
Satria pulang dengan wajah yang tampak frustasi. Begitu masuk rumah, dia segera menuju kamarnya. Kedua orang tua nya dan juga Rama sedang berkumpul di ruang keluarga. Ibu nya memanggil ketika dia melintasi ruang keluarga, tetapi Satria tidak merespon sedikit pun.
"Ada apa ? " tanya Ibu pada Ayah dan Rama
Yang di tanya hanya mengangkat bahu, tanda bahwa mereka pun tidak mengerti sama hal nya dengan Ibu.
Sampai di kamarnya, Satria menghempaskan tubuhnya duduk di sofa dan memukul bantal sofa dengan sekuat tenaga berkali kali untuk melampiaskan emosi nya dan rasa frustasinya.
Dia merasa bersalah pada Sisi. Dia sudah melukai hati gadisnya itu dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana.
Satria tidak ingin Sisi berada lebih jauh dari nya dengan mengambil beasiswa di luar negeri. Tapi Satria juga sadar bahwa itu impian Sisi.
"Aku harus bagaimana, aaarrrgggghhhhh" teriak Satria di dalam kamarnya.
Satria mencoba menghubungi Sisi, tapi telepon nya tidak di jawab, dan pesan pun di abaikan.
"Toktoktok"..pintu kamar Satria di ketuk.
"Boleh Ibu masuk ?" tanya Ibu dari luar.
Satria tidak merespon. Kini dia hanya duduk terdiam bersandar di sofa. Air mata menetes di pipinya karena rasa bersalah nya pada Sisi. Sekarang dia tidak harus berbuat apa karena Sisi menghindarinya.
Ibu yang tidak mendapat respon dari Satria, mencoba memutar handel pintu yang ternyata tidak di kunci. Langsung saja Ibu masuk ke dalam kamar yang lampu nya tidak menyala.
Ibu meraih saklar di dinding dan menyalakan lampu. Di lihat nya Satria sedang duduk di sofa dalam keadaan yang cukup kacau.
"Ada apa Nak ?" tanya Ibu tampak khawatir.
"Aku bodoh Bu, aku menyakiti Sisi dan sekarang dia menghindari ku", jawab Satria kembali meneteskan air mata.
"Bukan nya tadi Rama bilang kalau kamu titip pesan mau keluar sama Sisi ? selidik Ibu.
__ADS_1
Satria menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Sisi. Dia menceritakan semua secara detail tanpa ada yang di rubah sedikitpun.
"Apa yang membuat mu tidak menyetujui Sisi mengambil beasiswa itu ? " tanya Ibu.
"Aku ga bisa jika harus lebih jauh lagi dengan Sisi, dengan kondisi sekarang saja itu berat buat aku, tapi sepertinya hati Sisi belum sepenuhnya untuk aku. Dia masih ingin mengejar mimpi mimpi nya tanpa membawa aku serta disana", ucap Satria lirih.
"Bicarakan baik baik dengan Sisi, tanpa ada emosi. Perempuan tidak bisa menerima sikap kasar meski hanya dengan bicara memakai nada tinggi tetap itu sudah menyakitkan terlebih Sisi yang terbiasa lemah lembut, dia tidak siap dengan emosimu..", saran Ibu.
"Sekarang dia menghindar dan mengabaikan ku", jawab Satria frustasi.
"Beri dia waktu untuk menetralkan rasa sakitnya, besok kamu coba temui lagi dan ajak bicara baik baik", saran Ibu lagi.
"Ambil wudhu dan shalat, setelah itu istirahat supaya besok suasan hati jadi lebih baik", ucap Ibu sebelum meninggalkan Satria sendiri di kamarnya.
Ayah dan Rama menunggu penjelasan dari Ibu ketika sudah kembali bergabung di ruang keluarga. Ibu menceritakan kepada Ayah dan Rama sesuai dengan yang disampaikan Satria tadi.
"Sisi itu berbeda, dia punya banyak impian yang ingin di raihnya, semestinya Satria mendukung segala mimpi mimpi Sisi dan membantu mewujudkan", ucap Ayah yang memahami watak Sisi.
"Kita harus gimana ? " tanya Ibu.
Rama yang merasa sudah mengantuk pamit pada kedua orang tua nya untuk kembali ke kamar.
