Sisi, Jodoh Yang Tertunda

Sisi, Jodoh Yang Tertunda
Keputusan Sisi


__ADS_3

Ayah dan Ibu harus kembali ke Jakarta lebih awal karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Sebelum berangkat ke Jakarta, Ayah dan Ibu mengambil barang barang Sisi di hotel tempat dia menginap. Ayah dan Ibu juga memberikan tanda terima kasih pada Ayu, pada resepsionis dan dua orang lagi teman nya yang sudah membantu mengurus Sisi sampai mendapatkan perawatan di rumah sakit.


"Maafkan Ayah dan Ibu tidak bisa menjaga Sisi sampai sehat", ucap Ayah ketika pamit akan pulang lebih dulu ke Jakarta.


"Ga apa apa Ayah, terima kasih selalu membantu Sisi dan maaf jika Sisi sering merepotkan Ayah dan Ibu", jawab Sisi yang merasa tidak enak karena sering merepotkan.


"Kami semua ga merasa direpotkan sama sekali kok sayang", Ibu berkata sambil masih duduk di tepi ranjang Sisi dan membelai lembut rambut Sisi.


"Pikirkan saran Ayah yang tadi pagi ayah katakan, ini demi kebahagiaan kalian", ucap Ayah lagi mengingatkan Sisi dan Satria.


Mereka berdua hanya mengangguk dan tersenyum. Ayah dan Ibu segera meninggalkan rumah sakit dan menuju Bandara Juanda untuk segera kembali ke Jakarta.


Rama dan Renata sedang mencari makan di luar, kini hanya Satria dan Sisi di dalam ruangan. Lama mereka saling diam. Satria hanya menatap Sisi lekat tanpa bicara satu kata pun. Sisi kembali merasa jantung nya tidak normal setiap di tatap seperti itu.


"Jadi bagaimana menurut mu mengenai saran Ayah tentang pernikahan kita ? " tanya Satria.


"Aku ingin kita fokus menyelesaikan kuliah dulu, untuk sementara mengenai beasiswa itu biar saja dulu, aku tidak akan mengambilnya, demi kamu", ucap Sisi sambil tersenyum.


"Kalau nanti kita sudah menikah, aku akan coba lagi mengajukan beasiswa di luar negeri supaya bisa kesana di temani suami", Sisi menambahkan.


Satria sangat bahagia mendengar nya. Dia berterima kasih karena Sisi mau menunda sebentar impian nya sampai mereka menikah.


"Makasih ya sayang", Satria mengecup punggung tangan Sisi berkali kali.


"Setelah aku menjauh dari mu, aku baru sadar bahwa ternyata duniaku kembali hampa dan sunyi jika tanpa mu", ucap Sisi.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk jangan pernah pergi lagi dari ku, aku bisa gila", jawab Satria.


Sisi mengangguk dan tersenyum lembut. Satria membelai lembut rambut Sisi dan pindah membelai lembut pipinya. Tangan Satria berhenti pada bibir Sisi. Wajah nya di dekatkan pada Sisi. Detak jantung mereka terdengar seakan sedang berlomba untuk berpacu. Tatapan mereka saling mengunci, Satria semakin mendekatkan wajahnya pada Sisi yang kini hanya berjarak satu senti. Bibir nya hampir saja mengecup bibir Sisi , namun dia mengurungkan niatnya ketika tiba tiba pintu dibuka dari luar.


Renata dan Rama sudah kembali. Wajah Sisi merona menahan malu, dia khawatir kalau Renata dan Rama sempat melihat Satria yang hampir saja mencium nya. Sementara itu Satria berusaha bersikap biasa saja.


"Kalian dari mana lama sekali ? " ucap Satria.


"Bukan kah Kaka berharap kalau kami lebih lama lagi? " sindir Rama sambil menahan tawa yang sejak tadi dia tahan karena melihat Sisi dan Kaka nya salah tingkah ketika dia dan Rena tiba tiba masuk.


Sisi yang mendengar sindiran Rama hanya menunduk, tidak berani menatap Rama dan Renata karena wajah nya masih seperti kepiting rebus menahan malu.


Satria langsung menuju kamar mandi , dia memilih menghindari Rama dan Renata yang sudah memasang ekspresi bersiap untuk menertawakan dirinya dan Sisi.


