
Satria segera memarkir mobilnya dan menemui Ayah nya di taman belakang di rumah nya.
Ayah dan Ibu serta Rama saling tatap ketika Satria datang dengan kondisi yang sangat kacau.
"Ada apa Nak , bukan nya tadi kamu akan ke kantor? " , tanya Ibu cemas.
"Sisi pergi dan ini semua karena Eyang", Satria menyerahkan surat dari Sisi pada Ibunya dan meletakkan kotak yang dia bawa diatas meja.
Kedua orang tua nya dan Rama membaca surat yang di tinggalkan Sisi. Mereka semua kaget membaca isi surat Sisi dan tidak menyangka jika Eyang bertindak sejauh ini.
"Dan ini apa ? " , tanya Ibu menunjuk kotak yang diletakkan Satria diatas meja.
"Sisi meninggalkan semua barang pemberianku termasuk cincin pertunangan kami", jawab Satria dengan air mata menetes kembali di pipi nya.
Kedua orang tua nya dan Rama memahami hancur nya Satria. Ayah nya segera menelpon Eyang dan meminta penjelasan.
"Oh jadi gadis itu sudah pergi, bagus lah berarti dia benar gadis yang baik karena dia menepati janji nya padaku", ucap Eyang tanpa punya rasa bersalah.
"Apa Ibu tau jika hal yang Ibu lakukan telah menghancurkan cucu Ibu", jawab Ayah kecewa pada Eyang.
"Dia akan segera melupakan gadis itu jika sudah menikah dengan Mila", ucap Eyang santai.
"Besok Aku akan ke Jakarta bersama Mila dan juga keluarga nya dan pernikahan Satria dan Mila akan segera berlangsung", Eyang menegaskan perjodohan tetap akan terjadi.
Ayah memutus sambungan telepon tanpa merespon kata kata Eyang yang terakhir.
"Akhirnya", ucap Eyang dengan senyum penuh kemenangan. Segera Eyang memberitahu Mila dan juga keluarga nya untuk segera bersiap ke Jakarta besok.
Sementara itu Satria masih dengan kondisi yang sangat kacau. Dia menghubungi Renata menanyakan apakah Sisi ada menceritakan sesuatu tentang pertemuan nya dengan Eyang. Renata yang memang tidak mengetahui tentang hal itu juga kaget ketika Satria menceritakan tentang kepergian Sisi.
"Kemana Aku harus mencari Sisi", ucap Satria terduduk lemas.
"Ayah akan bantu mencari keberadaan Sisi", Ayah berusaha menguatkan Satria.
London..
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat belas jam akhirnya Sisi tiba di kota London. Sebuah mobil sudah menunggu mereka. Segera Pak Albert mempersilahkan Sisi masuk ke dalam mobil di ikuti oleh asisten Pak Albert setelah memastikan bahwa barang bawaan mereka semua sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita menuju apartemen", perintah Pak Albert pada supirnya yang ternyata orang Indonesia juga.
Dalam perjalanan nya Pak Albert menelpon Jonathan anak nya. Dia menyuruh Jo untuk datang ke apartemen tetapi ke unit yang berbeda.
Lokasi apartemen yang akan ditempati Sisi sama dengan tempat dimana Jonathan tinggal saat ini. Pak Albert menyewakan sebuah unit untuk Sisi yang berada persis di hadapan unit yang ditempati Anak nya.
"Hhhmmm..ada apa sih Papa menyuruhku pulang jam segini", Jonathan melirik jam tangan nya waktu menunjuk pukul sebelas siang.
Pak Albert beserta asisten nya dan Sisi sampai di apartemen yang akan ditempati Sisi. Pak Albert mempersilahkan Sisi masuk dan meletak kan barang barang nya di kamar.
Dia dan asisten menunggu Sisi di ruang tamu sekalian juga menunggu Jonathan.
Selesai meletak kan barang barang nya Sisi kembali ke ruang tamu bergabung dengan Pak Albert.
Sisi mengamati sekeliling apartemen nya.
"Bagus dan nyaman", batin Sisi.
Sisi masih tidak menyangka jika sekarang dirinya sudah sangat jauh dari Satria. Mereka terpisah jarak ratusan kilometer kini. Hatinya sakit mengingat semua hal tentang Satria. Cinta yang tidak bisa dia miliki, ternyata begitu menyakitkan.