Ayah dan Ibu pun masuk ke kamar tidak lama setelah Rama beranjak dari ruang keluarga.
Ibu masih memikirkan Satria, dia tidak tega melihat anak nya sekacau itu. Dalam hati Ibu sangat ingin membantu anaknya tapi benar juga kata Ayah bahwa anak nya sudah dewasa, jadi biarkan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
************
Pagi pagi sekali sehabis shalat subuh, Sisi pergi dari kostan nya. Dia membawa sebuah travel bag ukurang kecil yang berisi beberapa pakaian dan kebutuhan lain nya. Sebuah tas kecil yang berisi HP dan dompet di selempang di badan nya. Sisi sudah memesan taksi dan segera naik begitu taksi sudah sampai di depan gerbang kost nya.
"Stasiun Gambir pak", ucap Sisi pada supir taksi menyebutkan tujuan nya.
__ADS_1
Sisi mematikan HP nya. Dia sudah menitipkan sebuah surat untuk Satria pada Mamang penjaga kostan. Dia butuh waktu untuk sendiri dalam beberapa hari. Sisi ingin menenangkan hati nya, mengobati dulu luka nya.
Tiba di stasiun Gambir, Sisi segera menuju loket pembelian tiket. "Ke Malang satu ya Mba", ucap Sisi kepada petugas penjual tiket kereta api jarak jauh.
Sisi memilih kota Malang, dia merasa disana banyak sekali kenangan manis bersama Satria. Sisi merasa nyaman dan damai berada di sana. Liburan singkat tempo hari di Malang menyisakan ruang tersendiri dalam hati Sisi. Dia memilih tempat itu untuk menyendiri sejenak.
**********
Sementara itu di rumah nya, Satria sarapan dengan sangat cepat dan hanya makan sedikit. Ayah, Ibu nya dan adiknya hanya menatap iba tanpa ada yang berani bertanya. Mereka memahami kondisi hati Satria yang sedang tidak karuan.
Satria pamit pada orang tua dan adiknya. Dia ingin bertemu Sisi. Lebih cepat lebih baik menurutnya. Karena dia tidak bisa berlama lama dalam kondisi begini.
"Hati hati nyetirnya", ucap Ibu ketika Satria pamit.
Tanpa merespon ucapan Ibu nya, Satria langsung menuju mobilnya dan segera meninggalkan rumah.
Disepanjang perjalanan berkali kali Satria menghubungi Sisi tapi HP nya tidak aktif. Satria masih berusaha untuk berpikiran positif. "Mungkin HP nya di charges", batin Satria karena Sisi selalu mematikan HP nya saat di charges.
Ketika sampai di depan kostan Sisi, Satria segera turun dari mobil dan menemui Mamang penjaga kostan.
"Pagi Mang", sapa Satria pada si Mamang yang membuka gerbang saat mendengar ada bunyi bel.
"Eh aden ganteng, pagi juga", jawab si Mamang ceria.
"Biasa Mang, minta tolong panggilkan Sisi karena HP nya ga aktif", ucap Satria berusaha tersenyum ramah meski hati nya sedang kacau.
"Wah aden ganteng terlambat, Non Sisi udah pergi tadi pagi pagi banget, habis subuh tapi dia nitip sesuatu buat Aden, sebentar", jawab si Mamang panjang lebar.
Degg..hati Satria sakit bagai tertusuk puluhan pisau ketika mendengar informasi dari Mamang penjaga kost Sisi. "Kemana kamu pergi", ucap Satria lirih. Dia berusaha kuat di depan si Mamang.
Mamang kembali dengan sebuah amplop berwarna ungu bertuliskan "untuk Satria". Di serahkan pada Satria dan Satria menerima nya dengan hati yang semakin tidak karuan. Dia tidak siap membaca apa isinya. Dia tidak siap dengan segala kemungkinan kemungkinan terburuk yang akan dikatakan Sisi dalam suratnya.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih dan memberi uang selembar seratus ribuan pada si Mamang, Satria segera menuju mobilnya. Dia melajukan mobil nye ke arah Taman yang tidak jauh dari sekolah SMA mereka dulu. Dia berhenti disana dan membuka surat Sisi disana.
^^jangan lupa dukungan nya ya para readers yang baik hati, makasih sebelum nya^^😊😊😊