
Sepulang nya dari mengantar Sisi, Satria kembali bergabung dengan orang tua nya dan Rama di ruang keluarga.
"Sepertinya, Sisi gadis yang baik", ucap ibu nya pada Satria.
"Apa aku boleh jika menyukai nya Bu ?"
Satria bertanya pada Ibunya.
"Tentu saja boleh", jawab Ibu nya.
"Ibu juga menyukai nya, gadis baik dan santun", sambung ibunya.
"Kelihatan nya juga sangat cerdas", Ayah Satria ikut mengeluarkan pendapat.
Satria menceritakan pada orang tua nya tentang Sisi yang dia ketahui. Orang tua nya merespon dengan baik dan mendukung apapun yang menurut Satria bisa membuatnya bahagia.
Orang tua nya hanya berpesan bahwa Satria harus menjaga Sisi dengan baik, tidak boleh menyakitinya. Satria harus jadi laki laki yang bertanggung jawab dan menjadi pelindung bagi gadis yang dia sayangi.
Semakin hari Satria semakin yakin dengan perasaan nya. Rasa suka dan sayang terhadap Sisi semakin hari semakin besar dalam hati Satria.
Wajah Sisi selalu terbayang dalam benak Satria setiap waktu.
Dia sudah bertekad akan mengungkapkan semua isi hati nya pada Sisi saat hari ulang tahun nya yang ke 17 nanti, hari sabtu nanti.
Mungkin dimata orang orang ini hanya sebuah cinta monyet yang akan hilang dalam waktu singkat. Tapi bagi Satria tidak demikian, dia merasa inilah cinta pertamanya yang akan menjadi cinta sejati nya. Sisi benar benar sudah menyentuh dan mengisi relung hati nya yang terdalam, dimana belum pernah ada gadis lain yang berhasil menyentuh kesana.
Sisi memasuki kelas nya dengan langkah santai, karena hari masih sangat pagi jadi Sisi tidak perlu terburu buru. Satria sudah duduk di meja nya sambil mendengarkan musik di ipod nya.
Mereka tidak bertegur sapa. Hanya saling diam seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Begitulah Satria ketika di sekolah, hanya menatap Sisi dari kejauhan, hampir tidak pernah mengajak nya bicara secara langsung.
Satria merasa tidak nyaman kalau ada teman nya yang lain tau kalau dirinya sedang dekat dengan Sisi, hanya Renata yang tau. Sisi pun tidak pernah bercerita pada siapa pun kecuali Renata yang memang sudah tau dari Satria.
Tiba tiba HP Sisi bergetar. Pesan masuk dari Satria
Satria
ada sebuah kotak di laci mejamu
Sisi langsung melihat ke laci meja dan benar saja, ada sebuah kotak berwarna ungu dengan pita warna senada, sangat manis.
Sisi
apa ini ?
Satria
untuk kamu, nanti buka nya kalau sudah di kost aja
Sisi
baiklah, terima kasih banyak
Satria
sama sama 😍
sabtu ini aku ulang tahun, tidak ada pesta besar hanya makan makan keluarga aja, kamu datang ya jangan sampai ga. Renata juga akan datang
Sisi
insyaAllah
Satria
di tunggu Ibu..
Sisi
iya 😊
Satria
Manis banget
__ADS_1
Sisi
gombal
Satria
serius, ga ada gombal.
jangan sampai ga hadir hari sabtu, aku akan sangat bahagia kalau ada kamu.
Jantung Sisi berdetak dengan sangat cepat membaca chat terakhir Satria. Pipi nya merona merah, dan Satria memperhatikan gerak gerik Sisi dari tempat duduk nya
"Ya tuhan, kenapa dia memperlakukan aku sebaik dan semanis ini, apakah dia benar benar tulus atau hanya ingin main main, aku takut sakit hati ya tuhan", batin Sisi dalam hati.
