
Waktu berlalu, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Tiga minggu sudah sejak Satria ke Jakarta merayakan ulang tahun Sisi. Selama tiga minggu pula mereka belum ada bertemu lagi.
Satu minggu lagi mereka akan liburan ke Malang. Ayah dan Ibu Satria turut serta. Semua sudah dipersiapkan. Tiket Kereta untuk keberangkatan, Hotel dan mobil untuk perjalanan mereka selama di sana dan tiket Pesawat untuk pulang.
Tempat tempat yang akan mereka tuju pun sudah mereka bahas dan sudah di tentukan. Renata dan Sisi yang mengatur segala nya. Untuk kali ini, Kedua orang tua Satria tidak bisa ikut membantu persiapan karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum berangkat liburan.
Dengan senang hati Renata dan Sisi mengatur perjalanan liburan mereka kali ini.
"Nanti liburan berikutnya setelah dari Malang, kita minta ke luar negeri ya", tawa Renata di sela sela kesibukan mereka siang ini.
Renata dan Sisi sibuk belanja kebutuhan untuk berangkat ke Malang. Ibu Satria sudah memberikan catatan apa apa saja yang dibeli dan Ibu juga sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening Sisi untuk kebutuhan perjalanan mereka
"Bu, untuk perlengkapan liburan ke Malang apa sudah Ibu siapkan ?" tanya Ayah ketika mereka sedang makan siang di kantor.
"Ibu sudah minta tolong Sisi yang menyiapkan semua", jawab Ibu.
"Enak ya Bu kalau kita punya anak perempuan, bisa bantuin urus urus keperluan kalau kita lagi sibuk", ucap Ayah dengan tatapan menerawang.
Ayah terbayang wajah anak perempuan yang sudah dipanggil lebih dulu oleh Tuhan.
"Iya, Ibu bersyukur ada Sisi. Dia tulus sayang sama kita juga bukan hanya sama Satria", Ibu tersenyum membayangkan wajah Sisi.
Sejak pertama kali Satria menceritakan gadis yang membuat hati nya bergetar, Ibu sangat penasaran ingin bertemu Sisi.
Ketika sudah bertemu Sisi, semakin Ibu menyukai nya. Terlebih saat Ibu tau Sisi anak yatim piatu, jauh di lubuk hati nya sudah menganggap Sisi sebagai anak nya.
Meskipun Sisi nanti nya tidak berjodoh dengan Satria tapi bagi Ibu, Sisi tetaplah anak gadis nya.
Ayah pun demikian. Attitude Sisi yang sangat baik dan kecerdasan nya membuat Ayah juga langsung merasa bahwa Sisi adalah anak gadisnya. Dia seperti menemukan kembali anaknya yang sudah pergi selamanya jika berada di dekat Sisi.
Sementara itu di sebuah Mall yang cukup besar di Jakarta,
"Kita anter belanjaan yang ini dulu ke mobil nanti kita balik lagi", ajak Renata yang sudah menenteng tas belanja di tangan kanan dan kiri nya.
Sisi mengikuti langkah gesit Renata menuju parkiran.
"Semua kebutuhan Ibu, Ayah, Satria dan Rama sudah beres, sekarang tinggal buat kita ya", ucap Sisi.
" Makan dulu ya, laper", ajak Renata.
"Hmm..", jawab Sisi sambil mengangguk.
Mereka berdua menuju restoran steak. Hari ini Renata ingin makan steak supaya tenaga nya terisi kembali dengan maksimal.
Sisi hanya bisa tertawa mendengar alasan Renata memilih daging hari ini karena biasanya Renata kurang suka daging.
__ADS_1
Selesai makan, mereka melanjutkan mencari barang kebutuhan mereka berdua. Sore hari mereka keluar dari Mall tersebut, semua yang mereka butuhkan sudah dibeli tinggal menunggu hari berangkat yang tidak lama lagi.
Adzan magrib berkumandang ketika mereka sampai di rumah Satria. Ayah dan Ibu Satria juga baru sampai. Ibu mengajak mereka shalat magrib dan makan malam bersama.
