
Satu bulan sudah Rama dan Renata menikah. Mereka sudah menetap di apartemen yang dibelikan oleh Ayah dan Ibu untuk mereka, sama hal nya dengan Satria dan Sisi yang dulu juga dibelikan apartemen ketika akan menikah.
Rama dan Renata menunda perjalanan bulan madu mereka, karena Renata ingin pergi bersama Sisi nanti. Rama menyetujui permintaan istrinya.
Sisi dan Satria sedang mempersiapkan pernikahan mereka, dibantu oleh Ibu dan wedding organizer. Satria masih sibuk dengan beberapa proyek yang harus segera diselesaikan.
"Kak, sebaiknya kaka fokus sama persiapan pernikahan Kaka, urusan proyek biar aku yang urus", ucap Rama mengingatkan Satria.
"Kamu tenang aja, sudah ada Ibu dan WO juga yang bantu, Farizz juga sudah di urus Sisi dengan baik", jawab Satria.
"Nanti panik kalau Sisi pergi lagi", goda Rama tertawa.
Satria melotot dan melempar pulpen ke arah adiknya ketika mengingatkan dulu Sisi pergi menjelang hari pernikahan mereka.
"Untuk kali ini insyaAllah tidak ada lagi hambatan karena Eyang sudah merestui", Satria tersenyum.
********
Siang hari di depan Sekolah Farizz....
"Mama kemana ya tumben belum jemput", Farizz menengok ke kanan dan kiri.
Sisi hari ini agak terlambat menjemput Farizz. Dia ada pertemuan dengan seorang klien yang lokasinya agak jauh dari sekolah Farizz.
Sisi mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena khawatir Farizz akan menunggu lama. Diperjalanan, Sisi sudah mencoba menelpon Renata tetapi Rena tidak menjawan telepon nya.
"Akhirnya sampai juga", batin Sisi.
Sisi memarkir mobilnya di seberang sekolah Farizz. Segera dia keluar dari mobil dan menjemput Farizz. Di sebrang, Farizz sudah melihat mobil Sisi berhenti.
"Mama..horeee itu Mama datang", sorak Farizz gembira.
Karena tidak sabar menunggu Sisi, Farizz segera berlari menghampiri Sisi. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Ketika Farizz mencoba menyebrang jalan untuk menghampiri Sisi, mobil itu tidak bisa menghindari Farizz. Tubuh Farizz terpelanting cukup jauh akibat hantaman mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Sisi yang mendengar suara teriakan langsung melihat ke tengah jalan. Sisi menghampiri seorang anak yang tergeletak agak jauh dari nya, kondisi anak itu sudah bersimbah darah. Alangkah terkejutnya Sisi ketika sudah sangat dekat dengan anak itu yang ternyata adalah Farizz.
"Fariiiizzzzzzz", Sisi berteriak dan langsung memeluk Farizz yang sudah tidak sadarkan diri. Sisi segera menggendong Farizz ke mobilnya, dengan dibantu oleh beberapa orang di lokasi kejadian. Sisi mengendarai mobilnya dengan cepat dan sangat panik. Air mata tidak berhenti mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Farizz bertahan Nak, Mama mohon Farizz harus bertahan demi Ayah, demi Mama", Sisi terus mengucapkan kata kata itu disepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Sisi sampai di rumah sakit, segera dia meminta pertolongan kepada petugas rumah sakit. Farizz segera di bawa ke ruang penanganan. Dengan rasa takut Sisi menunggu di luar. Dia menelpon Satria sejak di perjalanan tadi tapi belum diangkat. Sisi juga menelpon Rama tapi hasilnya sama.
"Mungkin mereka sedang meeting", batin Sisi.
Sisi memutuskan menelpon Ibu dan Renata. Kebetulan Ibu sedang berada tidak jauh dari rumah sakit, segera Ibu menuju rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Farizz sayang ?", tanya Ibu ketika sampai di depan Sisi.
"Aku belum tau Bu karena dokter belum keluar dari ruangan itu", jawab Sisi menangis.
"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal buruk pada Farizz", ucap Sisi.
"Sayang..jangan berkata begitu, ini bukan salah kamu, ini kecelakaan", Ibu berusaha menenangkan Sisi.