"Nanti Nona Sisi akan tinggal di sini ya, semoga suka", jelas Pak Albert.
"Persis di depan unit ini adalah tempat tinggal anak saya Jonathan yang menjadi pimpinan perusahaan kita di sini", kembali Pak Albert menjelaskan.
Sisi mengangguk tanda mengerti. Tiba tiba bel berbunyi, sang asisten segera berdiri untuk membuka pintu. Ternyata Jonathan yang datang.
Sisi melihat seorang laki laki tampan dan berkharisma berjalan ke arah nya dan Pak Albert.
Laki laki itu mencium tangan Pak Albert, lalu segera duduk di hadapan Sisi. Sekilas dia melirik Sisi kemudian kembali fokus pada Pak Albert.
"Apakah ini anaknya Pak Albert", batin Sisi.
"Sisi perkenalkan ini anak bungsu saya Jonathan dan Jo kenalkan ini Sisi, yang akan membantu mu di perusahaan", jelas Pak Albert pada kedua nya.
Sisi menjabat tangan Jonathan sopan. Pandangan Jonathan tidak lepas dari Sisi dalam beberapa detik. Tangan nya pun masih menggengam erat tangan Sisi. Jonathan terpana dengan kecantikan alami yang terpancar dari wajah Sisi. Dia seperti melihat sosok Ibu nya dalam diri Sisi, cantik luar dalam.
Begitu pun dengan Sisi yang seperti terhipnotis dengan tatapan maut dari mata elang milik Jonathan. Pak Albert seketika berdehem dan mereka berdua menyadari jika mereka masih saling tatap dan saling berjabat tangan.
__ADS_1
Segera Sisi menarik tangan nya dari genggaman Jonathan dan menatap ke sembarang arah.
Pipi nya memerah karena merasa malu ketauan terpana pada sosok Jonathan.
"Sepertinya pertanda baik", batin Pak Albert.
"Selain akan membantu mu di perusahaan, Sisi juga akan mengambil kuliah S2 disini", Pak Albert menambahkan penjelasan nya.
"Kalau begitu Nona Sisi silahkan beristirahat dahulu besok pagi bisa mulai ke kantor dengan Jonathan dan untuk kuliah baru akan dimulai bulan depan", Pak Albert pamit dan memberikan waktu untuk Sisi beristirahat.
"Ini ponsel baru untuk Nona Sisi , sudah memakai kartu yang sesuai dengan kota ini", ucap asisten sambil menyerahkan paper bag berisi ponsel baru pada Sisi.
Sisi mengantar Pak Albert serta asisten nya dan juga Jonathan , setelah ketiga orang itu masuk ke apartemen Jonathan segera Sisi mengunci pintu dan menuju kamar untuk istirahat.
^^Jonathan^^
Ketika aku memasuki unit yang diperintah kan oleh Papa, dari jauh aku melihat seorang gadis sedang duduk di hadapan Papa. Setelah aku berada di hadapan nya sekilas aku menatap nya. Kecantikan alami yang membuat ku terpana dan tatapan mata nya membuat ku terhipnotis tak berdaya. Jantung ku berdetak tidak karuan hanya dengan menatap mata nya. Perasaan yang belum pernah aku rasakan ketika berhadapan dengan gadis manapun.
Rasanya ingin selalu menatap nya. Ingin selalu di dekat nya. Aku menyukai sentuhan lembut tangan nya ketika kami berjabat tangan. Apakah dia gadis yang Tuhan kirimkan untuk mengisi ruang hati ku yang kosong selama ini.
^^Pak Albert^^
Aku tau anak ku terpana pada Nona Sisi sejak awal dia melihat Nona Sisi duduk di hadapan ku. Aku tau ketika anak ku tidak bisa melepaskan tatapan nya dari Nona Sisi ketika mata mereka bertemu pandang. Aku berharap mereka bisa bersama. Aku berharapa Nona Sisi bisa merubah anak ku yang dingin seperti es bisa menghangat.
☆
☆
☆
☆
☆
Akankah harapan Pak Albert bisa menjadi nyata atau hanya sekedar harapan karena Sisi telah mengunci hati nya untuk Satria dan selamanya tidak akan bisa memberi ruang untuk laki laki lain.
☆
__ADS_1
☆
^^jangan lupa like vote dan komen ya readers^^