
Satria selesai dengan urusan di kamar mandi. Dia kembali mengenakan pakaian nya dan menunggu Sisi di ruang tamu sambil memainkan ponsel nya.
Satria takut Sisi akan marah dan kecewa saat ini. Setengah jam kemudian Sisi menghampiri nya. Sisi duduk tepat di sebelah nya.
"Maafkan aku, aku ga bermaksud menyakitimu", Satria tulus minta maaf.
"Aku ga apa apa, jangan merasa bersalah begitu karena aku juga menginginkan nya", Sisi tersenyum menghilangkan rasa bersalah Satria.
"Aku benar benar mencintaimu dan aku janji tidak akan pernah menyakitimu", Satria membawa tangan Sisi dalam genggaman nya.
"Aku percaya sayang, kamu sudah membuktikan nya selama ini", kembali Sisi tersenyum hangat pada Satria.
"Sebaiknya aku pulang ya supaya kamu bisa istirahat, besok pagi aku jemput", Satria pamit.
Sisi berusaha kuat menahan air mata nya agar tidak jatuh. Lama dia menatap Satria lekat seakan ingin mengukir wajah Satria dalam hati nya agar dia selalu bisa melihat kapan pun jika dia rindu.
Setelah Satria menghilang di ujung lorong apartemen nya segera Sisi masuk dan mengunci pintu nya. Tanpa bisa di tahan air mata nya mengalir begitu saja.
"Kita ga akan bertemu lagi sampai waktu yang aku sendiri tidak tahu berapa lama nya", batin Sisi.
Sisi segera mengambil koper dan mengemasi semua pakaian dan barang barang kebutuhan nya yang lain. Semua dokumen dokumen penting juga tidak lupa dia bawa. Sisi meletakkan semua perhiasan pemberian Satria yang selama ini dia pakai termasuk cincin pertunangan mereka juga dia tinggalkan di dalam kotak diatas meja rias nya.
Semua barang barang pemberian Satria tidak ada yang Sisi bawa karena dia tidak ingin nanti nya selalu mengingat Satria seumur hidup nya meskipun Sisi tau jika akan sangat sulit bagi nya melupakan Satria.
Sisi menulis surat untuk Satria dan dia meletakkan diatas meja rias nya bersama dengan segala barang barang pemberian Satria.
Waktu menunjukkan pukul dua dinihari. Anak buah Pak Albert yang menjemput nya sudah sampai di lobi apartemen. Sisi segera membawa dua koper nya berukuran besar keluar dari apartemen. Dia mengunci pintu dan menitipkan kunci pada resepsionis di lobi apartemen. Sisi menitipkan pesan supaya kunci diberikan pada Satria esok hari.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, Sisi sampai pada tempat dimana pesawat pribadi milik Pak Albert sudah menunggu. Disana sudah menunggu Pak Albert dan juga asisten nya. Mereka ikut dengan Sisi ke London karena Pak Albert akan menjelaskan langsung nanti nya pada Jonathan mengenai keberadaan Sisi di London.
"Aku akan membuat mu dan anak ku saling jatuh cinta", ucap Pak Albert dalam hati ketika melihat Sisi berjalan mendekati pesawat nya dan siap untuk berangkat.
Sisi masuk dan Pak Albert mempersilahkan Sisi untuk memilih kursi yang sesuai dengan keinginan nya. Sisi mengucapkan terima kasih dan memilih posisi kursi di tengah, agak berjarak dari Pak Albert dan asisten nya.
"Silahkan istirahat dan nikmati perjalan anda Nona", sapa seorang pramugari yang datang membawakan beberapa minuman dan makanan ringan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak", Sisi mengangguk sopan pada pramugari tersebut.
Lampu pesawat mulai padam dan pesawat mulai meninggalkan landasan nya menuju langit biru.
"Aku tidak tahu apakah ini akan menjadi awal yang baik atau malah jalan menuju kehancuran", batin Sisi.