Selesai shalat magrib, Sisi dan Renata membantu Ibu menyiapkan makan malam. Bibi sudah memasak sebelum dia pulang, jadi Sisi dan Renata hanya membantu memanaskan masakan nya.
Selesai makan malam, Sisi menyerahkan semua belanjaan pada Ibu kemudian dia dan Rena pamit pulang.
"Rekapan belanja nya nanti Sisi buat di rumah ya Bu, nanti Sisi kirim ke Ibu", ucap Sisi.
" Iya santai aja sayang, ga di rekap juga ga apa apa nak", jawab Ibu.
"Ga apa apa Bu biar ada pembukuan nya", jawab Sisi sambil tersenyum.
Sisi dan Renata pulang. Ibu dan Ayah menuju kamar sambil membawa barang barang yang di serahkan Sisi tadi.
"Semua sesuai dengan yang Ibu mau, menantu idaman yang bisa diandalkan", ucap Ibu sambil tersenyum.
Ayah yang mendegar ucapan Ibu jadi merasa bersalah di dalam hati nya karena Eyang menginginkan gadis lain untuk menjadi pendamping hidup Satria.
"Apapun akan kulakukan demi kebahagiaan Istri dan Anak ku", batin Ayah.
Di kost Sisi,
Selesai mandi dan shalat isya, Sisi merebahkan badan diatas kasur nya. "Pegel banget kaki", ucap Sisi pada dirinya sendiri.
Satria,
malam bidadari hatiku, lagi apa sayang ?
Sisi,
malam juga, baru rebahan
Satria,
pulang jam berapa shoping ?
Sisi,
sampai di rumah Ibu pas adzan magrib
Satria,
capek ya ?
__ADS_1
Sisi,
ga terlalu 😊
Satria,
ya udah istirahat..love u 😘
Sisi,
kamu juga..😘😘
Satria pov,
Aku beruntung bertemu dengan gadis sebaik dan setulus Sisi. Tidak hanya menyayangi ku, tapi dia juga menyayangi keluarga ku. Apapun akan ku lakukan demi memperjuangkan dirinya. Meskipun aku harus kehilangan status sebagai cucu Eyang pun aku rela demi bisa hidup bersama dengan Sisi.
Dia mencintaiku dengan tulus bukan karena harta. Gadis mandiri yang tidak mau bergantung hidup pada orang lain. Gadis cerdas yang selalu tekun dan fokus pada apa yang ingin dia raih.
Aku berjanji pada diriku, akan membantu dia mewujudkan impian nya , sebagai bukti betapa aku sangat mencintai nya.
Aku akan segera bicara pada Eyang bahwa aku menolak perjodohan dengan Mila. Apapun resiko nya akan aku hadapi demi Sisi.
*************
Satu hari sebelum berangkat ke Malang,
Satria dan Rama keluar dari kamar. Rama membawa ransel kecil di punggung nya yang hanya berisi charger hp dan headset serta tiket pesawat untuk dirinya dan Satria ke Jakarta. Mereka sengaja tidak membawa baju karena semua keperluan ke Malang sudah di siapkan di Jakarta.
"Kalian mau kemana?", tanya Eyang ketika mereka pamit.
"Pulang ke Jakarta", jawab Satria.
"Memang besok ga kuliah ?", tanya Eyang lagi.
"Kita libur sampai hari Jumat", jawab Rama.
"Kok Mila ga cerita ya kalau besok libur", Eyang bertanya pada dirinya sendiri.
"Kita sama Mila kan beda Fakultas Eyang, mungkin Fakultas Mila ga libur" , jawab Rama asal saat mendengar Eyang tadi berucap.
Satria sudah memesan taksi online dan begitu taksi datang Mereka langsung pergi.
Tinggal Eyang sendirian duduk di teras depan rumah nya yang lebih cocok di sebut Villa karena besarnya.
"Aku akan mempercepat pertunangan Satria dan Sisi", ucap Eyang dalam hati.
__ADS_1
"Kalau Satria menolak maka dia harus nemerima resiko nya dan aku yakin Satria tidak akan bisa menolak", batin Eyang.
^^readers yang baik hati jangan lupa dukungan nya untuk karya pertama author ini, supaya tetap semangat nulisnya^^☺☺☺