
Pemilihan anggota OSIS baru dan pengurusnya akan berlangsung. Sisi dan Renata masuk sebagai salah satu calon anggota OSIS di tahun ajaran ini.
Pengumuman siapa yang terpilih menjadi pengurus akan dilaksanakan besok pagi saat upacara bendera.
Waktu yang dinanti pun akhirnya tiba.
Semua siswa mengikuti acara dengan sangat hikmah. Saat pembina OSIS mulai naik podium, semua siswa diam tidak ada yang bersuara.
"Langsung saja kita akan umumkan siapa siapa saja yang akan menjadi pengurus OSIS di tahun ajaran ini", Ibu Pembina OSIS mulai membuka acara.
Ibu Pembina menyebutkan satu per satu nama dan jabatan pengurus baru.
Sisi terpilih sebagai sekretaris II dan Renata terpilih sebagai Bendahara II. Sementara itu yang terpilih sebagai ketua OSIS adalah Bara, siswa kelas 2 ipa1. Siswa berprestasi yang sejak di bangku kelas 1 selalu mendapat peringkat 1 di kelas nya.
Semua yang terpilih menjadi pengurus di minta untuk maju ke depan, berdiri berjejer menghadap barisan para siswa siswi lain nya.
Masing masing dari mereka di persilahkan untuk memperkenalkan diri.
Tatapan Bara tidak lepas dari seorang Sisi, dia melirik ke arah sisi yang berdiri 3 langkah dari tempat Bara berdiri.
Saat Sisi memperkenalkan diri, Bara menghafal nama dan kelas nya. Baru hari ini Bara melihat Sisi, sebelum nya mungkin sudah pernah berpapasan tapi Bara tidak memperhatikan mungkin.
Dari kejauhan Satria mengamati Bara yang selalu menatap ke arah Sisi.
Ada ekspresi tidak suka tergambar dari raut wajah Satria. Dia tidak suka ada yang menatap Sisi sama seperti dirinya.
Dua hari setelah pemilihan dan pelantikan pengurus OSIS baru, semua anggota berkumpul untuk mengadakan rapat pertama mereka di awal masa jabatan.
Mereka akan menyusun rencana kerja dan rencana biaya selama satu tahun ke depan.
Satria mengetahui dari Renata bahwa hari ini sepulang sekolah mereka akan rapat OSIS dulu.
Sejak dia mengungkapkan perasaan nya pada Sisi malam itu, mereka belum ada komunikasi lagi.
Satria memberi waktu untuk Sisi berpikir sehingga dia memutuskan untuk tidak mengganggu Sisi sementara meskipun sebenarnya dia sangat rindu pada Sisi. Tetapi Satria tetap bertanya pada Renata tentang keseharian Sisi diluar kelas.
"Si, apa kamu sudah punya jawaban untuk Satria tentang perasaan nya tempo hari ?" Renata mencoba bertanya saat mereka makan siang bersama di kelas.
"Aku masih ragu Ren", jawab Sisi dengan jujur.
"Aku belum siap untuk sakit hati", tambah Sisi.
"Sisi sayang denger ya, aku sudah kenal Satria sejak kecil, aku tau betul sifatnya, dari luar memang terlihat dingin dan sangat cuek tapi dia akan bersikap sangat manis dan lembut kepada orang orang yang dia sayang dan yang sudah menjadi bagian dalam hidup nya. Aku yakin kamu pasti bisa merasakan selama ini Satria selalu bersikap manis sama kamu",
Rena menjelaskan panjang lebar mencoba meyakinkan Sisi untuk percaya pada Satria, bahwa laki laki itu tulus dan tidak akan menyakiti Sisi.
"Akan aku coba pikirkan lagi nanti ya Ren", ucap Sisi pada Renata.
"Ini sudah lebih dari satu minggu dan kamu masih menggantung Satria, dia juga berhak untuk mendapatkan kepastian dari kamu", Renata mengingatkan Sisi kembali.
"Iya Ren, aku tau"..jawab Sisi..
tatapan nya menerawang entah kemana.
Sejujurnya Sisi juga sudah mulai punya perasaan yang sama terhadap Satria, hanya rasa takut sakit hati belum bisa dia kalahkan.
"Sisi kan ya ? " tiba tiba seorang laki laki berdiri di depan meja mereka yang sedang makan.
Laki laki itu Bara.
"Kenalin Bara, ketua OSIS", ucap laki laki itu sambil mengulurkan tangan ke arah Sisi.
Sisi menyambut sambil menyebutkan namanya.
__ADS_1
"Nanti jangan lupa rapat ya jam dua", ucap Bara mengingat kan Sisi dan Renata mengenai jadwal rapat pertama mereka.
"Baik Kak Bara", jawab Sisi dan Renata serentak.
"Aku permisi dulu", ucap Bara sambil berlalu dari kelas Sisi.
"Ganteng juga ihhh", teriak Renata dengan ekspresi terpesona nya terhadap Bara.
"Satria lebih ganteng dan mempesona", ucap Sisi tanpa sadar.
"Uhhh cie cie tau deh yang mulai jatuh hati sama Satria", goda Renata sambil tertawa senang.
Wajah Sisi langsung memerah saat Renata menggodanya.
Tanpa mereka sadari, Satria sejak tadi memperhatikan mereka dari luar kelas, termasuk saat Bara menghampiri mereka, Satria melihat semua nya dengan jelas.
Rasa cemburu mulai muncul dalam diri Satria. Ada sedikit rasa tidak percaya diri juga ketika Satria melihat Bara sepertinya mulai ingin mendekati Sisi.
