditelinga Sisi.
Sisi tersipu malu. Pipi nya mulai memerah. Pikiran menerawang pada hari pernikahan nya yang pernah gagal namun tidak lama lagi dia akan menikah dengan Satria. Dia berharap yang kali ini nanti nya akan berjalan lancar.
Satria memberi selamat kepada kedua adiknya itu ketika mereka menghampiri Satria dan Sisi untuk meminta restu. Lama Sisi dan Rena berpelukan. Kedua nya sama sama menangis bahagia.
Selesai acara ijab qabul, pengantin dan para keluarga beristirahat di kamar masing masing yang sudah di siapkan. Sisi berada dalam satu kamar dengan Farizz dan Satria.
"Mama ayo temani Farizz tidur siang", ucap Farizz menarik tangan Sisi.
"Iya sayang, Mama temani ya", Sisi mencium pipi Farizz gemas.
"Ayah nya juga mau di cium begitu", Satria menunjuk pipinya.
"Jangan ngaco ya", Sisi melotot ke arah Satria.
Segera Sisi membawa Farizz naik ke tempat tidur. Dia mengusap usap punggung Farizz untuk menidurkan anak itu. Tiba tiba Satria ikut naik keatas tempat tidur bergabung dengan Sisi dan Farizz. Dia menjatuhkan badan nya dibelakang Sisi. Memeluk Sisi dari belakang.
Sisi berusaha untuk melepaskan pelukan Satria. Tapi Satria menolak dan tetap memeluk Sisi dari belakang.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini dulu, aku janji tidak akan macam macam", bisik Satria di telinga Sisi.
Jantung Sisi berdetak tidak karuan berada dalam pelukan Satria dengan posisi seperti ini. Dia takut pertahanan nya akan runtuh karena pelukan Satria memberikan rasa hangat dan nyaman untuk Sisi.
"Ya Tuhan kuatkan Aku", batin Sisi.
"Aku ga sabar untuk bisa memelukmu seperti ini kapan pun aku mau", ucap Satria kembali di telinga Sisi.
Tidak butuh lama untuk Farizz terlelap. Sisi segera membalikkan badan nya sehingga menghadap ke arah Satria.
"Farizz sudah tidur, aku juga mau tidur dulu", ucap Sisi.
"Ya sudah tidur, sekarang giliran aku yang nidurin kamu" Satria membelai lembut rambut Sisi.
Sisi mulai memejamkan mata nya. Dia menikmati sentuhan lembut Satria yang mengelus lembut rambutnya. Satu ciuman Satria daratkan di puncak kepala dan kening Sisi.
Melihat Sisi yang sudah memejamkan matanya, Satria pun ikut memejamkan mata. Tangan nya tetap memeluk Sisi dan Farizz pun tidur memeluk Sisi dari arah yang berlawanan dengan Satria.
Eyang menghampiri kamar mereka. Pintu kamar tidak terkunci, segera Eyang membuka pintu dan perasaan bahagia muncul dalam hati Eyang ketika melihat Satria sedang tertidur pulas bersama Sisi dan Farizz.
"Semoga kalian akan bahagia selamanya", batin Eyang.
Eyang kembali menutup pintu kamar dan berlalu meningglkan tiga orang yang sedang tidur dalam posisi saling berpelukan.
☆
☆
☆
☆
☆
^^jangan lupa like vote dan komen nya ya untuk author..karya pertama jadi mohon dimaafkan jika masih banyak kesalahan dalam segala hal..😁^^
__ADS_1