Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Bertemu Eyang


__ADS_3

Sisi akhirnya bersedia ikut ke Jogja karena Ibu dan Ayah Satria juga membujuk nya supaya mau ikut, Renata pun ikut juga bersama mereka.


"Sebagai ganti liburan ke Jogja yang tertunda", ucap Ibu pada Sisi ketika meminta Sisi supaya mau ikut.


Sisi dan Renata akan tetap sama sama kuliah di Ibu kota tetapi berbeda kampus.


Renata memilih melanjutkan studi nya di London School. Orang tua nya menyarankan Renata untuk kuliah di luar negeri tapi dia belum mau meninggalkan Jakarta dan dia juga kasian pada Sisi kalau sendirian melanjutkan studinya di sini karena Satria dan Rama akan pindah ke kota lain.


Kamis sore mereka berangkat ke Jogja. Mengantar Satria dan Rama serta liburan mereka yang sempat tertunda.


Mereka akan menginap di Villa milik Eyang. Ayah dan Ibu Satria sudah mengabarkan keberangkatan mereka pada Eyang.


Eyang pun dengan sengaja mengundang Mila untuk menginap di Villa Eyang.


Rencana untuk mendekatkan Satria dengan Mila segera akan dimulai.


Eyang sudah membocorkan pada Mila tentang hal hal yang disuka Satria dan yang tidak di suka.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka sampai di Villa Eyang.


Pandangan mata Eyang tidak lepas dari Sisi. Kalau Renata sudah kenal dengan Eyang. Karena orang tua Renata bersahabat dengan orang tua Satria.


"Siapa gadis ini", batin Eyang.


Dan cara Satria menatapnya sangat berbeda. Eyang semakin penasaran dan akan segera mencari tau.


Semua menyalami dan mencium tangan Eyang, termasuk Sisi pun ikut serta.


"Makan malam sudah siap, kalian pasti sudah lapar jadi kita langsung makan aja ya", ajak Eyang pada mereka semua.


Sisi merasakan tatapan Eyang cukup tajam tertuju pada nya. Tadi Ayah Satria memperkenalkan Sisi sebagai temen dekat Satria pada Eyang.


Dan sejak perkenalan itu, tatapan Eyang semakin tidak lepas dari Sisi.


Rasa khawatir tidak akan disukai oleh Eyang mulai muncul dalam diri Sisi. Dia tidak berani membalas tatapan Eyang, Sisi tidak cukup percaya diri untuk itu.


Satria memperhatikan gerak gerik Sisi dan dia mulai menangkap kegelisahan yang Sisi rasakan.


"Semua akan baik baik aja sayang, kamu ga perlu takut".


Satria mengirim sebuah pesan pada Sisi.


Sisi merasakan HP nya bergetar tetapi dia tidak berani mengambilnya dari dalam kantong celana nya karena takut tidak sopan, mereka sedang ada di meja makan.


Satria menatap Sisi yang duduk persis di sebrang nya dan memberikan senyum menenangkan.


Sisi mengerti maksud Satria dan membalas dengan senyum juga.


Eyang menyaksikan hal yang mereka berdua lakukan. Eyang semakin penasaran hubungan Satria dengan teman nya itu karena Satria menatap nya dengan cara yang berbeda.


Mila yang berusaha mencari perhatian Satria malah diabaikan sejak tadi oleh Satria.


Sisi terlalu polos dan selalu berpikir positif terhadap siapa pun sehingga dia tidak menyadari maksud dari Mila, akan tetapi Renata menyadari hal itu dan dia berniat mencari tau nanti.


Selesai makan, Sisi berinisiatif merapikan piring piring kotor dan membawa ke dapur, Renata mengikuti nya.


Mila yang awal nya ingin melakukan juga tetapi sudah di dahului Sisi, dia nampak kesal dan berpikir bahwa Sisi sengaja mencari perhatian Eyang.


Aku ingin ngobrol sama kalian berdua di taman belakang, ucap Eyang pada Ayah dan Ibu satria.


Anak - anak pergilah istirahat ke kamar masing masing, Mila akan mengantar, perintah eyang pada kedua cucunya serta Sisi dan Renata juga.


Baik Eyang, jawab mereka serentak seperti sudah di komando.


Ayah dan Ibu Satria sudah duduk di kursi taman belakang bersama Eyang.


"Siapa gadis yang bernama Sisi itu ?" tanya Eyang tanpa basa basi.


"Dia seorang anak yatim piatu yang di cintai Satria", jawab Ibu Satria.


"Dia gadis baik, mandiri dan cerdas", tambah Ayah Satria.


"Suruh Satria mengakhiri hubungan nya dengan Sisi karena aku sudah menjodohkan dia dengan Mila", perintah eyang.


"Jangan seperti itu Bu, biarkan Satria menentukan pilihan masa depan nya sendiri", jawab Ayah.


"Ini perintah , tidak bisa di tawar", jawab Eyang tegas.


"Selesai kuliah, mau tidak mau Satria harus menikah dengan Mila", ucap Eyang kembali.


