
Hari ini seperti biasa, tepat pukul 06.00 pagi Sisi sudah tiba di sekolah. Dia langsung menuju kelas nya, duduk di kursinya. Kelas masih kosong, baru Sisi yang datang dan seorang anak laki laki yang duduk di kursi paling belakang baris ketiga dari pintu, sementara kursi Sisi ada di nomor tiga baris kedua dari pintu.
Tanpa Sisi sadari, laki laki ini adalah anak yang sudah mengamati Sisi sejak hari pertama mereka masuk sekolah, saat Sisi duduk di pojok kantin sekolah hari pertamanya.
"Boleh aku duduk disini ?" sapa anak laki laki di pojok belakang tadi yang tiba tiba saja sudah duduk di kursi di depan Sisi yang sedang asik dengan novelnya.
Sisi menutup novelnya, lalu menjawab "boleh" ke anak itu sambil tersenyum.
"Satria", ucap anak itu sambil mengulurkan tangan nya.
Sisi membalas uluran tangan itu sambil menyebut kan namanya juga, "Sisi" jawab nya dengan lembut dan tersenyum tulus.
"Tuliskan nomor handphone mu di kertas ini", pinta Satria pada Sisi sambil menyodorkan selembar kertas dan pulpen kepada Sisi.
"Untuk apa ?" Sisi bertanya terlebih dahulu pada Satria , dia bukan tipe orang yang mudah memberikan nomor handphone nya pada sembarang orang.
"Aku ingin mengenal mu lebih dekat", ucap Satria tegas dan dengan tatapan yang serius dan langsung menisik masuk ke dalam mata bening Sisi.
Di tatap seperti itu tiba tiba saja membuat Sisi jadi gugup, jantung nya serasa akan lepas dari tempat nya detik itu juga. Sambil menulis nomor handphone nya di kertas yang diberikan Satria, sangat tampak sekali kalau Sisi gugup karena tangan nya gemetar saat menulis.
"Aku hubungi nanti ya", ucap Satria sambil tersenyum dan kembali ke tempat duduk nya. Sisi hanya menjawab dengan senyuman. Satria sudah meninggalkan kursi di depan Sisi sebelum dirinya sempat menjawab perkataan Satria. "Laki laki dingin yang aneh", itu yang terlintas dalam pikiran Sisi.
Satria sudah memperhatikan Sisi sejak hari pertama Sisi duduk di pojok kantin sekolah. Cinta pada pandangan pertama, bisa dikatakan mungkin itu yang terjadi pada Satria tetapi dia belum berani menyatakan.
Hati Satria bersorak gembira ketika tahu bahwa dirinya dan Sisi ternyata satu kelas. Setiap hari dia memperhatikan Sisi dalam diam nya. Dan hari ini entah mendapat keberanian darimana, Satria memberanikan diri untuk mengajak Sisi berkenalan dan meminta nomor handphone Sisi. Sebenarnya dia juga tidak kalah gugup dari Sisi tapi Satria pandai menyembunyikan perasaan nya.
Waktu menunjukkan pukul 19.30 ketika Sisi sedang membuka buku pelajaran Biologi, tiba tiba hp nya bergetar, tanda ada pesan masuk di aplikasi whatsapp nya. Sisi melihat pesan dari siapa, ternyata nomor tak di kenal.
0813xxxxxxx
Malam Sisi, lagi sibuk ga ?
Sisi
Malam , ga terlalu. maaaf ini dengan siapa ?
__ADS_1
0813xxxxxxx
Ini Satria
Sisi
oh iya, ada yang bisa di bantu ?
0813xxxxxxx
Save nomor aku ya
Sisi
ok nanti di save
0813xxxxxxx
hari sabtu ini aku ada pertandingan sepak bola di Cibubur, bisa datang untuk nonton ?
Sisi
0813xxxxxxx
Iya, aku pengen dapat support dari kamu
Sisi
Aku ga janji tapi di usahakan
0813xxxxxxx
di tunggu, terima kasih
Laki laki aneh, gumam Sisi dalam hati. Baru kenal langsung minta datang lihat dia bertanding, apa semua laki laki seperti itu, pikir Sisi.
__ADS_1
Sementara di sebuah balkon kamar nya di lantai dua, Satria sedang menatap kosong ke ribuan bintang di langit. Sejak bertemu Sisi pagi itu, Satria selalu merasakan gundah dalam hati nya. Bayang bayang wajah Sisi tidak bisa hilang dalam pikiran nya, perasaan yang belum pernah dia rasakan terhadap gadis manapun sebelumnya.
"Hei ngelamun malam malam", tiba tiba saja Ibu nya mengagetkan Satria.
"Ah ibu, ga ngelamun kok cuma lagi liat bintang, jawab Satria".
"Ga usah bohong, Ibu sangat mengenal kamu dari lahir", kelakar ibunya.
Satria pun hanya tersenyum saat ibunya mengetahui dirinya memang sedang melamun.
"Siapa gadis itu ?" tanya Ibu Satria.
"Gadis apa yang Ibu maksud ?" Satria balik bertanya.
"Ga usah ditutupin dari Ibu, jagoan Ibu yang satu ini sedang jatuh cinta kan ?" tebak Ibu Satria.
"Masa kalah sama adik kamu, Rama sudah tiga kali ganti pacar nah kamu satu pun belum pernah, goda ibu nya pada Satria".
"Aku belum paham dengan perasaan ini bu, yang aku tau setiap hari wajah nya selalu terlintas dalam pikiran ku, dia tidak seperti gadis gadis lain yang aku kenal, dia pendiam dan misterius, semakin sering aku melihat nya semakin aku ingin mengenalnya lebih dekat, mata dan senyum nya sangat indah dan hangat bu", Satria mulai menceritakan perasaan nya pada ibu nya.
Satria memang dekat dengan ibu nya, satu satu nya tempat dia curhat selama ini adalah ibu nya.
Sama hal nya dengan Satria, adik nya Rama pun sangat dekat dengan ibunya. Mereka saling terbuka layaknya sahabat. Hubungan keluarga yang sangat harmonis, ayah mereka pun seorang yang bijaksana dan bertanggung jawab. Ayah idaman bagi siapa pun tentu nya.
☆
☆
☆
☆
☆
^^readers mohon di bantu like dan vote nya ya untuk author pemula yang masih banyak salah nya ini, dengan karya pertama nya yang masih banyak salah nya tapi selalu berusaha diperbaiki.
__ADS_1
^^terima kasih sebelum nya para readers^^😚😚😚