
Sisi hanya diam di kamarnya. Renata yang mengerti kondisi hati Sisi yang sedang tidak baik, memberikan waktu bagi Sisi untuk sendiri. Dia menghampiri Rama yang masih ada di taman belakang.
Sementara itu dikamar tamu di lantai dua, Satria membaringkan Mila di sofa. Dia pamit pada Eyang dengan alasan mau mengganti baju nya yang basah. Ibu datang membawakan secangkir teh lemon hangat untuk Mila.
"Biar aku bantu Mila berganti pakaian" Ibu menawarkan diri.
"Tidak usah, biar aku saja. Kamu boleh pergi", jawab Eyang dingin pada Ibu.
Segera Ibu meninggalkan Eyang dan Mila. Ibu kembali ke kamar nya dimana Ayah sudah menunggu sambil mengecek email dari asisten nya.
Mila segera mengganti pakain nya. Dia dan Eyang tertawa senang karena rencana nya berhasil.
"Aku yakin gadis miskin itu malam ini tidak bisa tidur dengan nyenyak", ucap Mila dalam hati.
Satria selesai berganti pakaian. Dia mengambil HP nya dan mengirim pesan pada Sisi.
Satria,
sayang dimana ?
Lama tidak ada balasan dari Sisi.
Sisi mendengar HP nya bergetar, dia melihat pesan masuk dari Satria. Sisi tidak membuka pesan itu dan mengabaikan nya. Dia sedang ingin sendiri saat ini. Hati nya sedang tidak baik baik saja. Rasa cemburu menghampiri Sisi melihat kejadian di depan mata nya tadi.
Rasa sakit juga datang ketika Sisi melihat Eyang yang berusaha membuat Satria dekat dengan Mila. "Apakah Eyang benar benar tidak suka dengan keberadaanku", batin Sisi.
Untuk pertama kali nya Sisi benar benar merasa bahwa Eyang ingin Sisi menyingkir dari Satria. Tatapan Eyang yang dingin dan tajam pada Sisi membuat Sisi kehilangan kepercayaan terhadap cinta Satria pada nya. Untuk pertama kali nya Sisi merasa takut kehilangan. Fikiran fikiran buruk mulai menghampiri Sisi. Bayangan kehilangan Satria tiba tiba muncul begitu saja dalam benak Sisi.
"Apa yang harus aku lakukan", batin Sisi.
Tanpa terasa butiran air mata lolos begitu saja di pipinya yang mulus. Sisi tertidur dengan masih menyisakan butiran air mata di pipinya.
Di kamarnya Satria mulai gelisah karena pesan nya tidak di jawab Sisi. Dia mencoba menelpon tapi tetap tidak ada jawaban. Satria turun menuju taman belakang, dimana masih ada Rama dan Renata yang sedang berbincang.
" Sisi dimana Ren ? "
"Tadi di kamar", jawab Renata.
Langsung saja Satria menuju kamar Sisi di lantai satu, berseberangan dengan kamar kedua orang tua nya. Satria mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari dalam. Di buka nya pintu kamar yang tidak terkunci itu, dia langsung masuk.
__ADS_1
Dia menghampiri Sisi yang sudah tertidur. Satria berjongkok di tepi ranjang, melihat pipi Sisi yang basah menyisakan bulir air mata disana. Dengan lembut Satria menghapus air mata itu.
"Maaf jika aku menyakitimu, maaf jika membuat mu berada dalam situasi yang tidak nyaman", ucap Satria sambil mengecup punggug tangan Sisi lembut.
Satria menyelimuti badan Sisi sampai keatas dan mematikan lampu kamar, mengganti nya dengan lampu tidur. Kemudian dia kembali menuju kamar nya yang berada di lantai dua.
Saat ingin kembali ke kamarnya, Satria tidak sengaja mendengar percakapan Eyang dan Mila ketika dia melintas di kamar tamu yang sekarang ditempati Eyang dan Mila.
Dengan menahan emosi Satria kembali ke kamar nya setelah mendengar bahwa semua yang terjadi ternyata sudah di rencanakan oleh Eyang dan Mila.
"Jadi mereka sengaja melakukan nya untuk menyakiti Sisi, keterlaluan" ucap Satria geram.
"Mereka akan mendapatkan balasan nya", batin Satria.
Pagi hari nya, Sisi sudah berhasil menguasai hati nya. Meskipun bayangan kejadian tadi malam belum bisa dia lupakan tapi Sisi berusaha untuk bersikap biasa. "Aku harus kuat jika tidak maka orang lain akan selalu membuat ku terluka", batin Sisi menyemangati dirinya.
Satria dan Rama sepakat untuk kembali ke Jojga secepatnya. Dia tidak ingin Sisi lebih terluka dengan kehadiran Eyang dan Mila di rumahnya. Satria yakin, jika dia segera kembali ke Jogja maka Eyang dan Mila pun akan meninggalkan rumah nya segera.