Ibu Satria hanya terdiam. Dia tidak tau harus berbuat apa untuk menyelamatkan masa depan anaknya. Dia sangat mengenal mertuanya, seorang yang keras dan tidak bisa dibantah.


"Aku minta sama Ibu, biarkan Satria tetap bersama Sisi sampai waktunya dia harus menikah dengan Mila, jangan Ibu suruh mereka menjauh dari sekarang. Aku mohon", ucap Ibu Satria.


Hanya itu yang bisa Ibu Satria lakukan saat ini.

__ADS_1


"Mereka sudah saling mencintai sejak pertama masuk SMA, masa Ibu tega menyakiti Satria dan gadis tidak berdosa itu", Ayah masih mencoba bernegosiasi dengan Eyang.


"Nanti juga Satria akan jatuh cinta pada Mila kalau mereka selalu sama sama di sini", jawab Eyang.


"Apa maksud Ibu ?" tanya ayah Satria pada Eyang.


"Mila juga akan kuliah di kampus yang sama dengan Satria dan akan tinggal di sini juga", jawab Eyang menjelaskan.


Ayah dan Ibu Satria hanya bisa diam mendengarkan, mereka tidak tau lagi harus berkata apa pada Eyang.


"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin Ibu bahas kami ingin istirahat", ucap Ayah Satria pada Eyang.


'Pergilah", jawab Eyang.


Tanpa sengaja, Renata mendengar semua pembicaraan para orang tua di taman belakang.


Dia tidak sengaja lewat dan ketika Eyang menyebut nama Sisi, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti mendengarkan semua obrolan Eyang dengan orang tua Satria.


"Satria harus tau tentang ini", batin Renata.


Dia segera mengambil HP dan mengirim pesan pada Satria.


Renata


temui aku di tempat biasa kita main, sekarang ya ada hal penting yang harus kaka tau.


Satria


tentang apa ? ga bisa besok dek ? ngantug tau


Renata


tentang Sisi dan kaka


Satria


oke meluncur


membaca kata Sisi membuat Satria tidak jadi ingin tidur. Dia tidak bisa menunda apa pun kalau berkaitan dengan Sisi.


"Dasar bucin", batin Renata sambil tertawa.


Renata mengirim pesan pada Sisi supaya Sisi tidur lebih dulu tidak perlu menunggu nya karena dia ada urusan sebentar.


Di bawah rumah pohon belakang Villa Eyang,


"Jadi apa yang mau di ceritain ?" tanya Satria begitu sampai di tempat Renata menunggu nya.


Renata mulai menceritakan semua yang tadi dia dengar secara detail, tidak ada yang kurang dan lebih.


Satria mendengarkan dengan hati kesal. Dia tidak menyangka Eyang nya akan se egois itu.


"Kamu ga usah khawatir, sampai kapan pun kaka hanya akan menikah dengan Sisi", ucap Satria pada Renata.


"Tolong jangan sampai Sisi tau hal ini ya, nanti dia sedih", Satria minta Renata untuk menjaga rahasia ini.


"Iya baik Kak", janji Rena.


"Kaka tau kan harus bersikap seperti apa terhadap Mila", Renata mengingatkan Satria tentang Mila


"Iya Kaka paham, kamu tenang aja Mila ga akan pernah berhasil mencuri hati kaka", Satria meyakinkan Renata


"Jagain Sisi di Jakarta ya selama Kaka ga disana", pinta Satria pada Renata.


"Iya Kaka tenang aja", jawab Renata.


Mereka sudah sepakat untuk bersikap seperti tidak tau tentang rencana Eyang. Biarkan Eyang berpikir yang tau hanya dirinya dan Mila serta kedua orang tua Satria saja.


Keesokan hari nya, pagi pagi sekali Satria , Rama serta Sisi dan Renata sudah pergi menuju Borobudur. Mereka hanya pamit pada orang tua Satria. Renata dan Satria merencanakan ini.


Kalau mereka juga pamit pada Eyang pasti Mila akan di suruh ikut jadi mereka hanya pamit pada orang tua Satria.


Eyang bingung ketika sarapan di meja makan hanya ada Mila dan kedua orang tua Satria.


"Kemana yang lain ?" tanya Eyang


"Anak anak ke Borobudur tadi jam empat mereka jalan katanya ingin lihat sunrise", Ayah Satria menjawab.


"Mila kok ga diajak ?" kembali Eyang bertanya.


"Tadi Mila masih tidur, mereka ga enak bangunin". Sekarang giliran Ibu Satria yang menjawab.


Eyang hanya menatap kesal ke arah meja makan.


Dia merasa terkecoh oleh anak anak itu.

__ADS_1


***************


Di Borobudur,


"Hari ini kita puas puasin keliling Borobudur dan Jogja", ucap Satria.


"Iya pulang malam aja ga apa apa kan tadi sudah izin pada Ayah dan Ibu, kita juga sudah bawa baju ganti", Renata menambahkan.