Sisi mencoba memejamkan mata nya yang sudah sangat lelah karena sejak kemarin malam mata nya sudah terlalu banyak meneteskan air mata.
Pagi hari di apartemen Sisi..
Satria sudah menekan bel berkali kali tetapi pintu belum juga terbuka. Dia mencoba menghubungi Sisi tetapi ponsel nya tidak aktif. Satria tidak membawa kunci cadangan apartemen. Dia mulai khawatir takut terjadi sesuatu pada Sisi di dalam.
Segera dia menuju lobi, berniat menanyakan pada resepsionis apakah bisa mendapat kan kunci cadangan. Sang resepsionis ternyata memberikan kunci yang di titip Sisi untuk dirinya.
"Siapa yang memberikan kunci ini ? " , tanya Satria.
"Nona Sisi yang memberikan sekitar pukul dua dinihari", jawab sang resepsionis.
Satria merasa heran. Untuk apa Sisi menitipkan kunci. Dia segera naik menuju unit nya dan masuk ke dalam apartemen nya. Satria mencari Sisi tetapi dia tidak menemukan Sisi di ruang tamu atau pun di dapur dan di ruang makan.
Segera Satria membuka dan membaca surat nya.
Dear Satria,
Maafkan aku jika mengecewakan dan menyakitimu. Aku harus pergi dari hidupmu dan maaf karena Aku tidak bisa menikah dengan mu.
Aku melakukan ini demi kebaikan kita semua.
Aku baru tau dari Eyang bahwa selama ini kamu dan Mila telah di jodohkan. Aku sadar bahwa sampai kapan pun Aku tidak akan mendapat restu dari Eyang karena Eyang hanya menginginkan Mila untuk menjadi istrimu, maka dari itu Aku memilih mundur.
Aku tidak akan bisa bahagia jika tidak mendapat restu dari Eyang. Dan Aku juga tidak ingin jika Ayah dan Ibu menjadi anak durhaka dan kehilangan hak waris nya atas harta kekayaan milik Eyang.
Aku sudah berjanji pada Eyang untuk menyerahkan mu pada Mila. Ini semua Aku lakukan karena Aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi cucu yang berbakti dan menjadi kebanggaan Eyang.
Kamu pernah bilang akan melakukan apapun jika Aku yang meminta. Aku minta tolong terima perjodohan dengan Mila jika benar kamu mencintaiku.
__ADS_1
Terima kasih atas semua kasih sayang dan cinta tulus mu selama ini untuk ku. Aku akan sangat bangga padamu jika kamu penuhi keinginan terakhir ku ini.
Tidak perlu mencari ku ya karena aku akan baik baik saja tanpa mu dan Aku harap kamu juga akan baik baik saja.
Maaf kan aku..Aku pergi karena Aku terlalu mencintaimu. Aku yakin kamu akan bahagia meski tanpa Aku.
Yang selalu mencintaimu..
Sisi
Satria berteriak frustasi membaca surat Sisi. Air mata nya tidak terbendung lagi. Dia melihat isi kotak yang terletak diatas meja dan hati nya semakin sakit ketika melihat isi nya. Sisi meninggalkan semua barang pemberian nya termasuk cincin pertunangan mereka.
Berkali kali Satria mencoba menghubungi ponsel Sisi tetapi nomor nya tidak aktif.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh ini sayang", ucap Satria frustasi.
"Eyang benar benar keterlaluan", batin Satria geram.
"Sekarang Aku harus cari kamu kemana sayang", Satria merasa putus asa.
Dibawa nya surat dari Sisi dan kotak berisi semua barang barang pemberian nya. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah nya. Di perjalanan dia menelpon Ayah nya dan meminta Ayah nya untuk tidak ke kantor dulu.
Ayah yang menerima telepon dari Satria merasa heran dengan permintaan anaknya.
"Tumben, ada apa ya", tanya Ayah dalam hati.
☆
☆
☆
☆
☆
__ADS_1
^^jangan lupa beri like vote dan komen ya readers ku sayang..terima kasih..^^😘😘😘