Sisi bukan lah gadis yang tidak mengerti kisah cinta, layaknya anak remaja seusia nya Sisi juga sudah paham tentang rasa menyukai , mengagumi atau meyayangi seseorang. Hanya saja selama ini Sisi membangun tembok yang tinggi dalam dirinya sebagai pertahanan supaya dia tidak jatuh hati pada laki laki manapun. Sisi takut jika dia sakit hati di usia remaja, dia tidak punya siapa siapa jadi dia tidak mau tersakiti karena cinta.
Tanpa Sisi sadari, seorang Satria sudah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan itu. Sisi memberikan izin pada Satria untuk masuk ke dalam hati nya. Dan sekarang Sisi mulai ketakutan sendiri. Sisi takut akan sakit hati karena dia tau konsekuensi dari jatuh cinta adalah patah hati, dan Sisi takut akan hal itu.
Selesai shalat isya dan makan malam, Sisi segera naik ke tempat tidurnya. Sisi sedang merasa sangat lelah karena pekerjaan rumah nya cukup banyak hari ini. Tiba tiba dia teringat dengan sebuah kotak pemberian Satria yang belum sempat dia lihat apa isinya.
Segera Sisi mengambil kotak itu dan membuka nya. Sisi tersenyum saat melihat isinya adalah novel yang kemarin dia ingin beli.
Kenapa dia harus repot repot membelikan ini untuk ku, batin Sisi dalam hati.
Dia mengambil HP nya dan mengirim pesan pada Satria.
Sisi
terima kasih buku nya, kenapa harus repot repot membelikan untuk ku
Lama menunggu balasan tapi tidak kunjung ada, mungkin dia sudah tidur pikir Sisi.
Akhirnya Sisi pun masuk ke alam mimpinya.
Pukul lima Sisi terbangun karena alarm nya berdering dengan sangat keras.
Sisi mengambil HP nya, ada pesan masuk dari Satria.
Satria
Sisi tidak mengerti mengapa Satria ingin melakukan itu, dia tidak punya keberanian untuk bertanya pada Satria apa alasan nya.
Dia memutuskan untuk tidak membalas pesan Satria tersebut.
Hari ulang tahun Satria pun tiba. Sisi sudah menyiapkan sebuah kado untuk Satria. Tidak mahal tetapi Sisi membeli nya dengan ketulusan.
Sisi membelikan sebuah handuk kecil untuk menyapu keringat, bisa Satria gunakan saat dia bermain bola. Sisi menyulam nama Satria pada handuk itu, kebetulan Sisi belajar menyulam waktu SMP dan dia masih ingat caranya.
Dia sudah selesai membungkus kado nya dan kini tinggal menunggu Renata menjemputnya.
Sebuah pesan singkat masuk ke HP nya, ternyata dari Renata.
Renata
aku udah di depan gerbang
Sisi
baiklah, aku turun
Sisi segera bersiap, dia mengambil paperbag yang berisi kado untuk Satria, tidak lupa sebuah tas kecil dia bawa, lalu mengunci pintu kamar nya dan segera menenui Renata.
Perjalanan menuju restoran tempat acara makan malam bersama keluarga Satria sekitar 45 menit.
Sementara itu, di restoran Satria menunggu kedatangan Sisi dengan sangat gugup dan gelisah. Dia khawatir Sisi tidak datang.
Dia sudah bertekad, malam ini akan menyatakan perasaan nya pada Sisi.
Sisi berjalan beriringan dengan Renata menuju meja yang sudah dipesan oleh Satria.
Kedua orang tua Satria menyambut kedatangan Sisi dan Renata. Mereka secara bergantian mencium tangan orang tua Satria.
"Selamat ulang tahun", ucap Sisi pada Satria sambil mengulurkan paper bag di tangan nya.
__ADS_1
"Seharusnya tidak perlu repot repot membawakan aku hadiah", ucap Satria.
"Tidak repot", jawab Sisi sambil tersenyum manis seperti biasa.
Mereka makam malam bersama dengan penuh kehangatan. Hanya kedua orang tua Satria, Rama dan Renata serta Sisi dan Satria.
