
Sisi terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Dia segera menuju kamar mandi, bersih bersih lalu melaksanakan shalat subuh.
Di lihat nya jam dinding di kamar nya masih menunjukkan pukul lima. Sisi mengambil Al Qur'an kemudian mulai membaca nya.
Sekitar setengah jam membaca Al Qur'an, Sisi menyudahi.
Sisi menyibak tirai di kamar lalu membuka jendelanya. Hal yang dia lalukan setiap pagi. Udara sejuk mulai memasuki kamar.
HP nya diatas meja bergetar, pesan masuk dari Satria.
Satria
pagi sayang
Sisi
pagi juga
Satria
Jam tujuh aku jemput ya, jangan lupa nasi goreng nya
Sisi
iya, ga lupa kok
Satria
oke sayang, selesai sarapan kita ke makam Ayah Ibu kamu
Sisi
iya, makasih ya udah mau anter
Satria
😘😘😘😘😘
Sisi beranjak membuka kulkas mencari bahan bahan membuat nasi goreng.
"Untung masih punya stok bahan masakan", batin Sisi.
Dia segera beranjak ke dapur, membuatkan nasi goreng spesial untuk Satria, sesuai permintaan nya kemarin.
Sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA, Sisi sering membawakan Satria nasi goreng buatan nya, tentu saja atas permintaan Satria.
Sejak mereka kuliah beda kota, sudah tidak pernah lagi Sisi lakukan.
Kemarin tiba tiba Satria meminta dirinya membuatkan lagi nasi goreng. Maka dengan senang hati Sisi buatkan.
Sisi meletakkan nasi goreng nya dalam sebuah kotak makan, memasukkan dua buah sendok untuk Satria dan dirinya nanti makan.
Dia juga membawa sebotol susu kurma untuk diri nya dan sebotol jus jeruk untuk Satria.
__ADS_1
Dia segera mandi dan bersiap, karena sebentar lagi Satria akan menjemput.
Setengah jam kemudian, pesan masuk dari Satria yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di kostan Sisi.
Segera Sisi mengambil bekal yang sudah dia siapkan, mengunci kamar nya lalu turun menemui Satria.
"Cantik banget tuan putri aku pagi ini", puji Satria saat Sisi sudah masuk ke dalam mobil.
"Berarti kemarin kemarin ga cantik ya", jawab Sisi tertawa.
"Setiap hari cantik, tapi pagi ini sangat cantik", ralat Satria, menatap Sisi dengan sangat lekat membuat debaran jantung Sisi tidak karuan.
"Jadi kita mau sarapan dimana ?" tanya Sisi untuk mengalihkan perhatian Satria.
Sisi tidak ingin debaran jantung nya semakin cepat jika berlama lama ditatap seperti itu oleh Satria.
"Di taman deket sini aja ya", ajak Satria.
"Baiklah pangeran berkuda aku", jawab Sisi sambil tersenyum manis pada Satria.
"Jangan goda kalau ga mau aku cubit pipinya", ucap Satria gemas.
Sisi pun kembali tertawa.
"Aku senang lihat kamu bahagia", ucap Satria sambil melajukan mobilnya ke arah taman.
"Aku pasti akan selalu bahagia karena aku punya kamu", jawab Sisi kembali dengan senyum manis menghiasai bibirnya.
"Aku akan memperjuangkan kamu sampai kapan pun dan dengan cara apapun aku akan menolak perjodohan Eyang", batin Satria.
Mereka duduk disebuah bangku panjang yang terdapat di taman. Sisi membuka bekal yang dia bawa.
Satria sudah tidak sabar ingin menikmati nasi goreng buatan Sisi. Sudah lama dia merindukan masakan Sisi tersebut.
Mereka makan dalam diam, hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali beradu. Sisi menyerahkan jus jeruk pada Satria saat nasi goreng nya sudah habis.
Dan untuk dirinya, Sisi meminum susu kurma yang tadi sudah dia siapkan.
"Suatu hari nanti, setiap pagi kita akan seperti ini ya sayang, selalu sarapan sama sama", ucap Satria.
"InsyaAllah jika kita berjodoh", jawab Sisi.
Sisi merapikan kotak makan dan botol minum nya kembali.
