Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 32. Anita Dan Rein di masa Lalu


__ADS_3

Rein sendiri saat ini sedikit khawatir dengan apa yang sudah dia lakukan. "Dugaan ku benar,Otaknya memang aneh." ucap Rein terkejut ketika pundaknya di pukul seseorang wanita yang sedang membawa bucket bunga.


"Mas, bisa tolong pegangin Bucket bunga ini? Aku mau ke toilet" Ucap seorang wanita dengan jas biru berkacamata. Terdapat sebuah lambang Stasiun televisi lokal di bagian saku jasnya.


"Iya,jangan lama-lama ya" Ucap Rein yang melihat Rina pergi.


"Tunggu ya mas,cuma mau memperbaiki make up saja" ucap seorang wanita yang merupakan reporter televisi lokal.


"Iya" ucap Rein pelan.


Melihat Rina yang sudah jauh menghilang ,Rein yang terus menunggu seseorang wanita kembali dari toilet segera bergegas pergi dan menyerahkan kembali bucket bunga ke tangan wanita tersebut.


"Makasih mas" ucap wanita reporter heran melihat Rein yang pergi seperti terburu-buru. "Aneh.."


***


Tak menemukan Rina dimana pun,Saat ini Rein mencoba untuk melihat Beberapa orang di balik dinding ruangan di rumah sakit. Mencoba kembali Mata tembus tulangnya,Terlihat Rein sedikit kesusahan. "Belum berfungsi lagi, Disaat seperti ini kenapa kemampuan ini menghilang?" Tanya Rein yang kembali di tepuk pundaknya oleh seseorang dari belakang.


"Rein..Kau kah itu!" ucap seorang wanita berpakaian polisi menegurnya.


"Anita.." Ucap Rein yang heran melihat anita ada di rumah sakit.


"Kamu ngapain disini?."


Sambil mengusap air matanya yang sempat keluar,terlihat Anita yang baru keluar dari dalam kamar rawat inap seseorang mencoba menahan diri. "Aku baru menjenguk ayahku yang sakit." Ucap Anita sedang membawa tas berisi beberapa pakaian.


"Ayahmu sakit?" tanya Rein melihat mata Anita yang merah.


"Iya,ayah ku sudah satu bulan di rawat disini. Tapi sampai saat ini,keadaan ayahku juga belum membaik." Berkata Anita yang kemudian bertanya.

__ADS_1


"Apa kamu juga mau menjenguk seseorang?."


Sambil melepaskan masker,Rein seperti merasakan hal aneh dimatanya sendiri,merasakan pandangan mata yang kabur. "Tidak,aku cuma lagi iseng saja" Ucap Rein merasakan sakit kepala tiba-tiba." Uh.."


Sambil terus memegang kepalanya,Rein merasakan pandangan matanya yang buram. "Ah,sakit.." Ucap Rein merasakan kesakitan.


"Rein? ada apa?" tanya Anita yang melihat Tubuh Rein langsung terjatuh. Hanya mendengar teriakan Anita yang seperti Sedang meminta bantuan,Rein merasakan dirinya yang tak sadarkan diri.


"Suster,tolong. Teman ku.." Teriak Anita.


***


Hingga beberapa jam kemudian..


Sekitar pukul 15:45 waktu setempat.


Rein kembali terbangun dan mencoba untuk membuka matanya perlahan.


Sambil mencoba beberapa kali mengedipkan matanya,Rein melihat beberapa orang di balik dinding kamar yang sedang menangis dan meratapi seseorang. " Mataku, Pandangan mataku lebih jelas dari sebelumnya." Ucap Rein yang mengambil Smartphonenya di meja.


Melihat beberapa panggilan dari Author nya dan Beberapa notifikasi chat di Aplikasi chatnya. Sambil mencoba melihat beberapa pesan yang masuk,Rein melihat beberapa pesan author yang mengatakan bahwa dia sedang sakit dan sudah menulis beberapa kemampuan tambahan,supaya Rein bisa menjalani kehidupannya saat Author sedang hiatus beberapa bulan. Nunggu kontrak turun katanya.


"Ternyata begitu" Ucap Rein yang mencoba untuk mengirim pesan balasan.


Ping!


[Thor,Turut berdukacita..Semoga cepat sembuh] Pesan Rein yang hanya di lihat dan tidak di baca.


"Pantas saja dia tak bisa aku hubungi, Mungkin karena lelah. Semoga Dia cepat sembuh" Gumam Rein mencoba beberapa kemampuan tambahan yang sudah dijelaskan melalui pesan whatsapp.