Satria berpura pura tidak mendengar bahwa kedua adiknya itu sudah menertawakan nya. Dokter datang untuk memeriksa kondisi Sisi. Segala nya telah membaik dengan cepat melebihi perkiraan dokter.


"Nanti sore kami cek lagi perkembangan Nona Sisi, kalau sudah lebih baik dari sekarang maka besok sudah bisa pulang", dokter menjelaskan.


Sisi senang mendengar kemungkinan dirinya sudah bisa pulang besok. Dia tidak suka jika harus berlama lama di rumah sakit. Sisi tidak menyukai bau obat obatan yang tercium jelas di setiap sudut rumah sakit.


"Kalau besok kamu mau langsung pulang ke Jogja ga apa apa kok, aku bisa pulang berdua sama Rena ke Jakarta nya", ucap Sisi pada Satria ketika dia sedang memakan buah buahan yang sudah dikupas oleh Satria.


"Ga sayang, aku mau anter kamu dulu ke Jakarta", jawab Satria tegas tidak ingin dibantah.


**********

__ADS_1


Esok hari nya sesuai perkiraan dokter, Sisi sudah diperbolehkan pulang. Mereka langsung terbang ke Jakarta hari itu juga. Satria yang merasa khawatir kalau kalau Sisi berniat pergi lagi dari nya terpikir sebuah rencana. Begitu dia bertemu dengan kedua orang tua nya, dia mengutarakan maksud nya kepada kedua orang tua nya. Dan kedua orang tua nya menyetujui keinginan Satria.


"Nanti setelah makan malam, aku akan sampaikan tentang rencana ku pada Sisi", batin Satria.


Waktu nya makan malam, semua berkumpul di meja makan seperti biasa. Ibu sudah memasak banyak makanan untuk menyambut Sisi yang sudah sembuh. Semua menikmati hidangan lezat yang dimasak oleh Ibu. Saat nya menikmati hidangan pencuci mulut, semua berpindah ke ruang keluarga. Mereka biasa nya lebih suka menikmati hidangan pencuci mulut di ruang keluarga sambil berbincang bincang tentang hal apa saja.


"Sayang, sewaktu aku menemukan mu di rumah sakit dengan kondisi tak berdaya, aku akhirnya terpirkan satu hal. Tadi aku bicarakan pada Ayah dan Ibu dan mereka setuju dengan permintaan ku. Aku ingin mulai hari ini dan seterusnya sampai kita menikah, kamu tinggal di rumah ini bersama Ayah dan Ibu. Aku tidak ingin kamu tiba tiba menghilang dan pergi lagi dari ku. Kamu tidak usah tinggal di kostan lagi ya. Begitu kuliah kita selesai, segera kita nikah, dan itu ga akan lama lagi sayang". Satria mengutarakan keinginan nya pada Sisi.


"Aku ga mau merepotkan Ayah dan Ibu terus terusan, aku di kostan aja ya", Sisi mencoba bernegosiasi


"Ibu dan Ayah tidak merasa di repotkan justru kami senang bisa bersama kamu sayang", ucap Ibu mendukung keputusan Satria.


"Kamu mau aja beb, supaya Kak Satria bisa fokus sama kuliahnya dan cepat lulus karena Kak Satria lebih tenang juga ninggalin kamu di sini kalau sama Ayah dan Ibu", Renata membantu membujuk Sisi.


"Baiklah, Aku akan ikut apa pun yang sudah Satria atur, aku tau semua untuk kebaikan kami bersama", jawan Sisi tersenyum.


"Makasih sayang", Satria tersenyum lega.


"Besok kita bantuin ambil barang barang di kostan", ucap Rama dan Renata kompak.


Sisi tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada semua yang ada di ruangan itu. Ibu yang duduk di sebelah Sisi membawa Sisi ke dalam pelukan. Lama Ibu membelai lembut rambut Sisi. Ibu seperti mendapatkan kembali anak gadis nya yang sudah tiada dan Sisi merasakan kembali kasih sayang seorang Ibu yang juga sudah lama tiada.


************


^^bantu dukung author ya readers kesayangan, makasik banyak**🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2