Mereka menuju makam kedua orang tua Sisi. Mereka mampir si toko bunga terlebih dahulu.
Sisi memilih bunga Lily, kesukaan Ibu nya.
Sama hal nya dengan Ibu Satria yang menyukai bunga Lily, almarhumah Ibu Sisi juga menyukai bunga Lily.
Sampai di makam orang tua Sisi yang berdampingan, Sisi dan Satria berdoa sejenak.
"Ayah, Ibu, Sisi datang lagi dan hari ini Sisi datang sama Satria lagi. Kemarin malam Satria memberikan ini pada Sisi, sebagai tanda keseriusan nya sama Sisi", Sisi berkata sambil menunjukkan cincin pemberian Satria.
__ADS_1
"Sisi minta restu dari Ayah dan Ibu", lanjut Sisi.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu..Satria janji akan selalu berusaha menjaga dan membahagiakan Sisi", giliran Satria yang bicara.
Tanpa terasa air mata menetes di pipi Sisi begitu saja tanpa komando.
Satria yang melihat, langsung menghapus air mata yang mengalir di pipi Sisi tersebut.
"Aku akan selalu ada buat kamu, jangan pernah merasa sendirian", ucap Satria sambil menggengam erat tangan Sisi.
"Aku rindu di peluk Ibu dan Ayah", Sisi terisak.
"Nanti selesai ngajar sore main ke rumah ya", ajak Satria.
Satria tau bahwa jika Sisi sudah rindu orang tua nya, hal yang bisa mengalihkan adalah kedua orang Satria terutama Ibu nya.
Selama ini, walaupun Satria sedang tidak di Jakarta, Sisi akan tetap berkunjung ke rumah Satria, menemani orang tua Satria di sela sela waktu luangnya.
Sisi yang sudah tidak memiliki orang tua, mendapat limpahan kasih sayang dari orang tua Satria sebagai ganti nya.
Begitu pun kedua orang tua Satria yang sempat kehilangan seorang anak perempuan, kini tergantikan oleh kehadiran Sisi.
Satria pernah punya Kaka perempuan terpaut usia tiga tahun dengan nya. Namun di saat usia Kaka nya baru lima tahun ternyata Tuhan menjemput nya kembali lewat sebuah penyakit.
Setelah cukup lama berada di makam orang tua Sisi, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat Sisi mengajar privat jadwal yang pertama.
Hari ini ada tiga jadwal Sisi mengajar, sama seperti kemarin.
"Kamu pulang dulu aja ga apa apa kok sayang, kasian kalau nungguin", ucap Sisi ketika sudah sampai di tempat dia mengajar.
"Aku nunggu aja di mobil kayak kemarin, ga apa apa kok, aku mau nemenin kamu selagi masih bisa", jawab Satria.
"Beneran ga apa apa ?", tanya Sisi lagi.
"Iya sayang", jawab Satria tersenyum lembut meyakinkan Sisi.
"Ya udh aku turun dlu, kalau kamu bosen tinggal aja sayang, ga apa apa kok" ucap Sisi lagi sebelum dia turun dari mobil.
"Aku bakalan nunggu, udah kamu fokus aja ngajar nya aku mah ga apa apa disini", kembali Satria meyakinkan Sisi.
Cukup berada di tempat yang sama dengan Sisi, sudah membuat Satria senang.
Dia akan menunggu sampai Sisi menyelesaikan semua tugas tugas mengajar nya hari ini.
Apapun hal yang dilakukan Sisi, selalu Satria ingin menjadi orang pertama yang mendukung nya.
Rasa cinta nya yang besar dan tulus terhadap Sisi, membuat Satria selalu ingin menjadi yang terdepan bagi Sisi.
Satria sudah berjani pada dirinya, pada Sisi dan pada almarhum kedua orang tua Sisi juga bahwa dia akan selalau menjaga dan membahagiakan Sisi.
"Apapun akan aku korbankan nantinya demi Sisi", batin Satria.
"Aku akan menolak dengan keras perjodohan dari Eyang", ucap Satria dalam hati.
__ADS_1
^^readers di tunggu like dan vote nya ya supaya author tambah semangat nulis, makasih readers^^😘😘😘