Mereka makan sambil membicarakan banyak hal. Sisi sedikit berkaca, dia merindukan kedua orang tua nya. Sejak 10 tahun dia tidak bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Ibu Satria sepertinya memahami suasana hati Sisi, dia langsung merangkul Sisi yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Sisi bisa menganggap Ibu sebagai Ibu Sisi kalau Sisi mau, Ibu tidak akan keberatan", ucap Ibu Satria.
"Terima kasih Bu", jawab Sisi sambil menyeka air mata nya yang terlanjur lolos begitu saja karena mendapat perlakuan hangat dari keluarga Satria.
Renata yang duduk di sebelah kiri Sisi pun ikut memeluk sahabatnya itu. Di balik kondisi kuat yang selalu Sisi tunjukan selama ini, dia juga memiliki sisi rapuh seperti yang lain nya.
"Sisi, ikut aku sebentar yuk", ajak Satria.
Sisi pun berdiri dari kursinya dan mengikuti langkah kaki Satria.
Satria mengajaknya ke sebuah taman kecil di belakang restoran. Ada sebuah kursi panjang yang terletak di depan kolam air mancur kecil di taman itu.
Satria mengajak Sisi duduk di sana. Tanpa berbasi basi , Satria lansgung pada inti tujuan nya mengajak Sisi duduk disana.
"Sisi, sengaja aku ajak kamu kesini supaya kita bebas bicara berdua saja. Jujur dari hati yang paling dalam, sebenarnya aku menyukaimu sejak hari pertama kita masuk sekolah. Saat itu tatapanku tidak bisa lepas dari mu, dan sampai hari ini semua rasa yang muncul dalam hati ku semakin besar. Aku sayang sama kamu Si, sangat sayang. Perasaan ini tulus, aku janji ga akan pernah nyakitin kamu. Bersediakah kamu jadi milikku dan ketika kita sudah dewasa nanti, aku akan menikah dengan mu. Bersediakah kamu menerima hati ku ini ?"
Satria menatap Sisi sangat dalam, ingin Sisi bisa melihat ketulusan nya lewat tatapan.
Sisi benar benar kesulitan bernafas dan tidak tau harus berkata apa. Dia bahagia ketika tau Satria mempunyai perasaan yang sama padanya tetapi rasa takut tersakiti juga masih sangat menghantui pikiran nya.
Tatapan mata Satria meyakinkan Sisi bahwa dia tidak akan main main dengan Sisi, tak bisa di pungkiri oleh Sisi, dia melihat ketulusan itu tapi Sisi masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.
"Aku belum bisa berikan jawaban sekarang", hanya itu yang bisa terucap dari bibir Sisi.
"Ga apa apa, aku akan menunggu sampai kamu sudah merasa yakin", jawab Satria sambil tersenyum lembuat pada Sisi.
"Kita kembali bergabung dengan yang lain yuk", ajak Sisi.
"Tunggu sebentar lagi", pinta Satria.
"Aku masih ingin berdua sama kamu di sini, sebentar saja", Satria memohon.
Untuk pertama kali nya Satria merasa takut, dia takut Sisi tidak menerima hati nya.
Sepanjang malam Satria tidak bisa tidur, merasa gelisah. Tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan ternyata ibunya.
"Boleh ibu masuk ?" tanya ibu nya.
"Masuk saja bu", jawab Satria.
"Kenapa belum tidur ?", tanya ibu nya kembali.
"Belum bisa tidur Bu, jujur aku gelisah, aku takut Sisi tidak mau menerima cinta ku Bu", Satria mencurahkan semua pada Ibu nya.
"Ambil wudhu dan bawa shalat ya, tuhan maha membolak balikkan hati manusia, jadi minta lah pertolongan tuhan", saran ibu nya.
Satria mengangguk dan melaksanakan saran ibu nya. Ibu nya pamit dari kamar Satria, kemudian Satria berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan shalat tahajud sesuai saran ibu nya.
Sementara di kamar kost nya, Sisi melakukan hal yang sama. Meminta petunjuk pada tuhan nya untuk keputusan yang akan dia ambil.
☆
☆
☆
☆
☆
^^jangan lupa bantu like dan vote ya readers^^
😚😚😚
__ADS_1