__ADS_1


"Aku coba ke Anita" Ucap Rein yang saat ini memejamkan matanya kembali dan dalam sekejap dia mampu melihat pakaian dalam yang di kenakan Anita. "Wow,Kemampuan Zoom in Eyes!"


Mencoba kembali,saat ini Rein mencoba untuk memandang tubuh Anita." Zoom out, Wow. Kemampuan mata tembus tulang ku bisa di pembesar dan diperkecil. Sumpah,kemampuan yang tidak ada di novel system manapun." Gumam Rein melihat Anita terbangun. Sambil kembali menormalkan pandangan matanya kembali,Rein melihat Anita tersenyum.


"Rein,maaf aku ketiduran" Ucap Anita yang lelah bekerja dan sudah meminta izin untuk cepat pulang karena mendengar ayahnya yang kembali kambuh sakitnya.


"Oh ya Anita, Ayahmu memang sakit apa?" Tanya Rein melihat Anita berdiri.


"Hanya sakit penyempitan jantung" Ucap Anita yang mencoba untuk memanggil seorang suster Untuk memeriksa keadaan Rein. "Aku akan panggil suster,supaya memeriksa mu."


Rein sendiri hanya mengikuti apa yang sedang dilakukan Anita, hanya ingin mengikuti prosedur dan Rein sendiri memang masih merasakan pening. Dia mencoba untuk tidur kembali sambil memejamkan mata memikirkan tangisan Anita. "Cih,apa yang aku lakukan. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa membalas kebaikan Anita padaku." Ucap Rein dalam hati mengingat.


Dalam pikiran Rein....


Di wilayah kota pinggir,Saat Rein (19) baru pulang dari bekerja sampingan alias kerja paruh waktu. Dimana dia bertemu dengan beberapa preman jalanan yang sedang nongkrong di gang sempit. Saat itu,Rein yang baru gajian berdiri dengan rasa gemetar melihat tiga orang preman yang tersenyum bengis ke arahnya. Dimana Tiga preman tersebut melihat amplop kecil yang berisi Gaji Rein.


Tidak berapa lama,beberapa pukulan langsung mendarat di perut Rein dan sambil mengais beberapa uang receh yang terjatuh. Rein yang sedang menahan sakit dan tertidur di jalan dengan beberapa luka,melihat seorang wanita dengan setelan jas universitas. Dimana wanita tersebut membawa sebuah ranting pohon.


Rein hanya mendengar tawa tiga orang preman yang terkekeh melihat wanita tersebut. "Mau apa kamu!" tanya seorang preman melihat Wanita di depan mereka.


"Kembalikan uangnya,atau aku akan memukul mu!" ucap wanita tersebut yang mendapat tendangan bebas sampai membuatnya terkesiap jatuh.


Rein yang memang lemas saat itu,tak bisa melakukan apapun selain melihat wanita yang sedang berkelahi dengan gigih melawan seorang preman. Bahkan di tangannya penuh dengan luka lecet akibat dorongan keras seorang preman.


Sampai pada akhirnya,ketiga preman hanya menggeleng kepala dan melihat Rein sambil melemparkan amplop gajiku. "Cih,kalau bukan karena kakakmu. Kami buat kau lebih menderita." ucap seorang preman yang kemudian berjalan sambil melihat ke arah wanita yang sedang mengaduh kesakitan.


Mencoba untuk bergerak,Rein sendiri merasakan cemas pada seseorang wanita yang menolongnya. Yang Bahkan dia mengaku pada ketiga Preman bahwa dia adalah kakak Rein. Walaupun mencoba memaksakan diri,Rein tetap tidak bisa bergerak dan tertidur lemas merasakan matanya yang perlahan mulai redup.


Hingga beberapa menit kemudian, tidur dengan kepala bersandar di pangkuan seorang wanita yang juga terluka. Rein tersadar dan melihat senyum wanita yang menolongnya. "Kau sudah bisa bergerak?" tanya wanita tersebut.

__ADS_1


Mencoba untuk bangkit,Rein terduduk di pinggir tembok jalan sebuah toko yang sudah tidak terpakai. "Kenapa kamu menolong ku" Ucap Rein yang melihat wanita tersebut memberikan amplop gajinya.


"Ini,lebih baik kamu hitung lagi. Aku rasa tiga orang preman tadi cukup pengertian" ucap wanita tersebut yang kemudian membantu Rein berdiri sambil menahan rasa sakit.


__ADS_2