Satria dan Renata memang sudah merencanakan akan menjauhkan Sisi dari Eyang dan Mila jadi mereka sengaja pergi saat Mila dan Eyang masih tidur dan akan kembali saat Eyang dan Mila sudah tidur lagi nanti malam.


"Gimana kalau kita nginep di hotel aja nanti malam, ga usah pulang ke villa Eyang sampai tiba waktu nya aku dan Sisi kembali ke Jakarta", usul Renata.


"Aku setuju banget, kalau di Villa Eyang kurang bebas mau apa apa harus ikut aturan Eyang", jawab Satria.


"Gimana menurut kamu sayang ?" Satria meminta pendapat Sisi.


"Aku ikut gimana kalian aja", jawab Sisi.


"Apa alasan kita ke Ayah dan Ibu ?" tanya Rama


"Biar itu nanti jadi urusan Aku dan Renata", jawab Satria.


Matahari sudah mulai naik, cuaca di Borobudur sudah sangat terik. Satria melihat Sisi agak pucat karena kepanasan. Satria segera melepas hoodie yang dia pakai dan memberikan pada Sisi.


"Tutup kepala nya pakai ini sayang, muka kamu udah pucet banget, pusing ya kepanasan ?" tanya Satria sambil menutupkan hoodie nya pada kepala Sisi.


"Iya tiba tiba kepala aku sakit banget karena panas nya terlalu terik", jawab Sisi.


"Kita istirahat dulu di bawah pohon itu ya", ajak Satria sambil menunjuk sebuah pohon besar yang cukup rindang.


Terdapat dua buah kursi panjang saling berhadapan di bawah pohon dengan sebuah meja panjang di tengah antara dua kursi yang berhadapan.


"Duduk dulu di sini, aku cari minuman", ucap Satria.


"Aku ikut", seru Renata sambil berlari menyusul Satria.


Sisi dan Rama menunggu di bawah pohon rindang itu. Sisi meletakkan kepala nya diatas meja untuk menghilangkan rasa sakit nya.


"Mau minum obat ga?" tanya Rama


"Ga usah Ram, istirahat sebentar nanti juga hilang sakit nya", jawab Sisi.


Satria dan Renata sengaja menjauh sebentar dari Sisi karena dia ingin bicara hal penting dengan Ibu nya di telepon.


Renata menyarankan bahwa mereka harus minta bantuan Ayah dan Ibu Satria supaya menjauhkan Sisi dari Eyang dan Mila.


"Halo Ibu lagi dimana sekarang ?" tanya Satria pada Ibu nya ketika telepon nya di jawab.


"Ibu sama Ayah lagi di jalan mau ketemu rekan bisnis Ayah", jawab Ibu nya di sebrang sana.


"Aku butuh bantuan Ayah dan Ibu", ucap Satria.


Dia menjelaskan pada Ibu nya bahwa dia merasa Eyang kurang suka pada Sisi dan Mila yang selalu berusaha mencari perhatian Satria oleh karena itu dia ingin menjauhkan Sisi dari Eyang dan Mila.


Satria minta Ibu nya supaya nanti malam mengantar koper Sisi dan Renata ke hotel tempat mereka menginap.


Ibu Satria menyetujui permintaan anak nya. Telepon di tutup oleh Satria.


"Apa kata Satria ?" Ayah bertanya pada Ibu, ingin tau.


Ibu menceritakan pada Ayah keinginan Satria dan alasan nya melakukan hal itu.


"Apa mungkin Satria sudah tau maksud dan tujuan Eyang terhadap dirinya dan Mila ?" tanya ayah sambil berpikir.


"Sepertinya belum deh, dia hanya merasa Eyang kurang menyukai Sisi", jawab Ibu.


Malam hari nya, orang tua Satria menemui anak anak nya di hotel tempat mereka menginap.


Renata sudah meminta bantuan Sekretaris Mama nya untuk memesan dua kamar hotel untuk mereka menginap selama dua malam.


Dia sengaja tidak memakai nama salah satu dari mereka berempat supaya Eyang tidak bisa melacak keberadaan mereka menginap dimana.


Eyang menanyakan keberadaan mereka ber empat ke Ayah Satria, dan Ayah menjawab kalau mereka menginap di rumah kerabat Renata yang kebetulan sedang berlibur juga di Jogja.


Akhirnya mereka bisa menikmati liburan tanpa gangguan Eyang dan Mila.


Sisi dan Renata kembali ke rumah Eyang saat mereka sudah akan kembali ke Jakarta bersama Ayah dan Ibu Satria.


Mereka hanya mampir sebentar untuk pamit pada Eyang. Satria dan Renata berhasil menjauhkan Sisi dari Eyang dan Mila. Semua yang dilakukan Satria demi melindungi Sisi karena Eyang tidak menyukai Sisi.


^^bantu like dan vote nya ya readers supaya author nya tambah semangat, terima kasih semuanya^^😘😘


Villa Eyang, Jogja


__ADS_1


__ADS_2