Selesai sarapan, Ayah pamit untuk ke kantor.
"Ayah, siang ini aku dan Rama kembali ke Jogja", ucap Satria saat Ayah nya akan meninggalkan meja makan.
"Kok buru buru sayang, katanya masih mau beberapa hari lagi ? " tanya Ibu.
"Eyang dan Mila juga sudah harus kembali ke Jogja, kita pulang bareng aja", ucap Eyang.
"Baiklah Saya berangkat dulu, tiket pesawat nya nanti akan saya siapkan", pamit Ayah.
"Berhasil", ucap Satria dalam hati. Dia dan Rama saling melempar senyum singkat yang tidak sempat terlihat oleh yang lain, kecuali Ibu mereka.
" Jadi apa alasan kalian sebenarnya mendadak kembali ke Jogja ? " tanya Ibu ketika Satria sedang merapikan barang barang nya di kamar.
" Eh Ibu, bikin kaget aja", jawab Satria santai.
Dia menceritakan alasan sebenarnya kembali ke Jogja secara tiba tiba. Satria juga menceritakan melihat Sisi tertidur dalam keadaan menangis. Dan tentang percakapan Eyang dan Mila yang dia dengar pun dia ceritakan juga pada Ibu nya.
"Aku lakukan semua ini demi Sisi, supaya Eyang dan Mila tidak menyakiti nya lagi".
"Ibu mendukung mu sayang, Ibu bangga sama kamu yang bisa melindungi Sisi dengan baik", ucap Ibu memberi dukungan dan semangat.
__ADS_1
" Makasih Bu", Satria mencium tangan Ibu nya lalu memeluk Ibu nya erat.
Saat saat seperti ini Satria memang butuh dukungan kedua orang tua nya. Melawan keinginan Eyang memang membutuhkan kekuatan dan keteguhan hati. Ibu nya sangat paham dengan yang Satria rasakan, begitu pun Ayah nya.
Satria menemui Sisi di kamarnya. Dia membuka pintu yang tidak terkunci. "Boleh aku masuk ? " tanya Satria.
"Masuk aja", jawab Sisi.
"Tadi malam nangis ? " tanya Satria ketika sudah duduk bersebelahan dengan Sisi di sofa.
"Ga nangis", jawab Sisi menunduk menghindari tatapan Satria.
"Jangan nutupin, tadi malam aku kesini dan kamu udah tidur, aku yang hapus sisa air mata kamu di pipi", ucap Satria tersenyum.
Sisi yang merasa malu karena ketauan menangis semakin menunduk. Pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Cemburu ya liat aku sedekat itu dengan Mila", goda Satria.
"Ga sama sekali", jawab Sisi dengan masih menghindari tatapan mata Satria.
"Aku mencintai kamu sejak pertama kali lihat kamu di kantin sekolah, dan sampai mati cinta, hati, jiwa raga aku semua nya cuma untuk kamu, jadi jangan pernah berpikir kamu akan kehilangan aku, tolong percaya itu" ucap Satria dengan menatap dalam ke arah manik mata Sisi.
Sisi merasa sesak dengan semua ucapan Satria. Dia berusaha menatap Satria dan mencari kebenaran serta ketulusan Satria. Sisi mempercayai semua kata kata itu karena mata Satria menunjukkan kebenaran dan tidak ada keraguan sama sekali.
Setetes air mata kembali lolos begitu saja di pipi mulus Sisi. Satria segera menghapusnya.
"Maaf sudah membuat mu menangis, membuat mu harus terjebak dalam situasi yang tidak nyaman, aku janji akan selalu melindungi kamu dari orang orang yang berusaha menyakiti mu" ucap Satria sambil memeluk Sisi erat dan mengusap lembut puncak kepala nya.
"Aku akan baik baik saja selama bersama kamu", jawab Sisi meyakinkan Satria.
"Anter aku ke depan ya, sebentar lagi taksi datang dan aku harus berangkat", pinta Satria.
"Iya", jawab Sisi tersenyum.
Senyum yang sempat hilang kemarin, kini sudah Satria lihat kembali. Hati nya lega meninggalkan Sisi dalam keadaan sudah menemukan senyum nya lagi. Senyum yang sanggup melelehkan Satria detik ini juga.
" Obat nya di minum teratur ya supaya cepet pulihnya, jaga diri baik baik", pesan Satria pada Sisi.
"Siap Bos" jawab Sisi dengan sebelah tangan nya diangkat sampai telinga.
__ADS_1
Taksi datang dan Satria berangkat ke Bandara, kembali ke Jogja bersama Rama dan juga Eyang serta Mila.
^^readers jangan lupa dukungan nya untuk karya pertama author, makasih banyak sebelumnya^^🥰🥰🥰🥰