Rapat berlangsung selama dua jam. Di pimpin oleh pembina OSIS yang didampingin oleh Bara selaku Ketua OSIS. Mereka diberikan waktu satu minggu oleh Kepala Sekolah untuk segera mengajukan rencana anggaran dan kegiatan selama satu tahun ke depan.
"Baiklah teman teman, mulai besok sepulang sekolah kita akan berkumpul di ruangan ini untuk mulai membuat rencana anggaran dan kegiatan ya, saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik", ucap Bara saat menutup rapat hari ini.
"Sampai jumpa besok semua nya", lanjut Bara.
Sisi dan Renata sedang berdiri di depan gerbang sekolah, tiba tiba Bara menghampiri mereka dan menawarkan tumpangan pada Sisi.
Dengan halus Sisi menolak , memakai alasan bahwa dia pulang bersama Renata.
Ada rasa kecewa di hati Bara tetapi dia berusaha menutupi.
"Seperti nya Kak Bara suka deh sama kamu", tebak Renata.
"Jangan ngaco deh", bantah Sisi sambil menyubit pelan lengan Renata.
"Kalau misalnya bener gimana , kamu akan pilih Kak Bara atau Satria ?" selidik Renata.
"Kalau sama Satria berati ada gimana gimana gtu dong" , kembali Renata menggoda Sisi.
Dan wajah Sisi kembali merona.
"Udah ahh ayok pulang", ajak Sisi pada Renata sambil menarik tangan Renata keluar gerbang sekolah.
Sesampainya di rumah Renata mengirim pesan pada Satria.
Renata
Kak Sat, kamu harus segera tanya gimana jawaban Sisi
Satria
memang kenapa Ren ?
Renata
sepertinya Kak Bara si Ketua OSIS itu suka juga sama Sisi
Satria
jadi aku harus gimana ?
Renata
minta Sisi kasih jawaban segera
__ADS_1
dateng ke kost nya, bawa apa kek buat nunjukin kalau Kaka serius sama dia
Satria
akan aku pikirkan
makasih Ren infonya
Renata
sama sama Kak
Tidak lama setelah menyudahi percakapan nya dengan Renata, Satria keluar rumah. Dia menelpon Ibunya saat di perjalanan.
"Bu, bunga apa yang lebih cewe suka, mawar merah atau mawar putih ?" Satria bertanya pada Ibu nya.
"Mawar merah tanda cinta , mawar putih tanda perasaan suci", jawab Ibu nya di sebrang.
"Selain mawar merah dan putih, sebaiknya apa lagi yang aku bawakan untuk Sisi ? "kembali Satria meminta saran dari Ibu nya.
"Bawakan dia coklat cheesecake dan ice coklat, Sisi sangat menyukai kedua nya dan satu lagi sushi" jawab Ibu nya.
"Dari mana Ibu tau semua itu ? " tanya Satria, dia merasa heran mengapa Ibu nya tau banyak tentang Sisi.
"Ibu sering chat chat sama Sisi tanpa kamu tau", jawab Ibu nya.
"Ibu ingin Sisi merasakan perhatian seorang Ibu , setidaknya bisa sedikit jadi obat rindu dirinya terhadap almarhumah Ibunya", jelas Ibu Satria.
"Aku sayang Ibu dan sangat beruntung memiliki Ibu yang sangat baik", puji Satria pada Ibunya.
"Ya sudah aku tutup dulu ya bu, doakan aku ya bu", Satria menyudahi telepon nya kemudian melajukan mobilnya ke sebuah toko bunga yang cukup terkenal di ibukota.
Dia memilih buket cantik mawar merah bercampur putih untuk Sisi. Kemudian dia menuju toko kue langganan keluarganya dan membeli kue serta minuman yang disarankan Ibunya.
Dengan perasaan campur aduk Satria menuju kost an Sisi.
Setelah berada di depan gerbang kostan, Satria memencet bel dan gerbang dibuka oleh seseorang yang bisa berjaga disana.
Satria mengucapkan salam dengan sopan lalu meminta tolong penjaga gerbang mengantarkan buket bunga serta kue coklat dan minuman ke kamar Sisi. Tidak lupa dia memberikan selembar uang seratus ribu kepada penjaga tersebut sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu.
Sisi yang sedang berbaring di tempat tidurnya segera bangkit saat mendengar ada ketukan di pintu kamarnya.
"Sore mba, ini ada kiriman untuk mba Sisi", ucap sang penjaga gerbang kost.
"Dari siapa mang Jaja ? " tanya sisi pada penjaga bernama Jaja itu.
"Orang nya masih nunggu di bawah mba", jawab mang Jaja.
Sisi menerima buket mawar yang sangat cantik itu, serta cake coklat dan ice coklatnya. Dia meletakkan buket bunga nya diatas kasur, lalu menyimpan cake dan ice nya ke dalam kulkas.
Ada sebuah kartu kecil terselip di dalam buket bunga tersebut. Sisi membuka dan membaca pesan yang tertulis pada kartu tersebut.
"Temui aku di bawah jika Kamu menerima pernyataan cinta ku tempo hari.
Yang tulus mencintaimu, Satria."
Cukup lama Sisi terdiam memandangi buket bunga nya, dia bingung harus berbuat apa.
Satria mulai resah menunggu di sebrang kostan Sisi. Yang sangat ingin dia temui tidak kunjung turun menemui nya.
"Apa dia tidak suka dengan semua itu", batin Satria.
"Atau dia memang tidak bisa menerima hatiku dan cintaku", Satria mulai ditakuti oleh pikiran negatifnya, dia mulai tidak percaya diri.
__ADS_1
^^readers aku yang baik baik, jangan lupa like dan vote nya ya^^
^^makasih semuanya^^😚😚