Satria dan Rama tiba di rumah sakit. Hampir bersamaan, Renata dan Ayah serta Eyang juga tiba di rumah sakit. Semua menemui Sisi dan Ibu di depan ruang penanganan Farizz.
"Aku minta maaf, Aku gagal menjaga Farizz dengan baik", Sisi minta maaf pada Satria.
"Ga sayang, ini bukan salah kamu. Pelaku tabrak lari nya sedang dicari polisi. Sekarang kamu berdoa ya untuk kesembuhan Farizz", Satria memeluk Sisi dan menenangkan.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter ?", tanya Satria cemas.
"Anak bapak kehabisan banyak darah, kebetulan persediaan darah dengan golongan AB Negatif sedang menipis di rumah sakit ini", jawab sang dokter menjelaskan.
"Ambil darah aku aja dokter, golongan darah aku sama dengan Farizz", Sisi menawarkan darahnya.
"Mari ikut saya, supaya diperiksa dulu", ajak seorang perawat yang mendampingi sang dokter.
Sisi segera mengikuti perawat tersebut, Satria mendampingi Sisi. Satria tau Sisi merasa sangat bersalah dan mengkhawatirkan Farizz, karena itu dia tidak ingin membiarkan Sisi sendirian. Satria ingin selalu ada di samping Sisi untuk memberikan semangat dan menenangkan.
Golongan darah Sisi cocok untuk Farizz dan kondisi Sisi juga cukup baik untuk menjadi seorang pendonor. Akhirnya Farizz bisa mendapatkan darah sesuai yang dia butuhkan.
Dokter sudah memindahkan Farizz ke ruang perawatan. Farizz sudah berhasil melewati masa kritisnya , hanya saja belum siuman. Semua berkumpul di ruang perawatan Farizz.
"Ayah, Ibu dan yang lain pulang saja dulu, biar aku dan Sisi yang jaga Farizz disini", ucap Satria pada keluarga nya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita pamit dulu, besok pagi Ibu kesini ya", jawab Ibu.
Sisi memberikan kunci apartemen nya kepada Renata supaya besok pagi Renata bisa membantu mengambilkan baju ganti untuk Sisi.
"Jangan lupa makan dulu ya, besok aku kesini lagi", Renata memeluk Sisi dan berpamitan.
Satria memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan Sisi. Sejak tadi Farizz dibawa ke rumah sakit Sisi belum makan dan minum sama sekali.
"Makasih ya sayang, sudah bantu Farizz melewati masa kritisnya", Satria memeluk Sisi.
"Farizz anak ku juga jadi sudah kewajiban ku menyelamatkan anak ku", Sisi tersenyum tulus.
Makanan yang di pesan Satria sudah datang. Satria menyiapkan makanan nya untuk Sisi dan untuk dirinya.
"Setelah makan, kamu tidur dulu sayang, biar aku yang temani Farizz, Satria berkata pada Sisi.
"Aku mau tunggu sampai Farizz siuman", jawab Sisi.
"Ya sudah kita temani Farizz berdua ya", Satria memeluk Sisi untuk memberikan Sisi kekuatan.
"Maafkan Aku..ke depan nya Aku janji akan menjaga Farizz lebih baik lagi", Sisi masih sangat merasa bersalah.
"Sayang..ga ada yang menyalahkan kamu, ini murni kecelakaan, CCTV di jalan depan sekolah Farizz sudah di periksa dan pelaku nya sedang di kejar polisi", jelas Satria.
Sisi tidak berhenti berdoa agar Farizz segera sadar kembali. Sisi duduk di sebelah kanan ranjang Farizz dan Satria berada di sebelah kirinya. Sekitar pukul dua belas lewat Farizz menggerakkan jari jari nya perlahan.
Sisi yang menyadari hal itu langsung memberitahu Satria dan segera Satria memanggil dokter untuk mengecek kondisi Farizz.
☆
☆
☆
☆
☆
__ADS_1
^^readers jangan lupa like vote dan komen nya..doakan author semoga tetap selalu bisa update cerita ini sampai akhir..makasih banyak readers^^🥰🥰🥰🥰